
Arimbi masih ingat, saat awal pertemuannya dengan mas Aidan. Mereka bertemu di rumah ibu Irma, ketika mas Aidan mengurus kasus mas Rio. Saat itu, tak ada sedikit pun terlintas dalam benak Arimbi, bahwa mereka akan sampai seperti sekarang. Karena saat itu, Arimbi masih menjaga kesetiaannya untuk seorang Ilham. Namun jika mengingat kelanjutan hubungan mereka setelah itu, semuanya benar-benar luar biasa. Alasan mereka ada pun karena pertemuan demi pertemuan mereka, khususnya mas Aidan yang selalu ingin melindungi Arimbi.
“Aku yang gandeng!” sergah pak Haji Ojan sangat bersemangat dan langsung mendapat sorot tatapan tajam dari mas Aidan.
Kenyataan mas Aidan yang buru-buru keluar dari rombongan untuk menggandeng Arimbi, menyelamatkannya dari pak Haji Ojan, sukses membuat semuanya tertawa.
“Alhamdullilah, Mbi. Sekarang kamu benar-benar bahagia. Kamu enggak dibohongi lagi seperti saat kamu masih bersama Ilham. Dulu, alasan kamu selalu setia kepada Ilham karena dia selalu bohong semua uang yang kamu berikan sudah Ilham kelola menjadi modal usaha untuk kita sama-sama hidup enak. Namun nyatanya, kini saja walau dia sudah jadi sarjana sekaligus paham agama, dia masih nganggur. Dia malah jadi tukang mancing yang walau istrinya dipenjara malah terkesan enggak mikir!” batin ibu Warisem yang diam-diam menyeka sudut matanya menggunakan ujung kebayanya.
Kali ini, ibu Warisem juga sampai memakai kebaya baru berwarna selaras dengan Arimbi. Karena walau sejak dapat ganti rugi dari Ilham, Arimbi sudah langsung mengganti semua kebaya lamanya dengan kebaya baru, kebaya kali ini benar-benar terasa berbeda untuk ibu Warisem. Ditambah lagi, kebaya tersebut disiapkan oleh pihak mas Aidan.
“Jarang-jarang kita bisa kumpul begini kalau bukan karena acara, kan? Ayo, masuk ke rumah baru Arimbi. Pasti sudah disiapin banyak makanan enak ini!” ucap pak Kalandra bersemangat. Ia yang juga berkaca-kaca dan merasa sangat terenyuh, sengaja lebih bersemangat. Karena mesk pertemuan kini benar-benar membuatnya tak bisa untuk tidak bersedih apalagi menangis, harusnya hari ini semuanya bahagia.
“Tapi biasanya kalau ada yang mati juga bakalan kumpul-kumpul!” ucap pak Haji Ojan bersemangat.
“Oalah kamu ... udah coba kamu dulu yang mati, buat praktik!” omel Azzam.
“Iiyya, ih, ini. Mulutnya kalau ngomong berasa pengin aku jahit saja biar kamu enggak bisa ngomong sekalian!” ucap Sepri benar-benar geregetan.
__ADS_1
Arimbi yang awalnya hanya digandeng mas Aidan juga membiarkan sebelah tangannya digandeng pak Angga. Mereka berbondong-bondong masuk rumah Arimbi. Semua jendela termasuk pintu yang di sana sengaja dibuka semua dan dikata rombongan mas Aidan jadi seger efek AC alami.
Pacitan dan semua jamuan langsung disantap ramai-ramai oleh rombongan mas Aidan di tengah obrolan hangat yang terus tercipta. Walau mereka berasal dari keluarga berada, mereka memang tetap hidup sederhana layaknya rakyat biasa. Terlebih untuk urusan makanan, makanan lokal selalu menjadi makanan wajib sekaligus makanan terenak bagi mereka.
“Ini kita belum serah terima lamaran kok sudah ngabisin makanan?” ucap ibu Septi terheran-heran lantaran ia yakin, semuanya terlalu larut dalam kebersamaan hangat di sana.
“Kan sudah pasti diterima, Bu. Jadi ya santai!” ucap Azzura yang masih duduk di sebelah suaminya. Selain itu, ia juga duduk di sebelah pak Kalandra yang sesekali sampai menyuapinya.
Balasan Azzura barusan sudah langsung membuat semuanya tertawa. Termasuk itu para ibu-ibu dan bapak-bapak yang rewang merangkap menjadi ‘gelidik’ atau itu pellayan agung.
“Besok pas ijab kabul sekaligus resepsi, Bapak-bapak sama Ibu-ibu yang rewang wajib ikut, ya. Nanti dijemput pakai mini bus. Kumpul di depan ajak semuanya!” ucap ibu Arum bersemangat.
