Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
77 : Selucu Itu!


__ADS_3

“Sebenarnya, aku masih harus diet ketat biar badanku bisa enak dilihat. Namun kalau sedang bersama mas Aidan, tentu aku menyesuaikan.” Arimbi menunduk minder, mendadak tak percaya diri jika perutnya yang masih dihiasi lipatan, terekspos.


Kebaya pengantin milik ibu Arum yang akan ia coba, ia yakini akan membuat lipatan di perutnya terekspos.


Azzura dan ibu Arum yang masih ada di sana, di kamar ibu Arum dan pak Kalandra, refleks bertanya-tanya dalam hati hingga tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu. Mereka bersimpati kepada Arimbi karena mereka paham, setiap wanita selalu ingin terlihat cantik sekaligus spesial di hari pernikahannya. Bisa jadi, sebenarnya Arimbi masih membutuhkan waktu lebih lama dalam mempersiapkan penampilan terbaiknya.


“Enggak perlu diet-diet berlebihan, nanti yang ada lambung Mbak yang kena, Mbak.” Azzura berusaha memberi masukan, dan langsung dibenarkan oleh ibu Arum. Ia menatap calon kakak iparnya dan memang berusia jauh lebih muda darinya, dengan tatapan penuh kepedulian.


“Iya ... lagian kan Mbak Arimbi enggak gendut,” yakin ibu Arum. “Segini sudah pas. Nanti kalau Mbak terlalu kurus, yang ada Mbak jadi tongkok dan pipi pun jadi kusut!”


Ibu Arum juga melanjutkan, “Terlalu kurus bisa bikin kita terlihat jauh lebih tua melebihi usia kita, loh!”


“Tapi gara-gara perutku ada lipatannya, kemarin aku sempat difitnah hamil, sudah enggak per4wan, bahkan habis ab0rsi, Mah, Mbak!” yakin Arimbi sambil memegangi lipatan di perutnya dan saat ini mirip elastis yang menempel. Itu efek obat gatal yang ia konsumsi dan memang membuatnya sulit berhenti makan.


“Innalilahi, mulut siapa itu yang lemes begitu? Kejam banget, berasa pengin sewa pembunuuh bayaran buat ddoor mulutnya biar pas nau ngomong, dia mikir dulu!” tanggap Azzura yang menjadi sibuk istigfar sambil mengelus-elus perutnya menggunakan kedua tangan. “Innalilahi, langsung mendadak dendam begini!”


Sambil menunduk berat, Arimbi berkata, “Ya si mantan, Mbak. Malam-malam habis di paginya kami menikah, aku samperin dia ke rumah orang tuanya. Karena dari beres ijab kabul, dia pergi enggak ada kabar, beneran ninggalin aku begitu saja. Eh setelah aku bela-belain nyamperin hujan-hujan gelap jalanan becek, dia malah fitnah aku habis-habisan. Dia bilang enggak sudi nyentuh aku karena dia yakin, tanpa harus menyentuhku, dari perutku yang saat itu busung karena aku jauh lebih gendut, aku sudah enggak peraw4n. Padahal aku sudah jelasin ke dia, alasan perutku busung karena aku memang gendutan gara-gara obat gatal yang aku konsumsi dan bikin aku enggak bisa berhenti makan.”

__ADS_1


“Nah, iya ... memang ada efek bikin tambah nafsu makan di obat ....” Azzura yang paham dunia medis menjelaskan.


Arimbi menghela napas dalam. “Sudah dijelaskan, masih saja enggak percaya. Dia malah terus fitnah kalau aku sedang hamil, aku sudah terbiasa dipakai oleh sembarang laki-laki termasuk itu oleh bosku.”


“Apalagi kan aku pernah jadi TKW lama di Singapura, padahal apaanku jadi TKW pun buat biaya kuliah sekaligus mondok dia.” Arimbi menatap sedih kedua wanita cantik di hadapannya, silih berganti.


“Oke ... oke. Aku sudah pernah dengar ini dari mas Aidan, tapi aku pengin dengar dari Mbak Arimbi secara langsung!” sergah Azzura bersemangat dan memang menjadi kepo. “Itu beneran, dia sama sekali enggak modal? Kabarnya, daftar kuliah pun, juga Mbak yang kasih modal. Mbak jual sawah warisan karena orang tuanya enggak setuju dia kuliah pakai modal pribadi?”


Setelah menghela napas pelan, Arimbi mengangguk-angguk. “Benar, Mbak. Sehabis lamaran kami sepakat, dia kuliah dan aku kerja jadi TKW buat cari biayanya. Tapi orang tuanya enggak setuju, bilang enggak ada dana walau sebenarnya mereka punya tanah sama sawah luas. Singkat cerita, aku enggak apa-aoa jual sawah warisan buat biaya pendaftaran kuliahnya. Kan mikirnya ke depannya pun buat masa depan bersama. Pas lamaran pun disaksikan warga ada bahasan gitu, jual sawah buat modal kuliah hingga warga pun pada tahu.


