
Arimbi sudah menyiapkan penampilan terbaik. Walau sebaik-baiknya penampilan yang wanita itu siapkan, rasa tidak percaya diri terus saja menyertai, menciptakan kegelisahan tersendiri.
Untuk sampai di titik kini pun, Arimbi sampai membuat isi lemari pakaiannya berpindah ke tempat tidur. Karena layaknya wanita pada kebanyakan yang selalu ingin tampil sempurna di depan pasangan, itulah yang Arimbi lakukan. Sekali lagi, Arimbi mematut diri, mengawasi penampilannya di kaca jendela kamar lantaran di sana belum ada cermin rias besar. Sekadar bercermin ketika merias wajah saja, Arimbi memanfaatkan cermin rias di wadah bedaknya.
“Belum apa-apa sudah deg-degan begini.” Itulah yang Arimbi khawatirkan. Karena seaman-amannya penampilannya, tidak dengan jantungnya yang terus saja berdetak kencang. Terlebih ketika ternyata, pergi beli pakaiannya harus sampai berboncengan menggunakan motor mas Aidan. Itu saja, mas Aidan memakai motor matic, bayangkan jika sampai menggunakan motor gedenya.
Mas Aidan yang sadar, Arimbi kelewat tegang, diam-diam mengawasi wanitanya itu dari kaca spion depan motornya. Ia mengawasi dari kedua kaca spionnya. Lucunya, Arimbi yang duduk menyamping, memilih duduk di bagian paling ujung. Mas Aidan jadi sulit berhenti senyum karenanya.
Dalam diamnya, Arimbi yang sudah tak karuan, bingung lantaran mas Aidan tak kunjung mengendarai motornya padahal ia sudah duduk agak lama. “Ada yang salah, apa bagaimana?” pikir Arimbi tanpa berani mengutarakannya.
“Mbak, duduknya jangan di ujung gitu. Takutnya ada apa karena jalannya enggak selamanya lurus apalagi rata. Mepet saja, ih! Bikin gemes aja!” ucap mas Aidan yang berakhir tertawa.
Di tengah sorot lampu jalan depan kontrakan yang terbilang terang, Arimbi nyaris jantungan hanya karena dibilang bikin gemes oleh mas Aidan.
“Innalilahi, ... kenapa setegang ini!” batinnya ingin geser mepet layaknya arahan mas Aidan, tapi tidak memiliki keberanian.
Mas Aidan yang masih menertawakan Arimbi, sampai menoleh. “Susah, mepet. Pegangannya jangan ke belakang, nanti aku dikira tukang ojek. Pegangannya ke aku saja, takutnya Mbak diambil orang. Iya kalau yang ambil waras. Kalau yang ambil sekelas Ojan, susah urusannya!”
Ucapan mas Aidan barusan membuat Arimbi tersipu malu. Beruntung, ia memakai masker hingga ekspresinya tak sepenuhnya terlihat.
Lagi, pengalaman pertama boncengan motor membuat bibir maupun pipi mas Aidan kaku karena sibuk menahan senyum. Sebab walau sudah agak mepet ke punggungnya, Arimbi hanya pegangan sedikit ke kemeja bagian pinggang mas Aidan, mirip mencubit yang hasilnya sangat sakit lantaran cubitannya benar-benar sedikit.
__ADS_1
Jalan yang mereka lalui menjadi makin sepi karena mereka sudah keluar dari kawasan pemukiman. Namun ketika akan ke jalan raya, mas Aidan terpaksa mengerem lantaran ada kucing mendadak lari di tengah kegelapan.
“Kucing, Mbak ...,” ucap mas Aidan nyaris tertawa setelah tragedi kucing kuning lewat membuat Arimbi mendekap pinggangnya erat.
Arimbi terengah-engah di tengah jantungnya yang berderak sangat keras.
“Jangan tegang, Mbak. Sudah, begitu saja, takutnya ada apa-apa semacam kucing nyebrang lagi,” yakin mas Aidan yang sampai berkata, “Masa iya aku harus ikat pinggang Mbak ke pinggang aku? Ini baru berdua, besok kalau di acara empat bulan mbak Azzura bagaimana?” Karena mas Aidan yakin, di acara tersebut juga akan menjadi acara mereka sebagai pasangan baru yang otomatis juga akan menjadi fokus perhatian.
“Jujur aku tegang banget, Mas. Napas saja, aku takut salah,” lirih Arimbi jujur tapi malah membuat mas Aidan kelepasan tawanya. Meski tentu saja, tawa mas Aidan cenderung tawa lirih dan itu karena sangat merasa lucu.
