
Arimbi benar-benar merasa tertantang untuk segera membuktikan apa yang telah menjadi bahan led3kan Ilham dan ibu Siti. Semangatnya berkobar-kobar, walau ia juga menjadi agak emosional. Pak Haji Ojan yang kembali datang sampai menjadi pelamp1asan terlebih pria itu tak hentinya mengganggu Arimbi sepanjang jualan.
“Belum beres, Mbak?” Mas Aidan yang baru datang dan berniat menemani Arimbi, merasakannya. Arimbi dengan sengaja menghant4m asal pak Haji Ojan menggunakan wajan. “Pasti memang ada yang tidak baik-baik saja,” yakin mas Aidan dalam hatinya. Karenanya, ia sengaja menuntun paksa pak Haji Ojan untuk duduk di bangku bersamanya.
“Lepas, mau ke sana,” ucap pak Haji Ojan merengek sambil memberontak.
“Jangan. Lebih baik sekarang kamu pulang, kasihan Sepri!” balas mas Aidan lirih tapi sangat tegas.
“Aku mau kasihan ke Sepri kalau aku sudah nikah sama dia!” yakin pak Haji Ojan sambil menunjuk Arimbi yang tengah sibuk jualan.
Andai tidak ada pak Haji Ojan yang berbakat rusuh, mas Aidan pasti membantu Arimbi. Masalahnya jika pak Haji Ojan dibiarkan, yang ada malah membuat keadaan runyam termasuk juga emosi Arimbi sendiri.
Sebuah mobil pick up baru saja berhenti di sebelah mas Aidan dan ternyata itu Sepri. Layaknya biasa, bak petugas keamanan khusus untuk pak Haji Ojan, Sepri langsung sigap mengamankan pak Haji Ojan. Pak Haji Ojan yang sadar akan diamankan buru-buru kabur.
Mas Aidan yang sempat kecolongan berusaha menyusul, tapi yang ada justru gagal karena pak Haji Ojan lari tidak jelas ke tengah kerumunan. Layaknya sore menjelang petang biasanya, kali ini sepanjang pinggir jalan pasar memang kembali dipadati mereka yang sedang bersantai menikmati suasana sore. Namun rusuhnya pak Haji sangat mengganggu mereka. Sebagian dari mereka langsung emosi. Ada yang berhasil menghindar, tapi tak jarang yang terinjak atau tertendang menjadi korban pak Haji Ojan.
“Itu orang jangan ditabrak begitu!” omel Sepri lantaran pak Haji Ojan memang tak segan menabrak atau malah menginjak setiap Kaki dan juga tubuh yang dilewati.
Arimbi menggeleng tak habis pikir melihat kelakuan pak Haji Ojan. “Mas Sepri, sudah biarin Mas! Biarin, nanti biar saya yang urus!” yakinnya.
Mas Aidan yang tentu saja menyimak seruan dari Arimbi, segera membawa Sepri mendekati Arimbi.
__ADS_1
“Duduk, istirahat. Ngadepin orang waras saja capek, apalagi ngadepin yang lebih waras? Bentar saya pesankan es ketan hitam,” ucap Arimbi.
“Nggak usah repot-repot lah, Mbak. Nanti kalau saya makan ketan hitam, yang ada saya makin hitam soalnya manisnya ketinggalan di jembatan Ancol!” ucap Sepri terengah-engah.
Arimbi langsung terdiam bingung. Apakah maksud Sepri serius karena beberapa orang memang ada saja yang tidak boleh makan ketan hitam. Atau malah, Sepri yang hobi bercanda layaknya Azzam, hanya bercanda?
“Mas Sepri memang enggak makan ketan hitam? Beberapa kan memang ada saja yang enggak makan. Apalagi orang Jawa yang kejawennya kuat,” tanya Arimbi sampai menghampiri kebersamaan di bangku sebelah. Ia berdiri di sebelah mas Aidan yang duduk bersebelahan dengan Sepri.
Mas Aidan menahan senyumnya kemudian menengadah. Ia menatap Arimbi kemudian meraih tangan kiri wanita itu, menuntunnya untuk duduk di sebelahnya apalagi ia juga sengaja geser memberi Arimbi tempat duduk lebih.
“Enggak, Mbak. Bercanda ...,” yakin Sepri masih terengah-engah.
Arimbi mesem kemudian ia sengaja berseru sambil menoleh ke belakangnya karena di sana, ada pedagang kaki lima yang menjual es ketan hitam.
Arimbi langsung mengangguk-angguk sambil mengurai senyumnya kepada si wanita.
“Kok kulitmu jadi gelap banget, Pri? Kemarin belum begini, loh! Kamu habis ke pantai apa gimana?” Mas Aidan terheran-heran.
Arimbi yang menyimak membenarkan anggapan mas Aidan. Kulit Sepri menjadi jauh dan memang sangat gelap dari pertemuan mereka kemarin.
