Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
113 : Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Nuansa Jawa kental hadir dari balutan kebaya beludru berwarna hitam dipadukan dengan hijab berwarna emas yang Arimbi kenakan walaupun tanpa paes.


Harap-harap cemas menyelimuti hati Arimbi yang sebenarnya sudah sangat pangling dengan rias pengantin di wajahnya. Miss Messi tengah memasang cunduk mentul atau itu kembang goyang yang merupakan hiasan kepala pengantin perempuan adat Jawa, dan jumlahnya ada tujuh. Lima buah kembang menghadap ke depan, sementara dua buah lainnya menghadap belakang. Simbol cenduk menthul dikata Miss Messi memiliki arti, bahwa kecantikan perempuan harus terlihat dari depan maupun belakang.


“Wajib cantik depan belakang, sama dalam juga sih. Biar suami makin sayang dan mantan, oh selamat tinggal kisah kita sudah usai!” ucap Miss Messi yang memang kerap melucu agar Arimbi tidak terus-menerus tegang.


Arimbi sudah langsung sibuk menahan tawa, gaya yang membuatnya terlihat makin elegan. Ditambah lagi, kebaya beludru yang merupakan pilihan mas Aidan, membuatnya terlihat sangat ramping sekaligus jauh lebih jenjang. Arimbi merasa sangat percaya diri sekaligus puas pada penampilannya.


“Gugup banget yah, Mbak?” lirih Miss Messi sembari memastikan kembang goyang yang ia pasang, pas tidaknya di kepala Arimbi.


Arimbi mengangguk-angguk.


“Namun sepertinya daripada Mbak, mas Aidan jauh lebih gugup. Itu dari tadi mondar-mandir ngintip Mbak. Tuh orang gugup bukan karena harus ijab kabul, tapi terlalu enggak sabar lihat penampilan calon istrinya! Hahaha!” ucap Miss Messi.


Lagi, Arimbi mesem. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi bibirnya tanpa benar-benar menempel. Satu lagi yang membuat Arimbi merasa sangat berbeda. Selain kuku jemarinya baik tangan maupun kaki sampai dirias, jemarinya juga mendapat riasan hena warna putih cenderung silver. Kemarin malam, masih Miss Messi juga yang melakukannya.


“Oke, ... ini sentuhan akhir!” ucap Miss Messi sembari mengambil rangkaian melati khusus untuk pengantin. “Aku sampai tahan napas buat pasang matinya, habis ini baru dipasang veil biar kesannya makin feminin.”


Dan Rasa kagum Arimbi pada penampilannya, menjadi makin lengkap setelah melati tibo dodo yang menjuntai indah dari atas kepala hingga pinggang terpasang sempurna lengkap dengan veil cantik yang membuat penampilannya sangat feminin.

__ADS_1


Dengan jailnya, Miss Messi yang juga merasa sangat puas dengan hasil riasnya sengaja berseru, “Mas Aidan, ... Mas Aidan. Sini jangan bolak-balik ngintip lagi. Ini Mbak Arimbi sudah siap!”


Mas Aidan yang memang menunggu di depan pintu dan memang tak sabar, refleks masuk. Tanpa ba bi bu, tatapannya sudah langsung mencari Arimbi. Di cermin rias kamarnya, ia menjumpai pantulan bayangan Arimbi yang ... benar-benar membuatnya pangling. Saking cantiknya Arimbi, sampai tidak ada kata-kata yang bisa mewakilinya.


Tersipu malu, dari pantulan cermin rias di hadapannya, Arimbi menatap mas Aidan yang juga langsung kikuk. Senyum hangat merekah menarik kedua sudut bibir mas Aidan. Membuat mas Aidan yang sudah memakai pakaian pengantin hitam lengkap dengan blangkon terlihat semakin gagah.


***


“Wah ... acaranya beneran di hotel! Keren banget! Pasti mahal ini, enggak kayak kalau bikin resepsi di rumah, tapi malah enggak jadi gara-gara modalnya buat kompensasi!” heboh ibu Rokhayah dan membuat yang lain ikut-ikutan.


“Mbak Aish nggak mau sekalian, mumpung lagi di hotel, sekalian gelar resepsi biar bareng-bareng mbak Arimbi? Lihat tuh, Mas Ilham sampai nyusul pakai tongkat biar makin kompak sama Mbak Aish. Berasa sehati susah senang ditemenin!” lanjut ibu Rokhayah. Wanita yang memakai kebaya lengkap dengan konde layaknya lengger itu masih berbicara menggunakan mikrofon. Karena kini saja andai belum sampai hotel acara ijab kabul sekaligus resepsi Arimbi dan mas Aidan digelar, ibu Rokhayah masih akan karaokean menyanyikan lagu dangdut koplo andalan.


