
Dalam diamnya yang tetap sambil makan, ibu Widy merasa sangat bersyukur lantaran putra putrinya begitu santun sekaligus rukun. Di sebelahnya, putra putrinya yang hanya merupakan anak sambung Sekretaris Lim, tetap akur dengan kedua adiknya dari pernikahan ibu Widy dan Sekretaris Lim. Kelimanya tak kalah akur dari anak-anak ibu Arum dan pak Kalandra. Malahan kelimanya selalu membuat orang tua mereka berada di tengah khususnya ketika sedang makan layaknya sekarang, agar mereka tetap merasakan indahnya kebersamaan.
Tentunya, ibu Widy menjadi jauh lebih bersyukur setelah adanya kasus Cikho yang memang sudah langsung melukai semuanya, khususnya melukai ibu Widy sekeluarga. Ibu Widy benar-benar merasa prihatin bahkan miris. Namun ibu Widy berpikir, alasan Cikho sampai begitu karena selama ini, Tuan Maheza dan ibu Aleya tidak setegas Sekretaris Lim. Karena walau tampang Sekretaris Lim memang lembut mirip Tuan Maheza, jika sedang marah, Sekretaris Lim benar-benar tegas. Ketegasan yang sering terasa kejam, tapi hasilnya bisa jauh lebih membuat anak-anak waras. Beda dengan Tuan Maheza yang selalu lembut bahkan terlalu lembut. Padahal kadang, orang tua perlu tegas bahkan keras demi kebaikan bersama, khususnya anak-anak yang memang harus dibimbing dengan benar.
Sementara itu di depan ibu Widy, ibu Arnita mengawasi suasana sekitar. Ia dapati hampir semuanya nyaris beres makan. Kemudian ia menatap sang suami yang duduk persis di sebelahnya. Sambil menatap ibu Arnita, pak Restu yang juga sudah beres makan tengah mencuci tangan di mangkuk khusus.
“Biar aku saja karena ini sudah sangat bikin kamu terluka,” ucap pak Restu yang kemudian berdeham. Ia siap mengabarkan, membiarkan sang putri tanggung jawab atas ulah yang selama empat tahun terakhir bisa digolongkan sebagai kejahatan.
Mendapati itu, Divani yang duduk di sebelah sang mamah bersebelahan dengan Devano dan sang istri, sudah langsung ketar-ketir. Divani terlalu takut, adanya ia di sana akan dipaksa untuk minta maaf di depan semuanya.
“Jangan-jangan, ini ... papah mau mulai?” pikir Divani yang terusik oleh obrolan sang kakak. Devano mengeluhkan semua sambal yang mereka makan.
“Sambalnya enak banget, tapi level pedasnya enggak manusiawi,” bisik Devano.
“Enggak manusiawi gimana? Pedas sambalnya pas, kok. Malahan masih pedas omongan kamu apalagi kalau kamu lagi marah. Huh, ubun-ubun sama telingaku sampai sering berasap!” balas Zee dan Devano sang suami langsung kicep. Ibu Arnita sampai menegur mereka, tapi setelah Zee menceritakannya, ibu Arnita malah nyaris tertawa. Ibu Arnita sengaja menahan tawanya dan langsung serius. Membuat Zee yakin, ada urusan serius yang akan segera terjadi hingga mamah mertuanya yang baik hati, jadi sulit untuk bahagia.
“Sebelumnya saya minta maaf untuk kejadian yang bagi saya sekeluarga sudah tergolong sebagai kejahatan. Penting tidak penting, semuanya wajib tahu apalagi selama ini, kita sudah seperti keluarga. Untuk lebih jelasnya, saya serahkan semuanya kepada Divani yang menyebabkan semua ini terjadi. Biar Divani yang menjelaskannya sendiri,” ucap pak Restu.
__ADS_1
“Oh, bener!” lirih Azzam berbisik-bisik kepada sang kekasih.
“Benar apa sih, si Azzam? Bikin penasaran saja. Jangan-jangan, ini melukai Mbak Mbi?” pikir mas Aidan belum apa-apa sudah waswas karena biar bagaimanapun, Divani merupakan masa lalunya. Di sebelahnya, Arimbi yang tengah mencuci tangan di mangkuk khusus, juga ia pergoki tengah diam-diam mengawasi Divani dengan serius melalui lirikan.
Arimbi sudah langsung bingung setelah mengetahui sang suami diam-diam memperhatikannya. “M-mas?”
“Kalau memang ada yang enggak beres, kamu boleh langsung ngamuk!” bisik mas Aidan sambil menatap saksama kedua mata sang istri. Berbeda dari biasanya, senyum Arimbi kali ini terasa begitu hambar. Menandakan bahkan wanitanya itu tidak baik-baik saja.
