
“Serame itu? Sebenarnya di luar ada apa? Kok heboh banget?” batin Arimbi sembari berjalan pelan akibat kain jarit yang bawahan penampilannya sekaligus menyempurnakan penampilannya.
Arimbi keluar dari kamar meninggalkan Miss Messi. Dengan penampilannya yang benar-benar mirip putri ayu, Arimbi menyalami setiap tamu yang sudah ada di ruang tamu.
Di ruang tamu dan hanya berupa hamparan lantai yang dihiasi gelaran tikar, tengahnya sudah dihiasi sederet stoples dan piring berisi aneka hidangan atau yang warga sekitar sebut sebagai ‘pacitan’. Ada keluarga besar pak Adi yang merupakan uwa atau itu pakde mas Aidan. Karena pak Adi tersebut merupakan kakak kandung dari ibu Arum dan rumahnya tidak begitu jauh dari pasar Arimbi jualan pecel. Selain itu, di sana juga ada keluarga dari mas Agung kakaknya Arimbi. Bersama mereka yang datang dalam formasi lengkap dengan anak-anak, Arimbi berangsur melangkah keluar. Arimbi yang menggandeng sang ibu, didampingi oleh mbak Lesti dan juga ibu Luri istrinya pak Adi.
Rame. Suasana di luar sudah langsung membuat Arimbi tak bisa berkata-kata saking terkejutnya. Di luar mendadak mirip ada kesibukan acara syuting sebuah film! Suasana ramai penuh warga dan benar-benar bukan hanya rombongan mas Aidan. Juga, suasana sekitar yang berantakan dan di sawah ... di sawah sampai ada jet mirip helikopter yang di kedua sisinya dilengkapi baling-baling layaknya sebuah helikopter.
Berbeda dari helikopter biasa, jet tersebut berukuran jauh lebih besar dan bisa menampung lebih banyak penumpang. Selain itu, tentu jet tersebut juga bisa melakukan pendaratan secara vertikal layaknya sebuah helikopter. Keterangan lebih lanjut kalian bisa mencari tahu di internet masing-masing. Walau tentu saja, tidak sembarang orang bisa memilikinya. Namun daripada harus diributkan oleh sebagian pembaca, anggap saja itu helikopter.
“W-wah ...! Masya Alloh kok seheboh ini, ... ya ampun ... jadi deg-degan banget!” batin Arimbi sudah langsung berkaca-kaca menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya.
“Janda!” sergah pak Haji Ojan sudah langsung mengejar Arimbi.
Sepri nyaris terbanting gara-gara dekapannya sudah langsung disingkirkan oleh pak Haji Ojan.
“Zam, tolongin, dong!” mohon Sepri lantaran kali ini, pak Haji Ojan benar-benar tak mau dihentikan.
__ADS_1
Dengan santainya, Azzam berkata, “Sudah biarkan saja. Biar bidadarinya diculik si burukk rupa yang juga sudah tua!”
“Ih, kamu malah enggak jelas!” kesal Sepri.
“Si pak Haji Ojan,” lirih Arimbi geleng-geleng menatap pak Haji Ojan yang masih saja merepotkan Sepri.
“Ciee ....” Tak jauh dari helikopter yang baru saja ditinggalkan, mas Aidan sengaja menggoda Arimbi. Tentu yang digoda dan awalnya sedang memperhatikan pak Haji Ojan langsung kikuk.
“Ciiiiieeeee!” Mendadak, semuanya kecuali Ilham dan ibu Siti, juga menjadi ikut menggoda Arimbi. Sekelas pak Haji Ojan sudah langsung heboh ciiaaa, ciiiee.
“Rasanya baru kemarin rebutan perhatiannya Mas Aidan sama Papah Kala biar Mas Aidan mau main sama Ayah. Eh, sekarang Mas Aidan sudah mau menikah!” ucap pak Angga berkaca-kaca menatap mas Aidan yang masih berdiri di hadapannya walau jarak mereka memang masih sekitar lima meter.
Kakek Sana dan Nenek Kalsum langsung mengangguk-angguk. Tersenyum nelangsa karena mereka juga sampai berlinang air mata, keduanya membenarkan bahwa dulu, saking seringnya mas Aidan ikut kegiatan mereka khususnya kegiatan pak Sana yang menjadi wakil rakyat, mas Aidan sampai dikira sebagai adiknya pak Kalandra.
“Nah makanya. Rugi banget kalau kami enggak ikut ke sini. Serame ini, romantis sekali!” sambung ibu Widy yang kembali mendekap ibu Arum, walau keduanya belum lama mengakhiri pelukan mereka.
