Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
62 : Aku Juga Adiknya Mas Aidan


__ADS_3

Pulang belanja pakaian, Arimbi tidak bisa tidur. Tiga setel pakaian yang tergantung berjejer di dinding masih ia pandangi bersama senyum lembut khas orang kasmaran, yang terus menyertai wajah cantiknya. Sesekali, Arimbi akan duduk sambil menekuk kedua lututnya dan itu hanya untuk mengawasi tiga setel pakaian berwarna kalem di dinding depan kasur, yang sebenarnya tidak mengalami perubahan apa pun. Hanya saja lantaran ketiga pakaian itu pilihan sekaligus dibelikan oleh mas Aidan, tentu saja ketiganya terasa sangat spesial.


Dering tanda pesan masuk di ponselnya dan ada di sebelah bantal di belakang, mengusik Arimbi.


Waktu di layar ponsel sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Sementara dering tanda pesan tadi ternyata pesan WA dari mas Aidan.


Mas Aidan : Mbak, besok aku ada kasus dadakan di kecamatan sebelah, tapi biasanya kasus mereka ngaret. Mau enggak diurus, enggak mungkin. Jadi nanti kalau Mbak mau ke rumah apa rumah makan, aku utus Akala saja ya, buat nemenin Mbak. Soalnya Mbak ke Azzam rada canggung, kan?


Per-hari besok, Arimbi memang hanya dagang di paginya karena siang hingga sore, mas Aidan sekeluarga meminta Arimbi untuk turut serta di acara persiapan empat bulan kehamilan Azzura. Bukan untuk rewang layaknya yang lain, tapi Arimbi diminta untuk menemani Azzura.


Arimbi : Iya, Mas. Enggak apa-apa. Mas hati-hati, ya. Jangan lupa buat tetap istirahat juga.


Mas Aidan : Ternyata belum tidur juga?


Membaca itu, Arimbi refleks tersenyum tak berdosa memandangi layar ponselnya. Ia menyugar ke belakang, rambutnya yang tergerai dan memang tak lagi tertutup jilbab.


“Telanjur cinta, ya. Sekadar dapat WA begini saja sudah seneng banget!” batin Arimbi.


Paginya, mas Aidan sudah berdiri di teras kontrakan Arimbi, membelakangi pintu yang baru Arimbi buka. Arimbi yang mengeluarkan motor dan tentu saja siap dagang, langsung terkejut, tapi juga refleks tersenyum.


“Loh, Mas ada di sini?” kaget Arimbi sambil tetap menuntun keluar motornya.


Mas Aidan tertawa ringan. “Iya habis dari masjid, jadi sekalian mampir!” balasnya.


Arimbi mengangguk-angguk.


“Ibu sehat? Semalam mbak Azzura bilang, gula darah sama tensi ibu, rada tinggi,” tanya mas Aidan.


Berbeda saat masih dengan Ilham, kini dengan mas Aidan, pasangan barunya itu sungguh cepat tanggap pada keadaan ibu Warisem. Arimbi masih ingat, saat akan operasi ibu Warisem, Ilham tetap diam dan malah mengabaikan setiap telepon sekaligus pesan darinya yang saat itu meminta dukungan. Baik itu dukungan moril maupun materi untuk biayanya yang memang tidak sedikit. Alasan yang juga membuatnya bekerja ke ibunya mas Rio. Karenanya, kini walau kesehatan sang ibu sedang kurang baik, Arimbi tak berani langsung mengabarkannya jika itu tidak mas Aidan yang memulai. Arimbi trauma pernah mengemis perhatian untuk keadaan ibunya kepada pasangan sebelumnya. Arimbi berpikir untuk mengurusnya sendiri, walau hari kemarin pun, mas Aidan sudah sampai mengutus Azzura untuk mengecek keadaan ibu Warisem.


“Kemarin setelah diperiksa, mbak Azzura kasih resep, tapi terus resepnya diambil lagi katanya mau mbak Azzura langsung yang cari ke apotek. Malah kata ibu, mas Akala yang antar obatnya sebelum aku pulang jualan. Terus semalam, ibu langsung bisa tidur. Itu saja baru bangun, langsung kebingungan kok dia bangun semuanya sudah beres.” Arimbi berbisik-bisik dan memang asyik cerita.

__ADS_1


Mas Aidan ikut mesem. “Sini motornya aku yang keluarin sebelum aku lihat ibu.”


Arimbi nyaris menolak, tapi ia tidak jadi. Ia mundur dengan hati-hati lantaran ulah mas Aidan yang buru-buru dan tampak sangat bersemangat, membuat tubuh mereka yang berhadapan, sampai menempel.


“Mundur pelan-pelan, aku tahan motornya. Awas, nyenggol motor, sakit!” lirih mas Aidan yang sampai menahan napas, selain ia yang tak berani menatap wajah Arimbi lantaran jarak mereka yang begitu dekat setelah tubuh mereka juga sempat menempel.


Namun, tak hanya mas Aidan yang sampai menahan napas karena Arimbi malah lebih parah. Saat masuk ke kontrakan saja, Arimbi yang membebaskan diri untuk bernapas sampai ngos-ngosan dan agak jongkok di depan pintu dapur. Ibu Warisem yang melihatnya sudah langsung menegur, heran dengan kelakuan putrinya yang makin lama makin aneh bin ngawur.


***


Pulang dari jualan, Arimbi sudah langsung bersiap-siap setelah sebelumnya juga langsung pamitan kepada ibu Warisem, meski wanita itu sudah mengetahuinya dari mas Aidan yang meminta izin secara khusus. Yang membuat Arimbi kikuk, ternyata yang menjemputnya bukan Akala, tapi Azzam.


