
Excel sengaja meraih sebelah tangan pak Haji Ojan, kemudian membuat pria yang kiranya hanya tiga tahun lebih tua darinya itu duduk di sebelahnya. Excel tak mengizinkan pak Haji Ojan membuat keributan di sana, terlebih sekelas Azzura saja takut kepada pak Haji Ojan. Bukan karena fisik Ojan atau penampilan pak Haji Ojan yang serba pink. Melainkan kena kenyataan pak Haji Ojan yang ngeyel sekaligus tak tahu aturan.
Sudah tidak kurang-kurang pak Haji Ojan diperingatkan, tapi lagi-lagi dan terus begitu, pria penggemar warna pink itu berulah. Mungkin karena itu juga, semua wanita yang berhasil pak Haji Ojan nikahi, selalu meminta cerai sebelum malam pertama. Jadi, walaupun sudah pernah menikah sebanyak lima kali, tidak ada satu pun pernikahan yang jadi. Semuanya hanya berupa pernikahan satu hari.
“Amit-amit ya Alloh. Amit-amit jabang bayi!” lirih Azzura sambil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan.
Sebelah tangan Excel yang tidak menahan tangan pak Haji Ojan juga berangsur mengelus-elus perut Azzura, walau kedua mata Excel masih fokus menatap pak Haji Ojan.
“Sana ambil makan di prasmanan saja. Makan yang banyak,” ucap Excel.
“Anggap saja rumah sendiri, ya?” balas pak Haji Ojan meminta pendapat.
Excel menggeleng. “Enggak boleh begitu. Jangan sampai menganggap rumah orang sebagai rumah sendiri takutnya malah jadi enggak sopan,” yakinnya lembut sekaligus sabar.
“Oh, gitu ....” Pak Haji Ojan kemudian melongok Azzura. Ia tersenyum tak berdosa menyapa Azzura yang langsung pindah ke pangkuan pak Kalandra.
“Aku mau sama yang itu.” Pak Haji Ojan menunjuk Azzura. “Kalau enggak yang itu,” lanjutnya kali ini menatap Arimbi. “Sama yang itu juga enggak apa-apa,” lanjutnya tetap bersemangat sambil menatap Divani.
“Mah, tuh orang kurang gizi apa gimana? Kok ngeri gitu tampangnya!” bisik Divani kepada sang mamah, dan benar-benar merasa ngeri. “Dia sakit kayaknya, ya!”
“Sudah ... sudah. Mending sekarang kamu ke prasmanan. Di sana banyak makanan enak, ” lanjut Excel masih membujuk.
Pak Haji Ojan menggeleng cepat. “Aku enggak butuh makanan enak lah. Aku mau makan janda saja!” rengek Ojan berbisik-bisik ke Excel.
Excel menggeleng tak habis pikir apalagi ketika pak Haji Ojan melayangkan rayuan gombal kepada Arimbi. Excel tak memiliki pilihan lain selain memanggul tubuh pak Haji Ojan.
__ADS_1
“Hah ....” Sepri yang baru datang masih sangat ngos-ngosan. Menandakan jika pria itu baru saja berlari. “Ternyata sudah sama Mas Excel!” ucapnya sembari berhenti melangkah tepat di anak tangga terakhir menuju lantai atas. “Enggak apa-apa yah, Mas, berbagi beban. Berbagi beban kan bagian dari ibadah!”
“Ibadah sih ibadah. Namun kalau bebannya macam Ojan, sudah beda ceritanya. Yang ada bukannya ibadah, tapi malah musibah!” komentar Azzam yang kemudian berdiri menghampiri Sepri menyusul Excel yang sudah membawa pak Haji Ojan pergi.
“Bukan masalah lagi sih Mas Azzam. Namun memang kiamat sugra. Bayangkan saja, setiap detik yang aku lewati ibarat sakaratulmaut gara-gara tiap saat mikirin Ojan. Kepalaku jadi penuh uban padahal aku belum bapak!” komentar Sepri menggebu-gebu.
Pak Kalandra sudah sibuk menahan tawanya. “Lawakannya Septi menular ke Sepri!” ucapnya di sela tawa. Kemudian, fokusnya tertuju kepada Azzam yang dengan jailnya melongok kepala Sepri kemudian agak mengacaknya.
“Enggak apa-apa, Pri. Banyak uban juga bagian dari ibadah. Karena dengan begitu, semir rambut jadi laku!” ujar Azzam sampai memberikan dua jempolnya kepada Sepri.
“Jailnya mas Azzam, papahnya banget!” lirih ibu Arum sembari menahan tawanya.
Pak Kalandra tak kuasa mengelak, selain ia yang juga makin sibuk menahan tawa. Ketegangan yang juga berselimut rasa tidak nyaman, seketika digantikan senyuman sekaligus tawa akibat obrolan ajaib Sepri dan Azzam.
Excel yang begitu kuat dan sama sekali tidak terlihat merasa beban walau masih memanggul pak Haji Ojan yang tak mau diam, kembali menaiki anak tangga. “Mbak ayo turun. Itu dicariin tamu. Ibu Septi mau ketemu itu di lantai bawah. Ada Nissa juga.”
