
Angin yang berembus menebarkan aroma basah di antara aroma debu yang juga tercium kuat dari sisa aktivitas hari ini. Arimbi berpikir, sebentar lagi akan turun hujan walau langit belum begitu gelap. Ia refleks menengadah untuk mengawasi hamparan langit di atas sana, walau fokusnya cenderung kepada ketiga ibu-ibu yang tengah membeli pecel lengkap, di hadapannya. Tentunya, seorang pria yang masih ia pergoki aktif mengawasinya.
Arimbi sadar, mas Aidan belum mencintainya layaknya pasangan yang memulai hubungan berlandaskan cinta dan membuat mereka rela melakukan segalanya. Cinta buta yang bahasa kekiniannya bucin akut. Namun, Arimbi bisa merasakan, betapa mas Aidan tulus peduli kepadanya. Mas Aidan sudah tulus menyayanginya sebagai wujud dari pria itu menjalankan perannya sebagai kekasihnya. Mas Aidan selalu ingin Arimbi baik-baik saja hingga pria itu melakukan segala cara dalam menjaganya. Termasuk kini, alasan mas Aidan rutin menemaninya jualan juga Arimbi yakini sebagai bagian dari ketulusan pria itu dalam menyayanginya.
“Mas, pesanan mbak Azzura takut ditunggu,” ucap Arimbi lembut dan sengaja mengingatkan mas Aidan. Pria itu masih sibuk dengan ponsel, tapi bukan untuk main-main. Mas Aidan sibuk mengetik atau malah membuka lembar dokumen lewat ponsel.
“Kamu ngusir aku, Mbak?” balas mas Aidan datar karena ia memang fokus pada ponselnya.
Arimbi langsung gelagapan bingung. “Enggak, ih ....” bergegas ia menghampiri mas Aidan apalagi dagangannya tinggal sedikit. Tinggal sepuluh bungkus lagi.
Belum sempat duduk dan baru ada di hadapan mas Aidan, sebuah motor berhenti di depan lapak Arimbi. Pengemudi motor langsung melongok apa yang ada di tampah pecel dagangan Arimbi. Membuat Arimbi segera menyapa sembari menghampiri. Padahal mas Aidan yang ditinggalkan malah sibuk menahan senyum walau fokus perhatian mas Aidan masih kepada layar ponselnya.
“Kalau dia tahu mereka yang masih kompak pakai helm rapat, malah orang tuaku, ...,” batin mas Aidan tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia terlalu menganggap kejadian sekarang ini lucu.
Mas Aidan sampai sibuk menghela napas pelan demi meredam tawanya. Selain itu, ia juga tak berani menyaksikan pertemuan Arimbi dengan orang tuanya secara terang-terangan. Takut, ia malah terbahak dan membuat Arimbi makin tak karuan.
“Makan di sini saja, yah, Mbak. Di bangku itu. Yuk Mah, kita ke sana,” ucap pak Kalandra yang belum melepas helmnya. Selain itu, ia juga masih duduk di motor gede warna hitamnya.
Arimbi terbengong bingung deg-degan tak karuan. Sebab wanita itu merasa tak asing pada suara pak Kalandra. Ditambah lagi, mas Aidan yang tiba-tiba saja membelakanginya dan baru saja berdiri mengambil alih motor gede pembeli pria paruh baya di hadapannya. Mas Aidan memarkirkan motor tersebut di sebelah motor matic-nya.
“Bentar, deh ... firasatku enggak enak!” batin Arimbi makin deg-degan.
__ADS_1
Kekhawatiran Arimbi pecah, benar-benar terbukti setelah sosok wanita yang dibonceng melepas helmnya.
“Laris manis, Mbak? Jam segini sudah ludes? Apa efek balas dend*am gara-gara paginya enggak jualan?” ucap ibu Arum.
Kenyataan yang juga langsung membuat Arimbi geregetan. “Benar-benar jebakan batman!” batinnya langsung melirik tajam mas Aidan dan ia yakini sengaja melakukannya. Di depan sana, mas Aidan tengah menyalami takzim sosok pria yang tak lain pak Kalandra. Dan ketika mas Aidan menatapnya, tawa mas Aidan pecah. Mas Aidan memasang wajah tak berdosa kepadanya. Seolah pria itu tak mau disalahkan, selain mas Aidan yang memintanya untuk bersikap biasa saja kepada orang tuanya.
