
Excel Luckas menatap datar hasil dari kejadian mencekam yang baru saja ia ciptakan. Di hadapannya, pengemudi motor yang ia hadang masih membungkuk di atas motor matic nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sementara yang membonceng dan ia pergoki merupakan wanita bercadar, sudah terkapar di sebelah mobilnya setelah sebelumnya, tubuh itu sempat menghantam badan mobil bagian tengah.
Excel Lucas yang tak lain suami dari Azzura, segera mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi kontak ponsel bernama Mas Aidan. Tak butuh waktu lama ia mendapat jawaban dari telepon yang ia lakukan. “Ilham sudah ada di dekat pemakaman ... keadaan di sini dangat sepi. Aku pastikan tidak ada yang mengetahui ini, Mas.”
Setelah berbicara agak lama, Excel segera pergi mengemudikan mobilnya. Secepat kilat ia mengemudi mirip melesat. Membuat Ilham yang memberanikan diri untuk memastikan, tak bisa menemukan jejaknya. Ilham yang berusaha melihat plat mobil hitam yang meninggalkannya, tak kuasa mendapatkannya. Yang ia dapati hanyalah tubuh Aisyah yang meringkuk lemas disertai rintihan sakit.
“Aisyah!” batin Ilham berteriak.
Saking bingungnya, Ilham tak sampai gemetaran hebat dan juga bisa mendengar detak jantungnya yang begitu cepat sekaligus keras. Sebab sekadar berkata-kata, Ilham menjadi tidak bisa. Sempat terlintas untuk meninggalkan Aisyah, tapi ternyata wanita itu masih mampu bergerak agak leluasa. Aisyah meminta tolong sambil berusaha duduk.
“Mas, tolong, Mas. Aku mohon, cepat, Mas! Kita harus secepatnya pergi dari sini, Mas!” mohon Aisyah.
Apa yang baru Aisyah sampaikan justru membuat Ilham curiga. Kenapa Aisyah begitu ingin cepat-cepat pergi dari sana? Bukan ingin segera sampai pesantren?
Tertatih Aisyah berusaha berdiri. Sementara Ilham yang juga manusia biasa dan masih memiliki hati, refleks membantu.
“Kita ke rumah sakit!” sergah Ilham.
“Enggak usah, Mas!” yakin Aisyah yang lebih memilih menahan sakit dari luka-lukanya, daripada ia malah dipenjara.
Aisyah yang berangsur menunduk, menggunakan tangan kanannya untuk menyibak cadarnya kemudian menekap mulut. Dengan refleks juga, Ilham mengawasi. Membuat pria itu mendapati tiga gigi Aisyah yang keropos dan harusnya itu gigi atas bagian tengah, ada di telapak tangan kanan wanita itu ketika Aisyah mengeluarkan tangannya dari balik cadar.
Ilham refleks berkata, “Innalilahi, makin seram saja tampangmu, Aish!” lirihnya yang bukannya kasihan malah takut. Selain itu, Ilham juga merasa ngenes karena memiliki istri yang makin hari makin minus. Tak hanya kelakuannya, tapi juga fisiknya.
“Pantas rasanya ngilu banget!” sedih Aisyah menatap sakit ketiga giginya.
__ADS_1
Terisak sedih akibat patahnya ketiga giginya, Aisyah yakini akan membuat penampilannya makin buru*k rupa, wanita itu meminta Ilham untuk melanjutkan perjalanan.
Ilham tetap mengajak Aisyah ke klinik. Aisyah yang awalnya sibuk menolak, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk sekalian bersembunyi di sana.
“Mas, parkirnya di dalam saja. Sepertinya lebih baik aku sekalian rawat inap. Namun Mas enggak usah kabar-kabar ke orang tua kita, ya. Takutnya mereka khawatir.” Padahal niat Aisyah meminta Ilham memarkir motor di tempat parkir dalam, agar pelarian mereka tidak terlacak polisi.
Ilham yang telanjur lemas lantaran tampang Aisyah bisa dipastikan makin buru*k rupa, iya-iya saja diarahkan Aisyah. Ia meninggalkan Asiyah di depan klinik.
Tanpa Ilham dan Aisyah sadari, mobil yang memotong laju motor mereka berangsur memasuki halaman depan klinik. Excel yang sengaja melepas topi dan hanya menyisakan kacamata tebal warna hitamnya pun sengaja turun di sebelah Aisyah.
