Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
108 : Enggak Kuat!


__ADS_3

Ilham tetap tidak bisa menjawab, begitupun dengan ibu Siti. Namun Aisyah tidak mau dicerai. Aisyah mengaku tulus mencintai Ilham.


“Namun bukan berarti mereka bisa semena-mena kepadaku. Masa, ... masa aku panas-panasan di sawah, Mas Ilham necis cari kerja enggak jelas. Mas Ilham bahkan jauh lebih peduli ke Arimbi maupun wanita lain. Ke aku, semua telepon dan pesanku dicuekin, eh giliran Arimbi langsung diajak ketemuan. Sengaja diajak ke tempat sepi biar enggak ada yang ganggu,” ucap Aisyah berkeluh kesah.


“Ibu Siti juga, ... setiap ngomong ke aku, di mulutnya berasa ada toaknya. Warga sekampung langsung dengar semua, padahal itu bukan woro-woro. Parahnya, Ibu Siti sampai meneriaki aku mallling!” Aisyah juga sengaja menjadikan kebersamaan kini sebagai ajang balas dendam.


“Hmmm, si Aisyah, mulut sama penampilannya sama-sama buriiik!” batin ibu Siti sambil melirik sinis Aisyah.


“Lihat tuh, Romo. Ada Romo saja, Ibu Siti berani melirik aku setajam itu,” sedih Aisyah sengaja mengadu.


Ibu Siti yang awalnya sinis, buru-buru memasang wajah sangat ramah penuh senyum. “Balik ke Aisyah juga, kalau Aish lagi susah diatur, ya mau enggak mau saya harus tegas kan, Umi ... Romo?” Ia sengaja bersuara sebelum Aisyah membuatnya makin tersudut. “Tunggu pembalasanku, wanita sok suci!” batinnya benar-benar dendam.


“Lalu, bagaimana dengan tanggung jawab anak Ibu kepada Aisyah?” sergah Umi Indah, wanita yang telah melahirkan Aisyah. Ia masih bertutur lirih sekaligus santun layaknya Romo Kyai.


Ibu Siti langsung kicep, tak berani menatap Umi Indah. Terlebih walau masih berucap lirih , Umi Indah jelas tengah marah kepadanya.


“Istri itu tulang rusuk, Nak Ilham. Bukan tulang punggung yang sengaja Nak Ilham kasih banyak beban!” ucap Umi Indah. “Kalau Nak Ilham ingin istri cantik, Nak Ilham wajib kasih modal. Modal bahagia lahir batin. Jangan lupa, istri ibarat cerminan dari seorang suami. Dan Nak Ilham wajib kerja!”


“Dari kemarin ke pondok saja kenapa? Di sana kan semuanya sudah serba disiapkan. Nak Ilham bahkan sudah Romo angkat jadi Gus. Kurang apa lagi? Nak Ilham sudah ada pekerjaan. Aish juga bisa jaga kantin dan Aish mau!” lanjut Umi Indah meski ia masih berucap lirih.


“Adanya sebuah bangunan selalu dimulai dengan pondasi yang kuat, bukan tiba-tiba ada atap. Anak-anak Romo saja merintis semuanya dari nol, beneran dari awal, bawah. Semuanya berproses, bukan mendadak jadi sukses seperti yang Nak Ilham mau!”


“Karena andai Nak Ilham memang berbakat, Nak Ilham bisa jadi panutan dan bisa menjadi sumber kebaikan sekaligus masa depan pondok pesantren, Romo Kyai dan semua petinggi di pondok juga enggak segan nuntun Nak Ilham buat jadi lebih baik lagi!” lanjut umi Indah masih meluapkan keluh kesahnya.

__ADS_1


“Kalau enggak, di sini pun sambil buka TPQ apa les khusus ngaji, belajar bimbingan belajar karena gitu-gitu Mas Ilham sarjana, ... sebenarnya bisa loh kalau otak Mas Ilham memang ada,” ucap Aisyah.


Mendengar itu, ibu Siti langsung mendelik. “Maksud kamu bilang gitu apa, Aisyah? Ilham enggak ada niat buka les karena jangankan di kampung yang apa-apa serba susah, di pondok saja kalau bantu-bantu cuma dikasih ucapan terima kasih. Memangnya kamu dinafkahi ucapan terima kasih? Kenyang kamu dikasih makan ucapan terima kasih?!”


“Bu!” tegur Ilham lirih.


