
“Eh, tadi kan aku belum sempat kasih tahu kabar terbarunya!” ucap Azzam dan mas Aidan sudah langsung melarang.
“Masih pagi, jangan nambah-nambah dosa!” ujar mas Aidan dan Sepri sudah langsung mesem.
“Mulutmu lemes banget sih Zam ... Zam!” ledek Sepri.
Azzam menatap bingung ketiga orang di sebelahnya, meski baru saja, Arimbi meninggalkan mereka karena ada pembeli. Termasuk juga mas Aidan yang sudah langsung menyusul karena pembeli terus berdatangan.
“Eh, kok pada bubar gini? Ini beneran enggak boleh gibah pagi apa gimana karena bikin dosa nambah?” keluh Azzam karena Sepri juga ikut pamit.
“Eh, Pri. Jangan pergi dulu. Bentar, aku mau ngobrol serius.” Mas Aidan yang mengantongi setiap pesanan pemberian Arimbi, sampai berseru.
“Lagian, kamu juga belum bayar kopinya loh, Pri!” tegur Azzam dan Sepri yang kebingungan langsung tertawa.
“Berapa sih, kopinya? Lima ratus ribu cukup segelasnya? Apa lima juta? Bisa bayar pakai joged enggak?” balas Sepri masih tertawa dan memang sampai turun dari motor, walau sebelumnya ia memang sudah siap pergi. Mesin motornya saja sudah ia nyalakan.
“Penghinaan berencana ini namanya,” ucap Azzam sambil geleng-geleng menahan senyumnya.
Setelah pembeli pecel agak sepi, Arimbi langsung meminta mas Aidan untuk menemui Sepri, mengajak mengobrol serius yang pria itu maksud, dan memang sudah Arimbi ketahui.
__ADS_1
“Hah? Dia beneran bapaknya, kan? Kok iya tega-teganya meram*pas perhiasan yang dipakai anaknya?” komentar Azzam jadi serius.
“Nah, makanya aku marah banget. Tapi malah untung ada perkara ini. Karena gara-gara perkara ini, jadi bisa dikasuskan dan yang kemarin sekalian,” jelas Sepri masih menjaga suaranya karena baginya, apa yang tengah mereka bahas dan itu mengenai kasus terbaru Suci, terbilang rahasia.
“Jadi gini saja, Pri. Ini nanti kan pasti dikasuskan, dan otomatis diproses dalam waktu dekat. Namun, kita cukup minta denda saja, tanpa penjara.” mas Aidan bertutur tegas sangat serius.
Azzam yang menyimak serius sudah langsung tersenyum ceria. “Ah, aku ngerti. Jadi cuma jadi tahanan kota, wajib lapor, dan jika sampai berulah lagi baru dikandangin, yah, Mas? Mirip yang dimohon Asiyah gitu, ya?” ucapnya memastikan kepada sang kakak. Kemudian setelah mas Aidan mengangguk, ia segera fokus ke Sepri. “Jadi cara itu beneran jauh lebih mujarab buat bikin mereka hidup sengsara, loh, Pri! Sudah kena denda, hidup tanpa mbak Suci pun otomatis bikin mereka sengsara karena selama ini, mbak Suci ibarat tulang punggung! Oke, gitu saja! Keren! Hukuman buat manusia dakjal enggak tahu terima kasih seperti mereka memang paling tepat gitu. Soalnya kalau dipenjara ya keenakan, dikasih tempat tinggal sama makan juga, kan!” komentar Azzam yang juga langsung kegirangan setelah ia mendapat jawaban dari Arimbi, bahwa Aisyah yang mengalami patah tulang parah akan dibebaskan sekaligus dipulangkan ke rumah Ilham.
“Assyyyik, besok aku bakalan gelar karpet bus*uk buat menyambut keluarnya wanita suci!” ucap Azzam lagi.
Hari ini kebersamaan mereka berakhir dengan kesepakatan. Bukan hanya Sepri yang langsung pamit pulang karena Azzam yang harus bekerja juga. Azzam pulang membawa pecel, lontong, gorengan, dan juga rujak untuk Azzura.
“Capek banget, ya? Aku perhatikan, kamu jadi kurus. Kamu enggak diet terus, kan?” Mas Aidan langsung menyikapi dengan serius.
