Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
95 : Ksatria Sepri Hitam & Si Paling Pengertian


__ADS_3

Sepri yang sudah tiduran di lantai, berangsur duduk sila kemudian menghela napas. “Dia digeb*ukin, dikero*yok sekeluarga suaminya, wajah sama tubuhnya babak-belur! Mata kirinya saja sampai pendarahan.” Ini masih tentang Suci.


“Innalilahi! Ya ampun, ... merinding aku! Itu gimana kok bisa ketahuan gitu?!” Arimbi sudah langsung emosi. “Pantas hari ini dia enggak kelihatan, enggak mampir beli juga ke aku.”


“Itu kejadiannya kemarin, pas paginya ibu-ibu ngadu, malamnya beneran kejadian si Suci lihat langsung, berusaha membela diri malah dikeroy0k sekeluarga suaminya. Makanya siang tadi, aku datang ke sana, Mbak. Aku datang ke rumah suaminya, langsung ditutup kan pintunya setelah aku ngamuk n0njok suaminya. Aku tendang pintu rumahnya sampai jebol, terus aku lempar uang ke wajah suaminya buat ganti rugi, sambil ngomong kasar tentunya. Orang kebangetan gitu!” cerita Sepri emosional.


“Ih, Pri ... keren kamu Pri. Kamu tendang-tendang gitu cocok jadi Ksatria Supri Hitam!” ucap Azzam refleks dan memang antusias. “Eh, Ksatria Badja Hitam, maksudnya!”


Sundari yang langsung menatap heran Azzam, mencolek hidung Azzam. Pria itu langsung menunduk-nunduk patuh, tak heboh atau setidaknya sekadar cengengesan lagi.


“Ya mau gimana lagi? Anak perempuannya ditahan, diumpetin di rumah. Si Suci hanya boleh bertemu anaknya kalau dia tetap jadi istri suaminya, biar bisa jadi tulang punggung di sana. Karena kalau Suci nekat minta cerai terus, Suci wajib tebus anaknya lima ratus juta! Sil*uman, kan?!” kesal Sepri.


“Yang bikin aku lebih dari jengkel bahkan jijik, itu ternyata suaminya Suci sudah nikah siri sama kakak iparnya yang janda, tanpa sepengetahuan Suci! Dan hubungan mereka didukung penuh keluarga Supri hanya karena si kakak iparnya ini sudah kasih dua anak laki-laki buat keluarga itu dari pernikahannya dengan kakaknya suami Suci. Nadjees banget, padahal ya keluarga bi saja, kok memandang kasta segitunya!”


“Terus karena mereka sampai ngehin4 aku bantang-bun*tung terus, aku bawain sekalian ketua RT sampai kades sana. Mingkem mereka jadi tontonan warga!” lanjut Sepri.


Sadar Sepri sudah tidak akan berbicara, mas Aidan yang sudah langsung gelisah, kemudian menghela napas kasar, berkata, “Harusnya kamu langsung hubungi aku. Kalau hanya lewat desa, ya hanya tanda tangan di atas perjanjian, tanpa hal lebih. Besok pagi juga, Suci suruh visum. Sekarang juga aku minta pihak kepolisian kecamatan buat urus. Kamu tolong minta foto dia, terus kirim ke aku lewat WA. Aku mau langsung ke kapolsek. Biar kasusnya naik. Suci bisa bebas dan bisa dapat hak asuh anak, terus dia juga bisa tuntut pengeroy0kan yang dia alami.” Mas Aidan langsung buru-buru pergi setelah sebelumnya pamit ke Arimbi.

__ADS_1


“Mas Aidan, ... ini Mas Sepri enggak mending sekalian diajak, biar lebih greget, kan yang tahu duduk perkaranya Mas Sepri,” ujar Arimbi sengaja berseru lantaran calon suaminya sudah telanjur pergi jauh.


“Iya, Mas sudah sana Mas Sepri ikut,” tegur Sundari dengan suara jauh lebih lembut.


“Iya, Pri. Sudah sana kamu pergi. Urusan Sundari, sudah jadi tanggung jawabku. Kamu bantu si Suci dulu kasihan!” sergah Azzam sangat bersemangat.


“Berani kamu macam-macam ke adikku, aku tendang kamu sampai Jember!” tegas Sepri galak kepada Azzam.


