
Ada yang mengusik kebahagiaan seorang Arimbi. Kedua matanya tidak bisa berhenti mengawasi interaksi Sepri dan Sundari. Walau Arimbi melakukannya diam-diam, hatinya seperti ditusuk berulang kali hanya karena melihat interaksi Sepri dan Sundari kali ini.
“Interaksi mereka kok semanis itu. Semoga besok, anak-anakku juga saling jaga seperti mereka. Enggak bisa dipungkiri, mas Sepri sebaik itu. Dia mengubah kekurangannya menjadi keistimewaan yang enggak semua orang bisa melakukannya,” batin Arimbi yang langsung terusik oleh ulah mas Aidan.
Di sebelah Arimbi, Mas Aidan memang sibuk mengawasi setiap interaksi yang ada di sana. Namun, tangan kanan mas Aidan baru saja menggenggam tangan kiri Arimbi.
Setelah sesi makan besar berakhir, mereka memang melanjutkan dengan saling mengobrol. Obrolan yang juga menjadi bagian dari pelepas rindu. Karena seperti yang sempat mereka katakan, hanya di waktu tertentu saja mereka bisa berkumpul layaknya sekarang dan itu dalam formasi lengkap.
“Nih orang kenapa?” pikir Arimbi yang diam-diam mengawasi wajah mas Aidan dari samping.
Bukan ketampanan mas Aidan yang membuat Arimbi bengong. Melainkan keputusan pria itu yang dengan terang-terangan menggenggam sebelah tangannya di depan banyak orang.
“Mas, ...,” lirih Arimbi walau tatapannya ia sibukkan mengawasi sekitar. Seolah tidak terjadi obrolan antara dirinya dan mas Aidan.
Mas Aidan sudah langsung menatap Arimbi. Namun, wanita itu malah terlihat terkejut.
“Ekspresi Mas kok seserem itu!” lirih Arimbi sengaja protes.
Mas Aidan menghela napas pelan, kemudian sengaja membuat wajahnya ada di belakang kepala Arimbi. “Jangan memperhatikan interaksi sedih antara Sepri dan Ndari. Itu bisa bikin Sepri makin berkecil hati.” Mas Aidan sengaja berbisik-bisik. Ia dapati, Arimbi yang langsung menatapnya dengan panik, selain calon istrinya itu yang menjadi gelisah.
__ADS_1
“Aku enggak bermaksud loh Mas ...,” ucap Arimbi langsung mencoba menjelaskan. Namun di hadapannya, mas Aidan yang masih menatapnya berangsur mengangguk-angguk.
“Iya, enggak apa-apa. Karena sekarang kamu sudah tahu, mulai sekarang kalau di depan Sepri, kamu juga wajib ceria, ya!” yakin mas Aidan.
Arimbi langsung tersenyum ceria, tapi nyaris di waktu yang sama, dari kedua sisinya ada yang berdeham keras. Adalah pak Haji Ojan dan juga Azzam.
“Bisa-bisanya kalian deham bareng. Jangan-jangan kalian jodoh,” ucap mas Aidan sangat santai. Sambil mengambil kue wajik basah warna pink, ia tersenyum geli kemudian melirik Azzam dan pak Haji Ojan, silih berganti.
Azzam langsung menghela napas kemudian geleng-geleng menanggapi sindiran mas Aidan. “Bisa-bisanya malah nyindir balik,” ucapnya lirih sengaja meraih segelas teh manis masih hangat di hadapannya. Ia menyeruputnya dengan santai sambil menoleh pada Arimbi kemudian tersenyum hangat. Walau yang ia beri senyum malah sengaja pamer menggenggam tangan kiri mas Aidan hingga wajahnya mendadak datar.
“Ayo, Zam. Aku siap jadi ibu rumah tangga yang baik. Jadi, kamu wajib semangat kerja biar bisa jadi suami yang baik juga!” ucap pak Haji Ojan bersemangat.
“Semprul banget kamu, Jan! Dikiranya aku enggak laku apa? Masa iya, kamu daftar jadi istri aku, mau jadi IRT yang baik!” omel Azzam.
Semuanya tertawa kecuali pak Haji Ojan dan Azzam saja yang tidak. Pak Haji Ojan yang sibuk ingin menjadi istri Azzam, juga Azzam yang makin mual kemudian lari keluar sambil menahan muntah.