“Sudah dua hari aku enggak selera makan. Pas bikin yamin pun lihat saja sudah kenyang,” balas Arimbi sambil melangkah keluar dari kontrakan. Ia melangkah tak bersemangat dan memang tak bisa menyembunyikan rasa lelahnya.
Mas Aidan yang menyimak langsung menggandeng tangan kiri Arimbi. “Kamu mau makan apa? Ayo kita makan, jangan diet-dietan!” sergahnya.
Arimbi belum menjawab, tapi mas Aidan buru-buru menutup pintu kontrakan kemudian membawa Arimbi pergi dari sana menggunakan motor matic hitamnya.
__ADS_1
Mas Aidan membawa Arimbi ke rumah makan yang keberadaannya dekat kontrakan Arimbi tinggal. Tak tanggung-tanggung, mas Aidan langsung membawa Arimbi ke dapur sambil terus menggandengnya hingga kebersamaan mereka langsung mencuri perhatian. Melihat wajah Arimbi saja, sebagian besar dari mereka nyaris terkecoh, mengira Arimbi ibu Arum.
“Mau pesan apa? Pasti enggak mau ngaku karena terlalu gugup bahkan malu.” Mas Aidan bertanya sendiri dijawab sendiri. Arimbi yang menghadapi langsung tersipu, terlalu gemas pada tingkah calon suaminya, walau gemasnya mas Aidan tak sampai membuat pria itu berisik apalagi pecicilan layaknya Azzam.
“Terlalu stres bisa bikin kita sakit loh, Mbak. Pertama, gejalanya ya enggak doyan makan. Jangan pernah bangga gara-gara jadi kurus dan penyebabnya efek kehilangan selera makan karena kalau sudah begitu, itu tanda-tanda stres.” Mas Aidan sudah langsung membawa Arimbi ke tempat duduk bagian depan di lantai bawah rumah makan.
“Tunggu di sini dulu, ya. Mau jemput ibu dulu biar sekalian ikut makan,” pamit mas Aidan setelah Arimbi duduk.
“Mas ...,” panggil Arimbi ragu. Termasuk juga dengan tatapannya kepada mas Aidan. Terlebih ketika pria itu akhirnya menoleh bahkan balik badan menghadapnya.
Dunia Arimbi mendadak menjadi berputar lebih lambat, selain keadaan yang juga menjadi sunyi. Seolah, di sana bahkan di dunia ini hanya ada dirinya dan mas Aidan yang menghuni.
“Apa ...?” tanya mas Aidan antara penasaran sekaligus khawatir karena jika dilihat dari emosi Arimbi, calon istrinya itu sedang tidak baik-baik saja. Ia sengaja menarik kursi di sebelah, kemudian mendekatkannya ke Arimbi. “Masih karena Aisyah yang besok akan keluar?” lirihnya karena kini saja, wajah mereka sudah dekat. Hingga ia merasa tak perlu bersuara lebih hanya untuk menganggap Arimbi berkomunikasi.
Arimbi menggeleng. “Bukan. Aku, ... aku hanya ingin bilang makasih banyak ke Mas. Makasih karena Mas selalu kasih sekaligus jadi yang terbaik,” ucapnya lirih juga. Di hadapannya, mas Aidan sudah langsung mesem dan perlahan tersipu. Sungguh ekspresi yang benar-benar manis. Terlebih ketika ia juga melakukan finger heart menggunakan kedua tangannya.
“Ketularan mas Azzam,” ucap mas Aidan masih tersipu. Diam-diam ia yakin, pipinya yang sampai terasa hangat juga sudah sampai merah karen kebahagiaan yang tengah ia rasa.
“Pokoknya, Mas yang terbaik!” ucap Arimbi sengaja menegaskan. Di hadapannya, mas Aidan yang kian tersipu berangsur membingkai pipi kiri Arimbi menggunakan tangan kanan. Pria itu mengelus bagian di sana penuh sayang. “Manis banget ya Alloh,” batin Arimbi tak berani mengatakannya. Tak beda dengan mas Aidan, dalam diamnya ia juga yakin, kedua pipinya yang terasa sangat hangat atas kebahagiaan yang ia rasa, sudah merah merona.
__ADS_1