Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
147 : Duda Tanpa Malam Pertama


__ADS_3

“Innalilahi ... amit-amit jabang bayi ... ternyata yang gamis dan jilbab pink, Mas Ojan? Ya Alloh ini perutku aman, kan?” Azzura sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Tak menyangka, sosok semampai yang memakai serba pink dan semuanya kira seorang wanita, malah pak Haji Ojan.


Azzura langsung tidak baik-baik saja. Ia menjadi takut berhadapan dengan pak Haji Ojan. Terlebih sejauh ini, mitos amit-amit saat hamil teramat ngeri. Buktinya, Azzam saja malah mirip alm. pak haji kakeknya Ojan padahal saat mamah Arum hamil, baik mamah Arum maupun pak Kalandra sudah sibuk bilang amit-amit.


“Hahahaha!” Pak Haji Ojan tertawa lepas saking suntuknya. Sebab kenyataan wajah asli Aisyah yang sangat jauh dari bayangan sekaligus harapannya, sudah langsung melukainya. Ojan merasa sangat terluka. Lagi-lagi menyandang Duda tanpa malam pertama.


“Lah, tadi ngakunya Ojin!” ujar ibu Arum yang sudah tertawa lemas. Apalagi walau sudah lepas cadar, pak Haji Ojan masih memakai kerudung. Membuat tampang pria itu mirip ukhti-ukhti berkumis.


Ibu Arum yang sulit menyudahi tawanya, menjadi mengguncang gemas lengan kanan pak Haji Ojan yang ia cengkeram menggunakan kedua tangan.


“S-sayang, S-sayang, tolong bawa aku masuk. Ini aku beneran syok sampai enggak bisa gerak. Duh aku takut anak kita—” Azzura menatap miris sang suami yang berdiri di sebelahnya.


“Enggak, ... enggak akan. Sudah, sudah, ... jangan mikir macam-macam!” lirih Excel meyakinkan. Ia membawa Azzura pergi dari sana sambil terus merangkulnya. Meninggalkan teras rumah yang masih menjadi kebersamaan di sana.


“Gimana, Mbak, Mas?” tegur Azzam yang memang baru kembali dari dapur setelah membawa satu karung kelapa hijau bersama Akala.


Excel sudah langsung geleng-geleng menatap Azzam tak habis pikir. “Mbak Azzura takut. Bentar, aku kasih mas Ojan bajuku biar dia ganti.”


Apa yang Excel katakan dan terdengar marah walau pria itu melakukannya dengan lembut, langsung membuat Azzam takut. Azzam langsung diam.


Sekitar sepuluh menit kemudian.


“Wah lihat! Aku merasa ganteng gara-gara pakai bajunya mas Excel!” bangga pak Haji Ojan.

__ADS_1


Pakaian Excel benar-benar pas di tubuh pak Haji Ojan.


“Tenang, jaga sikap, waras, pasti Mas Ojan lebih ganteng!” sergah Excel meyakinkan sambil merangkul pak Haji Ojan. Dari kamar tamu, ia menuntun pria itu keluar menghampiri kebersamaan di ruang keluarga.


Di ruang keluarga kediaman ibu Arum, semuanya tengah berkumpul dalam formasi lengkap. Hanya mas Aidan dan Arimbi saja yang tidak ada di sana.


Kelapa hijau hasil berburu Azzam juga sudah langsung disediakan oleh Akala. Semuanya memiliki jatah satu buah kelapa hijau, benar-benar tidak hanya Azzura.


“Wah ... ganteng loh!” ucap ibu Arum. Melihat pak Haji Ojan memakai lengan panjang serba hitam milik Excel, membuat pria yang terbiasa memakai serba pink itu berbeda. Jauh lebih cool, gagah, dan tentunya ganteng. Walau kenyataan pak Haji Ojan yang tidak bisa diam memang mirip belatung nangka.


“Nah iya, Bude! Pakai bajunya orang ganteng, aku jadi ketularan ganteng! Makanya ini wajib pakai baju sama celananya mas Excel terus! Berarti besok-besok kalau aku mau mandi, aku ke sini minta pakaian mas Excel buat pakaian gantinya!” ucap pak Haji Ojan dengan entengnya.


Excel hanya mesem sambil geleng-geleng. Ia segera menghampiri sang istri yang duduk sendiri karena tempat duduk yang kosong di sebelahnya memang untuk Excel.


“Pink kan lucu, Pak Gede. Mirip aku yang lucu unyu-unyu gini!” yakin pak Haji Ojan.


Pak Kalandra yang walau sudah sibuk menahan tawa, segera menggeleng. “Iya, tapi kalau kamu pakai warna lain jadi ganteng begini kan, mirip mas Excel?”