“Sudah, Mbak. Jangan tegang,” ucap ibu Arum yang sudah ada di sebelah Armbi sembari mengelus-elus punggung Arimbi.
Arimbi yang tengah menyiakan pecel sampai gemetaran. Ibu Arum menjadi tidak tega dan sengaja mengambil alih.
“Sini, biar Mamah saja yang siapin buat Papah. Mbak duduk saja di sana,” ucap ibu Arum. Ucapan yang tetap saja tidak menghasilkan banyak perubahan bagi Arimbi yang telanjur merasakan sensasi kacau mirip wanita hamil yang kontraksi.
Mamah, panggilan yang awalnya masih ibu, kini berubah menjadi mamah! Arimbi makin panas dingin tak karuan karenanya.
“Kenapa, Mas? Sempit, yah? Padahal Mamah enggak gendut, loh!” ucap ibu Arum.
“Ya sudah, Papah saja yang gendut karena Mamah selalu menolak disebut gendut!” ucap pak Kalandra masih menikmati pecel di piringnya. Rasa nikmat yang langsung berkali-lipat setelah ucapannya juga sukses membuat sang istri tertawa.
Walau kompak diam, Arimbi dan mas Aidan kerap saling lirik yang mana Arimbi lebih sering meliriknya dengan sebal. Kendati demikian, mas Aidan terus membalasnya dengan senyuman. Ragu, mas Aidan menatap kedua tangan Arimbi yang sibuk meremas di pangkuan. Mengerahkan segenap keberanian, mas Aidan meraih sebelah tangan Arimbi kemudian menggenggamnya menggunakan kedua tangan.
Padahal ulah mas Aidan tersebut malah membuat Arimbi linglung. Jantung Arimbi serasa lepas, selain Arimbi yang sampai refleks lupa bernapas hingga wanita berjilbab merah hati itu jadi sesak napas.
__ADS_1
“Astagfirullah ... astagfirullah ... ini ujian!” batin Arimbi makin bingung karena wajah mas Aidan mendadak sudah ada di hadapannya. Pria itu melongok wajahnya dan seolah sengaja memastikan.
“Sudah, jangan tegang,” lirih mas Aidan.
“Enggak tegang bagaimana kalau keadaannya saja begini?” balas Arimbi berbisik-bisik juga. Malahan, ia nyaris menangis.
Mas Aidan refleks menghela napas pelan, benar-benar sabar. “Orang tuaku enggak gigit, Mbak!” yakinnya.
Mendengar itu, Arimbi jadi makin geregetan. Ia kembali mencubit tangan mas Aidan yang masih menggenggam tangannya.
“Sakit ...,” rengek mas Aidan benar-benar lirih tepat di depan wajah Arimbi.
“Ini kalian kenapa, sih?” tegur ibu Arum.
Arimbi refleks menghadap ibu Arum walau ia cenderung mundur dan membuat punggungnya menempel ke mas Aidan.
“Santai saja, Mbak. Santai. Dulu, Mamah juga pernah ada di posisi Mbak, kok. Ngerasain gimana tegangnya baru pertama kalinya bertemu calon mertua. Malahan dulu pas Mamah, baru datang langsung diminta nyambel. Orang tuanya Papah lagi heboh
gara-gara sambel rasa banc*i. Pah, Papah masih ingat pas itu, enggak, Pah?” ucap ibu Arum yang langsung heboh mengenang masa lalunya bersama sang suami.
Melihat kehebohan orang tua mas Aidan, Arimbi heran. Interaksi keduanya mirip orang biasa pada kebanyakan. Alasan yang juga membuatnya refleks menoleh menatap mas Aidan.
__ADS_1
“Makanya jangan tegang apalagi takut. Orang tuaku enggak seseram mertua lain!” yakin mas Aidan.
Harusnya Arimbi lega, tapi mungkin efek belum terbiasa, Arimbi belum bisa baik-baik saja. Arimbi masih merasa terjebak, walau tentu saja, sikap mas Aidan yang menjadi makin manis kepadanya juga membuat dirinya merasa sangat dicintai.