
“Jadi, besok Mbak bareng mamah, bareng mbak Azzura juga, beli seragam buat teman pengantin kita, ya,” ucap Mas Aidan sembari makan dan menatap Arimbi yang juga tengah makan di hadapannya.
Ibu Warisem yang juga ada di sana setelah dijemput mas Aidan, hanya menyimak sambil menyantap makanan lezat di piringnya dan kerap ditambahi oleh mas Aidan maupun Arimbi. Keduanya begitu perhatian kepadanya. Arimbi yang memang menjadi makin perhatian khususnya semenjak hubungan Arimbi dan Ilham kandas, juga mas Aidan yang memang sudah sangat santun sekaligus perhatian sejak awal mereka kenal.
“Bentar, aku tunggu balasan bibi Widy, ukuran mereka berapa,” lirih mas Aidan sambil mengecek layar ponselnya.
Bi Widy : Enggak usah dibeliin, Mas. Takutnya kebesaran atau malah kekecilan. Kalaupun jahit dadakan kasihan penjahitnya. Jadi, kami cari di sini saja, yang penting warnanya seragam, kan?
Dek Azzam : Eh, Mas. Seragam Ndari, biar aku saja yang beliin, sekalian mau jalan besok habis kerja. Biar aku punya alasan buat ajak dia jalan, Mas. Mas kan tahu, Ndari polos banget. Takutnya kalau aku agak rese, malah diludahii si Ojan.
Mbak Azzura : Mas, seragamku sudah dibeliin sama suami tercinta. Mamah pun sampai sudah dibeliin, soalnya besok mas Excel kan libur, mau ajak aku, sama mamah papah jalan gitu sebelum kita sibuk urus pernikahan Mas dan mbak Mbi.
Membaca sederet pesan masuk yang nyaris masuk di waktu bersamaan, mas Aidan refleks, geleng-geleng.
“Kompak enggak mau bikin aku keluar duit sih ini,” lirihnya.
Arimbi yang masih bisa mendengarnya, bertanya, “Kenapa, Mas?” Ia sengaja memastikan mengingat sebelumnya, mereka tengah membahas seragam untuk teman pengantin di acara pernikahan mereka.
“Ini sudah pada kompak siapin baju teman pengantin sendiri-sendiri,” balas Mas Aidan.
“Oh ... terus, berarti besok enggak jadi?” balas Arimbi.
Setelah terdiam sejenak sekaligus merenung, mas Aidan menyimpulkan, “Berarti besok waktunya kita buat rehat. Atau, ... besok kita ke rumah ayah Angga, lihat warung pecelnya. Pembeli sudah tahu kalau nantinya, jualannya di warung?”
Arimbi langsung menghela napas pelan. “Berarti besok juga jadi detik-detik terakhir aku dagang, yah, Mas? Soalnya sampai dua minggu ke depan, ... Mas bilang, waktuku wajib hanya buat Mas.”
“Cieeee,” ucap ibu Warisem sengaja menggoda. Dan ketika yang digoda kompak menatapnya, ia yang tengah makan paha ayam bakar berkata, “Kata mas Azzam kalau Mbak sama Mas sedang mesra-mesraan, suruh dicie-cieein!”
Mendengar laporan dari ibu Warisem barusan, Arimbi apalagi mas Aidan langsung tersipu.
“Parah nih, si Azzam sudah mulai menggaet pasukan!” ujar mas Aidan yang kemudian tertawa sendiri. Di hadapannya, Arimbi juga ikut tertawa. Segera ia berdiri kemudian mengisi piring Arimbi dengan nasi putih lagi termasuk juga ayam bakar dan sambalnya.
__ADS_1
Arimbi geleng-geleng. “Sudah, Mas. Cukup-cukup. Ini saja sudah kenyang banget.”
“Ya sudah, habisin.” Mas Aidan hendak duduk, tapi calon ibu mertuanya sudah kembali bilang “Cieee ....” Dan itu membuatnya kembali tersipu.
“Ibu, enggak usah ikut-ikut mas Azzam. Jangan asal ikut pokoknya!” yakin Arimbi.
Di tempat berbeda, di kamarnya, Azzam yang baru duduk di tengah-tengah tempat tidur langsung meraih ponselnya yang juga berada di tengah-tengah tempat tidur.
“Didi WA lagi? Kalau dipikir-pikir, nih anak jadi mirip Ojan deh,” keluhnya lirih. Ia membuka sekaligus membaca pesan dari Didi yang menanyakan kabarnya.
“Dia tanya aku sudah makan apa belum? Tumben? Kesuru*pan atau memang tanda-tanda mendekati ajal?”
