Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
141 : Kesempatan Bisnis


__ADS_3

Sepanjang di Jakarta menemani mas Aidan, Arimbi selalu menjadi teman bicara sekaligus penyokong kesehatan terbaik untuk suaminya. Kasus yang tengah mas Aidan hadapi bukan kasus biasa. Bukan hanya nama baik yang dipertaruhkan, tapi juga nominal uang yang benar-benar tidak sedikit.


Keuangan paman Lim mendadak tidak baik-baik saja akibat kasus yang menimpa. Karena selain paman Lim baru saja menyokong dana kepada Tuan Maheza guna membantu keuangan sang kakak yang sampai detik ini belum stabil, jumlah kerugian akibat pencabutan saham juga tidak sedikit.


Saham di perusahaan paman Lim sudah langsung terjun bebas. Gonjang-ganjing di perusahaan juga membuat karyawan resah. Beberapa dari mereka malah melakukan mogok kerja di tengah waktu yang mewajibkan mereka berjuang lebih keras lagi. Paling tidak bisa ditoleransi, sebagian dari karyawan sampai datang ke rumah karena kabar akan adanya pemecatan masal sudah langsung membuat kewarasan mereka pecah.


Excel menjadi garda terdepan perlindungan tanpa harus diminta. Ia mengerahkan anggota mafia-nya untuk jaga-jaga di depan rumah sang paman.


“Sera*ngan dari pihak yang enggak suka Paman menuntut ganti rugi atas pencabutan saham, pasti. Bukannya buru*k sangka, tapi keputusan kita menuntut YBS atas ditariknya saham secara paksa oleh pihak kepolisian, pasti membuat mereka merasa sudah jatuh, tertimpa tangga, bahkan beton.” Mas Aidan berbicara sangat tertata, di ruang kerja milik paman Lim yang ada di rumah.


“Jadi, YBS sengaja bikin keadaan makin enggak kondusif, dan YBS sengaja menghandle karyawan agar karyawan yang menye*rang Paman!” lanjut mas Aidan.


Paman Lim yang duduk di kursi kerjanya dan sampai detik ini masih menyimak serius sambil bersedekap, berangsur mengangguk-angguk. “Paman juga mikirnya begitu, Mas. Mereka sengaja membuat Paman hancur sehancur-hancurnya hanya karena mereka menganggap Paman berkhianat bahkan menginjak mereka. Mereka pasti berpikir, kenapa Paman tega menuntut mereka yang sedang punya masalah? Padahal selain Paman berhak melakukannya, menuntut YBS merupakan salah satu cara agar Paman bisa mempertahankan perusahaan. Agar Paman masih bisa memperjuangkan nasib para karyawan sekaligus keluarga yang karyawan-karyawan Paman perjuangkan.”


“Karena andai Paman enggak mau pusing, Paman cukup menutup perusahaan. Beneran enggak ada ruginya karena tanpa perusahaan pun, Paman dan keluarga Paman masih bisa hidup berkecukupan.”


“Masalahnya Paman peduli ke karyawan-karyawan Paman. Kalau bukan Paman, siapa yang memberi lapangan kerja ke mereka cuma-cuma di era yang sesulit ini?” Paman Lim menjadi emosional walau ia masih berucap lirih. Air matanya berlinang, melukiskan setiap jerit batin atas kesedihan yang tengah ia rasakan.


“Dari awal ada kasus, Bibi kamu sudah minta Paman buat tutup perusahaan karena takut hal semacam ini terjadi. Dan sekarang beneran terjadi, makanya Bibi kamu jadi sering vertigo.”

__ADS_1


Yang namanya rezeki termasuk itu rezeki dalam bentuk musibah, hadirnya memang tidak pandang waktu. Kita tidak akan pernah tahu kapan itu terjadi. Karena hadirnya pun tanpa permisi tanpa bisa diprediksi.


“Selagi proses hukum berjalan, Paman juga harus mengatasi keuangan perusahaan. Paman jangan pernah takut karena Paman berpotensi. Dunia bisnis bukan hal baru buat Paman.” Mas Aidan merasa ikut sesak.


“Enggak apa-apa, Paman jadi pemegang saham tunggal di perusahaan Paman sendiri. Daripada Paman jual cuma-cuma saham Paman yang sedang sangat jatuh!” lanjut mas Aidan.


“Paman enggak mungkin pinjam ke bank karena kemarin saja, Paman sudah ambil buat Ko Maheza. Ko Maheza pinjam uang bank atas nama Paman. Dan andai Paman jual barang, ... Paman enggak sanggup karena itu hak Bibi kamu sama anak-anak!” lanjut Sekretaris Lim.


“Sekarang gini saja deh. Paman ajak Bibi sama anak-anak ngobrol. Gimana kalau kalian jual beberapa aset. Aku tahu, Paman sudah sediain aset untuk setiap anak Paman. Bisa kan, untuk sementara itu digadai dulu atau dijual. Jadi, yang pegang saham di perusahaan Paman bukan lagi orang lain, tapi anak dan istri Paman sendiri.”


