Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
124 : Jadi Normal


__ADS_3

“Setelah semua yang terjadi, sepertinya memang ada yang salah dengan Divani.” Azzam menatap sungguh-sungguh Divani. Di hadapannya, Divani sangat gelisah, mirip orang sudah kebelet BAB, tapi masih harus disuruh menunggu karena antre.


“Ini apa lagi, sih? Mas Aidan saja sudah nikah!” ucap Divani merasa menjadi korban. Ia sengaja menyikapi keadaan dengan sabar.


“Aku jadi curiga, jangan-jangan, sebenarnya Didi bukan adikku. Mungkin pas di rumah sakit, dia tertukar apa gimana. Atau kalau enggak, dia mirip si Lia karena pas hamil Didi, kami sekeluarga memang benci banget ke si Lia!” Devano melirik sengit sang adik. Ia memang sengaja ikut serta karena sebelumnya, Azzam sudah sampai mengiriminya WA.


Di WA yang Azzam kirimkan kepada Devano sudah sampai dijelaskan maksud kedatangan Azzam ke sana. Jadi, sepanjang menyimak penjelasan Azzam secara langsung beberapa saat lalu, Devano tidak bisa untuk tidak melirik sengit sang adik.


Di sana, Divani memang tak hanya ditemani orang tuanya. Karena di ruang tamu bersofa kulit warna hitam, Devano duduk di sofa tunggal. Namun, apa yang Devano katakan sudah langsung membuat Divani mendengkus kesal.


“Di ...?” panggil pak Restu benar-benar tegas dan terdengar marah.


Sudah sangat lama pak Restu tidak berucap marah seperti itu dan memang tidak pernah melakukannya ke keluarga apalagi anak-anak. Divani yang duduk di sebelah sang mamah sudah langsung tak berkutik dan perlahan menunduk. Takut!


“Berarti memang benar, Di?” lirih ibu Arnita menatap kecewa sang putri.


“Jangan langsung dibuang, Pah, Mah, ... lumayan buat pakan ikan. Enggak perlu dipotong-potong, langsung lempar saja. Atau kalau enggak, nikahkan saja. Nikahkan Didi dengan Ojan, biar dia bisa belajar.” Devano sudah sangat geregetan.


“Yang benar saja, empat tahun nyabotase milik orang!” lanjut Devano terdengar keji bahkan di telinganya sendiri.

__ADS_1


Jujur, berada di posisi sekarang, walau apa yang ia sampaikan benar, membuat seorang Sundari merasa sangat tidak nyaman. Sundari merasa, dirinya sudah menjadi peru-sak hubungan orang. Hubungan sebuah keluarga.


Diamnya Divani yang menegaskan wanita muda itu mengakui, membuat semua yang ada di sana termasuk Sundari, merasa jauh lebih baik ketimbang Divani mengelak, kemudian tak segan berbuat kas*ar. Pertanyaannya sekarang, maukah Divani meminta maaf kepada Chole kemudian belajar dari kasus mereka? Maukah Divani menjadi manusia lebih baik lagi?


“Enggak ada gunanya kamu cantik. Enggak ada gunanya kamu berpendidikan tinggi, kalau kelakuan kamu saja begini. Kamu tahu kan, mulutku ini paling enggak bisa bohong? Apa yang kamu lakukan jahat banget loh, Di. Kriminal!” lanjut Devano lagi-lagi paling aktif berbicara.


“Sekarang kami antarkan kamu ke rumah Chole. Mumpung dia masih di kampung. Dan kamu harus minta maaf, jangan sampai enggak. JANGAN BIKIN MALU LAGI!”


“APAAN, SIH. KAMU PIKIR KAMU SIAPA? BUKANNYA JADI CONTOH YANG BENAR BUAT ADIK-ADIK, MALAH ENGGAK JELAS!”


“MEMANGNYA AKU PERNAH KASIH CONTOH ENGGAK BAIK KE KAMU?”


Dalam diamnya, Divani yang juga terus menunduk, sudah menangis. Wajahnya merah padam, sementara butiran bening tak hentinya mengalir dari kedua sudut matanya.


