
Ilham yang jalannya masih menggunakan tongkat bantu, baru saja keluar dari kamar dibopong oleh Ojin. Ojin yang masih bercadar dan menjadi muslimah tangguh nan pendiam, mendudukkan Ilham di salah satu risban ruang tamu. Ruang tamu yang merangkap menjadi ruang keluarga di sana, yang juga menjadi ruang pertama di kediaman orang tua Ilham.
“Wanita bernama Ojin ini, benar-benar beda, ya? Bersahaja, perkasa, sangat menjaga pandangan juga,” batin Ilham sudah langsung mengagumi Ojin.
Kenyataan kedua sudut mata Ojin yang tertarik ke samping, membuat Ilham yakin, bahwa muslimah tangguh dan tengah menatapnya itu, juga tengah tersenyum.
Karena dilarang bersuara bahkan bernapas saja wajib jaga-jaga, Ojin memang hanya mengandalkan senyum ceria yang membuat bulu mata sekaligus alis tebalnya berbicara. Kemudian ia menunduk malu-malu sambil membungkuk sebagai pamitnya kepada Ilham.
“MasyaAlloh sekali!” batin Ilham makin takjub.
Ojin tidak tahu, jika pesonanya yang mendadak menjadi muslimah tangguh telah meluluh lantahkan hati seorang Ilham. Hati yang sempat rapuh karena terus disera*ng cinta dari Aisyah itu seketika menjadi sangat sejuk. Sama halnya dengan tanah gersang akibat kemarau panjang yang akhirnya disiram.
Sementara itu, di teras depan, Azzam yang awalnya duduk menunggu bersama ibu Warisem, malah menjadi tidak baik-baik saja. Azzam terlalu khawatir Ojin tak hanya terkejut, tapi juga langsung sakaratul maut. Karenanya, Azzam sengaja pamit kepada ibu Warisem, meninggalkan kursi kayu tempatnya duduk.
“Asli, kok aku jadi deg-degan, ya?” lirih Azzam sembari buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah Ilham. Ia berniat jaga-jaga. Takut Ojin pingsan atau fatalnya bablas harus dikubur.
Bersama Sundari, Ojin ada di dalam kamar Ilham karena sudah akan melakukan perawatan kecantikan kepada Aisyah. Tentu, pak Haji Ojan yang kini dipanggil Ojin, sengaja menemani sekaligus membantu, selain Ojin yang akan menyaksikan semata-mata bagaimana wujud asli wajah Aisyah.
Hanya saja, Azzam yang merasa terusik pada sikap cuek Ilham, sudah sangat ingin melempar sandalnya ke wajah pria itu. “Bener, si Ilham harusnya memang dipatok atau disembur ular saja, daripada hidup tapi enggak guna begitu!” batinnya.
“Kamu mau ngapain, laki-laki dilarang masuk karena Aisyah mau lepas hijab sama cadar!” tegur ibu Siti yang kebetulan tengah mengintip dari balik pintu kamar Ilham.
__ADS_1
Ibu Siti tengah mengawasi jalannya perawatan kecantikan kepada Aisyah. Karena walau ibu Siti takut dijebak Azzam, ibu Siti tetap penasaran. Terlebih dari produk kecantikan yang Sundari bawa, semua produknya sangat meyakinkan. Wangi, lembut, dan juga menarik.
“Takut calon istri haus, Bu Siti. Saya kan pasangan perhatian, bukan pasangan dakjal kayak Ilham yang enggak urus pasangannya!” ucap Azzam.
“Sudah, sini saya yang serahin!” sergah ibu Siti sembari bersiap menerima sebotol air minum yang Azzam bawa. Malahan melalui air minum tersebut, ia berniat menjadi bagian di dalam kamar. Ia akan menyaksikan jalannya perawatan kecantikan Aisyah dari jarak lebih dekat. Sembari melakukannya, nantinya ia akan mencari cara agar ia juga mendapatkan perawatan kecantikan tanpa modal dari Sundari.
“Langsung kasih ke calon istri saya saja, jangan ke si Ojin, takutnya diludahin!” ucap Azzam.
Tentu ibu Siti sudah langsung merasa ngeri walau omongan Azzam memang identik ceplas-ceplos. “Diludahin gimana, sih? Ojin kan wanita bercadar, lembut tapi perkasa dan baik hati juga. Masa iya dia sembrono asal ludahin gitu. Tadi kamu lihat sendiri, kan, Ilham saja sampai dia bopong bantu keluar dari kamar,” lirihnya sambil menerima botol minuman berwarna pink pemberian Azzam.
