
“Kalau dipikir-pikir, kamu enggak guna banget, Pri. Masa anaknya dokter, sekadar cek tensi darah saja enggak bisa?” cibir Azzam.
“Lambemu, yah, Zam. Lemes banget kalau ngomong. Masa iya, aku yang bukan petugas klinik asal urus pasien? Kalau sekadar menerima sih bisa. Daftar, sudah pernah berobat di klinik belum? Timbang berat badan kan cuma dilongok, terus catat. Lah, cek tensi kalau urusan berobat ya enggak boleh sama asal orang, yang ada nanti kualitas kliniknya dipertanyakan.” Sepri berbicara panjang lebar.
“Kalau sekadar cek tensi darah sih gampang. Malahan kalau ngecek tensi darah kamu, itu enggak di lengan, melainkan di leher. Diikat kencang gantung ke kusen rumah setinggi mungkin!” lanjut Sepri.
Bukannya marah, Azzam malah sudah langsung tertawa sampai menangis. Tawa yang juga tidak menghasilkan suara saking merasa lucunya.
“Mas Azzam sama Mas Sepri, jangan bercanda dulu takutnya ganggu pasien,” tegur Sundari lembut.
Setelah kompak diam walau belum bisa sepenuhnya menyudahi senyum, Sepri dan Azzam tetap mengikuti Sundari. Di sana sudah ada pasien lansia dan langsung Sundari tangani. Azzam dan Sepri mengawasi jalannya pemeriksaan yang Sundari lakukan juga keinginan pasien yang ada saja yang meminta rawat inap atau malah rawat jalan. Lebih kebetulan lagi, Divani menjadi salah satu pasien yang baru datang diantar oleh Devano.
“Kamu di sini, Zam? Sakit juga apa gimana?” tanya Devano yang tentu saja mengenal Azzam. “Katanya pacaran, kok Azam kelihatan cuek. Maksudnya, perhatian ya wajar.
Azzam langsung menggeleng. “Memang ada kepentingan di sini, Mas. Sama, nah ... itu.” Azzam melongok Sundari sambil membagi senyumnya kepada Devano.
Devano yang sudah langsung paham segera menebak, “Pacar?”
Walau tidak menjawab secara gamblang, Azzam langsung tersenyum ceria sambil mengangguk-angguk. Kemudian, tatapannya tertuju pada Divani yang digandeng Devano. Divani terlihat sangat berantakan, wajahnya pias khas orang sakit. “Itu kenapa? Kebanyakan dosa apa mau nyumbang nyawa, Mas?”
Sepri yang masih ada di sana, sudah langsung membekap mulut Azzam menggunakan kedua tangan. Tentu ia kenal siapa Divani karena di beberapa kesempatan, mereka pernah bertemu ketika wanita muda itu masih menjadi kekasih mas Aidan. Walau tentu saja, meski jauh lebih lama menjadi kekasih mas Aidan, ketimbang kepada Divani, Sepri jauh lebih merasa akrab bahkan dekat dengan Arimbi.
Devano yang sempat tertawa bahkan terbahak-bahak, berkata, “Kena TBC kayaknya nih anak!”
__ADS_1
“Widihhh!” ucap Sepri dan Azzam kompak karena terlalu terkejut sekaligus merasa iba kepada Divani.
“Kak Vano fitnah banget ih!” sebal Divani.
Devano segera menatap Divani. “Ya iya, Tekanan Batin Cinta!” Ia mengakhirinya dengan tertawa, diikuti pula oleh kedua pria di sebelahnya karena Azzam dan Sepri juga langsung ikut tertawa
“Tadi Azzam mengakui wanita itu pacarnya. Dia ... dia adiknya si Sepri, kan? Masih kecil loh dia,” batin Divani diam-diam mengawasi Sundari yang sedang menghampiri pasien kakek-kakek dan kakek itu tampang sudah linglung.
“Gimana, Mbah?” tanya Sundari sembari duduk di sebelah sang kakek yang dikerumuni oleh sanak saudaranya.
“Ini saya bakalan disuntik, yah, Bu Dokter? Saya enggak mau disuntik, Bu Dokter. Nanti kalau saya disuntik, saya bisa mati! Apalagi kalau disuntik kan rasanya kayak digigit setttan!” rengek kakek itu tersedu-sedu. Rombongan yang mengantar dan sepertinya memang sanak saudaranya, sudah sibuk istighfar.
“Mungkin kakeknya pernah mengalami trauma gara-gara disuntik, makanya dia sampai yakin, disuntik rasanya kayak digigit Sepri!” ucap Azzam.
Lain dengan yang laun, Divani terlalu sibuk mengawasi Sundari. Walau masih muda, kesabaran Sundari sudah mirip ibu-ibu siap mental yang akan menekan egonya agar lebih sabar dari manusia kebanyakan.
