
Di dapur mewah yang ada di kediaman paman Lim, Arimbi tengah membuat bumbu rujak bersama ibu Widy. Obrolan hangat menyelimuti kebersamaan mereka, walau mereka melakukannya dengan suara lirih. Malahan, suara lirih ibu Widy terdengar tak bersemangat mirip orang sakit. Arimbi yakin, alasan tersebut terjadi lantaran kasus yang telah menjerat paman Lim.
“Mbak Mbi,” panggil ibu Widy yang tengah memotong melon.
“Iya, Bi. Gimana?” tanggap Arimbi cepat sambil terus menguleg bahan bumbu rujak di cobek berukuran besarnya.
“Ayah Angga belum telepon lagi?” tanya ibu Widy. Saking rutinnya pak Angga menelepon maupun mengirimi Arimbi pesan, ia sampai hapal.
Arimbi langsung tersipu. “Sudah, Bi. Tadi subuh, ayah telepon minta diajari bikin bumbu pecel sama rujak soalnya stok yang aku siapkan sudah habis.”
“Langsung laris yah, Mbak, jualan di warungnya?” sergah ibu Widy langsung bersemangat.
Ibu Widy langsung ikut menggebu-gebu ketika ada usaha orang yang langsung sukses padahal baru merintis. Apalagi jika yang memiliki usaha saudara sendiri. Ibu Widy langsung ingin memberikan dukungan agar saudaranya itu bertahan bila perlu ditingkatkan.
Arimbi mengangguk-angguk, memberikan senyuman terbaiknya seiring ia yang menjawab. “Alhamdullilah, Bi. Beneran langsung laris manis. Karena selain memang sudah punya penggemar di sekitar situ, ayah Angga juga ikut promo besar-besaran! Tadi habis minta resep, ayah sampai telepon video gitu. Langsung praktik bikin sendiri karena resepnya memang rahasia dan ayah enggak mau itu sampai bocor!”
Hati ibu Widy terenyuh mendengarnya. Kedua matanya juga sudah langsung berembun meski ia tengah tersenyum menatap Arimbi penuh syukur. “Kalau Bibi lihat, sebenarnya ayah sedang melakukan pendekatan ke kalian. Masa lalunya yang pernah melakukan kesalahan fatal ke mas Aidan dan mamah Arum, bikin ayah ketakutan. Ayah pasti takut kalian akan tetap membuangnya seperti yang pernah ayah lakukan ke mas Aidan di masa lalu,” ucap ibu Widy.
Arimbi langsung menyikapi balasan ibu Widy dengan serius. Baru mendengarnya saja, hatinya sudah langsung berdenyut-denyut “Jujur, aku juga mikir gitu, Bi. Gimana yah, ... sebenarnya jadi serba salah apalagi bukan kita yang mengalami sekaligus menjalani.”
__ADS_1
“Pro kontra, ... Bi. Mungkin sebagian akan menganggap, menjaga perasaan mamah Arum setelah apa yang terjadi enggak perlu lagi hanya karena sekarang mamah sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Mamah punya suami yang baik banget. Mertua yang merakyat, anak-anak yang berbakti sekaligus berkualitas.”
“Bagi yang enggak tahu keadaan mamah sekaligus perjuangan beliau hingga bisa di titik sekarang, pasti akan langsung menganggap hidup mamah sempurna, enggak punya beban. Padahal, luka mental dan luka batin mamah karena masa lalunya bersama ayah, beneran enggak bisa benar-benar sembuh. Semua sangat sulit dilupakan, terlebih saat itu mas Aidan masih bayi. Bayi merah. Belum lagi kasus sebelumnya, yang mamah Arum sampai keguguran ....”
“Sejauh ini, sebuah kehidupan yang pernah diwarnai kesalahan fatal, memang ibarat puzzel yang walau sudah tersusun sempurna, tetap memiliki celah.” Arimbi mengakhiri ucapannya dengan menunduk murung.
“Sementara kalau dari sisi ayah Angga, pasti ayah Angga juga sudah lelah. Ayah sudah berusaha melakukan yang terbaik,” ucap ibu Widy.
