Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
65 : Ngeri!


__ADS_3

Suasana rumah keluarga pak Kalandra sudah ramai ketika mobil yang Azzam setir, sampai di depan gerbang rumah. Akala yang duduk di sebelah Azzam, buru-buru turun karena diminta Azzam untuk membuka pintu.


“Dek, harusnya sekelas Adek, buka gerbang cuku pakai jari kelingking!” keluh Azzam melongok dari kaca jendela sebelahnya dan sengaja ia buka tuntas.


Arimbi yang masih duduk di tempat duduk belakang Azzam, sampai geleng-geleng. “Mas Azzam kalau lagi cemburu jadi rese!” tegurnya yang berangsur turun meninggalkan Azzam begitu saja.


Azzam langsung bengong menatap tak percaya kepergian Arimbi melalui kaca spion di atasnya. “Mbak Arimbi tahu saja, aku memang selalu jadi rese kalau lagi cemburu!” batinnya.


Arimbi sengaja membantu Akala membuka gerbang. Akala kesulitan membuka gemboknya karena kunci gembok yang pria itu pegang terlalu banyak.


“Enggak selamanya orang gendut kuat apalagi bisa cekatan, sih. Kadang mereka malah akan kesulitan melakukan segala sesuatunya gara-gara tubuh mereka yang terlalu besar,” batin Arimbi yang akhirnya berhasil membukakan gemboknya.


“Makasih banyak, Mbak.” Akala sampai membungkuk-bungkuk hormat.


“Sama-sama, Mas!” balas Arimbi sambil mengelus sayang punggung Akala. Pemuda bertubuh gendut dan hidungnya saja nyaris tenggelam gara-gara pipinya terlalu tinggi, tersenyum kikuk kepadanya. “Mas Akala jadi diet, kan?”


Akala mengangguk-angguk. “Jadi, Mbak. Sudah mulai dari kemarin itu pas di kontrakan Mbak.”


Arimbi yang menyimak dengan tangan kanan masih di punggung Akala, mengangguk-angguk. “Iya, dilanjut, ya. Pelan-pelan pasti bisa. Daripada seperti sekarang, mau ngapa-ngapain juga susah, kan?” Arimbi yakin, alasan Akala sampai bertubuh besar dan itu tiga kali dari tubuh mas Aidan karena Akala terlalu disayang, hingga seberapa pun Akala makan, tetap dibiarkan.


Tanpa Arimbi maupun Akal, atau bahkan Azzam ketahu, dari balkon atas Pak Kalandra dan Azzura yang sudah memakai jilbab tanpa cadar, diam-diam tengah mengawasi interaksi Arimbi dengan Akala maupun Azzam.


Setelah sampai ikut mendorong gerbang membantu Akala, Arimbi segera membuka bagasi mobil dan mengeluarkan setiap barang-barang di sana.


“Mas Azzam, mobilnya enggak usah dimasukkin, kan? Kan nanti banyak tamu, sempit,” ucap Arimbi sambil memboyong kontainer berisi piring yang terbuat dari anyaman lidi dan sudah dialasi daun pisang.

__ADS_1


“Iya, Mbak. Ini mau dititipin ke planet sebelah,” ucap Azzam asal.


“Iya, ... sejauh mungkin pokoknya ya!” balas Arimbi yang lama-lama jadi gemas sendiri ke Azzam.


Lagi, Azzam bengong karena tidak bisa membalas Arimbi. Azzura dan pak Kalandra yang masih menjadi penonton setia di atas sana, sampai sibuk menahan tawa.


“Calon mantu Papah itu, Pah!” ucap Azzura di sela tawanya. Tangan kirinya yang tidak mengelus perut, membekap mulutnya.


“Yakin mirip banget sama masa muda mamah kamu, Mbak!” balas pak Kalandra masih belum bisa menyudahi tawanya padahal ia sudah susah payah menahannya.


Namun bagi Azzam, Arimbi merupakan mas Aidan versi wanita. Orangnya ulet, sabar tapi pinter menyindir, benar-benar sulit dilawan.


Halaman rumah termasuk itu depan garasi kediaman pak Kalandra memang sudah dihiasi teratag khas akan ada hajatan. Nuansa putih, pink, dan juga biru menghiasi suasana di sana. Sederet bunga mawar warna-warni yang begitu segar pun menambah kecantikan sekaligus kemewahan tersendiri di sana.


Sebagian halaman rumah memang dijadikan prasmanan. Di sana sudah dihiasi keterangan setiap hidangan yang disediakan. Karenanya, Arimbi menyusun pecel, lontong, gorengan, maupun rujaknya di satu meja yang memang disediakan. Arimbi datang lebih awal dari prasmanan makanan lainnya dan Arimbi ketahu langsung dikirim dari rumah makan utama yang mas Aidan kelola.