Asiyah yang awalnya sibuk membungkuk menahan sakit akibat giginya yang patah, langsung meleot melihat pesona seorang Excel. Pria berkemeja hitam lengan panjang dan bagian sikunya disingsing asal hingga siku itu mengeluarkan satu slop rokok kemudian menyalakannya.
“Ini orang keren banget mirip bintang film mafia!” batin Asiyah yang malah terpaku mengamati penampilan Excel. Selain memiliki kulit sawo matang, Excel juga memiliki tubuh tegap sekaligus berotot.
“Langsung ke sini saja karena aku juga di sini,” ucap Excel benar-benar tenang, tapi malah membuat sekelas Aisyah makin klepek-klepek.
Aisyah bahkan lupa pada semuanya. Tak hanya pada pelarian yang tengah dilakukan, tapi juga kepada Ilham.
“Kamu kenapa, sih?” kesal Ilham lantaran Aisyah terus saja mengawasi Excel yang tengah agak duduk di mobi bagian depan yang ada di hadapan mereka.
Ilham sampai agak menarik paksa sebelah tangan Aisyah.
Layaknya buronan yang malah masuk ke kandang, penangkapan pada Aisyah berjalan dengan mudah berkat kerja sama mas Aidan dengan Excel. Aisyah diamankan di salah satu ruang rawat tanpa bisa melakukan perlawanan.
“Ini aku harus sedih, atau malah bersyukur?” batin Ilham yang mendadak kebingungan karena dirinya juga ikut diamankan. “Memangnya salah saya apa, Pak?” protesnya berusaha melindungi dirinya sendiri.
__ADS_1
“Mas Ilham kebangetan banget ih. Masa ia dia sama sekali enggak ada usaha buat bela aku dan malah sibuk cari aman sendiri!” kesal Aisyah dalam hatinya. “Ini aku sia*l banget sih. Bisa-bisanya mereka tetap menemukanku padahal motor mas Ilham sudah disembunyiin di tempat parkir dalam!”
Meninggalkan Aisyah yang terus berkeluh kesah dalam hati, Excel malah membuat mas Aidan yang baru menyapa, kebingungan. Termasuk juga dengan Arimbi yang langsung disalami dengan takzim dan dipanggil mamah.
“Kok, ... kok mamah, sih?” lirih mas Aidan kebingungan.
Excel yang mendengar apa yang baru saja mas Aidan keluhkan secara lirih pun tak kalah bingung. Apalagi ketika ia melihat wajah wanita di sebelah mas Aidan dengan saksama. Ia buru-buru mengakhiri jabatan tangannya sambil terus meminta maaf sekaligus membungkuk menyesal.
Mas Aidan malah menjadi tersipu. Sebab tingkah refleks sang adik ipar membuktikan, betapa kemiripan Arimbi dan ibu Arum benar-benar nyaris tidak bisa dibedakan.
“Ini Mbak Arimbi, Cel. Memangnya mbak Azzura belum cerita?” ucap mas Aidan di tengah sisa senyumnya. Ia mengenalkan Arimbi dan Excel.
Arimbi tak hentinya berterima kasih. Karena biar bagaimanapun, berkat bantuan Excel, penangkapan terhadap Aisyah berjalan sangat lancar.
“Ya sudah, sekarang kamu pulang karena istrimu pasti sudah menunggu,” ucap mas Aidan yang lagi-lagi mengucapkan terima kasih kepada Excel. Begitu juga dengan Arimbi yang melakukannya sambil tersenyum sungkan.
Penangkapan tanpa perlawanan menjadi akhir pelarian dari seorang Aisyah. Mas Aidan segera mengantar Arimbi pulang mengingat kini sudah dini hari.
“Besok mau jualan?” tanya mas Aidan. Mereka tengah menelusuri gang menuju rumah Arimbi dengan berjalan kaki.
“InsyaAlloh, Mas.” Arimbi masih cenderung menunduk.
“Hari besok, jualannya sore saja biar kamu masih bisa istirahat,” usul mas Aidan yang kemudian menatap Arimbi. Karena di waktu yang sama Arimbi juga menatapnya, kenyataan tersebut membuat tatapan mereka bertemu.
“Baik, Mas!” sanggup Arimbi yang langsung membuat mas Aidan tersenyum lega.
__ADS_1