
Hal pertama yang mas Aidan dan Arimbi lakukan setelah keduanya sampai di rumah pak Kalandra adalah melakukan tes kehamilan. Keduanya menggunakan test pack yang mereka beli ketika di perjalanan pulang dari Jakarta.
“Buka satu saja, Mas,” lirih Arimbi lantaran sang suami membuka ketiga test pack yang mereka beli.
“Sini ... sini, satu saja!” lirih Arimbi lagi. Ia masih serba berbisik-bisik, seolah apa yang tengah mereka lakukan merupakan hal yang sangat rahasia. Padahal di kamar, mereka hanya berdua.
Mas Aidan mengambil satu test pack dari dua yang Arimbi ambil. “Buka dua. Satu buat keluarga sini, satu lagi buat ayah Angga. Satunya lagi buat anak ke dua.” Mas Aidan tidak bisa untuk tidak tersipu ketika ia membahas anak ke dua.
Arimbi yang juga sudah langsung tersipu, hanya bisa mengangguk-angguk. “Ya sudah kita siapin dua. Satu lagi tolong dibuka yah, Mas. Aku cek pakai satu dulu.” Arimbi segera masuk kamar mandi sambil membawa satu test pack yang sudah dibuka.
“Tunggu ih, ikut!” Mas Aidan yang tidak mau tertinggal sedikit pun momen bahagia mereka, segera menyusul.
Beberapa saat kemudian, satu test pack sudah langsung dihiasi dua garis merah sekaligus, walau garis yang terakhir baru samar. Termasuk juga dengan test pack yang satunya. Arimbi apalagi mas Aidan sudah tidak bisa untuk tidak tersenyum. Keduanya benar-benar bahagia, dan Arimbi membiarkan sang suami memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat.
“Bahagianya ... apalagi Mas Aidan bahagia banget. Mmm, makin sayang, pasti makin posesif juga,” batin Arimbi seiring senyum lembut yang terus menyelimuti wajah cantiknya.
“Makasih banyak, ya! Sebahagia ini!” ucap mas Aidan yang kemudian membenamkan bibirnya di ubun-ubun Arimbi dan masih terbungkus jilbab hijau lumut.
Kehamilan Arimbi menjadi kebahagiaan sempurna untuk mas Aidan. Mas Aidan sampai tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
“Minta bantuan Mbak Azzura buat cek lah. Sekalian siap-siap beli vitamin, suplemen, sama susu hamil juga.” Mas Aidan benar-benar bersemangat. Ia yang awalnya sempat melonggarkan dekapannya hanya untuk menatap wajah Arimbi dengan saksama berangsur kembali memeluknya erat.
“Ini serius ...? Siapa yang ngidam?” lirih ibu Arum berbinar-binar menatap wajah Arimbi dan mas Aidan silih berganti.
__ADS_1
Di ruang makan, Arimbi dan mas Aidan membagikan kabar bahagia mereka. Mengenai kehamilan pertama Arimbi.
“Jangan bilang-bilang ke Ojan, nanti kalau dia tahu, yang ada dia pengin hamil juga. Asli, dia yang pengin hamil, bukannya bikin hamil,” ucap Azzam sambil menikmati makanan di piringnya.
“Kamu bilang, sejak tahu wajah aslinya Aisyah, Ojan jadi pendiam?” balas mas Aidan. Ia membiarkan Arimbi mengambilkan makanan untuknya.
Acara makan malam kali ini terasa makin sempurna atas kehamilan Arimbi. Mas Aidan sekeluarga tidak hanya mengucapkan selamat. Karena mereka khususnya orang tua mas Aidan juga sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali.
“Iya, Mas. Kayak ada, ... sesuatu.” Azzam juga bingung sendiri dengan perubahan pak Haji Ojan.
“Coba besok aku ajak dia ngobrol. Besok pada main ke warung pecel, ya! Besok Mas san Mbak Mbi di sana!” ucap mas Aidan sangat bersemangat.
“Mas sudah kabarin ayah?” tanya ibu Arum sambil mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya
“Besok, Mah. Takutnya kalau sekarang, ayah malah enggak bisa tidur gara-gara enggak sabar pengin bertemu kami secara langsung. Malam ini kan kami tidur sini, besok niatnya kami tidur di sana,” ucap mas Aidan lembut sambil menatap teduh sang mamah.
“Iya, sana sini orang tua. Kasihan, pasti sudah nungguin,” sergah pak Kalandra.