“Aku beneran bakal jadi istri yang baik, kok malah dia yang ngidam. Kan belum apa-apa. Jangankan malam pertama, lamaran saja, belum,” ucap pak Haji Ojan terheran-heran menatap kepergian Azzam.
“Mas Ojan ih ... semenjak amnesia gara-gara tertembak, ulahnya makin aneh!” keluh ibu Septi sambil menatap khawatir pak Haji Ojan. “Pah, diarahin dong. Takutnya beneran jadi wariyem. Tadi ke mas Sepri, ini ke mas Azzam.” Septi berbisik-bisik kepada sang suami yang memang duduk di sebelah pak Haji Ojan. Ia dan sang suami memang sengaja membuat Ojan duduk di antara mereka agar pria dewasa itu tak membuat gara-gara. Walau gara-gara lamaran kali ini, mungkin efek pak Haji Ojan yang terlalu baper pada pertunangan mas Aidan dan Arimbi, pak Haji Ojan sampai mengajak orang yang dikenal untuk menikah.
__ADS_1
Dokter Andri yang kini sudah sampai memakai kacamata min, menatap sang istri sambil menahan senyumnya. Ia menggeleng kemudian berucap lirih, “Dia hanya asal ngomong, enggak apa-apa. Yakin, mas Ojan bakalan sembuh.”
“Iya ih, Mbak Septi, lebay! Apa salahnya coba kalau aku mau jadi istri yang baik buat Azzam?!” semprot pak Haji Ojan kepada ibu Septi.
Ibu Septi yang gemas kepada pak Haji Ojan sengaja memoles pria dewasa yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Pria dewasa yang sampai saat ini masih ia urus layaknya bayi.
“Innalilahi ini. Wajib pakai banget kalau gini caranya. Daripada aku dikawin beneran sama si Ojan, mending sejak sekarang juga aku fokus cari jodoh. Sembarangan banget ih si Ojan. Masa iya mau jadi istri baik buat aku. Mau dia operasi bolak-balik buat hilangin batangannya pun, mending aku enggak pernah nikah,” batin Azzam yang tak sengaja mendengar ocehan pak Haji Ojan. Ia berkecak pinggang sambil mengawasi sekitar. Tatapannya berhenti pada Sundari.
“Cari jodoh lima langkah juga biar mamah sama papah juga enggak merasa kehilangan. Ndari itu lemah lembut, penyabar, lucu bikin gemes juga kayak ibu Septi. Masalahnya kalau aku deketin Ndari, otomatis aku juga harus menghadapi Ojan saklek!” batin Azzam. Ia melangkah menuju tempat duduknya, tapi panggilan dari pak Haji Ojan langsung membuatnya latah, efek terlalu takut.
“Kuprett kamu yah, Jan!” kesal Azzam sambil berkacak pinggang menatap kesal pak Haji Ojan.
“Masa iya, kalian beneran jodoh?” goda Sepri yang kemudian membuat semuanya tertawa lepas apalagi mas Aidan yang sampai tertawa puas.
“Kamu yah, Pri!” kesal Azzam tapi hanya sebatas itu lantaran di sebelah Sepri ada Sundari yang tengah ia incar. Sundari menertawakannya dan sampai menangis.
“Tuan makan senjata sih itu namanya!” ucap mas Aidan sengaja menyindir. Ia meraih segelas air minum kemasan menggunakan tangan kanannya. Namun karena tangan karena tangan kirinya masih digenggam Arimbi, ia sengaja meletakan segelas air mineralnya dulu. Walau kenyataan tangan kanan Arimbi yang sudah langsung menus*ukkan sedotan di air mineral kemasan gelasnya, membuatnya tersenyum puas dan sengaja memamerkannya kepada Azzam.
“Jan, si Azzam haus itu. Ambilin minum, katanya mau jadi suami ... eh maksudnya, istri yang baik!” ucap mas Aidan sengaja.
__ADS_1
Pak Haji Ojan sudah langsung semangat, hingga sekelas Azzam si rajanya nyinyir bin jail, sampai nyaris menangis meminta perlindungan kepada ibu Arum. Azzam memeluk erat sang mamah sambil sesekali menyuruh Akala untuk menjadi benteng perlindungannya mengingat tubuh Akala yang memang besar.