Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
102 : Merasa Berguna


__ADS_3

“Kalau Mas memang ingin cerita, cerita saja, Mas. Mumpung belum ada orang lain apalagi saudara Mas. Alasan Mas sampai langsung ke sini karena demi menghindari mereka, kan?” ucap Arimbi lembut.


Kemudian Arimbi menggeleng pelan di tengah tatapan teduh berikut senyuman yang terus ia tujukan kepada Akala. “Enggak apa-apa, Mas. Semua orang tahu kok, Mas Akala orang yang sangat baik. Mas Akala orang yang sangat jujur. Mas Akala juga selalu menjadi yang terbaik, selain Mas Akala yang juga selalu memberikan yang terbaik untuk semua.”


“Kalaupun Mas sampai melakukan kesalahan bahkan itu fatal, Mbak yakin, selain Mas melakukannya dengan tidak sengaja, Mas juga langsung berniat untuk memperbaikinya karena pada dasarnya, seperti keluarga Mas, Mas Akala juga orang yang sangat bertanggung jawab.”


“Bagi Mas, apa yang akan Mas ceritakan, fatal, ya? Makanya Mas sampai kelihatan bingung banget gitu?” lanjut Arimbi yang menyadari, calon adik iparnya itu terlihat sangat bingung.


“Iya, Mbak.” Akala menunduk sedih.


“Enggak apa-apa Mas. Ayo cerita. Mbak yakin, masih bisa diperbaiki.” Arimbi masih bertutur tenang.


Akala menatap Arimbi sambil berhenti mengelap keringat di wajah dan juga lehernya menggunakan handuk kecil warna cokelat yang tersampir di bahu kanannya. “Sebenarnya ...,” lirihnya yang kemudian menatap Arimbi dan perlahan menghela napas. Wanita di hadapannya tersenyum hangat, sangat sabar mirip mamahnya, meski jelas mereka tidak memiliki ikatan darah.


“Sebenarnya, selama satu tahun terakhir, ... sebenarnya, aku dan Cinta, pacaran, Mbak,” cerita Akala. Sadar, bisa jadi Arimbi belum kenal siapa Cinta, ia pun mengenalkannya.


“Cikho yang enggak jadi dengan mbak Azzura?” tanya Arimbi memastikan, dan yang bersangkutan langsung mengangguk sekaligus membenarkan.


“Oh, oke,” lirih Arimbi sambil mengangguk-angguk.


“Hubungan kami menjadi semakin dekat sejak mbak Azzura enggak jadi dengan mas Cikho. Saat itu, keuangan keluarga Cinta menjadi sangat berantakan. Cinta menjadi bagian dari tulang punggung, selain kami yang makin kerap berkomunikasi. Aku sering menemaninya ketika ia harus lembur sampai pagi.” Akala menceritakannya pelan, tertata sekaligus mudah dimengerti.


“Masalahnya di mana, Mas? Karena setahu Mbak, sebenarnya keluarga Mas, termasuk itu mbak Azzura dan orang tua Mas, sudah biasa saja, kan? Mas cukup cerita ke mereka. Seperti yang sekarang ini Mas lakukan ke Mbak. Mas enggak usah bingung apalagi takut karena keluarga mas itu baiiiiiiik, banget. Sumpah, keluarga Mas sebaik itu ya. Mbak sampai bingung, kok bisa ada orang sebaik keluarga Mas. Makanya, Mbak belajar banyak ke keluarga Mas,” ucap Azzura.

__ADS_1


“Dari awal aku sudah ajak buat jujur, aku sudah berulang kali ajak dia ke sini. Namun enggak pernah ada sekali pun usahaku yang berhasil, Mbak. Dia selalu merasa minder, malu gara-gara kasus mas Cikho. Dia kayak ... trauma gitu loh, Mbak.”


Sambil tersenyum ceria, Arimbi berkata, “Besok ajak ke sini. Nanti Mbak bantu. Ajak ke sini biar jadi teman pengantin sekalian. Nanti bareng Ndari. Bareng anak-anaknya bibi Widy.”


“Dia juga sudah mau menikah, Mbak!” Akala mengatakannya sambil menangis. Suaranya tertahan di tenggorokan, membuat bibir berisinya bergetar.


“Kok bisa?” lirih Arimbi langsung tidak tega. Melihat Akala sehancur sekarang, suaranya menjadi tertahan di tenggorokan. “Apa jangan-jangan karena selama ini, kalian sama sekali enggak pernah menceritakan hubungan kalian ke orang lain? Dia dijodohkan semacamnya, begitu?”


“Keluarganya masih membutuhkan banyak dana, dan calon suaminya sudah memberikan dana yang keluarganya butuhkan.” Akala tersedu-sedu.


“Ya Allah, menyedihkan sekali!” batin Arimbi jadi ikut menangis. “Tapi Cinta belum menikah, kan, Mas?”


“Baru akan lamaran, Mbak. Malam ini, besok baru resepsinya!” cerita Akala.