“Boro-boro mantai, Mas. Ini kan lagi panen padi, ya aku urus semuanya. Kemarin pulang dari acaranya mbak Azzura, mulai panen dan sore ini alhamdullilah beres, tapi si Ojan minggat lagi. Takut dia gangguin orang terus orangnya kenapa-napa. Kalau dia yang kenapa-napa sih biarin saja. Kebal kan dia,” ucap Sepri.
__ADS_1
“Sudah dapat berapa hektar panennya? Dapat berapa karung juga?” tanya mas Aidan yang kemudian menoleh menatap Arimbi. Ia menceritakan betapa rajinnya pemuda bernama Sepri di sebelahnya. “Kayaknya tidur saja dia masih sambil kerja!” ucapnya masih memuji Sepri. “Andai aku punya saudara perempuan lagi atau malah Azzam mendadak jadi perempuan, sudah aku jodohin dia sama kamu!”
Sepri langsung tertawa. “Suruh pakai rok saja tuh si Azzam, Mas.”
Mendengar Azzam yang disarankan memakai rok oleh Sepri, mas Aidan dan Arimbi kompak tertawa. Termasuk pak Haji Ojan yang diam-diam sudah duduk di tanah sebelah Arimbi duduk. Mas Aidan refleks men4bok wajah pak Haji Ojan lantaran pria itu berusaha memegang lengan Arimbi.
“Kamu enggak boleh gitu. Enggak sopan!” kesal Arimbi kepada pak Haji Ojan.
“Tab0k saja pakai wajan, Mbak. Tab0k! Tuman! Itu wajannya mana? Sini biar saya saja yang praktik tab0k-menab0knya!” kesal Sepri sampai berdiri dari duduknya.
Arimbi menghela napas dalam sekaligus pelan. “Sabar, Mas Sepri. Kita coba rangkul dia pelan-pelan biar dia balik normal. Paling tidak, minimal dia jadi lebih tanggung jawab. Setidaknya dia jadi bisa urus diri sendiri. Enggak mungkin juga kan, seumur hidup mau begini. Mas Sepri juga berhak lepas dia karena nantinya pasti ada yang lebih harus diutamakan. Termasuk ibu Septi yang makin lama pasti bakalan butuh waktu istirahat lebih dari sekarang, buat menikmati masa tuanya.” Ia bertutur penuh pengertian sambil menatap yang bersangkutan, walau sesekali, tangan kanannya yang tidak digenggam mas Aidan, akan mendorong kening atay malah tangan pak Haji Ojan yang tidak mau diam dan terus saja berusaha memegangnya.
Setelah terdiam sejenak, mas Aidan berangsur menghela napas pelan. “Kali ini aku setuju dengan Mbak Arimbi. Setuju banget malahan. Mulai sekarang yang harus kita lakukan memang merangkul Ojan biar dia bisa pelan-pelan balik normal. Seenggaknya, dia harus bisa urus diri sendiri. Kamu pun jangan cuma mikir kerja, Pri! Kamu juga wajib mikirin nikah!” Ia menatap Sepri penuh keseriusan. Pria itu langsung menunduk lesu jika disuruh menikah.
“Nikah gimana, Mas? Memangnya ada wanita yang mau sama saya ....” Sepri menunduk lesu.
Arimbi yang belum tahu bahwa dibalik kelincahan Sepri kaki kanan pria itu hanya berupa kaku palsu, langsung heran. “Nih orang pernah patah hati sampai remuk apa gimana?” pikirnya.
“Kamu enggak usah putus asa begitu. Yang namanya jodoh enggak akan memandang fisik. ikhtiar saja, percaya Alloh juga sudah menyiapkan jodoh buat kamu, Pri. Kamu orang baik. Sejauh ini.pun, kamu selalu jadi kebanggaan. Bukan hanya keluarga khususnya mamah kamu. Karena aku yang sudah menganggap kamu sebagai adikku, juga sangat bangga!” yakin mas Aidan. Jika Arum berusaha merangkul pak Haji Ojan agar pria itu bisa mengurus diri sendiri, ia juga ingin merangkul Sepri untuk memulai membuka hati.
Bagi mas Aidan, jika memang sudah berjodoh, sebuah kekurangan pun akan menjadi kesempurnaan karena adanya jodoh memang berawal dari rasa sekaligus cinta tulus. Dan mas Aidan percaya, walau Sepri tidak memiliki kaki kanan sempurna, Alloh tetap menyiapkan jodoh terbaik untuk Sepri. Terlebih sejauh ini, Sepri yang selalu bekerja keras tanpa kenal waktu juga selalu menjadi kebanggaan.
__ADS_1
“Bintang enggak perlu jadi orang lain hanya agar mereka bersinar, Pri. Di luar sana banyak yang bersinar walau mereka hadir dengan kekurangan. Andai ada pihak yang suka menyalurkan kisah inspiratif, tentu kamu akan langsung terpilih. Dan aku yakin, kamu paham maksud aku!” yakin mas Aidan.