“Benar, Bi. Takutnya kalau terus dibiarkan berjuang sendiri, ayah justru lelah dan udahan. Ibaratnya ini jadi PR tersendiri buat aku. Biar hubungan mas Aidan dengan ayah maupun mamah Arum, tetap baik-baik saja. Apalagi kan, awal mula aku sama mas Aidan, ya karena ayah Angga mendadak melamar aku.” Arimbi tersipu malu karena bersama cerita yang ia bagikan kepada sang bibi, ia juga teringat awal mula hubungannya dan mas Aidan. Kala itu, setelah mendadak dilamar oleh ayah Angga, interaksinya dan mas Aidan sudah langsung diwarnai kecanggungan.
“Iya, ... awal mulanya, Mbak Arimbi memang istri pilihan ayah! Alhamdulillah yah, sudah sampai titik ini. Bibi yang lihat saja seneng banget. Rasanya, adem banget!” ucap ibu Widy dan membuat Arimbi sibuk mengucap terima kasih sekaligus syukur.
Malu-malu, Arimbi menggeleng. “Enggak, Bi. Kami enggak nunda.”
“Emang sudah niat buat langsung punya anak, ya? Ah, nanti berarti mbak Arum langsung punya dua cucu! Aish senangnya ... andai yang perta enggak keguguran, harusnya langsung dapat tiga!” ucap ibu Widy.
“Kegugu, ran ... gimana, Bi?” tanya Arimbi yang memang tidak paham.
“Memangnya Mbak Arimbi enggak tahu kalau sebelumnya, Mbak Azzura pernah keguguran?” balas ibu Widy.
__ADS_1
Mendengar kabar Azzura pernah keguguran, Arimbi sudah langsung lemas. Menggeleng sebagai jawaban refleks kepada ibu Widy juga masih ia lakukan dengan tak bersemangat. Terlepas dari semuanya, Arimbi juga langsung penasaran. Kenapa seorang Azzura yang paham kesehatan dan dikelilingi orang-orang yang begitu peduli, sampai keguguran?
Jam makan siang sudah tiba, tapi mas Aidan dan paman Lim kembali melewatkannya. Istri mereka juga jadi menunggu sambil menghabiskan rujak yang baru saja dibuat.
Ketika rujak nyaris habis setengah, Excel datang.
“Nah, Mas. Itu rujak buat kamu ada di kulkas. Kamu juga ikut mengidam, kan?” ujar ibu Widy.
Excel yang memang pemalu langsung salah tingkah menyikapi ibu Widy. Namun kepada Arimbi yang sudah langsung mengambilkan rujak yang dimaksud, ia merasa jauh lebih nyaman. Mungkin karena mereka sudah jauh lebih sering berinteraksi secara langsung. Ditambah lagi, sebelum menikah dengan mas Aidan pun, Arimbi sudah menjadi kakak perempuan panutan di keluarga Azzura.
“Ini rujaknya beneran makasih.” Mengucapkan terima kasih saja, Excel merasa sangat kaku. Terdengar kurang enak bahkan di telinganya sendiri. Padahal, kedua wanita di sana menyikapinya dengan sangat hangat.
“Mbak Mbi, ... mas Azzam sudah telepon Mbak, belum?” tanya Excel yang menjadi berbisik-bisik.
Ibu Widy yang masih bisa mendengarnya sudah langsung terusik. Ibu Widy mengernyit mengawasi interaksi kedua sejoli di hadapannya tanpa bisa berhenti memakan rujaknya karena rasa rujaknya terlalu enak. Ternyata, Azzura tengah mengidam air kelapa hijau dan itu banyak di sebelah rumah Arimbi. Sementara Azzam yang diutus mengambil takut dikira mencuri jika pergi tanpa keluarga Arimbi.
“Mbak enggak pegang hp sih, Mas. Coba sambungin ke mas Azzam. Bilang, ke rumahnya ajak Ibu Warisem saja. Sekalian bawa kunci biar bisa istirahat di dalam rumah. Bilang, yang semangat karena pasti bakalan ketemu ibu Siti, musuh rasa bestie!” ucap Arimbi yang mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
Ibu Widy yang mendengarnya juga langsung ikut tertawa lantaran wanita itu paham alur cerita Azzam dan ibu Siti. “Mas Azzam suruh sekalian bawa si Ojan deh. Terus lepas di depan rumah ibu Siti, biar ngacak-ngacak rumah ibu Siti demi wanita suci!” ucapnya yang sudah langsung sibuk terbahak terlebih Arimbi dan Excel yang terkenal pendiam juga sudah langsung ikut terbahak.
__ADS_1