Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
111 : Merangkul Lawan


__ADS_3

Arimbi : Lagi bareng, berhadapan begini pun masih kangen?


Mas Aidan : Heran, kan?


Arimbi : Alhamdullilah, sih. Aku seneng banget (emoji hati merah)


Mas Aidan langsung mesem kemudian menatap Arimbi penuh arti. Mas Aidan tahu, di dalam dadanya, khususnya di hatinya, tidak ada taman. Namun di sana seolah ada ribuan bunga cantik warna-warni yang bermekaran. Suasana di sana sungguh indah, meski tentu saja baginya tidak ada yang lebih indah dari Arimbi. Terlebih jika melihat Arimbi yang sedang senyum malu-malu balas memandangnya layaknya sekarang.


“Orang ini ... aku pikir, seumur hidupku, aku akan menghabiskannya dengan kaku karena mas Aidan yang pada akhirnya menjadi suamiku memang pendiam. Aku pikir, dia enggak bisa manis apalagi bucin. Namun ternyata, sekaku-kakunya pria, bahkan walau dia sangat pendiam dan dia sangat tanggung jawab sekaligus tegas, ... ya beneran sama saja. Kalau sudah bucin, ya bucin juga mirip orang normal pada kebanyakan!” batin Arimbi.


Sisa rombongan mas Aidan yang merupakan keluarga pokok, baru akan pulang.


“Mas, itu Ojan kok masih di luar. Bukannya mas Sepri sudah balik dari tadi? Ketinggalan, atau sengaja ditinggal?” tegur Arimbi yang memang melihat pak Haji Ojan masih ada di depan rumahnya.


Arimbi langsung beranjak berdiri bersama mas Aidan dan orang tuanya sekaligus kakek nenek pria itu. Benar, pak Haji Ojan masih di halaman rumah Arimbi dan pria itu tengah hanyut memandangi wanita bercadar hitam yang tak lain, Aisyah.


Dari teras rumah Arimbi, mereka juga menjadi mengetahui bahwa Aisyah tak sendiri. Karena di sana juga ada Romo Kyai, umi Indah, ibu Siti, pak Hasyim, dan juga Ilham yang masih harus memakai tongkat bantu jalan layaknya Aisyah.


“Assalamualaikum?” sapa Romo Kyai diikuti juga oleh umi Indah maupun Aisyah.


Lain dengan Ilham dan orang tuanya yang hanya menunduk dalam khas orang merasa malu sekaligus merasa bersalah.


“Waalaikum salam,” balas Arimbi dan mas Aidan berikut keluarganya.


Mas Agung yang baru keluar dari dalam rumah juga langsung ikut membalas sapaan. Cukup terkejut lantaran pandangannya sudah langsung disuguhi pemandangan kedatangan rombongan Romo Kyai. Romo Kyai jelas datang dengan baik-baik, niat atau itu tulus. Namun Ilham sekeluarga ... ketiganya mirip kerupuk yang tersiram air panas.

__ADS_1


“Maaf, ini saya mengganggu, tapi niat saya ke sini, hanya untuk ... meminta maaf kepada, ... Mbak Arimbi sekeluarga.” Romo Kyai yang sempat lupa dengan nama Arimbi, sengaja memastikannya kepada Aisyah yang sudah langsung membisikkan nama Arimbi kepadanya.


Suasana sudah langsung diselimuti keseriusan, membuat rombongan Romo Kyai khususnya Ilham dan orang tuanya sudah langsung menjadi fokus perhatian.


“Silakan masuk, Pak, Bu.” Sebagai kakak sekaligus wali dari Arimbi, Agung sudah langsung mengambil alih. Bagaimanapun hubungan mereka dengan Ilham sekeluarga, Agum hanya ingin bersikap sewajarnya dan sebisa mungkin tetap sopan.


Rombongan pak Kalandra sudah langsung pamit. Akala masih bersama mereka walau sepanjang kebersamaan, pria itu cenderung diam. Jangankan tersenyum apalagi tertawa layaknya yang lain, sekadar berbicara saja, Akala yang menjadi sopir pribadi untuk rombongan pak Kalandra, sama sekali tidak melakukannya.


Mas Aidan sengaja ditinggal dan memang membawa mobil sendiri. Nantinya, Mas Aidan juga yang akan membawa Arimbi dan ibu Warisem.


“Maaf Romo, tapi, kenapa malah Romo yang minta maaf sementara kesalahpahaman ini terjadi karena Mas Ilham?” tanggap Arimbi ketika Romo Kyai yang langsung dijamu dengan teh hangat oleh ibu-ibu yang rewang, langsung mengutarakan niatnya yaitu meminta maaf kepada Arimbi.


“Saya juga minta maaf Romo Kyai jika saya lancang. Namun, seperti yang calon istri saya katakan, kenapa justru Romo yang meminta maaf, sementara Ilham termasuk orang tuanya saja ... lihat, mereka begitu,” ucap mas Aidan yang kebetulan duduk di sebelah Arimbi. Bersama Agung dan ibu Warisem, mereka menjalani pertemuan di ruang tamu kediaman Arimbi yang luas dan masih dipenuhi aneka pacitan sisa besanan.