Ada yang tertawa hanya karena mendengar balasan jujur Aisyah. Namun, ada juga yang prihatin khususnya umi Indah dan Romo kyai yang duduk bersebelahan di seberang Aisyah. Lain dengan Ilham yang duduk persis di sebelah Aisyah. Ilham sudah langsung menunduk dalam menahan malu. Inilah alasan Ilham enggan ikut, tapi Romo Kyai memaksanya untuk menjadi bagian dengan dalih, tidak sopan.


Sebenarnya, setiap obrolan orang-orang di sana yang sering menyindir ibu Siti sekeluarga, sudah membuat telinga ibu Siti sekeluarga sangat panas. Malahan saking panasnya jika bisa menimbulkan efek layaknya di acara animasi, dari kedua telinga ibu Siti maupun sang suami, tak hanya mengeluarkan asap, tapi juga kobaran api. Hanya saja, tekad ibu Siti sudah bulat. Ibu Siti mewajibkan diri menghadiri pernikahan mas Aidan dan Arimbi karena yakin di di acaranya pasti banyak makanan enak!


Kedatangan rombongan tamu yang menggunakan dua mini bus tersebut bertepatan dengan kedatangan rombongan mas Aidan. Setiap mobil yang datang dilengkapi bunga dan janur kuning. Pemandangan yang sudah langsung mencuri perhatian tetangga Arum di dalam mini bus.


“Ya ampun ... itu, si ganteng itu!” Aisyah yang yakin Excel juga datang, mendadak mules tidak jelas mirip gejala kontraksi padahal ia tidak sedang hamil. Kemudian, tatapannya tertuju kepada Ilham yang masih saja bersembunyi di balik gengsi. Ilham terus menunduk dalam. Beda dengan Excel yang begitu perhatian kepada Azzura. “Andai bisa tukar tambah suami. Aku mau lah, tukar tambah sama yang Cel, Cel, adiknya mas Aidan yang ganteng itu!” Aisyah yang masih berbicara dalam hati benar-benar sedih jika ingat nasibnya. Memiliki suami yang mengharapkannya cantik tapi tak mau memberinya modal.

__ADS_1


“Arimbi pasti cantik banget. Pas lamaran sama mbesan saja sudah mirip artis,” batin Ilham pura-pura cuek padahal sebenarnya, ia lebih parah dari Aisyah yang begitu mengagumi Excel. Kini saja, setelah mengawasi setiap mobil yang memasuki tempat parkir bagian depan hotel dan itu persis di sebelahnya, pandangannya sudah langsung tertuju pada mobil Pajero putih dan hitam yang bagian depan tengahnya dihiasi bunga sekaligus pita. Ilham yakin Arimbi ada di salah satu mobil tersebut.


“Pri, jandanya mana?” sergah pak Haji Ojan buru-buru turun dari mobil yang Sepri kemudikan. Ia sungguh tidak sabar untuk segera bertemu Aisyah.


“Coba dicari itu di mini bis. Ada di salah satu bis itu!” balas Sepri dengan entengnya.


“Janda, janda, janda ...!” lantun pak Haji Ojan sambil membawa satu pot tanaman janda bolong. Ojan membawanya khusus dari rumah, koleksi ibu Septi.


Ketika pak Haji Ojan sibuk melantunkan lagu janda, yang ditinggalkan akan kompak mengelus dada. Layaknya ibu Septi dan eyang Fatimah bahkan dokter Andri dan Sepri yang kompak geleng-geleng sambil cengengesan melepas kepergian pak Haji Ojan.


Di dalam mobil Pajero hitam, di tempat duduk tengah, Arimbi yang duduk bersebelahan dengan sang ibu, mengawasi suasana luar. Di pintu masuk sudah dipenuhi papan bunga ucapan untuk pernikahannya dan mas Aidan. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya ada belasan.


“Mbak Mbi, nanti Bunganya buat siapa?” tanya Azzam yang kali ini menjadi sopir Arimbi. Ia melirik penuh arti Arimbi kemudian berganti pada Sundari yang duduk di sebelahnya.


“Mas Azzam mau?” tanya Arimbi sambil tersenyum manis. Ia menatap bahagia buket bunga putih dengan sentuhan pink dan memang bukan bunga asli, di pangkuannya.


Azzam langsung mesem. “Kalau aku kan sudah pasti sama Ndari. Jadi, langsung kasih saja ke Ojan yang belum pasti, Mbak. Lihat tuh, Ojan ngejar si wanita suci sambil bawa janda bolong satu pot!” Azzam tidak bisa berhenti tertawa dan memang heboh. Kehebohan yang juga langsung menular kepada yang lain termasuk Sundari yang memang kalem.


Di luar, pak Haji Ojan memang sampai membantu Aisyah turun dari bus dibantu Romo Kyai juga.

__ADS_1


“Uweeeee!!” Ibu Siti malah mabuuk kendaraan. Membuat yang ada di sana langsung menyoraki, menertawakannya.


__ADS_2