“Aku harap, kasus om Maheza bisa jadi pembelajaran berharga buat kita semua termasuk Paman yang sedang ada di posisi sekarang.”


“Gitu saja sih Paman. Paman sebagai pimpinan tertinggi di keluarga Paman, ... Paman wajib tegar, Paman harus makin tahan banti*ng lagi! Apalagi tujuan Paman mulia, yaitu ingin menciptakan lapangan kerja. Jadi, selagi proses hukum berjalan, Paman juga wajib menghidupkan kembali perusahaan Paman. Karena setelah karyawan melihat perusahaan baik-baik saja tanpa ada PHK massal dan pemotongan gaji seperti yang mereka teriakkan, perlahan semuanya pasti balik normal,” ucap mas Aidan berusaha memberikan dukungannya kepada sang paman.


“Nanti adik-adik kalau sudah kompak urus perusahaan, pasti bisa dapat berkali lipat, Paman!” yakin mas Aidan. “Jangankan jet heli, apartemen terbang saja, kalian bisa punya!” yakin mas Aidan.


Paman Lim yang sudah langsung tersipu berkata, “Amin, Mas. Makasih banyak, ya!”


Mas Aidan mengangguk-angguk. “Sama-sama, Paman. Pokoknya nanti mana yang cepat jadi uang, lepas dulu saja. Insya Alloh, kita juga akan menang di jalur hukum. Insya Alloh kita juga dapat ganti rugi berupa materi seperti yang kita tuntutkan.”

__ADS_1


“Amin, Mas. Amin. Paman percaya ke kamu apalagi tuntutan kita juga sangat kuat. Masalahnya, Paman malah khawatir ke istri kamu. Sudah mau tiga hari, jangan-jangan dia bosan,” ucap paman Lim.


Mas Aidan tersipu dan berangsur menggeleng. “Tenang, Paman. Istriku orang paling sabar yang pernah aku kenal. Dia bahkan lebih sabar dari mamah atau mbah Sana.”


“Meski keadaannya begitu bukan berarti Mas santai saja apalagi menyepelekan. Takutnya sebenarnya istri Mas jenuh. Apalagi kebiasaan orang jarang ngomong, sekalinya ngomong sudah langsung meledak!” ucap paman Lim.


Mas Aidan tersenyum santai. “Pokoknya aman. Karena di setiap ada kesempatan walau tengah malam, aku selalu khususkan buat dia!” ucapnya yang kemudian berkata, “Pas sama Didi kan aku banyak belajar. Terbiasa dituntut jadi pengertian, jadi sekarang setelah dapat yang sangat pengertian, tentu aku lebih cekatan!”


“Cekatan ngapain?” tanggap paman Lim.


Mas Aidan yang sempat terdiam karena kebingungan malah berakhir tertawa.


Ketika paman Lim sudah bisa tertawa gara-gara mas Aidan, di teras rumah paman Lim yang luas, ada Excel Lucas yang tampak was-was. Excel Lucas mengeluarkan ponselnya. Fotonya dan Azzura yang tersenyum cerah ke kamera sudah langsung menyambut di wallpaper. Kemudian, jemari tangan kanannya menjadikan aplikasi WA sebagai tujuan. Kontak yang tersemat di urutan paling atas dan itu kontak bernama Istriku dan dihiasi sebuah emoji hati merah, sudah langsung ia hubungi.


Tentu itu merupakan nomor ponsel Azzura. Excel melakukan sambungan telepon kepada Azzura.


“Assalamualaikum, Sayang? Gimana? Kamu, baik-baik saja, kan?” Suara Azzura sudah menyapa penuh pengertian.


“Waalaikum salam, Sayang. Aku baik-baik saja. Namun, aku minta maaf karena sepertinya, kita enggak jadi beli atau bikin rumah dulu. Uangnya buat beli saham perusahaan paman Lim dulu saja, ya? Nanti di tabungan selanjutnya, baru buat beli atau bangun rumah di kampung,” ucap Excel yang sebenarnya takut. Karena awalnya, dana yang sudah ia kumpulkan, akan ia pakai untuk membeli ataupun membangun rumah di kampung.

__ADS_1


Sampai saat ini, Excel dan Azzura memang belum punya rumah pribadi. Rumah Excel yang di Jakarta masih menjadi rumah bersama dengan ibu dan adik Excel. Sementara ketika di kampung, Excel dan Azzura masih tinggal di kediaman orang tua Azzura.


Jujur, rasa bersalah itu ada. Namun jika melihat keadaan paman Lim yang membutuhkan uluran bantuan. Juga membeli saham perusahaan paman Lim dan bagi Excel sangat menguntungkan, Excel yang memang mulai paham dunia bisnis, tidak mau melewatkan kesempatan tersebut.


__ADS_2