“Mbak Didi kelihatan stres banget. Pasti Mbak Didi enggak bisa tidur, dan Mbak juga kehilangan selera makan, ya?” tanya Sundari sembari memasang tensi meter digitalnya ke tangan kiri Didi. Yang ditanya tetap tidak bersemangat. “Enggak bisa genggam yah, Mbak? Coba pelan-pelan, ya.” Ia sampai menggenggam, kemudian mengelus lembut tangan kiri Divani. “Lemes banget, ... wah bener, darah Mbak enggak ada delapan puluh. Ini mau diinfus saja yah, Mas? Habis satu atau dua botol harusnya sudah langsung mendingan.” Ia menatap serius Devano.
“Sudah dikasih dua botol sekalian, suruh diminum biar cepat!” yakin Devano dan sudah langsung membuat orang-orang di sana termasuk itu Azzam dan Sepri, tertawa.
Perlahan, Didi menghela napas dalam. Ia merasa dunia akan tetap tidak berpihak kepadanya jika ia juga tetap tidak melakukan perubahan. “Iya, aku harus move on!” batin Didi diam-diam mengawasi interaksi Azzam dan Sundari yang kerap bertukar lirikan sekaligus senyuman.
“Mas Vano masih lama di sininya?” tanya Azzam yang memang akrab dengan Devano.
__ADS_1
“Nunggu acaranya mas Aidan beres. Habis beres ya langsung balik ke Jakarta,” yakinnya.
Oh, ya, ya, ya ....” Azzam mengangguk-angguk. “Tiga hari lagi. Lusa mbesan, terus besoknya lagi tinggal ijab sana resepsi. Semua pembaca wajib datang dan kondangan pokoknya. Kalau sampai enggak, aku bungkusin Ojan ke mereka!” lanjutnya yang kemudian tertawa diikuti juga oleh semuanya kecuali Divani yang dari tampangnya memang terlihat memprihatinkan. Darah saja tidak ad delapan puluh dan sekadar menggenggam saja, Divani sudah tidak bisa.
“Pri, kamu siap-siap mandi. Mandinya lebih rajin lagi, biar besok pas buat mbesan, kamu kinclong dan enggak bau prengus! Urusan nuntun, nanti aku yang nuntun kamu asal talinya kenceng!” ucap Azzam bersemangat.
Sepri sudah langsung mendelik. Ia menatap tak habis pikir Azzam. “Dikiranya aku kambingnya?!” ujarnya mengomel.
Azzam langsung tertawa sambil memasang wajah tak berdosa. “Mbesannya mas Aidan ke mbak Arimbi enggak pakai kambing, Pri. Pakai Sepri! Eh, sapi maksudnya! Hahahaha!”
“Zam, kamu pengin perizinan yang baru aku kasih ke kamu, dicabut?” balas Sepri kali ini tak main-main.
“Ampun, Pri. Ampun. Sumpah, aku sungkem. Jangan, aku serius ke Ndari. Ampun ... ampun pokoknya!” Azzam berusaha menyalami tangan Sepri, tapi pria difabel itu terus menolaknya. Ia yang kewalahan memilih mendekap Sepri yang tega meninggalkannya begitu saja.
“Mas Sepri sama Mas Azzam, cocok banget kalau sudah bareng gitu,” ucap Sundari sambil merapikan tensi meternya. Ia sengaja mengajak Divani mengobrol. Karena selain mereka saling kenal, ia memang tidak tahu jika Divani sempat menjadikan Azzam sebagai target pengganti mas Aidan.
Divani yang memang sudah lemas lahir batin, balas menatap Sundari. Ia mencoba fokus menatap wanita muda yang selalu tampil ceria, di hadapannya. “Kalian, ... pacaran?”
Tersenyum hangat, Sundari langsung mengerjap sendu. “Insya Alloh, Mbak. Doakan biar makin langgeng, ya!” Sebenarnya Sundari ingin minta doa agar ia dan Azzam menyusul mas Aidan dan Arimbi ke pelaminan. Namun untungnya ingatannya masih tajam, hingga lidahnya segera mengucapkan doa lain untuk hubungannya dengan Azzam.
Walau tidak begitu bersemangat bahkan cenderung malas, Divani yang menjadi kalem berangsur mengangguk-angguk. Ia memilih membenamkan kepalanya di tumpukan kedua tangannya yang ia taruh di meja. Namun dengan segera, Sundari yang cepat tanggap langsung sigap meminta Sepri untuk memboyong Divani langsung ke ruang rawat.
“Aku langsung infus saja yah, Mbak. Enggak usah nunggu papah. Baru nanti kalau papah sudah sampai, Mbak konsultasi lagi ke Papah. Nanti ambil sampel darah saja. Aku sih yakin, asam lambung Mbak juga naik. Atau malah Mbak kena gejala tifus karena dari kemarin saja, Mbak sudah demam.” Sundari masih cekatan mengawal pengobatan Divani. Azzam memilih menunggu di bangku tunggu, sementara Devano yang mengantar sang adik, masih sigap menemani dan tak segan mambantu Sepri membaringkan Divani ke tempat tidur.
__ADS_1
Meninggalkan keadaan rumah sakit, suasana mendebarkan tengah menyelimuti kebersamaan Akala yang menghadap kedua orang tuanya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi, tapi seorang Akala berangsur turun ke lantai dan berakhir berlutut di hadapan kedua orang tuanya?