Azzam tersenyum menatap Arimbi yang terkejut kebingungan menatapnya. Azzam yakin, Arimbi langsung merasa tidak nyaman hanya karena ia yang menjemputnya.


“Mas Azzam?” ucap Arimbi canggung.


“Akalanya lagi antar mamah ke toko kue, jadi enggak ada pilihan lain selain saya, Mbak. Enggak apa-apa lah, ya. Saya kan juga adiknya mas Aidan. Meski bedanya, saya sangat mengagumi Mbak!” ucap Azzam masih duduk di bangku kayu yang menghiasi teras kontrakan Arimbi.


Sambil berdiri, Azzam menggeleng dengan enteng. “Bukan tukang gombal, Mbak. Soalnya kalau di kantor, saya bagian pembukuan. Nah kalau di dapur mamah, saya bagian penghabisan!” ucapnya berusaha semangat.


Sadar Arimbi masih canggung kepadanya, ia pun sengaja berkata, “Jangan canggung yah, Mbak. Saya minta maaf jika saya salah. Namun, masa iya mencintai Mbak merupakan kesalahan, padahal saya tidak memaksa Mbak menerima saya. Enggak dibalas ya enggak apa-apa. Asal tahu Mbak bahagia dengan pasangan tepat, nantinya saya juga akan ikhlas.”


“Sama-sama jaga hati mas Aidan dan juga orang tua kita, yah, Mas!” balas Arimbi.


“Padahal saya bukan petugas keamanan yang bisa menjaga sebanyak itu, Mbak!” balas Azzam refleks dengan tutur manisnya.


“Mas Azzam ...?” panggil Arimbi penuh penekanan dan sengaja memberi Azzam peringatan.


Memasang wajah menyesal, Azzam langsung menunduk kemudian meminta maaf.


Kebersamaan mereka dilanjutkan dengan Arimbi yang dibonceng Azzam menggunakan motor matic. Motor matic yang kemarin malam mas Aidan pakai untuk membawa Arimbi belanja pakaian. Yang mana salah satu pakaian yang mas Aidan belikan juga tengah Arimbi pakai.

__ADS_1


“Kayaknya belum lebaran apa kondangan, tapi kalian sudah pakai pakaian sama, yah, Mbak? Tadi pagi saja, mas Aidan pakai kemeja lengan pendek warna lilac kalem kayak gamis Mbak,” ucap Azzam sambil mengemudikan pelan motornya.


“Makanya cari pasangan biar pakaiannya kembar juga,” balas Arimbi memberanikan diri untuk bersikap biasa kepada Azzam. Demi mas Aidan, juga hubungan baik keluarga calon suaminya itu mengingat sebelum mendadak dengan mas Aidan, Azzam sudah lebih dulu mendekatinya.


“Takutnya kalau sampai pakai yang kembar, yang ada dikira kembar, Mbak!” balas Azzam yang kemudian tertawa ringan.


“Ini kamu begini pasti pacarmu banyak!” tebak Arimbi.


“Bukan pacar, Mbak, tapi mantan ....” Azzam benar-benar refleks.


“Nah kan benar, ... mantan berasa barang antik sampai bisa dikoleksi, ya?” sindir Arimbi dan Azzam langsung terbahak.


“Makanya saya mau tahu, kenapa Mbak lebih memilih mas Aidan yang kaku, ketimbang aku?” balas Azzam.


“Itu urusan hati!” balas Arimbi buru-buru.


“Oalah urusan hati. Berarti saya harus belajar ke haji Ojan!” balas Azzam yang kemudian tertawa. Walau ketika ia melihat sosok pria serba pink dengan kepala mengkilap baru saja meninggalkan motor matic merah di temat parkir depan rumah makan yang dikelola mas Aidan, ia tak jadi ke sana.


“Ini kita enggak ke rumah makan dulu, Mas?” tanya Arimbi bingung, takut dibawa kabur Azzam soalnya Azzam mendadak menambah kecepatan laju motornya. Ia refleks berpegangan ke bagian belakang motor karena ia tak mungkin mendekap pinggang Azzam.


“Langsung ke rumah saja, Mbak, jangan ke rumah makan. Bahaya! Soalnya almarhum yang belum meninggal si pemuja janda dan wanita cantik sudah gentayangan di depan rumah makan!” ucap Azzam kal ini berbisik-bisik.


Hanya ada satu nama yang langsung ada di pikiran Arimbi jika membahas pemuja janda dan wanita cantik. Benar saja, di tempat parkir sana ada si pinky Ojan. Arimbi langsung panik lantaran pak Haji Ojan mendadak balik badan dengan agak loncat. Buru-buru Arimbi membelakangi pak Haji Ojan lagi.


“Sudah lihat, Mbak?” bisik Azzam.


“Sudah. Sumpah aku takut apalagi kalau enggak ada mas Aidan!” balas Arimbi masih berbisik-bisik.


“Alah, manja!” balas Azzam yang tak hanya meledek, tapi juga kesal lantaran Arimbi terang-terangan membanggakan mas Aidan padahal Arimbi bisa berlindung kepadanya yang ada di sana. Lihat saja, Arimbi yang langsung ngakak masih menjaga jarak darinya. Ada satu jengkal jarak mereka karena Arimbi duduk di ujung belakang sana.


“Seperti ada sinyal janda ...?” lirih pak Haji Ojan sambil memegangi kacamata bulat besar berwarna pink-nya dan menatap sekitar dengan saksama.

__ADS_1


__ADS_2