Didi : Minggu besok aku ingin kondangan. Tapi aku bingung sama siapa, enggak ada pasangan. Apa sama kamu, saja, ya?
Azzam : Kamu sama Ojan saja soalnya aku sudah punya pasangan.
Di tempat berbeda, Didi yang awalnya tengah tengkurap santai sambil berkirim pesan dengan Ojan sudah langsung kehilangan senyumnya.
Didi : Pacar, ya?
Azzam : Calon masa depan alias istri.
Didi : Aku?
Azzam : Aku bagaimana maksudnya?
Didi : Ya aku orangnya.
Azzam : Iya, kamu. Kamu orang gilla maksudnya. Hahaha.
Azzam : Di, kamu jangan baper ke aku, apalagi kamu tahu, sama kambing pun kalau mereka bisa ngomong termasuk juga mereka bisa main hape, aku juga bakalan baik sekaligus balas pesan WA mereka.
__ADS_1
Azzam : Aku kirim WA begini karena aku merasa, rutinitas kamu yang WA aku melebihi jadwal minum obat, sudah bagian dari tanda-tanda enggak wajar.
Azzam : Kamu paham, kan, maksudku? Aku mau, sampai akhir hayat pun kita tetap jadi sahabat.
Azzam : Seberapa pun menyebalkan dirimu, bahkan sekelas mas Aidan saja sampai mundur. Kamu tetap salah satu sahabat terbaik aku.
Azzam : Aku harap, kamu bisa belajar dari kasus kamu dan mas Aidan. Aku harap, kamu bisa mengambil hikmahnya. Karena orang tua aku termasuk aku dan juga saudara mas Aidan yang lain enggak marah ke kamu saja, sudah untung. Ibaratnya kan, kamu sudah kebangetan. Terlebih sebelum ini kamu tahu, ada kasus mbak Azzura dan si cilok Cikho. Harusnya kamu sebagai pasangan mas Aidan bisa jadi pengganti mamah. Perhatian, bisa jadi panutan. Bukan ngambek terus mirip kesuru*pan.
Azzam : Ya sudah yah, aku enggak akan panjang lebar. Doaku satu, kamu jadi yang terbaik. Kamu bisa mencontoh mamah dan papah kamu yang lemah lembut, penyabar sekaligus penuh kasih sayang. Karena dengan begitu, kamu juga akan dapat jodoh terbaik. Jangan lupa, jodoh ibarat cerminan diri kita.
Sederet pesan dari Azzam sudah langsung membuat Didi menangis. Didi mengingat apa yang selama ini ia lakukan. Tersedu-sedu ia menjatuhkan ponselnya, kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menutup erat wajahnya.
***
Keesokan harinya, Arimbi yang tersenyum cerah dan tak kalah cerah dari suasana pagi ini, menjadi tersenyum hangat mana kala kedua matanya dipenuhi sosok Akala. Berbeda dari Azzam, pemuda itu datang sambil jalan pagi. Penuh keringat Akala menghampirinya, menyapanya dengan senyum lepas di tengah napasnya yang memburu.
“Minum Mas Akala sampai habis? Mau minum air biasa apa dingin dari kulkas?” tanya Arimbi.
“Biasa saja, Mbak,” balas Akala yang kemudian memberikan botol minumnya kepada Arimbi yang sigap mengambilkan minum untuknya dari galon di belakang wanita itu.
Pagi ini, detik-detik terakhir Arimbi jualan, tapi hanya ditemani oleh Akala. Karena selain Azzam tidak datang dan kerena pria itu harus bekerja, sehabis subuh tadi, mas Aidan juga sudah pergi. Mas Aidan pergi ke kabupaten untuk memastikan kebebasan bersyarat Aisyah yang menjadi tahanan kota. Selain mas Aidan yang memang masih memantau jalannya kasus Suci.
Sadar Akala sedang diet, Arimbi sengaja membeli dua buah apel dan dua buah pir, yang langsung ia kupas sekaligus potong sebelum disuguhkan ke Akala.
“Makasih banyak, Mbak!” ucap Akala sungkan sekaligus santun.
“Sama-sama, Mas Akala,” ucap Arimbi tetap duduk di hadapan Akala karena kebetulan sedang tidak ada pembeli.
“Mbak, maaf ... Namun saya ingin ngobrol serius.” Kali ini Akala benar-benar sopan.
Arimbi yang mendapatkannya menjadi diselimuti ketegangan terlebih wajah Akala benar-benar serius. Seolah memang ada yang tidak beres, tapi Akala memang hanya berani menceritakannya kepadanya.
__ADS_1