Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
37 : Memang Enggak Bener


__ADS_3

“Mbi, ... ini Mas Aidan telepon ini,” seru ibu Warisem dari ruang depan.


Arimbi yang sedang merebus setiap sayur di dapur langsung deg-degan. “Baru tahu ditelepon saja aku sudah langsung deg-degan begini,” batin Arimbi yang kemudian melirik penuh terjaga pada sang ibu yang datang sambil menerima telepon masuk dari mas Aidan. Malahan, keduanya sudah langsung mengobrol.


“Alhamdullilah, Ibu sehat. Mas Aidan sehat juga, kan?”


Mendengar obrolan lancar sang ibu, dalam hati Arimbi berujar. Mulai detik ini hingga ke depannya, pasti sang ibu akan jauh lebih lancar ketimbang dirinya jika itu untuk urusan mengobrol dengan mas Aidan.


“Ya Alloh, Mbi! Nanti itu gosong, kebakaran!” refleks ibu Warisem ketika memergoki asap pekat dari wajan penggorengan di atas tungku karena dibiarkan oleh Arimbi yang ia pergoki justru melamun.


“Innalilahi, kok aku jadi ceroboh begini!” batin Arimbi benar-benar panik. Terlalu gugup karena status hubungannya dengan mas Aidan, sampai membuatnya tidak fokus. Cabai dan bumbu lainnya nyaris tidak bisa diselamatkan dari penggorengan.


“Jadi, tadi, apa yang gosong?” tanya Mas Aidan ketika akhirnya ia sampai di hadapan Arimbi. Mas Aidan menahan senyumnya karena biar bagaimanapun, ia sudah tahu alasan tragedi gosong yang terjadi dari ibu Warisem. Dikata ibu Warisem, penyebabnya gara-gara Arimbi malah melamun. Melamun yang bagi ibu Warisem mirip orang sedang jatuh cinta!


Arimbi langsung menghela napas pelan, benar-benar pasrah kemudian menatap singkat wajah mas Aidan. Pria itu sengaja datang karena merasa kurang greget andai hanya Arimbi yang mengantar surat keputusan sidangnya. Jadi, alasan mas Aidan telepon sekitar setengah jam lalu karena pria itu sengaja mengabari agar Arimbi mengantar surat keputusan pembatalan pernikahannya, dengan mas Aidan.


“Jangan dijadikan beban, loh, Mbak.”


“Tapi rasanya tetap beban, loh, Mas. Gimana tanggapan orang tua Mas. Terus, ... ya pokoknya banyak lah.”


“Orang tua sih saya yakin enggak masalah. Sejauh ini mereka pun selalu dukung setiap keputusan saya. Paling yang julid ya malah orang lain yang niatnya jatuhin tapi pura-puranya peduli!” balas mas Aidan.


Karena mas Agung yang memang masih bekerja membantu membangun rumah Arimbi sudah datang, Arimbi sengaja menutup obrolannya dengan mas Aidan.


“Mas, sebelum beneran positif orang tua Mas setuju dengan hubungan kita, jangan cerita ke siapa-siapa dulu termasuk keluargaku, ya!” bisik Arimbi wanti-wanti dan itu pun sambil menunduk di depan dada Mas Aidan.

__ADS_1


“Oke. Nanti malam saya pasti ngobrol dengan mamah papah saya,” balas mas Aidan yang juga bersikap seolah semuanya baik-baik saja.


“Ayo, Mas Aidan. Maaf banget ini kami bikin repot lagi,” ucap mas Agung yang baru datang, kemudian menjadi bagian dari kebersamaan.


Ketiganya langsung berjalan kaki, kemudian mengajak pak Sukir yang juga akan menjadi saksi dan ternyata sudah menunggu di halaman rumah. Di tengah terik matahari yang sedang panas-panasnya, mereka menyambangi kediaman orang tua Ilham.


Suasana rumah Ilham terbilang sepi, tapi wajah sadis Aisyah akhirnya melongok dari jendela kaca sebelah pintu, di salam ke lima pak Sukir.


Aisyah sudah kembali dengan pakaian syari termasuk cadar serba hitamnya. Walau jika dilihat, kedua lingkar mata Aisyah tampak gosong dan itu efek panas-panasan.


“Walaikum salam,” balas Aisyah yang memang dingin karena terlalu takut dikasus lagi.


“Mbai Aish, ... suaminya di mana?” tanya pak Sukir basa-basi. Wanita di hadapannya langsung menggeleng kemudian berdalih tidak tahu.