“Di, berdiri!” bisik pak Restu maupun ibu Arnita nyaris bersamaan sambil menatap Divani.
Kenyataan Divani yang sampai harus dipaksa oleh orang tuanya, menjadi pemandangan yang langsung mencuri perhatian. Divani yang terlihat enggan, juga orang tua Divani yang mulai terlihat muak kepada sang putri. Keadaan yang membuat semuanya menyimpulkan, memang ada yang tidak beres. Apalagi saat membuka obrolan tadi, pak Restu mengabarkan apa yang akan Divani jelaskan, bagi keluarganya sudah tergolong sebagai kejahatan.
Arimbi tahu, keputusannya bersuara sudah langsung membuatnya menjadi pusat perhatian.
“Namun apa pun itu, katakan saja. Segera, sebelum orang lain yang mengatakannya,” ujar Arimbi.
Kecewa, itulah yang dirasakan oleh orang tua Divani lantaran Divani tetap saja tidak bisa diarahkan dengan baik.
__ADS_1
“Sebenarnya Divani ini penipu. Anggap saja begitu karena ternyata, selama empat tahun terakhir, harusnya yang jadi kekasih mas Aidan itu Chole, bukan Divani.” Devano dengan mulut pedasnya sudah langsung beraksi.
Devano tak mau orang tuanya benar-benar setres melebihi pak Haji Ojan karena sekarang, pak Haji Ojan saja sudah terlihat waras. Jadi, bukannya bermaksud mempermalukan Divani, alasan Devano sengaja menceritakan semuanya semata agar sang adik merasakan efek domino dari kejahatan yang dilakukan. Kejahatan yang bahkan terkesan sengaja ingin Divani sembunyikan untuk selama-lamanya.
Semuanya sudah langsung tidak bisa berkomentar, meski tentu saja, mereka juga penasaran dengan tanggapan mas Aidan maupun tanggapan Arimbi sang istri. Sebab biar bagaimanapun, yang sedang dibahas itu mengenai masa lalu mas Aidan.
“Di, ... gini, loh,” ucap pak Kalandra merasa perlu berbicara. ia menatap saksama Divani yang sepanjang Devano bercerita terus menunduk dalam.
“Pantas dari tadi, lirik-lirik gitu,” pikir ibu Arum sudah langsung menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
“Kamu enggak kasihan ke orang tua kamu? Atau setidaknya, ... kamu enggak mikir, kamu enggak kasihan ke diri kamu sendiri?” lanjut pak Kalandra walau ia masih dicueki oleh Divani. Sebab kenyataan Divani terus sibuk menunduk tanpa sedikit pun memberi iktikad baik, sudah membuat kekecewaannya kepada Divani makin tak terbendung.
“Kepercayaan itu penting, loh, Di. Sekali bahkan berulang kali kamu begini. Kamu bahkan menyia-nyiakan kesempatan yang orang-orang berikan agar kamu memperbaiki diri.” Mas Aidan angkat bicara karena biar bagaimanapun, ia kecewa. “Nanti bahkan secepatnya, kamu akan merasakan dampaknya. Akan ada saat di mana kamu benar-benar serius, tapi orang yang telanjur kecewa ke kamu enggak akan peduli lagi.”
“Mbak Arimbi ...!” Dalam hatinya, Chole begitu mengkhawatirkan Arimbi.
“Kamu sudah minta maaf ke Chole? Ke orang tua Chole, termasuk ke orang tua kamu?” ucap Arimbi yang kembali ikut bersuara. Ia menatap Divani dengan kemarahan yang susah payah ia tahan. “Lakukan itu sekarang juga. Jangan ditunda-tunda lagi! Kamu sudah dewasa, jangan kekanak-kanakan terus apalagi orang tua kamu sudah mendidik kamu dengan sebaik mungkin. Kalau yang enggak kenal orang tua kamu, mereka pasti akan menyalahkan orang tua kamu karena sikap kamu!”
__ADS_1
“Wah ... mbak Arimbi tegas banget!” batin Chole kagum. Walau nasibnya di sana, juga masih membuatnya waswas. Meski tentu saja, ia tak mau jadi peru*sak hubungan apalagi rumah tangga orang.
“Kalau Didi tetap susah dibilangin, buang saja Didi ke hutan Papua. Nanti pakai jetku saja. Lempar langsung dari atas, enggak usah pakai acara pendaratan. Lembar saja, biar langsung lunas!” ucap Sekretaris Lim santai tapi terdengar kejam bahkan di telinganya sendiri.