Pak Haji Ojan terdiam sejenak, merenung serius sebelum akhirnya ia mengangguk, membenarkan ucapan pak Kalandra yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Karena memang sedekat itu hubungan mereka walau yang pak Haji Ojan tahu, mereka sama sekali tidak memiliki ikatan darah.


“Nah itu. Soalnya kalau kamu makin ganteng yah, Mas Ojan. Bukan lagi kamu yang harus berkelana mencari janda. Justru Janda yang mengejar-ngejar kamu!” yakin pak Kalandra. Ia sampai menghampiri pak Haji Ojan, dan tak lagi duduk di sebelah sang istri.


“Tapi aku heran loh, Pak Gede. Sinyal jandaku jadi sering harus diupdate. Eror terus gini. Apa ini tandanya, jodohku bukan janda melainkan perawan, ya?” Mak Haji Ojan menatap penasaran pak Kalandra yang malah sibuk tertawa.

__ADS_1


“S-sayang, aku enggak yakin ini aman buat calon anak kita,” rengek Azzura sambil menahan tawanya. Sedotan yang ia pegang menggunakan kedua tangan untuk meminum air kelapa, sampai jatuh akibat tawa yang ia tahan.


“Aman-aman. Sudah, biasa saja. Bismilah-bismilah. Minum air kelapanya karena buat dapat ini apalagi ada mas Ojan, pasti butuh perjuangan ekstra!” yakin Excel lembut.


“Jan ... Jan! Sudah, duduk, jangan ngoceh mulu!” tegur Azzam yang duduk di lantai sementara kepala dan sebagian punggungnya ia sandarkan di pangkuan Sundari yang duduk di sofa sebelahnya.


Kebersamaan di sana menjadi diwarnai tawa setelah kisah demi kisah disampaikan oleh Azzam. Terlebih ketika ibu Warisem yang polosnya melebihi Akala menyinggung Zumi. Azzura sampai menangis kesulitan mengakhiri tawanya. Karena Azzura terlalu takut calon anaknya benar-benar mirip pak Haji Ojan.


“Ih, Mbak. Perut Mbak kok lucu gini. Gemesin!” ucap Sundari dan hendak meraba perut mungil Azzura. Ia sudah izin dan langsung disambut bahagia oleh Azzura yang mengizinkannya.


“Eh jangan pegang-pegang, ... nanti ketularan!” sergah Azzam menakut-nakuti Sundari. Kekasihnya itu langsung diam dan terlihat jelas ketakutan. Membuatnya merasa lucu dan tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Mas ih, jailnya!” sebal Sundari refleks mengacak-acak kepala Azzam. Kekasihnya itu tertawa bersama pak Kalandra, ibu Arum, maupun Azzura.


“Kuliahnya beresin dulu, sambil kerja, bahagiain keluarga, baru nikah. Karena aku yakin, orang tua kamu sangat berharap kamu jadi yang terbaik sekaligus dapat yang terbaik. Termasuk itu untuk urusan pendidikan apalagi karier kamu,” ucap Azzura sengaja memberi masukan kepada Sundari. “Kalau urusan Azzam, gampang. Banyak satpam yang bakalan jagain dia. Dia enggak mungkin nak*al apalagi lirik wanita lain!”


“Kalau Azzam sampai berani lirik-lirik yang lain selain Riri, tabok saja! Atau kalau enggak, nikahin saja si Azzam sama aku. Biar aku jadi bapak rumah tangga yang baik!” sergah pak Haji Ojan sangat bersemangat.


“Kamu kalau ngomong ya!” kesal Azzam kepada pak Haji Ojan benar-benar geregetan. Ia sengaja beranjak kemudian menjitak kepala pak Haji Ojan.


“Azzam ih, ... aku kan lagi sedih gara-gara ternyata Aisyah begitu!” rengek pak Haji Ojan.


Sembari memperhatikan pak Haji Ojan yang duduk di hadapannya, Akala berkata, “Aku jadi penasaran. Sebenarnya, ... Mas Ojan ini, nyambung ke kita, atau memang selama ini sengaja enggak mau tahu dengan apa yang ada di kehidupan ini, termasuk ke lingkungan Mas?”

__ADS_1


Tak hanya Akala yang penasaran. Karena yang lain juga jadi berpikiran sama. Sebenarnya, selama ini pak Haji Ojan memang paham setiap apa yang terjadi termasuk apa yang lingkungannya mau kepadanya, tapi pak Haji Ojan tidak peduli karena suatu hal, atau bagaimana? Apalagi di beberapa kesempatan, kadang pak Haji Ojan mirip orang waras pada kebanyakan.


__ADS_2