
Alarm di ponsel Arimbi yang berada di meja nakas sebelah sang pemilik tengah tidur, baru saja bunyi. Kesunyian yang menyelimuti seketika terusik, termasuk juga sang pemilik yang akhirnya menepi dari lelapnya.
Hanya saja, tepat ketika Arimbi akan bangun, mas Aidan yang awalnya masih tengkurap, buru-buru menggunakan kedua tangannya untuk mendekap erat pinggang Arimbi. Tak sampai di situ karena mas Aidan juga sampai menyemayamkan kepalanya di pangkuan sang istri, hingga si wanita tak bisa pergi dari sana.
“Aku sudah atur alarm tepat pukul empat lebih seperempat seperti arahan Mas, loh, Mas,” ucap Arimbi lembut sambil mengikat tinggi rambutnya.
Mas Aidan mengembuskan napas panjang melalui mulut. Pria itu tampak pasrah kemudian menarik diri dari pangkuan Arimbi.
“Mandinya nanti, bentar lagi. Aku rebus air dulu biar kamu mandi pakai air hangat. Hari ini juga aku mau cari tukang yang biasa pasang air hangat buat mandi.” Terkantuk-kantuk mas Aidan berdiri.
Arimbi hanya tersenyum dan sesekali mengawasi sambil merapikan tempat tidur mereka.
Sekitar sepuluh menit kemudian, mas Aidan membawa ember yang dipenuhi uap panas. Arimbi pun baru beres memasang bed cover baru untuk tempat tidur mereka.
“Mas, aku ganti bed cover-nya pakai yang bunga-bunga warna hijau kuning,” ucap Arimbi sengaja pamer. Entah kenapa, semenjak kejadian makan malam kasus Divani dan Chole, ia menjadi manja. Seorang Arimbi jadi haus dipuji.
Mas Aidan yang sampai mengernyit untuk mengawasi tempat tidur mereka dengan saksama, berangsur berkata, “Pengin muji cantik, tapi masih cantik kamu jauh-jauh.”
Detik itu juga Arimbi langsung tersipu. Arimbi mengangkut selimut dan semua bed cover yang baru diganti, menaruhnya di ranjang pakaian khusus yang ada di sebelah depan pintu kamar mandi.
Setelah melihat sang suami menuang air panas ke bak mandi, layaknya anak kelinci, Arimbi yang masih tersenyum ceria berangsur mengendap menghampiri mas Aidan yang juga langsung Arimbi dekap.
“Kemari, ... kemari!” sergah mas Aidan buru-buru membuat Arimbi ada di depannya, kemudian memeluknya sangat erat. Bersamaan dengan itu, bibirnya mengabsen kepala Arimbi, kemudian sampai juga di wajah Arimbi.
“Semalam kan paman Lim telepon,” ucap mas Aidan yang sudah sampai membingkai wajah Arimbi, membuat wanita itu menengadah dan seutuhnya menatapnya.
__ADS_1
Arimbi yang sudah langsung menyimak berangsur mengangguk-angguk. Apalagi, telepon yang mas Aidan bahas juga turut ia ketahui. Kejadiannya nyaris pukul dua belas malam. Namun mengenai alasan sang paman menghubungi mas Aidan, Arimbi belum mengetahuinya.
“Paman Lim minta bantuanku buat urus kasusnya. Kamu mau ikut, apa tetap di sini?” lanjut mas Aidan masih sangat lembut.
Tiba-tiba saja Arimbi merasa sangat dilema. Terlebih, waktu yang mas Aidan tawarkan bertepatan dengan pembukaan rumah makan di rumah pak Angga, selain Arimbi yang wajib mulai menjadikan pecelnya sebagai menu baru di kedua rumah makan milik orang tua mas Aidan. Belum lagi, ibu Warisem juga tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. Masalahnya, kini Arimbi sudah menjadi seorang istri yang otomatis juga memiliki peran sekaligus tanggung jawab berbeda dari sebelumnya.
“Ya sudah, ayo mandi. Habis ini kita gabung salat subuh berjamaah sama yang lain. Enggak enak kalau kita tetap di kamar meski kita memang berhak,” ucap mas Aidan yang kemudian menci*um gemas punggung hidung Arimbi.
Arimbi yang awalnya masih merenung bahkan melamun, langsung tersenyum kikuk.
***
Tak lama setelah beres salat subuh, mas Aidan sudah memboyong Arimbi dan ibu Warisem ke rumah pak Angga. Ini menjadi kali pertama mereka ke sana setelah mereka menikah, dan pak Angga terlihat sangat bahagia.
“Sore nanti aku mau ke Jakarta, Yah.” Mas Aidan mengabarkan rencana sekaligus jadwalnya kepada sang ayah. Paman Lim sedang ada masalah dan membutuhkan mas Aidan sebagai pengacaranya.
“Tapi jangan dibahas lagi yah, Pah. Takutnya Mbak Mbi tambah sedih. Itu saja lagi dilema. Untung yang beli pecel sudah ada yang datang, jadi bisa ngalihin pikiran mbak Mbi!” ucap mas Aidan buru-buru masuk ke dapur.