Ibu Septi langsung tertawa lepas. “Pengin lamaran lagi, ya?” Namun perlahan, tawanya berangsur menepi. “Jadi kangen Pak Gede kakeknya Ojan. Kalau ada beliau, acaranya pasti lebih rame.”
__ADS_1
Detik itu juga suasana di sana menjadi diselimuti kesedihan yang begitu kuat. Ketiga anak pak Haji yang selama ini diurus oleh eyang Fatimah kompak memeluk erat wanita tua tersebut. Terlebih dari semua orang tua yang tersisa, memang hanya tinggal eyang Fatimah dan juga orang tua Kalandra yang masih hidup sekaligus sehat. Pak Haji, ibu Sumini, ibu Rusmini, dan juga ibu Muji, sudah meninggal. Keempatnya sudah damai di alam sana.
Selain itu, Anggun dan Supri juga sudah meninggal. Anggun meninggal akibat serangan jantung sekaligus darah tinggi setelah sebelumnya tertabrak truk, sementara Supri meninggal karena demam berdarah sekaligus komplikasi lainnya ketika masih di penjara. Semenjak itu juga, keempat anak laki-laki Anggun dirawat oleh pak Dika dan pak Angga. Keduanya mendidik keempat anak Anggun masih dengan masukan para sahabat. Karena demi menghilangkan penyakit malas yang sudah telanjur menempel di kehidupan keempatnya, keempatnya yang sempat tinggal di pondok sudah dibiasakan bekerja sejak SMA. Khususnya Dafa yang paling sulit diarahkan. Namun, kini mereka benar-benar memetik hasilnya. Karena pada kenyataannya memang tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Andai pun hasilnya tetap tidak sesuai, pilihan terakhir memang melepaskan.
Ibu Arum berkaca-kaca memperhatikan putra pertamanya yang sedang menjadi pusat perhatian. Seperti kata semuanya, ibu Arum juga merasa baru kemarin membiarkan mas Aidan kecil mengikutinya menyiapkan segala bahan masakan. Mereka mengobrol lirih dan kerap tersenyum ceria. Interaksi yang benar-benar tidak akan pernah ibu Arum lupa. Malahan kini, ia merindukan masa-masa itu walau mas Aidan masih ada di sisinya. Ibu Arum tetap merindukan masa-masa yang telah berlalu walau sampai detik ini, mas Aidan selalu memperlakukannya dengan sangat manis. Kini saja, setelah menyalami tangan kanannya dengan takzim, mas Aidan juga tak segan langsung memeluknya erat.
“Mamah ... Mamah, Mamah, Papah, ayah ... baru yang lain.” Dalam benaknya, mas Aidan mendadak teringat pesan Arimbi agar mas Aidan berkali-lipat memuliakan sang mamah setelah apa yang terjadi.
“Namun jika sudah menikah, yang nomor satu tentu sudah beda lagi. Karena walaupun surga seorang suami tetap ada di telapak kaki mamahnya, seorang suami juga tetap tidak bisa masuk surga jika dia tidak memuliakan istrinya. Terlebih aku yakin, suami yang baik akan membuat hubungan istri dan mamahnya juga baik. Tanpa ada drama apalagi persaingan dalam merebutkan kasih sayang seperti yang sudah banyak terjadi di kehidupan ini.” Kali ini ucapan Arimbi tersebut juga menghiasi benak mas Aidan. Karena pada kenyataannya, Arimbi juga sudah menjadi pondasi kesuksesan mas Aidan dalam bersikap adil kepada kehidupan yang harus dijalani.
Terakhir, di hadapan semuanya, mas Aidan yang tak hentinya tersipu malu memimpin rombongan keluarganya, sengaja menyapa Arimbi. “Assalamualaikum, Mbak Arimbi?” Di teras rumah sana dan hanya berupa cor-coran semen, wanita yang ia pilih menjadi bagian dari masa depan sekaligus kehidupannya itu langsung tersenyum haru.
“Waalaikum salam, Mas Aidan,” balas Arimbi lembut sambil menatap mas Aidan penuh cinta.
“Ciiiiieeeee!” kompak semuanya kecuali Ilham dan ibu Siti.
“Ai lope yu, Jandaaa!” seru pak haji Ojan kegirangan.
__ADS_1
Sepri yang merasa kecolongan, segera membekap mulut pak Haji Ojan yang memang masih di sebelahnya.
Kepala ibu Siti mendadak migren bahkan vertigo. Ia nekat mendekap erat sebelah lengan Ilham kemudian memaksa putranya itu pulang sebelum mereka malah dijadikan badut.