“Di, jangan nangis, Di. Enggak apa-apa. Kalau kamu memang tulus sayang aku, ... oke, nanti aku belajar cinta juga ke kamu!” ucap pak Haji Ojan terdengar waras. Dan membuat semua pandangan tertuju kepadanya termasuk juga Didi.


Didi langsung berteriak ketakutan kemudian mengusir pak Haji Ojan. “Cinta apaan? Yang ada aku sayang banget ke kamu!”


“Aku tahu kamu marah karena aku lebih memilih Aisyah. Namun perlu kamu tahu, Aisyah beneran jadi sumber semangatku. Istrinya Ilham beneran jadi semangatku, tapi aku juga i love you ke kamu kalau gini caranya. Belum pernah ada wanita cantik yang nangisin aku. Tapi enggak apa-apa, kan, aku tetap jadi musafir cinta, walau nanti kita sudah nikah?”

__ADS_1


“Izinin aku tetap berkelana mencari janda, ya, walau nanti kita sudah nikah!”


Ulah Pak Haji Ojan yang terus berbicara sudah langsung membuat Devano maupun Azzam tertawa puas. Bahkan walau Divani menjerit-jerit histeris sambil menangis karena takut. Kedua pemuda itu merasa sangat bahagia. Karena biar bagaimanapun, bicaranya pak Haji Ojan yang yakin Divani mencintainya, menjadi hukuman nyata untuk Divani setelah apa yang terjadi.


“Kok ... Mas Ojan kelihatan normal, ya? Tingkahnya sudah mirip laki-laki seusianya. Dia enggak kayak anak kecil lagi. Enggak pecicilan dan beneran tenang. Termasuk cara bicaranya,” batin Sundari yang diam-diam mengawasi pak Haji Ojan.


Sambil bertahan duduk di sebelah Sundari, pak Haji Ojan memberikan kotak tisu yang awalnya ada di tengah-tengah meja kaca hadapan mereka, kepada Divani.


“Pepet terus, Jan. Pepet, pepeeeeet, pokoknya!” Devano menjadi yang paling bersemangat.


Azzam yang sadar dirinya sudah melangkah jauh dalam membongkar kebohongan Divani, memilih diam dan hanya menjadi penonton sekaligus penikmat. Namun baru ia sadari, ada yang berbeda dengan seorang pak Haji Ojan.


“Jadi laki-laki banget, yah, Yang?” bisik Azzam Azzam ketika akhirnya ia membahasnya dengan sang kekasih. Di sebelah mereka pun pak Haji


Ojan memang masih tenang, tidak pecicilan lagi. “Moga sih, enggak kumat lagi. Moga bertahan selamanya. Kasihan juga kan kalau gitu terus!” Iya, Azzam sungguh peduli dan sangat berharap pak Haji Ojan bisa hidup dengan normal. Agar selain pak Haji Ojan bisa menjalani kehidupan layak, yang mengurus pun tidak direpotkan lagi. Kasihan juga kan Sepri jika sepanjang usia Sepri harus menjadi pengasuh pak Haji Ojan?


Sekali lagi Sundari mengawasi melalui kaca spion di atasnya. Bahwa di tempat duduk penumpang persis belakangnya, pak Haji Ojan masih duduk tenang dan sesekali mengawasi situasi sekitar. Namun baru saja, pria itu berkata rindu kepada Aisyah.


“Rindu ini menyiksaku. Seolah banyak beton panas yang menyerang, menggilasku dengan kejam!” ucap pak Haji Ojan.

__ADS_1


“Jadi dendeng Ojan kalau gitu caranya!” ucap Azzam masih fokus mengemudi di tengah gelapnya malam.


Waktu di jam digital yang ada di mobil Azzam menunjukkan pukul setengah delapan. Sementara tadi, kepulangan mereka yang pamit dengan baik-baik layaknya kedatangan mereka, juga dibarengi dengan kepergian Divani sekeluarga. Divani sekeluarga akan langsung ke rumah orang tua Chole yang memang tinggal di bekas rumah orang tua kandung Cinta. Mereka khususnya Divani akan langsung meninta maaf seperti harapan Azzam maupun Sundari. Dan semoga, Divani mau belajar dari kesalahannya yang sudah mirip pembull*y.


__ADS_2