
Ilham langsung menatap tidak suka kenyataan Aisyah yang justru bergabung dengan mas Aidan. Terlalu fokus memastikan sandal Ojin yang dipakai Ojan, membuatnya lupa kepada Aisyah padahal tadi, ia datang ke sana bersama Aisyah.
“Niatnya mau kontrol ke kliniknya dokter Andri, tapi karena mas Ilham bilang lapar dan bosan ngemi atau mbakso, ya sudah mampir ke sini. Warung pecel, terus itu di depan posternya menggoda banget, eh enggak tahunya kalian di sini juga,” cerita Aisyah masih mengobrol dan nyaman-nyaman saja menjadi bagian di sana.
“Mbak Aish, kliniknya dokter Andri, ya kliniknya mas Sepri maupun mbak Sundari. Mereka ini anaknya dokter Andri,” ucap Arimbi santun dan terdengar manis.
Mendengar itu, Aisyah langsung linglung. Ia tatap dengan saksama kedua wajah di sebelahnya. Wajah Sepri dan juga wajah Sundari. Namun baginya, hanya wajah Sundari yang mirip dengan wajah dokter Andri. Tidak dengan Sepri yang sama sekali tidak mirip.
“Pantes Mbak Sundari pintar perawatan. Asli loh, Mbak, kulit saya langsung cocok. Jadi makin lembut, lebih cerah. Itu kalau mau beli produknya gimana, Mbak? Tinggal dikit soalnya, mau perawatan biar enggak dihinanya sampai akhirat sama mas Ilham dan mamahnya!” ucap Aisyah yang kemudian berkata, “Pantesan, di sana juga ada di manis Ojan, ya!”
Sepri apalagi Azzam sudah langsung heboh gara-gara Aisyah menyebut Ojan, si manis.
“Mas Sepri dan Mas Azzam kenapa? Mas Ojan emang manis, kan? Asli dia sweet banget, loh!” ucap Aisyah tulus.
Azzam dan Sepri tetap saja cekikikan. Sesekali, mereka akan menepuk bahu satu sama lain. Sementara mas Aidan, mbak Arimbi dan juga Sundari, hanya mesem.
“Itu mas Ojan anaknya siapa, sih? Kelihatannya kembar mirip Mas Sepri. Maaf yah, kalau saya salah!” lanjut Aisyah penasaran.
“Kembaranmu, Pri!” lirih Azzam makin cekikikan sambil mendorong-dorong punggung Sepri. Namun tiba-tiba saja, ia memiliki ide ajaib. Segera ia berdeham hingga akhirnya ia berkata dengan gaya yang serius. “Si manis Ojan, sebenarnya memang punya kembaran, tapi bukan Sepri. Melainkan Ojin! Jadi itu ... hahahaha. Aduh gimana yah ceritanya.” Namun tetap saja, membahas Ojan dan Ojin, membuatnya tidak bisa untuk tidak tertawa. Apalagi mas Aidan sampai menegurnya dengan lembut.
“Oh, jadi benar kalau Ojan dan Ojin, kembar? Berarti mulai sekarang, aku wajib baik-baik ke si Ojan,” pikir Ilham. “Kalau dipikir-pikir, kok rumit ya. Ojan itu kan cinta ke Aisyah, tapi Aisyah istriku. Nah, tapi lagi akunya cintanya ke Ojin. Cinta segi empat ini. Apa cinta estafet,” pikirnya lagi. Namun, Ilham belum bisa menentukan keputusan lantaran ia tak mungkin menceraikan Aisyah.
Ilham yang awalnya kesal, sengaja bergabung di sana. Ia melakukannya dengan baik-baik, melayangkan salam kemudian memilih duduk di sebelah Aisyah, setelah sebelumnya, Arimbi sengaja pindah. Namun, Arimbi yang juga sudah langsung membuat Ilham pangling, tetap duduk di sebelah mas Aidan.
__ADS_1
“Itu beneran Arimbi? Putih banget kirain saudaranya mas Aidan yang dari kota. Lebih putih dari ketika Arimbi baru pulang dari Singapura,” batin Ilham diam-diam mengawasi Arimbi.
Selain menjadi sangat putih dan terlihat sengaja merawat diri, Arimbi juga jadi sangat wangi. Pakaiannya bagus, dan Arimbi juga sampai merias wajah. Rias wajah yang dipilih membuat Arimbi terlihat jauh lebih segar, sangat cantik dan lipstik warna merah yang dipilih, membuat Ilham sulit mengalihkan tatapannya dari bibir Arimbi. “Dulu, itu milikku,” batin Ilham bersedih.