Di dapur khusus yang pak Angga siapkan untuk usaha Arimbi, Arimbi sudah sibuk dibantu oleh dua orang pekerja. Ketiganya tengah sibuk menyiapkan keperluan pecel lengkap biasa Arimbi jualan. Dan meski dapur tersebut ada di rumah pak Angga, lokasinya terpisah dari dapur khusus biasa pak Angga masak. Jadi, semuanya benar-benar pak Angga siapkan secara khusus sekaligus spesial.
“Ibu enggak usah ikut. Ibu istirahat saja. Kan sekarang, Mbak Mbi sudah ada yang bantu-bantu!” sergah mas Aidan tak mengizinkan ibu Warisem yang menyusul, ikut bantu-bantu di dapur.
Mas Aidan sengaja mendorong kursi roda ibu Warisem, membawa ibu mertuanya itu ke halaman depan untuk berjemur.
“Sini, biar Ayah saja. Sekalian Ayah juga mau berjemur,” ucap pak Angga yang sampai detik ini masih berjuang meyakinkan sekaligus mengambil hati mas Aidan.
__ADS_1
“Oke, Yah. Makasih banyak. Iya, Ayah juga wajib jemur biar sehat!” ucap mas Aidan.
Pak Angga melepas kepergian punggung mas Aidan dengan banyak kekhawatiran. Dari awal datang, putranya itu tampak kurang harmonis dengan Arimbi. Berbeda dari saat di acara makan malam kemarin malam. Karena saat itu, keduanya masih terlihat sangat romantis. Pak Angga jadi khawatir, efek mas Aidan harus membantu Sekretaris Lim, membuat Arimbi marah dan semacamnya karena biar bagaimanapun, keduanya masih pengantin baru.
“Semoga sih enggak. Semoga mereka baik-baik saja,” batin pak Angga yang tidak mau rumah tangga sang putra berantakan. Cukup rumah tangganya saja, yang mana semenjak kegagalan tersebut juga, ia memutuskan untuk selalu menjadi duda.
“Dapurnya luas banget dan beneran nyaman yah, Mbak. Berasa pabrik,” ucap mas Aidan.
Arimbi yang sedang menggoreng kacang tanah untuk bumbu pecel, berangsur mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Tenang, Mas. Sebaik-baiknya ataupun sebagus-bagusnya dapur di sini, aku tetap pilih Mas kok. Aku beneran akan menemani Mas dinas ke Jakarta. Jadi, sekarang aku mau bikin bumbu pecelnya dalam porsi banyak sekaligus. Buat setok selama aku menemani Mas di Jakarta!” ucapnya bersemangat.
Mas Aidan masih belum bisa banyak berkomentar, walau harusnya keputusan Arimbi ikut dengannya membuatnya merasa sangat lega. Mungkin karena mas Aidan yang terlalu pengertian, atau malah karena mas Aidan begitu mencintai Arimbi, hingga mas Aidan paham, awal masa-masa jualan ibarat masa emas untuk istrinya itu. Namun demi bakti kepadanya, Arimbi turut ikut ke Jakarta untuk menemaninya.
Hari pertama jualan, warung pecel milik Arimbi yang ada di kediaman pak Angga sudah langsung diserbu pelanggan setianya. Orang-orang pasar berdatangan untuk membeli. Dan mas Aidan yang masih menemani hingga pukul sembilan pagi, bisa merasakan vibes positif dari sang istri.
“Selamat yah, Mbak. Warungnya langsung laris. Namun karena sore kita ke Jakarta, besoknya Mbak belum bisa lanjut!” ucap mas Aidan sambil mengambil mendoan panas dari serok gorengannya.
Arimbi langsung tersipu. “Sudah, Mas jangan berpikir telah menyakiti aku hanya karena aku ikut Mas ke Jakarta, terus ninggalin warung yang sedang rame-ramenya. Sudah jadi tugas sekaligus kewajibanku sebagai istri Mas, kan? Selebihnya, aku masih bisa jualan lagi kalau memang enggak ada urusan, kan?” ucap Arimbi.
Bagi Arimbi, keputusannya lebih memilih ikut mas Aidan ibarat baktinya sebagai seorang istri. “Daripada Mas malah digoda wanita lain!” ujar Arimbi yang sengaja jujur, tapi mas Aidan segera menggeleng tegas kemudian memeluknya dari samping.
“Awas loh, ini aku bau bahkan belepotan sambel pecel!” tegur Arimbi, tapi mas Aidan tetap menggeleng sekaligus terus memeluknya.
“Mas, aku lihat banyak wajah baru, sepertinya mereka kenalannya ayah Angga. Apalagi kan, ayah Angga juga punya usaha gorengan sama makanan siap saji,” ucap Arimbi benar-benar bahagia menyaksikan antusias pembeli di warung barunya. Pak Angga san ibu Warisem masih menjadi bagian dari keramaian di sana.
Namun, baik Arimbi maupun mas Aidan, merasa ada yang kurang, atas kebahagiaan yang tengah mereka rasakan sekarang. Dalam diamnya keduanya berpikir, mungkin karena mereka terbiasa melalui semuanya khususnya kebahagiaan, dengan keluarga mas Aidan dalam formasi lengkap. Hingga ketika mereka melalui bahagia tanpa keluarga mas Aidan, rasanya jadi ada yang kurang.
__ADS_1