“Innalilahi,” batin Arimbi makin galau, tapi ia segera berkata, “Masih ada waktu loh, Mas!”


“Kalau Mas memang cinta ke Mbak Cinta, sudah usaha dulu. Hasil enggak pernah mengkhianati usaha karena yang suka berkhianat itu mas Cikho!” yakin Arimbi.


“Kok mas Cikho dibawa-bawa, Mbak?” tanya Akala.


“Biar saja. Biang kerok seperti dia memang wajib diblender biar mikir!” balas Arimbi geregetan sendiri. Andai Cikho ada di hadapannya, ia pasti sudah beraksi. Entah lewat sindiran pedas, atau malah sampai ada adegan wajan melayang.


“Kalau gitu sekarang mas makan dulu buahnya. Terus Mas pulang, jadi pas Mbak pulang jualan, Mbak langsung bantu Mas ngomong. Tapi ini mau dibantu, atau ngomong sendiri?” sergah Arimbi makin bersemangat. Ia ingin membantu Akala berjuang hingga titik akhir.

__ADS_1


“Makasih banyak, Mbak! Jadi nangis gini. Mbak juga jadi ikut nangis. Maaf banget, yah, Mbak. Maaf, ini aku jadi merasa kurang a*jar,” ucap Akala sambil menyeka air matanya menggunakan handuk di bahu kanannya.


“Enggak usah minta maaf, Mas. Mbak malah seneng karena Mas mau cerita ke Mbak. Makasih loh, Mas bikin Mbak merasa berguna. Adik mas Aidan kan adik Mbak juga. Jadi, kalau memang Mas merasa ada yang perlu dibicarakan, ya ayo obrolin kayak sekarang,” yakin Arimbi, dan yang diyakinkan langsung mengangguk-angguk sambil terus menyeka air mata menggunakan handuk.


“Semoga sukses, yah, Mas. Kalaupun enggak mudah, ya enggak apa-apa karena yang spesial memang selalu butuh pengorbanan lebih!” lanjut Arimbi, dan lagi-lagi, Akala hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf. “Ya Alloh, semoga kelak anak-anakku mirip keluarga papah Kalandra dan mamah Arum. Serius, anaknya enggak ada yang gagal. Bibit unggul semua.” Jauh di lubuk hatinya, Arimbi sangat berharap, ia dan mas Aidan akan mengikuti jejak pernikahan bahagia pak Kalandra dan ibu Arum. Walau memang tidak mudah, Arimbi akan berjuang hingga akhir tanpa lupa untuk menikmati prosesnya.


***


Siang menuju sore, suasana di desa terbilang pelosok rumah Arimbi berada masih sunyi, terbilang damai sentosa meski musim paceklik tengah melanda. Hadirnya sebuah mobil kijang warna hitam yang melintas, sudah langsung menjadi pusat perhatian. Terlebih mobil itu malah masuk ke halaman dengan kediaman orang tua Ilham.


Ibu Siti yang sedang memegangi tangga untuk Ilham di atas san langsung bangga. Karena adanya mobil tersebut ia yakini akan membawa kabar bahagia.


“Ham, cepat tutup itu gendengnya(genteng), biar enggak terus-menerus ompong mirip giginya si Aisyah! Tuh ada tamu, itu. Ada paket, apa bagaimana, ya?” sergah ibu Siti tidak sabar.


“Eh, Mah. Jangan ditinggalin, nanti aku jatuh!” protes Ilham lantaran sang mamah sudah sampai meninggalkan tangga bambu yang menjadi perantaranya naik hingga ke atap rumah.


“Bentar lah, Ham. Kamu kapan-kapan saja turunnya, toh kamu masih jadi pengangguran dan beneran enggak ada kesibukan!” balas ibu Siti dengan santainya. Ia tetap mendekat ke mobil, siap menyambut apa yang keluar.


Ilham yang bertahan di atas di tengah suasana siang menuju sore ini yang mendung, juga menatap penasaran ke mobil. “Siapa, ya? Jangan-jangan tamu dari pondok?” pikir Ilham yang menjadi khawatir. Tak ada angin apalagi hujan, andai sampai ada pihak dari pondok yang datang, baginya itu sama saja petir di siang bolong.


Yang menyetir memang bukan polisi, tapi yang duduk di sebelah sopir dan kompak turun bersama sopir, merupakan pria berseragam polisi berperut super buncit.


“Lah, kok gini? Firasatku langsung enggak enak!” batin ibu Siti yang sudah langsung kehilangan senyumnya. Ia bahkan berangsur melipir, tak berniat menyambut yang keluar dari mobil lagi.

__ADS_1


Memakai pakaian serba hitam, wanita bercadar, itulah sosok yang duduk di tempat duduk penumpang dan langsung dipapah oleh sang sopir.


“Kok aku curiga kalau itu malah Aisyah?” lirih ibu Siti panik sepanik-paniknya padahal ia belum membuktikan dengan kepala dan matanya sendiri, mata dari sosok bercadar di dalam mobil sana.


__ADS_2