Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
150 : Bersyukur Dan Rezeki


__ADS_3

Mas Aidan, Arimbi, dan juga Excel pulang dengan kemenangan. Membuat paman Lim sekeluarga bersuka cita. Air mata bahagia seolah tak akan putus mengikat kebersamaan keluarga itu.


“Paman sama Bibi enggak usah macam-macam. Jangan aneh-aneh, enggak usah bayar-bayaran. Kami ikhlas bantu keluarga. Lagian tanpa harus Paman dan Bibi bayar, kami juga sudah langsung dibayar sama yang Punya Kehidupan.” Mas Aidan menolak amplop tebal pemberian paman Lim dengan santun. Begitu juga dengan Excel yang cenderung diam. Lebih sepi dari Arimbi yang apa-apa serba membalas dengan senyuman.


“Tanpa dibayar pun, mas Ai sudah jadi incaran, target pengacara masa depan. Cerahnya ngalahin lambu bohlam yang hemat energi! Aku yakin bakalan langsung jadi incaran horang kaya atau malah artis dengan bayaran fantastis!” ucap Liam.


“Amin, amin!” ucap mas Aidan yang memang langsung tersipu. “Mas aminin, semoga rezeki Mas lancar, mengalir terus. Soalnya kan, targetnya punya banyak anak. Jadi ya wajib siap-siap rezeki yang banyak juga.”


Paman Lim mengangguk-angguk. “Bener, kalau mau punya banyak anak memang wajib punya biaya lebih. Soalnya biaya hidup apalagi keperluan anak-anak itu enggak murah dan enggak sedikit.” Setelah berucap demikian, paman Lim juga berkata, “Jadi, anggapan banyak anak banyak rezeki yang benar pun juga wajib dibarengi dengan keadaan yang mendukung ya. Jangan sampai, banyak anak biaya kurang. Yang ada bukan hanya anak yang jadi korban, melainkan kita. Kita sibuk banting tulang sampai benar-benar capek. Istri stres saking capeknya belum urus anak-anak, belum urus keperluan. Mmm, ini hubungan yang miris. Niatnya bahagia, malah sebaliknya.”


“Jadi buat kalian yang mumpung belum atau masih proses, wajib semuanya yang serba seimbang. Jangan terlalu dipaksa. Soalnya kalau kita yakin anak bawa rezeki dan ada rezekinya sendiri, tolong melek itu sudah seimbang belum. Dari buat biaya hidup sekaligus waktu kita buat quality time. Karena hidup memang harus serba seimbang. Ada uang ada waktu buat quality time,” lanjut paman Lim.


“Bismillah, aman!” ucap mas Aidan sambil tersenyum semringah.


Kemudian, Excel sudah langsung menjadi fokus perhatian selanjutnya. Sebab yang di sana juga ingin tahu keseriusannya.


“Insya Alloh, siap! Aku sama istri sudah sepakat, sudah bikin ... ya alhamdullilah!” ucap Excel.


“Ya sudah, angkat aku jadi anak saja. Diangkat dua orang sekaligus buat jadi anak kan lumayan. Yang penting dikasih warisan yang gede, pasti aku semangat!” ucap Liam.


Paman Lim yang gemas kepada sang putra, sampai menuntunnya, memangkunya kemudian menguwel-uwel kepala Liam.

__ADS_1


“Tetap terima, ya?” ucap ibu Widy lembut seiring tatapan teduhnya yang menatap ketiga wajah di hadapannya, silih berganti.


“Bukannya bermaksud kurang sopan, Bi. Kami memang tulus. Masih bisa bantu begini saja sudah alhamdullilah banget. Yang penting Bibi ingat pesan mamah Arum yang minta Bibi buat rutin nyekar ke makam kaki sama nini.” Arimbi berbicara dengan nada yang lembut lengkap dengan senyuman yang sangat menyentuh.


“Duh Gusti, senyumnya Mbak Mbi! Mbak, aku ngefans loh sama kamu!” ucap Liam.


Mas Aidan buru-buru bangun kemudian menggunakan garpu di tangan kanannya dan awalnya tengah ia pakai untuk mengambil potongan buah, untuk menggetok kepala Liam.


“Ngefans, Mas ... ngefans!” rengek Liam.


Excel sudah langsung sibuk menahan tawa. Layaknya paman Lim yang tak mau ikut campur. Lain dengan ibu Widy yang sudah beberapa kali menjewer telinga bahkan bibir Liam, silih berganti.


“Kamu mau rumah yang begini?” tanya mas Aidan kepada sang istri ketika mereka bersiap tidur.