Kakek Sana sampai membahas rumah pak Angga yang memang sengaja dirancang sekaligus siapkan khusus untuk mas Aidan. “Ya tetap sana sini. Nanti kalau anak-anak sudah gede, baru menetap. Paling kalau akhir pekan, lebih bagus kalau kita punya waktu khusus buat sama-sama. Jangan hanya di rumah sih, kita pergi ke mana. Enggak usah jauh-jauh, liburan ke tempat yang dekat saja. Asal bareng-bareng kan momennya dapat lebih gereget.”
Mas Aidan dan Arimbi kompak menatap wajah ibu Arum. Setelah menyimak arahan pak Sana yang begitu tenang sekaligus menenangkan, mereka sengaja mengalihkan fokus mereka kepada wanita yang telah melahirkan mas Aidan.
“Iya, gitu saja ...,” ucap ibu Arum yang kemudian berdiri, melangkah dan menghampiri mas Aidan maupun Arimbi. Ia memeluk keduanya secara bersamaan di tengah kedua matanya yang berembun.
__ADS_1
Air mata ibu Arum luruh seiring hatinya yang terenyuh. “Badai telah berlalu, sementara permata yang dulu aku perjuangkan mati-matian, kini telah menjelma menjadi pelangi! Malahan terkadang, mas Aidan ibarat dewa penolong bagi mereka yang ditolong!” batinnya sambil menci*um kepala mas Aidan dan Arimbi silih berganti.
“Kadang kalau sudah begini, aku merasa jadi anak pungut deh.” Azzam tertawa miris kemudian menatap Akala yang ada di sebelahnya. “Iya kan, Dek! Kamu merasa juga enggak sih? Hah, enggak? Ah, kamu memang anaknya ibu Warisem! Kalian cocok banget!”
“Mas Azzam percaya, dulu Papah nemu bayi Mas di dekat pohon pisang belakang rumah. Yang dekat kolam lele dumbo itu?” ujar pak Kalandra sengaja menggoda Azzam.
“Percaya Pah. Gini-gini kan aku memang anaknya silumin buaya putih, berarti Papah silumin buaya putihnya! Hahahaha!” Azzam benar-benar tertawa puas. Membuat sang ayah hany tertawa pasrah.
“Bukan buaya putih, Mas Azzam, tapi beo. Berisik gitu ya mirip beo!” ujar nenek Kalsum yang membuat Azzam kian tertawa.
“Oh iya, Ibu juga ikut, ya. Mbak Mbi kangen banget ke Ibu. Beberapa malam terakhir, Mbak Mbi sering nangis gara-gara kangen Ibu!” Mas Aidan menatap ibu Warisem dengan tatapan yang sangat teduh.
“Mbak Mbi enggak usah khawatir, urusan Ibu sudah jadi urusan bersama. Sekarang saja, Ibu sudah masuk geng kami. Ibu dan Akala masuk geng baik yang tak jarang bikin darah tinggi! Sementara aku sama Ojan, terus Sepri, kami geng sesatnya!” ucap Azzam dan sudah langsung mengundang tawa dalam kebersamaan di sana diwarnai gelak tawa.
“Mas Azzam sendiri bagaimana? Mbak Sundari jadi kembali ke Yogyakarta?” tanya Arimbi lembut.
Disinggung hubungannya dengan Sundari, Azzam langsung lemes.
“Jangan lemes gitu. Wajib semangat biar Ndari juga semangat!” tegur mas Aidan sambil menetap sang adik penuh peringatan.
“Lusa kan berangkat ke Yogya, naik mobil. Aku khawatir langsung jadi ikan asin karena sepanjang perjalanan aku pasti muntah!” rengek Azzam dan malah membuat semuanya menertawakannya. Di sanana tidak ada yang tidak tertawa. Karena sekelas Akala dan ibu Warisem saja yang sangat pendiam, sampai menertawakan Azzam.
“Kasih tips biar aku enggak mabuk kendaraan saat perjalanan jauh dong. Masa iya, pacar pulang pergi ke Yogyakarta, aku enggak antar!” mohon Azzam sampai minta dibuatkan obat khusus anti mabok kepada Azzura.
__ADS_1
“Mbak Mbi sama Mbak Azzura, amit-amit. Nanti anaknya berisik kayak pamannya!” ucap nenek Kalsum dan kembali memecahkan tawa dalam kebersamaan mereka.