“Jangan terlalu dimanja, Romo Kyai. Terlebih sejauh ini, walau Aisyah juga jelas bagian dari tanggung jawab mereka, bukannya mengarahkan Aisyah, termasuk itu ketika Aisyah dipenjara, mereka beneran enggak ada usahanya. Ya semuanya karena mereka terbiasa terima beres. Biasa diurus Mbak Arimbi, dan sejak sama Aisyah jadi serba diurus Romo Kyai.” Mas Aidan masih berbicara lirih dan sangat santun.


“Benar itu, Mas. Iya, Mas Aidan beneran enggak salah. Dulu Mas Ilham sekeluarga punya Mbak Arimbi. Nah sekarang, ... ya apa-apa serba Romo. Sekadar berobat pun yang biayain Romo. Padahal kalau niat, tinggal jual tanah apa sawah, Mas Ilham sekeluarga pasti hidup berkecukupan. Toh, sawah sama tanah juga enggak mungkin dibawa mati!” sergah Aisyah.


“Coba kalau aku, berulah dikit sudah langsung dipanggang di sawah. Duh ....” Aisyah menunduk loyo.


“Bakalan rugi lahir batin kalau dari pihak Ilham saja enggak mau berubah,” ucap mas Aidan.


“Mending kalau memang ada modal, Mbak Ais pakai buat perawatan saja. Alasan Mas Ilham, maaf ya ... kata kasarnya, Mas Ilham enggak mau sama Mbak Aish kan gara-gara fisik dan rupa Mbak. Cintanya Mas Ilham mentok di rupa,” ucap Arimbi.


“Nah bener lagi itu!” sergah Aisyah tak ada jaim-jaimnya walau di sana ada Romo Kyai sekaligus orang tua Ilham.

__ADS_1


“Nah iya. Uangnya buat perawatan saja, terus Mbak Aisyah cari yang berkualitas saja. Jadi orang berkualitas pasti juga dapat yang berkualitas, Mbak!” tambah Arimbi.


Romo Kyai menghela napas lelah kemudian menunduk dalam. Kemudian ia menagih permintaan maaf dari Ilham kepada Arimbi.


Walau tampak malu sekaligus sungkan, akhirnya Ilham meminta maaf. Kata maaf yang juga turut membuat kedua orang tuanya ikut meminta maaf.


“Bilang ke Romo, Bu. Uangnya jangan hanya buat mas Ilham, buat aku juga karena aku saja enggak dapat nafkah sama sekali dari mas Ilham. Mereka ini, ... gimana sih ya ngomongnya. Beneran kebangetan soalnya Bu. Lama-lama, malah aku yang jadi tulang punggung gantiin Mbak Arimbi.” Aisyah berbisik-bisik kepada sang ibu. Permohonan yang ia yakini bisa sampai ke telinga Romo Kyai.


“Kalau mereka tetap kebluk alias pemalas, kamu yang harus tegas. Libas saja, libas!” balas umi Indah yang menjadi terganggu dengan adanya pak Haji Ojan di sana. Pria kurang waras itu terus saja menggoda sekaligus berusaha mencuri perhatian Aisyah. “Allahu akbar! Masa iya, yang mau tulus ke Aisyah, yang macam begini!” Dalam hatinya, umi Aisyah menjadi merasa sangat miris. Dan ia hanya mampu memanjatkan doa terbaik agar Aisyah bisa memiliki pasangan yang tulus kepada Asiyah. “Semoga Ilham mau berubah lah. Kasihan kalau Aisyah nikah cerai terus, dan selama nikah Aisyah enggak pernah dapat nafkah,” batin umi Indah.


Tak lupa, mas Aidan dan Arimbi sengaja mengundang Romo Kyai sekeluarga.


“Sebuah kebanggaan jika Romo hadir di pernikahan kami sekaligus memimpin doa terbaik untuk kami,” ucap mas Aidan.


“Mas Aidan enggak minta bantuan mas Ilham pasti karena ragu, ya? Takut dikasih doa salah? Lama-lama, aku juga jadi ragu sih. Kok gini banget!” ucap Aisyah yang kemudian menertawakan Ilham.


Arimbi dan mas Aidan juga jadi ikut tertawa. Begitupun dengan ibu Warisem dan mas Agung bahkan, umi Indah.


“Besok Mbak Aish juga ikut saja, ya. Besok pagi sebelum pukul setengah delapan, kumpul saja di depan rumah mas Ilham. Nanti ada mini bus yang jemput. Ada dua, biar yang mau ikut juga nyaman. Nanti diantar jemput,” ucap Arimbi penuh pengertian. Ia sengaja merangkul Aisyah, merangkul orang yang pernah sangat menyakitinya menjadi teman seperti yang ibu Arum lakukan kepada ibu Septi.


Aisyah langsung tak bisa berkata-kata. Terlebih Arimbi terlihat tulus, tan ada niat jahat dari Arimbi menyampaikan permintaannya.


“Besok kami pasti ikut, Mbak Arimbi. Apalagi rame-rame bareng tetangga yang lain. Mumpung masih di sini,” ujar Umi Indah menyanggupi.


Arimbi langsung mengangguk-angguk santun, dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada umi Indah sekeluarga yang tampak jelas tulus juga kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2