Arimbi yang awalnya tengah merenung sambil menatap langit-langit kamar berpilar warna emas di atas mereka langsung kebingungan. “Enggak ah, Mas. Terlalu besar, terlalu mewah, biaya perawatannya pasti juga mahal. Yang sederhana saja, yang penting nyaman.”


“Aku pikir dari tadi kamu diam lihat langit-langit kamar bagus, ... karena kamu memang mau!” ujar mas Aidan dan Arimbi langsung menertawakannya.


Arimbi mendekap manja tubuh mas Aidan.


“Terus, kalau bukan karena pengin pilar langit-langit warna emas, kenapa tadi kamu melamun?” tanya mas Aidan lembut sambil sesekali membenamkan bibirnya di kepala Arimbi.

__ADS_1


“Kangen ibu ...,” lirih Arimbi. Dadanya sudah langsung sesak sementara air matanya sudah langsung mengalir hanya karena ia mengatakan itu, alasannya merasa sangat sedih.


Pengakuan Arimbi barusan sudah langsung menusuk ulu hati mas Aidan. Terlebih kini, isak lirih sampai terdengar. Kedua mata mas Aidan yang menjadi sibuk mengerjap juga sudah langsung basah. Bisa ia pastikan, Arimbi sangat merindukan ibu Warisem. “Maaf, ya ...?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya, selain mas Aidan yang memang sudah langsung menitikkan air mata.


Arimbi langsung menggeleng. Namun, hampir tiga minggu tidak bertemu sang ibu secara langsung, Arimbi merasa ada yang kurang. Bahkan meski tiap harinya ia selalu video call dengan sang ibu, membiarkan sang ibu mengurus diri sendiri, dengan keadaan ibunya yang begitu, ... Arimbi merasa itu kurang adil untuk sang ibu.


“Kadang aku mikir, ternyata jadi istri seberat ini. Harus mengabdi ke suami, tapi juga enggak bisa jauh dari ibu ... untung aku dapat suami pengertian. Apa kabar kalau aku dapat yang enggak? Suamiku beneran mengurus ibuku juga. Suamiku sampai kasih pengurus khusus buat ibuku.” Arimbi masih mendekap erat tubuh Mas Aidan.


“Jadi suami juga berat, Mbak. Harus benar-benar adil. Ke istri, anak, orang tua. Enggak kebayang bagi para suami yang penghasilannya pas-pasan atau malah, enggak punya penghasilan tetap. Jadi, bisa sampai di titik ini, aku beneran bersyukur. Punya keluarga yang dukung aku, punya kamu!” lirih mas Aidan sambil terus membenamkan bibirnya di kepala sang istri.


“Iya, ... alhamdullilah banget, Mas. Sesulit-sulitnya aku, Alloh masih kasih aku pintu rezeki, Mas!” lirih Arimbi.


“Iya, benar. Kita wajib bersyukur karena yang menjalani begini kan hanya kita. Kita sudah memutuskan buat menikah, menjadi suami istri, jadi apa pun yang harus kita hadapi sekaligus jalani, itu sudah risikonya. Kita enggak boleh ngeluh. Ibu pun ngerti kita memang harus jauh dari Ibu. Ibu juga enggak marah, kan? Cuma bilang kangen dan minta kita buat jaga kesehatan?” balas mas Aidan. Tak menyangka, pembicaraan mereka akan sangat dalam. Membahas apa yang mereka rasakan atas peran dan tanggung jawab mereka.


Kali ini Arimbi tak langsung menjawab. Ia malah menjadi memikirkan hal lain.


“Apa lagi?” tanya mas Aidan lantaran istrinya mendadak diam. Biasanya bila Arimbi sudah begitu, pasti ada saja yang mengganggu pikiran istrinya.


“Aku jadi kepikiran buat beli test pack, Mas.” Jujur Arimbi ragu mengatakan itu, tapi ia merasa wajib membahasnya.


Detik itu juga, jantung mas Aidan seolah lepas dari posisi semestinya. Membayangkan istrinya hamil sudah langsung membuat dadanya dipenuhi gemuruh kebahagiaan.

__ADS_1


“Kemarin kan, pas pertama kita berhubungan, aku sedang masa subur. Sementara usia kehamilan dihitung dari hari pertama mens terakhir,” ucap Arimbi.


“Beli test pack sekarang, yuk?!” sergah mas Aidan tidak sabar. Ia sudah kegirangan karena yakin istrinya memang sudah hamil.


__ADS_2