
“Di sini ada istrinya Ilham, enggak? Janda bercadar?” ucap pak Haji Ojan datang-datang sudah mencari Aisyah.
Bedanya, kali ini pak Haji Ojan sampai menyalami semua orang di sana, termasuk Azzam yang tengah meracik seblak. Kelakuan pak Haji Ojan benar-benar mengalami peningkatan meski janda dan segala pesonanya masih tetap menjadi yang terdepan.
“Besok kalau libur, kita jalan-jalan ke rumahnya si Ilham, ya. Kamu kangen Aisyah, aku kangen pengin julid ke ibu Siti!” ucap Azzam.
“Siiiaaaap!” ucap pak Haji Ojan langsung bersemangat.
“Tapi Minggu besok, aku balik ke Yogjakarta, Mas!” ucap Sundari dan sudah langsung membuat Azzam terkejut
“Waduh! Cepat banget, ya! Asli langsung galau! Enggak kuat ngulek lagi!” keluh Azzam yang sudah langsung tersenyum pedih.
“Sini ... sini aku yang urus!” segah pak Haji Ojan bersemangat, bermaksud mengambil alih ulekannya dari Azzam.
“Eh, enggak. Nanti rasanya jadi enggak karuan!” tolak Azzam segera membereskan pekerjaannya, meski kabar Sundari yang akan kembali ke Yogykarta dan itu Minggu besok, juga sudah langsung membuatnya tak karuan. Nyawa Azzam seolah dicabut paksa.
“Nggak aku ludahii, Zaam!” mohon pak Haji Ojan.
“Eh, eh, ... Jan, sini. Kita tunggu di depan. Di depan sudah banyak orang. Banyak makanan juga. Ayo kita ke sana saja!” tegur Sepri yang baru datang. “Kalau kamu tetap enggak sopan, kamu bakalan dibikin rica-rica. Cepat!”
“Si Aisyah datang enggak sih?” tanya pak Haji Ojan sambil mendekati Sepri.
“Ya sudah beda jalur lah. Dia ke barat, kita ke selatan!” balas Sepri tak segan memanggul pak Haji Ojan.
“Aku kentut nih, aku kentutin kamu, Pri!” kesal pak Haji Ojan karena lagi-lagi dipaksa untuk diam.
“Jangan kentut sembarangan. Didi sudah datang, kamu bilang bakalan waras kalau ada Didi,” bawel Sepri.
__ADS_1
“Oh Didi, ... sumpah aku kasihan banget ke Didi. Dia cinta hidup ke aku, tapi hatiku sudah dimiliki Aisyah. Kalau kamu enggak percaya, sana tanya Azzam sama Ndari!” ucap pak Haji Ojan.
“Amat sangat enggak percaya kalau kabarnya begitu. Mau Didi nyungseb terus jadi Dodo, dia enggak mungkin naksir kamu. Karena sekadar lirik saja, walau di dunia ini laki-laki hanya tersisa kamu, Didi enggak mungkin mau melakukannya. Aku paham dia, seleranya lebih tinggi dari tiang listrik!” ucap Sepri yakin seyakin-yakinnya.
“Kalau kamu enggak percaya, ayo kita buktikan. Aku akan tanya di depan semuanya!” yakin pak Haji Ojan yang sampai detik ini masih percaya bahwa seorang Divani benar-benar mencintainya.
Bukan perkara Divani yang mengusik Arimbi hingga wanita itu menatap wajah sang suami yang masih berdiri di sebelahnya. Melainkan, “Sudah banyak orang, ... yuk ke depan, Mas!”
“Iya, benar. Mas sama Mbak Mbi mending ke depan. Soalnya makan malam ini sepertinya memang buat perpisahan dari serangkaian acara pernikahan Mbak dan Mas,” ucap Azzura.
“Biar kami yang bantu mas Azzam menghidangkan seblak viraal-nya!” yakin Excel.
Setelah menyimak, mas Aidan sudah langsung mengangguk-angguk. Ia juga sudah langsung menggandeng sebelah tangan Arimbi. “Zam, ... Mas tunggu seblaknya, ya!” serunya sekalian pamit.
“Sia, Mas!” seru Azzam tanpa sedikit pun menoleh.
“Jangan diludahin!” sergah mas Aidan.
Namun pada akhirnya, seblak buatan Azzam sudah langsung menjadi idaman, khususnya idaman para wanita. Para ibu-ibu termasuk ibu Arum sampai nambah.