“Terus Mbak Aisyah tahu belum, kalau warung pecel ini punya Mbak Arimbi?” sambung Azzam sengaja pamer.
“Hah?” refleks Aisyah yang memang kaget.
Di waktu yang sama, Azzam mendapati pak Angga yang membawa rantang tengah menggiring ayam ke depan rumah. “Ayah Angga, Ayah Angga, sini!” heboh Azzam sengaja berdiri guna mencuri perhatian pak Angga yang kali ini memakai sarung.
Gaya pak Angga terbilang sangat santai karena rambutnya yang setengah basah juga ditutup peci hitam. Tampaknya pria itu baru beres salat, yang mana dugaan tersebut dikuatkan dengan kenyataan koko panjang warna putih yang pak Angga pakai.
“Kenapa Mas Azzam?” tanya pak Angga yang benar-benar menghampiri. Ia berdiri di sebelah Arimbi.
“Ini lagi kasih makan ayam. Kemarin baru menetas, lumayan buat acara empat bulan atau tujuh bulan Mbak Mbi besok,” ucap pak Angga.
“MASYAALLAH! Ayam saja pengertian bosnya lagi hamil, terus mereka kompak mentas buat acara empat bulan sama tujuh bulan!” ucap Azzam.
“Oh, Mbak Arimbi sudah langsung hamil?” refleks Aisyah jadi sedih. Karena jangankan hamil, disentuh saja, ia belum oleh Ilham. Namun melihat senyum cerah dari Arimbi yang juga mengangguk, Aisyah jadi merasa adem. Ikut bahagia.
“Alhamdullilah, Mbak Aish. Langsung dikasih rezeki,” ucap Arimbi.
“Alhamdullilah,” refleks Aisyah seiring senyumnya yang kian lebar.
__ADS_1
“Kok mbak Aisyah kelihatan sedih gitu? Yang sabar yah, Mbak. Jangankan Mbak, Ojan saja pengin hamil setelah dia tahu kalau Mbak Mbi hamil!” ucap Azzam.
“Innalilahi, ... gimana ceritanya Ojan pengin hamil juga?” refleks Aisyah benar-benar terkejut.
“Ya gitulah, si manis Ojan. Apa-apa pengin, pengin dihamili. Culamit banget!” ujar Azzam.
“Innalilahi, masa sampai pengin dihamili?” refleks Aisyah lagi yang mendadak merasa kembar dengan Ojan. Sama-sama pengin dihamili, tapi suaminya enggan melakukannya lantaran Ilham masih jiji*k.
“Oh iya, Ayah. Aku sampai lupa,” ucap Azzam yang kembali fokus kepada pak Angga.
Pak Angga yang sudah duduk di sebelah Arimbi langsung tersenyum ramah kepada Azzam. Ia juga sengaja memanggil seorang pekerja bernama Mbak Sumi, untuk menyiapkan pecel.
“Kalian mau makan pecel apa? Pakai nasi apa pakai lontong? Ini Ayah yang traktir, buat rayain kehamilannya Mbak Arimbi,” yakin pak Angga yang kemudian mencari-cari Ojan.
“Sudah pulang apa gimana? Harusnya sih belum karena biasanya, pasti selalu sama Mas Sepri. Kalaupun ke dapur, harusnya enggak. Soalnya di dapur enggak ada janda. Semuanya masih resmi istri orang.” Pak Angga sampai hafal, pak Haji Ojan memiliki sinyal janda yang akan membuat pria itu sibuk berkelana mencari janda.
Semua yang ada di sana kompak diam, meski mereka tahu, alasan pak Haji Ojan tidak di sana karena pria itu sengaja bersembunyi. Pak Haji Ojan takut kepada Aisyah, dan memilih buru-buru kabur ke dapur karena tidak mau bertemu Aisyah.
“Tadi sih di dapur!” ujar Ilham.
Detik itu juga Azzam kebablasan tertawa hanya karena teringat obrolan antara Ilham dan Ojan di dapur. Namun setelah itu, Azzam sengaja membahas bahwa warung pecel tersebut merupakan warung pecel yang pak Angga siapkan khusus untuk Arimbi.
“Biar Mbak Mbi makin semangat apalagi sekarang sedang hamil kan. Sehat-sehat, yah, Mbak!” ucap pak Angga yang makin membuat seorang Aisyah nangis batin karena iri.
__ADS_1
“Mujur kamu Mbak, dapat mas Aidan sampai dapat warung juga. Bayangkan kalau kamu tetap sama mas Ilham, cuma dapat hinaan seperti yang aku rasakan!” batin Aisyah berkaca-kaca.