Dulu, jika kalian sudah membaca novel Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga, konsep antar jemput menyewa transportasi ke ijab kabul sekaligus resepsi, tentu sangat mirip dengan saat pak Kalandra mengundang satu kampung ibu Arum untuk menyaksikan kebahagiaan mereka menjadi raja dan ratu satu hari.
Di antara semuanya, pak Haji Ojan menjadi sosok yang paling tidak bahagia. Ia terbengong mengawasi wajah-wajah di sana. Ia merasa iri karena semuanya bisa tersenyum padahal ia tidak bisa.
“Mas Andri, kok hati ini terasa mati padahal harusnya aku bahagia karena semua yang di sini bahagia,” ucap pak Haji Ojan yang makan saja, tidak. Makanan di piring termasuk sendok yang sudah Sepri sediakan untuknya, sama sekali belum ia senggol.
__ADS_1
Dokter Andri yang sedang memakan nasi dengan tumis belut bakar cabai hijau dan banyak irisan lengkuas muda, langsung diam. Ia yang duduk di sebelah pak Haji Ojan belum sampai menatap pak Haji Ojan, tapi nada suara pak Haji Ojan sungguh menyayat ulu hatinya.
“Makanya, ikhlas, ya? Kalau sudah saatnya, Mas Ojan juga pasti akan menikah dengan jodoh yang pasti tepat!” yakin dokter Andri.
Pak Haji Ojan mengerjap, menatap dokter Andri dengan serius. “Ikhlas itu yang jual siapa? Maksudnya, aku harus beli di mana, Mas? Di onlen ada enggak? Di Surti, Lezadnya, sama Blo-Blo ada enggak? Mumpung Sundari ada di rumah belum ke Yogya lagi, aku mau minta dipesenin Ikhlas itu tapi bayarnya nyicil, nunggu lele dumbo di kolam terjual semua!”
Dokter Andri langsung terbengong-bengong bingung tak bisa menjawab pertanyaan pak Haji Ojan.
“Sudah, makan saja biar tetap sehat. Nanti kalau sudah waktunya pasti juga nikah!” yakin eyang Fatimah.
“Yang pasti itu menua sama mati, Eyang Putri. Kalau nikah, ada saja di dunia ini yang enggak nikah!” balas pak Haji Ojan mendadak ceramah.
Eyang Fatimah langsung geleng-geleng. Menatap tak habis pikir warisan terberat dari suaminya dan itu mengantarkan pak Haji Ojan hidup normal bila perlu sampai pria itu berumah tangga, bahagia dengan rumah tangga yang dibina. Walau tidak yakin itu akan terjadi, ibu Fatimah sangat berharap, di sisa waktunya ia bisa menjalankan wasiat terakhir dari amarhum pak Haji suaminya.
Di sebelah ibu Septi, Sundari yang memiliki kedekatan spesial dengan Sepri juga tersenyum manis sambil merengek, meminta sang kakak untuk menikah, atau setidaknya berpikir menjalani pernikahan. “Jangan kerja terus, Mas Sepri. Pacaran, nikah ... apa nikah dulu baru pacaran. Kayak Mas Aidan dan mbak Arimbi ini kayaknya juga nikah dulu, pacaran benerannya habis nikah,” lirih Sundari yang menatap sang kakak penuh harap.
Sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya, Sepri yang langsung fokus menatap kedua mata Sundari berkata, “Kemarin sudah coba. Itu sama Oka, teman kamu yang katanya naksir Mas. Namun setelah Oka lihat kaki kanan Mas, dia langsung ketakutan dan buru-buru pamit. Semenjak itu dia enggak ada kabar. Makanya keesokan harinya Mas Sengaja WA dia. Terus dia memang balas, tapi dia bilang agar Mas enggak ganggu dia lagi karena dia akan menikah. Alasan yang beneran klise.” Sepri mengangguk-angguk santai. “Sabar sih ... kalau jodoh dan memang sudah waktunya, pasti kayak Mas Aidan dan Mbak Arimbi. Amin!”
__ADS_1
“Aminnnnn. Tapi aku berharapnya, dalam waktu dekat, Mas benar-benar menikah!” pinta Sundari, tapi seperti biasa, Sepri yang walau ketika kepada orang lain akan sangat ceplas-ceplos, sudah langsung mengelus kepalanya penuh sayang. Pria tersebut memang tersenyum, tapi Sundari sadar, senyum Sepri hanyalah bagian dari senyum lelah. Lelah yang masih berkaitan dengan kaki kanan pria itu dan membuat sebagian besar orang memandang Sepri sebelah mata.