“Sudah habis-sudah habis. Itu limited edition! Makan makanan yang ada di meja saja!” yakin Azzam memilih duduk di sebelah Sundari. Mereka bersebelahan dengan mas Aidan, Arimbi, ibu Warisem, Azzura, dan juga Excel.
“Aku curiga, ini acara mau buat kasih tahu kalau selama ini, Didi bohong. Soalnya semuanya beneran datang,” bisik Azzam kepada Sundari.
“Memangnya, Didi bohong bagaimana?” tanya mas Aidan tetap bisa mendengar. Ia menyedot es teh manisnya dengan sangat pelan sambil menatap Azzam. Berharap, sang adik yang memang gudang berita, membagikan kabar kepadanya.
Azzam sudah langsung tersenyum tak berdosa kepada mas Aidan. “Makan dulu, Mas. Baru dibahas. Itu, ayam bakar sama ikan bakarnya sudah manggil-manggil. Nah, Mbak Mbi sudah siap nyuapin Mas!” ucapnya.
__ADS_1
Arimbi menatap penasaran kebersamaan mas Aidan dan Azzam. “Ada apa, sih?” tanyanya yang memang sudah siap menyuapi mas Aidan.
Makan malam mereka mengusung konsep berbeda dari biasanya karena segala makanan ditaruh di hamparan daun pisang, dan pinggirnya dihiasi daun selada maupun lalapan lainnya. Walau menunya tampak sederhana, yaitu nasi liwet lengkap, konsep kali ini dirasa mereka sangat mewah. Sangat cocok dengan konsep perpisahan sekaligus reuni dari kebersamaan mereka. Semuanya makan dengan tangan dan benar-benar lahap.
“Mas, makan dulu,” ucap Arimbi.
Mas Aidan mengangguk-angguk kemudian melongok sang mertua. “Memangnya Ibu udah?” ucapnya sambil menerima suapan dari sang istri.
“Ibu sudah kenyang. Kan dari tadi aku menyuapi ibu, sementara Mas sibuk ngobrol,” ucap Arimbi yang juga berangsur makan sendiri. Di sebelahnya, sang ibu yang sudah kekenyangan tengah berbagi senyuman dengan mas Aidan sambil menyeruput teh hangatnya.
“S-sayang, besok kita ke rumah kamu, ambil kelapa hijau, yuk? Aku perhatikan, badanku jadi kurang enak. Efek makan nggak sehat kayaknya selama kita bulan madu,” ucap mas Aidan berbisik-bisik kepada Arimbi.
“M-mau!” sergah Azzura yang sampai melongok wajah Arimbi maupun mas Aidan, bertepatan dengan Arimbi yang mengangguk-angguk sanggup.
“Boleh banget, Mbak. Besok ambil yang banyak sekalian, ya!” sanggup Arimbi sambil tersenyum kepada sang adik ipar.
Baik Chole maupun Didi yang duduk berhadapan dengan rombongan mas Aidan, sebenarnya sudah sibuk saling lirik. Chole melirik Didi penuh harap, tapi Didi membalasnya dengan lirikan tak berminat bahkan malas.
“Makan yang banyak, Ri!” bisik ibu Arum yang memang duduk di sebelah Sundari.
“Enggak usah khawatir, Mah. Urusan makan, sebenarnya Riri tipikal yang ngabis-ngabisin tapi enggak jadi daging. Nasi sama lauk di depanku saja sudah pindah ke perutnya semua!” bisik Azzam.
Ibu Arum langsung menertawakannya, tapi sebisa mungkin, ia menahannya. “Kalau bisa, Mamah juga penginnya gitu. Apalagi kalau seusia Mamah, makan dikit sudah sering jadi masalah.”
“Masalah gimana, Mah? Enggak bisa bayar apa gimana? Masa iya,” tanya Azzam.
“Masalah kesehatan, Mas!” balas ibu Arum masih sibuk tersenyum. Kemudian fokusnya kepada Akala yang sengaja ia minta duduk di tengahnya dan pak Kalandra. Akala tampak anteng makan sambil sesekali bertukar lauk maupun sambal dengan sang papah, meski persis di depan Akala merupakan Cinta.
__ADS_1
Sesekali, ibu Arum juga memergoki Cinta yang diam-diam memperhatikan Akala. Sementara ketika ibu Arum menatap Chole, gadis itu ia pergoki kerap melirik Divani, tapi Divani memandangnya dengan sinis. Ibu Arum jadi curiga, memang ada yang tidak beres.
“Ada apa, yah? Kok Divani kelihatan jahat gitu ke Chole?” pikir ibu Arum.