“Lebih dari itu sih, Mas Azzam. Karena saya juga akan jadi peri baik hati buat mas Akala, dan juga akan jadi pembasmi peninda-san!” balas Arimbi dengan santainya.


“Yang terakhir, saya merasa tersindir!” ucap Azzam masih lahap memakan mendoan dan juga cabai rawit hijaunya.


Arimbi langsung menahan tawanya. “Ini Mas Azzam mau sekalian sarapan lontong? Saya siapkan,” tawarnya.


“Sekalian pecel dan perkedel jagungnya juga, tapi jangan banyak-banyak yah, Mbak. Takutnya kalau enggak nyusul diare kayak mas Aidan, aku malah jadi melar kayak Akala. Kasihan, belum laku juga sampai sekarang!” oceh Azzam yang malah membuat Arimbi makin sibuk menahan tawa.


“Makanya, kalau sudah pacaran langsung seriusan. Cari yang buat seriusan, jangan malah dijadikan mantan terus!” balas Arimbi sudah langsung menyiapkan dua porsi sekaligus.

__ADS_1


Azzam yang sempat kicep karena lagi-lagi merasa tersindir, langsung bingung lantaran Arimbi menyiapkan dua porsi.


“Kok dua, Mbak? Menggendut lah saya kalau gitu ceritanya. Lihat saja nanti itu mas Aidan, sekali makan mi saja Mbak kasih sepanci.” Azzam kembali bawel.


Kali ini Arimbi benar-benar tertawa. “Sepanci itu maksudnya buat dibagi-bagi juga. Takutnya Mas Azzam, Mas Akala, apa malah Mbak Azzura, pengin!”


“Enggak ... beneran enggak dikasih setetes kuah pun. Cuma ngehirup aromanya saja. Aku cuma dikasih duit buat beli apa terserah, ya aku pakai buat beli satai kambing di perempatan menuju jalan raya. Terus itu, Mbak. Si Akala enggak juga usah dikasih makan lah. Soalnya mangap saja dia sudah jadi daging!” ucap Azzam.


“Sepagi ini sudah berisik,” tegur mas Aidan yang sudah berdiri di sebelah Arimbi.


Tak hanya Azzam yang terkejut karena Arimbi juga sampai buru-buru mengambil kursi di sebelah untuk mas Aidan duduk. Mas Aidan masih memakai sarung, selain pria itu yang masih memakai kaus oblong polos warna putih. Wajah mas Aidan tampak pucat, dan bibirnya pun kering.


“Kenapa Mas enggak infus saja?Sepertinya Mas juga dehidrasi,” ucap Arimbi buru-buru membereskan pecel dan seperangkatnya.


“Ke dapur, yu, bikin teh hangat.” Mas Aidan sudah langsung menggandeng tangan kiri Arimbi.


Azzam yang melihat gandengan mas Aidan kepada tangan kiri Arimbi, nyaris tiarap. “Ngeri!” ucapnya lantaran kemanjaan mas Aidan juga dibarengi dengan sikap posesif. Sekadar berbagi perhatian Arimbi kepadanya maupun Akala saja, mas Aidan tampak tidak rela.


“Mas Akala, ... punya Mas yang dikit, ya. Dikit tapi sering biar lambung juga aman,” ujar Arimbi yang sudah langsung melangkah mengikuti tuntunan mas Aidan. Yang mana, Arimbi benar-benar kesulitan mengontrol tawanya jika melihat ekspresi Azzam yang syiriknya keterlaluan kepada hubungannya dan mas Aidan.


“Si Akala di kasih yang aman buat lambung, terus yang punyaku enggak aman, dong?” seru Azzam sekaligus protes.


Arimbi hendak menjawab dan sudah sampai menoleh, tapi dengan cepat tangan kiri mas Aidan merangkul kepala Arimbi dan berakhir mengunci dagu Arimbi, hingga Arimbi tak bisa menoleh ke Azzam lagi.


“Sudah, biarin aja. Dek Azzam kalau sudah berisik, memang susah urusannya,” ujar mas Aidan.

__ADS_1


“Asli, mas Aidan beneran jadi ngeri!” cibir Azzam yang kemudian sengaja mengambil porsi sedikit milik Akala. Namun setelah dilihat-lihat, pecel lontong lengkap dengan perkedel jagung Arimbi, terlalu menggoda. Membuatnya segera menukarnya berhubung Akala masih di depan sana. Akala tengah membimbing karyawan rumah makan memboyong makanan dipindahkan ke prasmanan.


__ADS_2