“Harusnya sih belum mati, soalnya dari pagi pamit pergi, sampai sekarang enggak ada kabar. Saya WA, saya telepon pun enggak ada jawaban. Coba Mbak Arimbi saja yang menghubungi. Mas Ilham kan masih ngarep ke Mbak!” ucap Aisyah dengan santainya. Ia menunjukkan layar ponselnya yang berisi riwayat sederet telepon keluar yang ia lakukan ke Ilham, tapi tidak ada yang digubris. Begitu juga dengan pesan-pesan yang Aisyah kirimkan dan sama sekali belum ada yang dibaca.


“Bentar ....” Aisyah langsung mencoba menghubungi Ilham lagi dengan cara meneleponnya. Namun, telepon yang ia lakukan tetap tidak digubris. “Coba sekarang Mbak Arimbi tercintah! Yang telepon!” lanjutnya sambil melirik sinis Arimbi.


Arimbi melirik tidak nyaman Aisyah. Namun, ia tetap mencoba menelepon nomor Ilham yang baru di sambungan kedua langsung mendapat jawaban. Membuat Aisyah terlihat jelas makin dendam kepadanya, walau itu baru melalui lirikan.


“Assalamualaikum, Mbi. Bagaimana?” sapa Ilham dari seberang sana.


“Bilang Mbak mau ketemu, bisa, enggak?” bisik mas Aidan sampai menunduk di atas kepala Arimbi.


“Walaikumsalam, Mas. Mas, saya mau bertemu. Bisa, enggak?” tanya Arimbi.

__ADS_1


“Bisa! Bisa banget, Mbi. Mau bertemu di mana? Gimana kalau di pasar saja? Ini kebetulan, Mas lagi di pasar, depan Alfa.”


Balasan dari Ilham yang makin terdengar sangat manis, sukses membuat semuanya geleng-geleng. Lain dengan Aisyah yang sudah sangat ingin mengamuk karena selain Ilham terlihat jelas menghindarinya, pria itu malah berusaha menarik perhatian Arimbi lagi.


“Bilang kamu maunya bertemu di rumah saja,” bisik Mas Aidan lagi.


“Ngapain di rumah. Di sini saja biar lebih leluasa, sekalian kamu mulai jualan. Kalau di rumah kan banyak orang. Ada Aisyah juga walau hari ini, dia harusnya ke sawah,” balas Ilham ketika Arimbi meminta bertemu di rumah sesuai yang diarahkan mas Aidan.


“Jadi, perjuanganku capek-capek di sawah, sia-sia!” batin Aisyah di tengah dadanya yang bergemuruh menahan amarah. Kedua tangannya termasuk tangan kanan yang memegang ponsel, juga mengepal sangat kencang. Saking kencangnya akibat amarah yang ditahan, ia sampai gemetaran.


“Enggak, Mas. Di rumah saja.” Arimbi masih berucap tegas mengikuti arahan calon suaminya. Iya, Mas Aidan karena biar bagaimanapun, mereka memang akan menikah.


“Ya sudah, tapi di rumah kamu saja,” balas Ilham.


“Oke,” bisik Mas Aidan dan langsung diikuti oleh Arimbi.


Tak lama setelah sambungan telepon Arimbi dan Ilham berakhir, Aisyah langsung gerak cepat dan kembali berusaha menelepon Ilham lagi. Kali ini Aisyah mendapat balasan walau balasan yang Aisyah dapatkan justru penolakan.


“Emang enggak bener si Ilham!” kesal mas Agung.


“Dan Mbak Aisyah kesalnya justru ke Arimbi?” tuding mas Aidan. “Enggak ngo*tak kalau beneran begitu!”


Sekitar setengah jam kemudian sesuai yang Ilham janjikan, pria itu akhirnya tiba di halaman kediaman Arimbi. Motor mas Aidan sengaja disembunyikan ke belakang rumah ibu Warisem hingga Ilham tak mendapati motor lain selain motor Arimbi dan pekerja proyek, di halaman depan ibu Warisem. Suasana pun sengaja dibuat sepi lantaran layaknya motor mas Aidan, semuanya termasuk Aisyah si wanita suci, bersembunyi di dapur.


“Assalamualaikum!” ucap Ilham sangat bersemangat. Lebih bersemangat lagi ketika Arimbi yang langsung menjawab salamnya, juga keluar. Cantik, tentu saja karena Arimbi bukan Aisyah. Malahan Ilham menyadari, semenjak ia buang, Arimbi jadi mau merias wajah sekaligus merawat diri. Arimbi yang biasanya tidak pernah memakai parfum saja, kini jadi wangi.

__ADS_1


__ADS_2