“Jadi harusnya setelah selesai dari Singapura dan dia sudah jadi sarjana, kami otomatis akan langsung menikah sambil merintis usaha. Eh, ternyata sebelum nikah sama aku, dia sudah lebih dulu menikah dengan si anak pimpinan tertinggi di pondoknya sekaligus pemilik pondok. Jadi, saking senangnya berasa kejatuhan rezeki nomplok, si dia langsung buru-buru ijab kabul tanpa tanya-tanya dulu. Wanita yang mau dinikahi itu anak kandung bukan, atau setidaknya wujudnya seperti apa?”


Lain dengan ibu Arum yang masih bisa menahannya.


“Mungkin saking inginnya naik derajat setinggi mungkin, dia langsung minta ijab kabul dengan dalih, agar anak Romo Kyai si wanita yang baginya suci itu, menjadi istri pertama karena di kampung, ada aku yang dia kabarkan sudah hamil dan sebagai wujud tanggung jawabnya, dia yang berniat melindungi martabatku, dia akan menikahiku sekadar status, dan setelah aku yang dikabarkan sedang hamil melahirkan, dia akan langsung menceraikanku.”


“Ke pihak pesantren pun, dia enggak mengakui alasannya bisa kuliah dan sampai mondok terus jadi gus muda karena ada aku yang jadi TKW tapi malah dia lepeh. Dia ngakunya sekolah modal beasiswa sambil kerja serabutan buat kurangannya sekalian makannya.”

__ADS_1


“Pas aku ingatkan bahwa alasannya bisa kuliah sekaligus mondok terus sampai jadi gus muda karena aku yang modalin, dia bilang kalau tahu ternyata uang dariku uang harram efek aku sampai juaaal diirii, dia enggak bakalan sudi. Nah pas aku bilang kalau gitu, balikin semuanya ... dia banyak alasan. Muter-muter enggak jelas. Sampai akhirnya disidang sama mas Aidan. Di hadapan keluarga si wanita suci.”


“Mas Aidan sengaja ajak aku pas rombongan pondok pada kumpul karena harusnya hari besoknya jadi resepsi dia sama wanita suci. Masih saja alat dan lagi-lagi membawa agama. Dibabat habislah sama mas Aidan. Satu lawan banyak, aku sampai takut mas Aidan kenapa-kenapa. Alhamdullilah, kebenaran enggak pernah picek dan berakhir menang!”


“Tetangga yang awalnya rewang sampai ikut jadi saksi sidang. Walau awalnya pihak dia berdalih enggak ada surat perjanjian dan enggak bisa digugat, berkat mas Aidan dan tetangga yang tahu hubungan aku dan dia, pihak sana jadi mingkem.”


“Beneran perdebatan yang sangat menguras emosi. Tetangga yang awalnya jadi pendukung dadakan mirip penonton pertandingan bola, juga ikut bubar, enggak jadi rewang!”


“Mamahnya dia pingsan karena harus ganti rugi, terus mereka juga langsung ditinggal orang rewang, semua kerjaan numpuk. Tamu enggak punya pilihan lain selain pulang, dan resepsi juga gagal efek modalnya buat bayar ganti rugi ke aku. Sementara sekarang, dia nyesel karena wanita yang dianggap suci, malah mantan anak punk yang tubuhnya penuh tato sekaligus tindik.”


Arimbi jadi ikut tersenyum geli lantaran sepanjang ia cerita, Azzura dan ibu Arum tak hentinya tertawa. Keduanya sampai berakhir duduk di lantai, tertawa lemas dan sudah sampai menangis. Ilham dan segala obsesi hidup enaknya memang selucu itu jika dilihat dari sisi yang berbeda. Lain jika dilihat dari sisi Arimbi saat Arimbi belum diberi ganti rugi dan malah kembung gara-gara tak hentinya difitnah.


“Kapok, sukurin, apa lagi, ya? Puas banget sih kalau ada orang kayak gitu akhirnya kena batunya!” ucap Azzura sambil mengelus-elus perutnya.


“Besok kalau lamaran, coba kenalin Mamah ke dua yah, Mbak. Pengin nab0k rasanya ke orang kayak dia. Terus, pas resepsi, dia diundang, kan?” ucap ibu Arum. “Undang loh, biar dia merasakan indahnya suasana resepsi. Biar dia tahu, resepsi itu seperti apa. Kan pas dia semuanya gagal total wong enggak ada modal!”


Apa yang ibu Arum katakan malah membuat Azzura makin tidak bisa berhenti tertawa.

__ADS_1


“Besok kan ke resepsinya, tetangga Mbak Arum bakalan dijemput pakai mini bus. Dan dia wajib jadi tamu kehormatan, Mbak!” ucap ibu Arum di sela tawanya. Tak beda dengan Azzura, ia juga masih duduk di lantai.


__ADS_2