“Ya sudah, Mbak. Pegangan sama duduk yang bener. Masalahnya di sini gelap, takutnya kita malah digerebek terus dinikahkan paksa!” ucap mas Aidan.
“Jangan tegang, yah, Mbak. Sebisa mungkin aku berusaha Mbak nyaman, jadi jangan tegang.” Mas Aidan meyakinkan dan membuat Arimbi merasa bersalah.
Mas Aidan membawa Arimbi belanja pakaian di toko pakaian terbesar yang ada di kota mereka. Toko pakaian yang letaknya ada di depan jalan raya, dan jaraknya terbilang dekat dari rumah orang tua mas Aidan. Jika ditempuh menggunakan motor dengan perjalanan normal, harusnya tidak ada lima belas menit. Namun karena mbak Arimbi tegang, mas Aidan hanya membawa motornya di kecepatan sepuluh.
“Jangan tegang terus. Aku sengaja ajak Mbak ke mana-mana, biar kita terbiasa tampil di depan umum. Mbak tahu, kan, jadi bagianku akan selalu jadi pusat perhatian? Apalagi di toko pakaian pun, kebanyakan dari yang jaga sudah kenal aku. Belum besok di acara empat bulan kehamilan mbak Azzura, aku juga otomatis akan mengenalkan Mbak ke keluarga besar maupun relasi yang jadi undangan.”
Seolah terhipnotis oleh kedua mata mas Aidan yang menatapnya saksama, Arimbi nyaris tak berkedip kala menatap kedua mata itu.
Sebisa mungkin mas Aidan berusaha membuat Arimbi selalu merasa nyaman apalagi jika wanita itu sedang bersamanya. Maksudnya merangkul Arimbi, kemudian sambil mengelus gemas pipi Arimbi dan agak mencubitnya layaknya ketika ia memperlakukan Azzura maupun sang mamah pun, agar Arimbi bisa nyaman dan terbiasa bersamanya. Khususnya jika sedang tampil di depan umum, mas Aidan sedang berusaha melakukannya dan mas Aidan yakin, itu terbilang sulit lantaran Arimbi yang memang telanjur minder.
__ADS_1
“Bukannya nyaman, aku malah jadi lemes gini,” batin Arimbi pasrah didekap mas Aidan. “Mungkin bentar lagi, ya. Aku baru terbiasa,” pikirnya. Ia membiarkan tangan kirinya digandeng mas Aidan memasuki toko pakaian besar yang terbilang ramai walau kini sudah agak malam.
“Kita beli beberapa, yah, Mbak. Mbak Arimbi suka warna apa? Harusnya semua warna cocok buat Mbak.” Mas Aidan masih aktif berbicara.
“Modelnya bagus-bagus,” ucap mas Aidan masih membawa Arimbi melihat-lihat.
Tiba-tiba saja terlintas di benak Arimbi. Ini mengenai acara empat bulan kehamilan Azzura yang akan dilaksanakan lusa. “Berarti, ... si Cikho datang, yah, Mas? Atau seenggaknya keluarganya? Keluarga kalian sudah seperti saudara, sementara mas Excel juga kakaknya Rere, kan?”
Pertanyaan Arimbi membuat mas Aidan perlahan benar-benar berhenti melangkah. Ia berangsur menatap sekaligus menghadap Arimbi kemudian mengangguk-angguk. “Kita lihat saja besok.”
“Malah aku jadi ikut tegang,” ucap Arimbi sambil menunduk.
“Mbak Arimbi jangan serba tegang!” ucap mas Aidan menertawakan Arimbi yang sampai ia bingkai gemas kedua pipinya.
“Normal, Mas!” ucap Arimbi benar-benar pasrah.
“Sekarang aku minta ke Mbak, ... jangan gugup lagi, jangan tegang lagi. Jadi pasanganku jangan begitu. Adik-adikku ada tiga dan mereka masih butuh arahan kita. Besok pun, pihak Cikho bakalan datang,” yakin mas Aidan yang tiba-tiba saja, jika pihak Cikho saja datang, bisa jadi pihak Didi juga datang.
Arimbi memberanikan diri untuk meraih kedua tangan mas Aidan yang masih membingkai wajahnya. “Aku akan belajar, Mas!” ucapnya yang kemudian berkata, “Aku beneran ... iya, aku bakalan belajar meski tetap tegang enggak karuan begini.” Pada akhirnya ia kembali mengeluh, dan itu membuat mas Aidan kembali menertawakannya.
“Biasakan, ya!” pinta mas Aidan menatap saksama Arimbi dan masih berusa membuat Arimbi senyaman mungkin.
__ADS_1