Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
133 : Rame Karena Korban Viraal


__ADS_3

Kepulangan Arimbi dan mas Aidan dari pantai Pangandaran, tak dengan tangan kosong. Keduanya membawa oleh-oleh untuk setiap anggota keluarga. Untuk para wanita berupa pakaian panjang lengkap dengan kain pantai. Sementara untuk laki-laki berupa baju pantai dan celana kolor yang semuanya bertuliskan : Pantai Pangandaran.


“Suka yang begini karena adem banget.” Ucapan tersebut silih berganti terlontar dari Azzura, ibu Arum, dan juga nenek Kalsum, silih berganti. Mereka termasuk para laki-laki juga silih berganti mengucapkan terima kasih untuk hadiah yang walau kelihatannya sederhana, tapi sangat bermakna untuk mereka.


“Tadi pagi Mamah juga sudah mau beli, eh Papah bilang enggak keburu. Kapan-kapan saja, dan ternyata sudah dibelikan satu pasang gini!” Ibu Arum yang duduk di sebelah sang suami begitu ceria.


Arimbi tersipu. Raut wajah khas pengantin baru yang membuat wajah cantiknya berseri-seri, menjadi pemandangan tunggal darinya. Ia memberikan satu kantong dari tiga yang masih tersisa kepada Azzam.


“Mas, ini buat Riri, ya!” ucap Arimbi.


“Oh, Riri dapat jatah juga, Mbak?” Azzam syok dan perlahan tersipu malu.


“Ya iya. Kan sama Mas Azzam, ya otomatis adik juga,” balas Arimbi. Azzam yang masih tersipu berangsur mengucapkan terima kasih.


“Sama-sama, Mas Azzam. Langgeng-langgeng, ya,” balas Arimbi benar-benar sabar.


“Kode keras itu. Awas saja kalau kamu hanya main-main,” omel nenek Kalsum kepada Azzam dan membuat semuanya menertawakannya.


Arimbi yang menahan tawanya segera duduk di sebelah mas Aidan dan ibu Warisem. Sang ibu benar-benar sudah ada di sana ketika ia dan mas Aidan sampai.


Ketika tatapan mas Aidan dan Arimbi bertemu, melalui senyum dan interaksi mereka, Arimbi ingin menyampaikan, bahwa kebahagiaan mereka benar-benar lengkap, meski di sana memang belum ada pak Angga.


“Ya sudah, kalian siap-siap dulu, nanti kita ke rumah makannya bareng,” sergah ibu Arum sambil menatap pengantin baru yang baru pulang bulan madu.

__ADS_1


“Mau jalan kaki saja, kan? Biar parkirannya enggak penuh?” ujar Azzura.


“Anak-anak jalan kaki, para orang tua naik mobil,” ucap mas Aidan apalagi biar bagaimanapun, keadaan ibu Warisem tidak memungkinkan jika untuk jalan kaki.


Sekitar dua puluh menit kemudian, apa yang mas Aidan arahkan benar-benar mereka jalani. Para orang tua pergi ke rumah makan inti menggunakan mobil. Sementara anak-anak berjalan kaki dan harusnya tidak sampai sepuluh menit karena jaraknya memang dekat.


Azzam dan Akala yang belum memiliki pasangan, melangkah di tengah. Sedangkan mas Aidan dan Arimbi yang terus bergandengan dan memakai pakaian pasangan layaknya apa yang dilakukan Excel dan Azzura, melangkah di urutan paling belakang.


Azzam tengah menceritakan kejadian saat Akala sampai dini hari belum pulang dan ditemukan oleh Excel.


“Kalau dia mabook janda kayak Ojan kan masih bisa pulang. Takutnya, dia gaul enggak bener atau malah kenalan sama lelembut. Bahaya banget kan kalau Akala sampai makan atau minum pemberian mereka yang enggak kita lihat. Nanti yang ada Akala beneran enggak pulang!” ucap Azzam yang kemudian merangkul Akala. Karena secerewet-cerewetnya Azzam, ia tetap sayang Akala.


Walau sering enggak nyambung karena Akala terlalu jujur bahkan polos, Azzam akan menjadi saudara paling sedih jika Akala kenapa-kenapa. Ditambah lagi meski mereka tidak kembar, sejauh ini mereka sering kemana-mana bersama. Serba mengerjakan tugas keluarga bersama, dan itu menjadi keistimewaan sendiri untuk mereka. Ibaratnya, Azzam merasa mereka kembar tanpa dilahirkan bersama. Terlebih semenjak berat badan Akala mulai menyusut, Azzam merasa kemiripan mereka makin banyak.