Azzam langsung cemberut. Ia menghela napas dalam sekaligus panjang. “Asli, aku beneran sayang, Pri!”


“Awas pokoknya!” lanjut Sepri yang langsung pergi menyusul mas Aidan sesaat setelah ia juga sampai pamit khususnya kepada sang adik.


“Orang seperti mereka memang menjij1kan. Mereka pantas dikasih pelajaran lebih. Enggak hanya hukuman pidana, tapi wajib hukum sosial. Wajib diviralkan biar mereka dirujak netizen sampai tujuh purnama enggak bisa lupa! Kena mental, kena mental!” komentar ibu Arum yang juga langsung geregetan menahan emosi.


“Mamah tahu gimana rasanya ada di posisi Suci karena Mamah juga pernah ada di posisi seperti dia. Bedanya, kasus Suci lebih parah karena suaminya sudah nikah. Tapi enggak apa-apa, pernikahan suaminya yang tanpa izin istri bisa dipenjara sampai tujuh tahun. Belum yang lain, yang keroy0k-mengeroy0k, biar kapok benar walau sudah dibereskan secara kekeluargaan lewat pihak desa, sudah cabut saja. Toh yang di desa pun belum final, kan?” lanjut ibu Arum.


Kebersamaan mereka yang masih lanjut menyusun sorogan, juga diselingi banyak obrolan Tak hanya mengenai kasus Suci, tapi juga pengalaman hidup lainnya dan langsung dibagikan oleh ibu Arum beserta suami.

__ADS_1


Mas Aidan dan Sepri pulang larut bersamaan dengan rombongan yang beres menyusun sorogan. Namun alasan mereka baru pulang juga karena mereka sudah langsung memandu jalannya visum Suci, dan langsung dilakukan di klinik milik keluarga Sepri. Dokter Andri sendiri yang langsung melakukan visum kepada Suci.


“Besok langsung ke kabupaten, Mas?” tanya pak Kalandra.


Mas Aidan langsung mengangguk-angguk. “Iya, Pah, pagi-pagi, biar hari besok juga, semuanya diboyong polisi! Namun ini aku juga langsung mau antar Mbak Arimbi. Sudah dini hari,” ucap Mas Aidan buru-buru pamit, membuat yang akan di antar, buru-buru berdiri untuk menyalami orang tua mas Aidan.


“Su-sah, bangun ... kesemutan parah, Mas!” rengek Arimbi sambil tersenyum pasrah. Dan ternyata, terlalu lama duduk di sana membuat semuanya apalagi Akala, susah berdiri.


“Itu, Akala-Akala!” ucap ibu Arum.


Suasana yang awalnya diselimuti emosi gara-gara kasus Suci, menjadi diwarnai gelak tawa karena Sepri dan mas Aidan sudah langsung sigap menahan tubuh besar Akala. Akala nyaris terbanting gara-gara kesemutan, tapi ia tetap memaksa berdiri dengan benar.


“Ya Alloh, berasa lihat ondel-ondel mau dipakai buat pentas. Gimana aku enggak ngakak sampai nangis, coba. Untungnya, mulutku jadi agak alim gara-gara Sundari, hahahaha!” batin Azzam masih duduk di sebelah Sundari. Mereka termasuk Arimbi, ibu Arum dan pak Kalandra, belum berani berdiri. Takut mengikuti jejak Akala yang oleng dan kata Azzam mirip ondel-ondel mau pentas.


“Enggak apa-apa, besok aku sibuk urus kasus Suci?” tanya mas Aidan memastikan. Sebab besok harusnya menjadi jadwal mereka menyebarkan sorogan ke orang terdekat yang dituakan.


Armbi langsung menggeleng. “Nanti kan bisa sama mamah Arum. Mas fokus urus kasus mbak Suci saja biar cepat beres, kasihan kalau dibiarin lebih lama. Takutnya, keluarga suaminya yang dem1t itu malah macam-macam.”

__ADS_1


Mas Aidan langsung tersenyum haru kemudian mencubit gemas hidung Arimbi. “Si paling pengertian, ... sini peluk dulu!” ucapnya yang kemudian langsung memeluk Arimbi.


Di teras kontrakan yang menjadi tempat tinggalnya, jantung Arimbi seolah langsung loncat gara-gara pelukan yang mas Aidan lakukan.


__ADS_2