“Yuk ikut ke bawah, coba aneka makanan. Banyak makanan lokal yang enggak boleh dilewatkan karena emang enak banget! Pecel lontong sama rujak buatan mbak Arimbi juga rekomen banget!” ajak Azzura ceria.
Orang tua Divani yang sadar bahwa putrinya yang salah, langsung bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Meski tentu, mereka belum bisa seleluasa sebelum mereka mengetahui bahwa hubungan mas Aidan dan Divani, belum berakhir.
“Aku mandi dulu,” pamit mas Aidan kepada Arimbi dan langsung mendapat anggukan persetujuan. Karenanya, ia segera pamit juga kepada sang mamah, lengkap dengan menitipkan Arimbi kepada sang mamah.
Kebersamaan di lantai atas yang membahas nasib hubungan mas Aidan dan Divani usai. Arimbi dibawa oleh ibu Arum dan Akala si makhluk paling jujur, langsung ikut serta. Sementara Divani, walau berat melepas mas Aidan selain ia yang juga merasa malu, sengaja menjaga sikap sekaligus mulai menata kembali hatinya.
“Benar-benar buat pembelajaran. Ke depannya aku beneran enggak boleh seperti ini lagi. Ya Alloh, rasanya seberat ini harus melepas pria sangat baik sekelas mas Aidan!” batin Divani sembari mendekap erat lengan kanan sang mamah.
__ADS_1
Beruntung orang tua Divani sangat pengertian, mengajaknya pulang lebih awal hingga ia tak lama-lama menyaksikan keromantisan Arimbi dan mas Aidan. Terlebih kedua sejoli itu sampai memakai pakaian pasangan, tak lama setah mas Aidan yang pamit mandi kembali dengan kemeja lengan pendek warna abu-abu, selaras dengan gamis Arimbi.
Selain itu, walau acara empat bulan kehamilan Azzura jelas acara Azzura dan Excel, tapi kenyataan mas Aidan dan Arimbi yang mengabarkan akan segera menikah, turut menjadikan keduanya sebagai pusat perhatian. Malahan semuanya jadi sibuk membahas konsep pernikahan Arimbi dan mas Aidan, termasuk juga orang tua Divani yang turut meminta untuk diundang.
Setelah Divani pergi, kebersamaan di sana tetap berlanjut. Mereka masih sangat bersemangat membahas pernikahan mas Aidan dan Arimbi.
“Nanti kalau mbesan, aku siap menuntun sapinya, Mas, Mbak! Pakai sapi, kan?!” sergah ibu Septi menggebu-gebu.
“Sapi itu pas kamu karena kamu kemakan omongan kamu!” balas pak Kalandra di sela tawanya.
Kalian tahu mbesan? Itu mirip bagian dari seserahan. Namun di setting tempat cerita ini dan itu di salah satu daerah yang ada di Cilacap, acara mbesan benar-benar seru apalagi jika sampai ada dagelannya. Dagelan yang biasanya terjadi jika yang menikah sama-sama anak pertama, atau malah anak pertama dengan anak terakhir. Tergantung pihak pengantin memakai acara tersebut atau tidaknya.
“Masih deg-degan?” lirih mas Aidan yang duduk di sebelah Arimbi. Mereka duduk di tikar lantai yang ada di teras rumah menghadap prasmanan.
Mas Aidan terlalu takut ditikung Azzam apalagi pak Haji Ojan yang masih berkeliaran di sana. Karenanya, mas Aidan tidak bisa jauh-jauh dari Arimbi. Mereka tengah menikmati es gepluk yang kini berubah nama menjadi es gepluk cap gajah langsing. Padahal saat di novel Arum yaitu Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah tangga, nama esnya masih es gepluk Cap Gajah Duduk, efek ibu Septi selaku penjual yang saat itu masih sangat gendut.
Mengulas senyum wujud dari ketenangan sekaligus kebahagiaannya, Arimbi menatap mas Aidan. “Enggak, Mas. Beneran sudah enggak tegang terlebih ternyata, enggak semenakutkan yang aku bayangkan.”
Menyimak itu, mas Aidan mesem, tapi buru-buru diam lantaran Azzam yang sy1r1k, berdeham keras. Azzam yang duduk di sebelah mas Aidan sengaja meminta pak Haji Ojan untuk duduk di antara mas Aidan dan Arimbi. Tentu pak Haji Ojan langsung bersemangat dan berusaha duduk di antara keduanya.
“Pamit ya, Mah, Pah, Mbak, Mas, Pah. Mau keluar bentar, mumpung ada waktu. Apalagi di luar rada mendung, enggak panas-panas banget!” ucap mas Aidan langsung tancap gas, menggandeng Arimbi kemudian buru-buru pergi dari sana, setelah menyalami para orang tua yang ada di sana.
“Itu mau ke mana?” Pak Haji Ojan bingung.
“Sudah sana, ikut ... Ikut!” ucap Azzam sengaja.
__ADS_1
Beruntung, Sepri sudah langsung mendekap kedua kaki pak Haj Ojan. “Jangan ikut, mereka mau kencan!” yakin Sepri.