Umi Indah langsung menggeleng, menatap tak habis pikir ibu Siti. “Kasar banget!” lirihnya mengecam. “Anak laki-laki, sudah menikah, jangan terus-terusan dimanja, Bu. Adanya apa ya suruh dikerjakan. Disyukuri hasilnya wong bisanya hanya itu. Masa enggak malu sama siapa itu? Arimbi namanya, yang sudah biasa jadi tulang punggung kalian? Dia jualan pecel buat menafkahi kalian. Jadi pembantu di rumah orang bahkan di luar negeri!”


“Intinya cari nafkah, cari uang, asal halal enggak usah malu. Mau jadi tukang pecel bahkan pemulung sekalipun, asal halal. Jangan dibesarkan terus gengsinya. Masa iya hal begini saja harus diajari?!” lanjut Umi Indah mulai geregetan.


“Kalau memang adanya sawah, ya mulai belajar pekerjaan di sawah. Sama-sama belajar karena hidup memang adanya begini,” ucap Romo Kyai benar-benar sabar sembari menyeka kedua sudut matanya yang masih basah. “Bagaimana Nak Ilham?”


“Iya, Romo. Saya benar-benar minta maaf,” ucap Ilham masih menunduk dalam.


“Janda ....”


Mendadak ada suara asing, suara seorang pria dan terdengar manja. Ketika mereka kompak menoleh, pria itu memakai serba pink. Tentu saja itu pak Haji Ojan. Pak Ojan mengantar jatah makan siang untuk Ilham.


“Janda, janda, janda, ... hidup ini indah karena janda!” Pak Haji Ojan malah nyanyi dengan cengkok lagu dangdut khas Haji Rhoma Irama.


Kebersamaan yang awalnya diwarnai keseriusan berselimut emosi, menjadi oleng gara-gara pak Haji Ojan.


“Piring, sendok, mangkuk, sama gelasnya, jangan ikut dimakan, ya. Salam janda!” ucap pak Haji Ojan yang memang langsung pergi dari sana.

__ADS_1


“Lihat, ... orang kurang waras saja masih mau kerja!” tegas Umi Indah sengaja menyindir Ilham.


Ibu Siti sudah langsung berdeham karena ia sadar, besannya sengaja menyindir Ilham.


Sementara itu, Mas Aidan tengah memboyong bahan masakan untuk acara mbesan besok ke rumah Arimbi, menggunakan mobil pick up. Tentunya, di sebelah mas Aidan ada Arimbi yang menemani.


“Yang, ini langsung masuk saja, parkir di depan rumah?” tanya mas Aidan masih mengemudi dengan hati-hati lantaran jalan di sana terbilang sempit.


“Iya, Mas. Tapi parkirnya di belakang rumah saja. Lewat bekas depan rumah, ambil kiri dikit, biar pindahin barang-barangnya dekat,” jelas Arimbi.


“Oh, oke oke,” balas mas Aidan fokus menatap jalan karena di jalan gang, ada beberapa warga yang tengah lewat. Mereka baru pulang dari sawah dan langsung silih berganti menyapa sambil menepi, memberi mas Aidan yang langsung membalas sapaan mereka, jalan.


Arimbi juga langsung dengan ramah membalas setiap sapaan, selain Arimbi yang juga sengaja menyempatkan diri untuk mengobrol. Alasan yang membuat mas Aidan sampai menghentikan laju mobilnya.


“Besok pada datang, ya. Saya absen loh, saya hapal wajah Ibu-ibu sama bapak-bapak sekalian,” ucap mas Aidan sengaja bercanda. “Enggak hanya acara ijab dan resepsi, tapi juga acara mbesannya. Kita makan rame-rame lagi!”


Apa yang mas Aidan lakukan membuat Arimbi tidak bisa menyudahi senyumnya. Namun para tetangga kompak menyanggupi.


“Ini calon pengantinnya enggak ada pingit-pingitan?” tanya pak Sukir.


Mendengar itu, mas Aidan yang langsung tersenyum lepas, berkata, “Enggak kuat, Pak. Enggak usah ada pingit-pingitan lah. Takutnya jadi sakit hanya karena enggak ketemu Mbak Arimbi beberapa menit!”


Arimbi langsung mendelik tak percaya dan perlahan tersipu, di tengah tawa pecah dari para tetangga kepada mereka.

__ADS_1


__ADS_2