
“Sepagi ini sudah keliling, Pri?” sapa mas Aidan. Ia baru kembali dari mereka yang ia suguhi kopi ketika Sepri menghentikan laju motor di sebelah motornya.
Dari tampangnya, wajah Sepri jauh dari baik-baik saja dan cenderung lelah, meski pria itu tak sampai kuyup keringat, penuh oli maupun lumpur.
“Peliharaanku hilang sejak subuh, Mas. Kurang yakin sejak kapan sih, tapi pas mau diajak subuhan, si Ojan sudah enggak ada di kamar. Kabur lewat jendela kamar dia!” ucap Supri terengah-engah. “Mana si Ndari nangis terus cari-cari ke sana ke mari. Mas kan tahu, Ndari sayang banget ke Ojan,” lanjutnya. Di sana masih ada Suci dan ia langsung menyapa salah satu perawat terbaik di klinik milik keluarganya. Klinik yang diketuai dokter Andri papah sambung.
“Oalah ....” Mas Aidan sudah langsung tidak bisa berkomentar. Ia refleks menatap Arimbi, menuangkan kekhawatiran karena biar bagaimanapun, ia tetap peduli kepada pak Haji Ojan.
“Harusnya sih sekelas raja demit sekalipun, enggak doyan ke Ojan,” ucap Sepri sembari duduk di bangku biasa mas Aidan duduk.
Ketiga orang yang ada di sana langsung tertawa walau sebelumnya, mereka sangat mengkhawatirkan pak Haji Ojan yang semua orang ketahui kurang normal.
“Jangan-jangan, dia kabur ke rumahku lagi, Mas? Bentar aku telepon tetanggaku dulu, buat bantu cek.” Setelah sampai memberi Suci bonus, dan wanita itu juga langsung pamit sekaligus berterima kasih kepadanya yang lagi-lagi memberi bonus, Arimbi segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Ci, kebetulan kita ketemu,” ucap ibu-ibu yang baru datang bersama tiga wanita sebaya. Kira-kira, keempat wanita berhijab itu berusia di akhir kepala empat.
“Oh, iya, Wa ... gimana-gimana? Ada apa?” Suci menanggapi dengan ramah walau ibu Sari yang menyapa sekaligus membuka obrolan secara spontan di depan dagangan Arimbi, memberinya ekspresi kurang mengenakan. Wanita itu tampak tidak nyaman, cenderung marah bahkan, ... muak. Namun Suci yakin, dirinya tidak memiliki masalah dengan orang lain. Karena selain ia sibuk bekerja, ia juga memiliki hubungan baik dengan para tetangga.
Mau tidak mau, apa yang menimpa Suci juga langsung menjadi perhatian Arimbi, mas Aidan, dan juga Sepri. Arimbi sampai sengaja memelankan suaranya ketika menyapa yang ia telepon melalui sambungan suara.
__ADS_1
“Itu awasin suami kamu. Bilangin, sudah sama-sama tua harusnya mikir. Si Nurma kan janda, status mereka sangat mengkhawatirkan karena mereka hanya ipar. Kalaupun suamimu mau nikah sama Nurma, ya enggak apa-apa biar enggak berulang kali zinaa. Bentar-bentar kepergok lama-lama kami grebek!” ucap ibu Sari masih emosional. Yang diajak bicara sudah langsung membeku. Kedua kantong di tangannya sudah sampai jatuh selain kedua mata Suci yang menjadi merah sekaligus basah.
“Jangan bodoh kamu. Kamu sudah kerja capek-capek buat bantu perekonomian keluarga suamimu, termasuk menghidupi Nurma yang di sana pun statusnya sama-sama menantu kayak kamu!” lanjut ibu Tri, salah satu wanita yang ikut menghampiri Suci.
“Duh!” lirih Arimbi sambil melirik mas Aidan. Bukan ia yang menjadi Suci, tapi ia sudah ketar-ketir sendiri.
“Kamu sama Nurma kan sama-sama menantu, tapi kalian diperlakukan berbeda. Hanya karena anakmu perempuan dan kedua anak Nurma laki-laki? Suami kamu juga kan, yang membiayai kedua anak Nurma termasuk membiayai Nurmanya semenjak Salam suami Nurma meninggal? Kasih nafkah sih, kasih nafkah, tapi jangan sampai kasih nafkah lahir batin karena mereka belum menikah!” lanjut ibu Sari ketus. “Kami sebagai tetangga enggak mau kecipratan dosa mereka. Karena sekali lagi mereka kepergok, kami bakalan arak mereka terus nikahin!”
“Ibu-ibu, duh ... ini.” Arimbi sudah berdiri di sebelah Suci, memberi pelangg*annya itu rangkulan.