“Saking baiknya, dia juga bisa kubur orang hidup-hidup biar dia bisa meringankan pekerjaan malaikat maut, Bu Siti!” balas Azzam yakin seyakin-yakinnya.
“W-waras kamu, Zam!” kesal ibu Siti memutuskan masuk kamar kemudian kemudian sengaja buru-buru menutup pintunya.
Kini, walau masih kesal kepada Ilham, Azzam memilih mendekatinya. “Tuh orang enggak dapat hidayah, hidayah. Apa memang, hidayahnya harus dari aku?” pikirnya mendadak semangat untuk berdakwah kepada Ilham.
“Ham! Kamu ada tamu kok cuek gitu? Enggak sopan, tahu! Apalagi aku datang pun enggak dengan tangan kosong. Aku bawa banyak bawaan tuh buat keluarga kamu. Jangankan disuguhi minuman dan makanan, disapa saja enggak!” tegur Azzam sengaja duduk di risban yang ada di hadapan risban Ilham duduk.
Keduanya hanya dipisahkan oleh keberadaan meja kayu panjang yang ada di sana. Dan baru saja, walau tampak berat, Ilham akhirnya minta maaf kepada Azzam.
“Aku belum bisa gerak dengan leluasa, jadi enggak mungkin bisa siapin kamu minum apalagi makanan,” ucap Ilham sambil tetap menunduk.
__ADS_1
“Oke, enggak apa-apa. Itu jauh lebih baik ketimbang kamu cuma cuek. Seenggaknya kamu wajib berinteraksi, ngomong dan bergaul dengan lingkungan. Heran, manusia berpendidikan tahu agama, kok enggak ada legowo-legowonya. Enggak mencerminkan banget kalau kamu memang manusia! Asli, apalagi manusia berpendidikan yang paham agama.” Azzam masih mengeluhkan unek-uneknya pada sikap Ilham yang baginya wajib diberi pelajaran.
“Iya, ... maaf,” balas Azzam masih menunduk. Namun tiba-tiba saja, ia teringat Ojin yang membuatnya refleks menoleh sekaligus menatap pintu kamarnya. Pintu kamar bercat merah pudar itu masih tertutup rapat. Entah apa yang terjadi di sana, tapi yang ia tahu, Aisyah akan menjalani perawatan kecantikan secara gratis.
“Kamu sekolah tinggi-tinggi sayang banget loh, Ham, kalau enggak kerja. Di pondok pun kamu sampai dikasih gelar Gus muda. Itu gelar bukan sembarangan gelar!” ucap Azzam berusaha mengajak Ilham berbicara dari hati ke hati. Karena biar bagaimanapun, hati Azzam masih waras. Kasihan juga jika sekolah tinggi-tinggi dengan biaya mahal, tapi tidak jadi apa-apa dan malah menjadi pengangguran.
Ilham berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. “Nantinya kalau aku sudah sembuh, aku dan Aisyah akan kembali sekaligus tinggal di pondok.”
“ALHAMDULLILAH!” sergah Azzam yang memang refleks bersyukur.
“Itu dari hati, apa dituntut Romo Kyai?” sambung Azzam, tapi kali ini, lawan bicaranya hanya meliriknya sambil menghela napas dalam. Bisa Azzam pastikan, alasan Ilham mau kembali ke pesantren bersama Aisyah karena Ilham dituntut oleh Romo Kyai.
“Eh, omong-omong ini di dalam sudah sampai mana, ya, prosesnya?” pikir Azzam penasaran.
Di dalam kamar, Aisyah masih ragu-ragu melepas cadar apalagi jilbabnya. Aisyah sangat tidak percaya diri terlebih jika membandingkan kecantikan fisiknya dengan Sundari yang dari kulit saja seputih tofu.
“Sudah, Mbak. Ayo, bismilah,” ucap Sundari benar-benar sabar sekaligus lembut. Sangat mirip dengan kelembutan sekaligus kesabaran sang ayah.
“Serius saya malu, saya enggak percaya diri,” ucap Aisyah untuk ke sekian kalinya.
“Tahu begitu kenapa dulu ditato-tato, ditindik juga. Jangan-jangan, itu kamu juga sampai ditato sama tindik, ya?” omel ibu Siti sinis.
__ADS_1
“Hah? Aish punya tindik sama tato?” batin pak Haji Ojan, belum apa-apa sudah terkejut. Di hadapannya dan masih duduk di kursi kayu, Aisyah hanya menunduk dalam. Yang mana diamnya Aisyah juga sama saja tidak membantah cibiran sang ibu mertua mengenai tato dan tindik di tubuh Aisyah.