Arimbi memberanikan diri untuk menepuk-nepuk punggung Akala. Ia teramat yakin, alasan Akala begitu masih karena Cinta. Pertemuan semenjak di resepsi pernikahannya dan mas Aidan, pasti membuat Akala menjadi kacau. Ditambah lagi, tragedi buket pengantin yang justru didapat Akala. Arimbi yakin semua itu sudah langsung menjungkirbalikkan dunia seorang Akala.


“Oh, seblaknya si Akang Rafael? Yang tadi pagi aku bikin itu?” sergah Azzam langsung antusias. Tak menyangka, ulahnya yang menjadi korban viral yaitu membuat seblak cobek, dikata Azzura hasilnya sangat enak. Sementara sejauh ini, Azzura tipikal penikmat makanan yang levelnya sudah jahat. Dalam artian, makanan yang Azzura akui enak memang benar-benar enak.


“Nah itu! Mas Aidan sama Mbak Mbi wajib coba! Asli seblak buatan mas Azzam manusiawi. Sopan banget rasanya!” ucap Azzura.


“Yang bikin saja sopan, tentu seblak buatannya ya manusiawi alias tahu diri. Coba yang buat ibu Siti, ... tuh seblak pasti isinya duri atau malah beling!” ucap Azzam yang kemudian tertawa. Meski ketika akhirnya ia sedang mengulek bumbu di dapur rumah makan inti, jadi ia yang ditertawakan. Bagaimana tidak? Ia yang mengulek sambil bawel menirukan Mang Rafael lengkap dengan logat bahasa Sundanya yang khas, justru tidak tahu jika di antara saudaranya yang menyaksikan di dapur, ada Sundari.


“Kacau, kacau ... dari tadi aku ngomong, ngulek sambil joged-joged, eh malah ada ... eh Sayang, ... kamu kok enggak bilang kalau kamu mau datang?” Azzam benar-benar merasa ngenes.

__ADS_1


Azzam terlalu malu kepada Sundari. Sementara saudaranya malah sudah tertawa sampai menangis termasuk itu seorang Akala.


“Aku pikir Mas sudah tahu karena memang ada acara keluarga besar sekalian buat reunian. Mas Ojan saja datang, masa aku enggak?” balas Sundari. “Itu sarungnya melorot jatuh sampai lantai dibenerin dulu, Mas.”


“Hahahaha!” Saudara-saudara Azzam, termasuk para ipar, benar-benar tidak bisa berhenti tertawa. Dan Azzam hanya meliriknya sinis.


Selain itu, Azzam juga membiarkan Sundari membenarkan sarungnya, memasangkannya dengan benar. Termasuk topi hitam di kepalanya dan awalnya sengaja agak dimiringkan demi benar-benar mirip dengan si Mamang Duta Seblak.


“Ini daun bawangnya dipotong semuanya, kan? Aku bantu, ya. Eh terus itu kerupuknya sudah cukup empuk belum, Mas?” Sundari sudah langsung sibuk membantu sang kekasih yang terlihat jelas masih merasa sangat malu kepadanya.


“Sudah enggak usah malu. Bagiku, Mas Azzam itu paket komplit. Dewasa, cara pikirnya juga. Mas pun baik banget, rame, pokoknya debez!” ucap Sundari.


“Ya seenggaknya aku inginnya masih jaim apalagi kalau belum nikah, Ri!” lirih Azzam yang sampai merengek.


“Berarti kalau sudah nikah ibaratnya jadi sudah enggak mau jaim, ya? Ibarat kendaraan, remnya blong?” balas Sundari dan Azzam langsung menahan tawanya.


“Dek, kalau rasanya memang enak, besok juga langsung bisa jadi menu tambahan, ya! Berarti bakalan ada dua menu tambahan sekaligus.” Mas Aidan berseru, dan memang bersemangat.


Azzam berangsur menoleh, menatap sang kakak hingga tangan kanannya yang masih memegang ulekan berhenti mengulek bumbu di cobek batu berukuran besar sekaligus luas.


“Mas ih, ... apa-apa dijual,” lirih Azzam sengaja protes.


Sambil bersedekap mas Aidan berkata, “Lah kamu, masa otak bisnisnya enggak secanggih Sepri.”

__ADS_1


“Jangan contoh Sepri yang apa-apa dijual dong. Si Sepri, sekelas Ojan kalau laku saja bakalan dia jual!” balas Azzam.


“Namanya juga bisnis. Enak dan layak jual, ya sudah jalani. Yang penting jangan sampai beneran jual orang!” mas Aidan langsung tertawa hanya karena membayangkan Sepri benar-benar menjual Ojan.


__ADS_2