Mas Aidan juga maju. “Kejadiannya beneran disaksikan banyak saksi minimal dua atau tiga orang?” ucapnya lembut memastikan. Terlebih dalam dekapan Arimbi, Suci menjadi kaku tak hentinya menitikkan air mata. Suci terlihat sangat terpukul, dan mas Aidan tahu, diamnya Suci yang sampai kaku begitu merupakan salah satu reaksi seseorang ketika menahan luka mendalam.
Mas Aidan refleks mengembuskan napas berat melalui mulut. Ia mengangguk-angguk paham sambil berkecak pinggang.
“Nanti saya pasti ngobrol langsung sama mereka, Ibu-Ibu. Saya benar-benar minta maaf. Maaf untuk ....” Suci bingung, kenapa dirinya malah harus minta maaf? Namun, kabar yang ia terima telanjur membuatnya kacau. Pikirannya mendadak buntu. “Jika memang keadaannya sudah begitu, mereka memang lebih baik menikah. Saya siap mundur!”
Ibu Sari dan ketiga rekannya langsung mengangguk mantap. “Nah gitu saja. Ibaratnya suamimu sama iparmu yang cuma numpang hidup itu s4mpah. Sudah susah dihentikan juga kebiasaan mereka. Kasihan kamunya, capek lahir batin. Anakmu pun enggak keurus, malah Nurma yang jadi ratu benalu!” ucap ibu Sari.
“Ya sudah, Mbak Suci, ayo sekalian ke klinik. Bentar lagi sudah ganti shift,” ucap Sepri sambil memungut dua kantong yang sebelumnya refleks dijatuhkan oleh Suci.
__ADS_1
MERINDING dan deg-degan menahan ketakutan, itulah yang Arimbi rasakan setelah mengetahui kabar suami Suci. Selingkuh dengan kakak ipar yang sudah janda, sementara istrinya ikut menjadi tulang punggung keluarga termasuk untuk membiayai hidup si janda?
“Sama-sama menantu, tapi diperlakukan berbeda hanya karena jenis kelaminn cucu yang dilahirkan? Fix, keluarga mereka lebih dakjal dari keluarga mas Ilham. Termasuk si Nurma, fix aku doakan dia kena azab!” ucap Arimbi menjadi emosional. Tangan kanan mas Aidan yang ia genggam menggunakan menggunakan kedua tangan, sudah langsung menjadi korban. Dire*mas sekuat tenaga hingga pria itu sibuk meringis menahan efek sakitnya.
“S-sayang, ... sakit!” ucap mas Aidan tak tahan. Terlebih biar bagaimanapun, tenaga Arimbi berada di atas rata-rata tenaga wanita pada kebanyakan.
Pertama kali dipanggil Sayang, tapi itu karena mas Aidan menahan kesakitan dari ulahnya. “Mas, maaf, Mas!” Rema*s emosional yang sempat Arimbi lakukan, langsung berubah menjadi elusan lembut. Ia menatap tak berdosa wajah Mas Aidan.
“Kita baik-baik saja. Yang gil4 itu keluarga suaminya si Suci!” ucap mas Aidan yang perlahan mencubit gemas pipi kanan Arimbi menggunakan tangan kirinya yang bebas.
“Aku pengin ngam*uk jadinya, Mas. Asli, emosi! Khususnya ke si Nurma sama suami Suci. Merek beneran enggak punya harga diri! Nadjiz!” ucap Arimbi yang kemudian membekap mulutnya. “Eh, Mas maap. Keceplosan bilang yang terakhir,” rengeknya sengaja memasang wajah tak berdosa sekaligus manja, tapi mas Aidan hanya menertawakannya.
“Oh iya aku lupa. Bener, si Ojan tidur di teras rumahku, Mas! Duh, ini siapa yang mau urus? Mas kan harus kerja, dan si Azzam juga jangan, takut beneran dinikahin tuh adik ipar yang mulutnya paling lemes kalau urusan gibah.” Arimbi mengakhiri ucapannya dengan tersenyum tak berdosa, dan baru tertawa setelah mas Aidan juga menertawakan ucapannya tentang Azzam yang mulutnya lemas kalau sudah bergibah ria.
“Biar aku kabari Sepri. Yang penting sudah ada kabar, nanti paling minta tetangga kamu buat pantau Ojan,” ucap mas Aidan.
Karena tangan kanannya menjadi digenggam menggunakan kedua tangan oleh mas Aidan, Arimbi sengaja berkata, “Mas ... ini tangan ada lemnya, apa gimana?”
Mas Aidan yang langsung kebingungan, juga langsung tersipu. “Asli, tangan kamu mengandung lem. Jadi enggak mau lepas gini.”
__ADS_1
Arimbi dan mas Aidan langsung tertawa, walau ketika mereka teringat kasus Suci, mereka langsung emosi.