Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
86 : Tidak Mau Menjadi Orang Lain


__ADS_3

Sejujurnya, formasi mereka kali ini belum benar-benar lengkap. Karena absennya keluarga dari Tuan Maheza, terasa sekaligus terlihat begitu mencolok. Terhitung semenjak kandasnya hubungan Azzura dan Cikho, semua itu terjadi. Membuat mereka merasakan trauma tersendiri. Mereka jadi takut membiarkan anak-anak mereka terlibat dalam ikatan cinta. Semacam acara perjodohan untuk anak-anak mereka pun, jadi sangat mereka hindari. Sekretaris Lim yang diam-diam memperhatikan Azzura, tengah merasakan kekurangan formasi itu.


“Sayang, ... kenapa?” bisik ibu Widy, walau di sekitar mereka merupakan anak dan cucu mereka. Ibu Widy merasa apa yang tengah mengganggu pikiran suaminya, masih sangat privasi. Meski tadi, ia menyadari bahwa yang suaminya amati merupakan Azzura.


“Andai Cikho enggak berulah. Andai Cikho bisa menjaga hati apalagi dirinya dari wanita lain. Sayang, ... Excel jauh lebih beruntung. Excel jauh lebih pantas menjadi pendamping sekaligus teman hidup Azzura yang tangguh,” lirih Sekretaris Lim tak bersemangat cenderung menunduk.


Ibu Widy yang menyimak, refleks menghela napas pelan sekaligus dalam. Seulas senyum terlukis dari bibirnya yang kali ini berhias gincu merah bata. “Intinya memang belum jodoh. Yang menikah saja bisa cerai, kan? Alhamdullilah, dulu Azzura tetap tegar dan benar-benar dewasa. Karena andai orang lain yang ada di posisi Azzura, ceritanya pasti beda!” lirihnya yang kemudian disibukkan oleh kedua cucunya. Satu cucu dari anak pertama dan itu laki-laki berusia tiga tahun. Sementara cucu kedua dan itu dari putrinya yang bernama Salwa, berusia satu tahun. Keduanya memang sedang lucu-lucunya hingga sedari tadi menjadi pusat perhatian bersama anak-anak dari putri almarhum pak Haji.


Bersama Sekretaris Lim, Widy memang memiliki dua orang anak dan itu perempuan dan laki-laki. Jadi totalnya, Widy memiliki lima anak termasuk itu dengan pernikahan sebelumnya, bersama Agus.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, kebersamaan mereka pindah ke luar rumah. Mereka menyaksikan keindahan suasana di sana yang sebagian besarnya merupakan sawah dan pepohonan tinggi. Kenyataan di sana yang dikelilingi banyak pohon tinggi, membuat suasana di sana sangat teduh, tak kalah teduh dari tatapan mas Aidan kepada Arimbi yang sedang menjalani pemotretan.


Pohon albasia yang sedang berbunga lebat, tapi tertiup angin kencang, membuat bunga-bunga berwarna kuning itu berterbangan. Pemotretan yang langsung diketuai Akala, mengambil beberapa foto di lokasi sana yang memang cenderung gelap efek tinggi sekaligus banyaknya pepohonan.

__ADS_1


Dari kejauhan, Azzam yang sudah sibuk mengawasi Sundari, langsung gaspol setelah mendapati Sepri baru saja meninggalkan adik kesayangannya itu. Ditambah lagi, pak Haji Ojan sedang sibuk rusuh di pemotretan Arimbi dan mas Aidan.


Setelah sengaja berdeham, Azzam yang berdiri di sebelah Sundari sengaja berkata, “Adem banget.” Di hadapannya, Sundari yang langsung menatapnya, membalasnya dengan senyum lepas sambil mengangguk-angguk.


“Benar, Mas Azzam. Secocok itu mas Aidan dan mbak Arimbi, hingga sekadar lihat saja rasanya adem banget,” balas Sundari jujur.


Azzam yang mendengarnya, refleks kehilangan senyumnya. Padahal maksudnya mengatakan adem, ya memang sedang usaha mendekati Sundari yang terus tenang dan benar-benar adem jika dilihat. “Maksudnya yang lain juga adem!” ucapnya canggung sambil kembali tersenyum.


Sundari menghela napas pelan kemudian mengamati sekitar. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan maksud ucapan Azzam. Selain pepohonan yang rimbun dan membuat suasana di sana sangat adem, Sundari berpikir, hamparan sawah di sana juga menjadi salah satu alasan Azzam menganggap suasana di sana adem.


“Oh iya ... suasana sini adem banget. Efek banyak pohon, teduh, anginnya kenceng juga, ... terus ... itu sawah di sekitar juga beneran bikin pikiran tenang. Jarang-jarang kan lokasi begini. Biasanya kan kalau nyusul mas Sepri ke sawah, paling banter kalau bukan di dekat jalan, ya di tengah-tengah lokasi dan itu beneran panas. Lihat, ... Mas Sepri segosong itu!” Ia mengakhirinya dengan tawa kecil sembari mengamati sang kakak yang sedang menghadap eyang Fatimah tanpa mengurus pak Haji Ojan lagi.


“Si Sepri kan memang sudah gosong dari adonan!” sergah Azzam yang kemudian tertawa juga karena Sundari juga ikut tertawa.

__ADS_1


“Tapi kalau bukan musim panen, lumayan sih, Mas. Apalagi kalau mas Sepri juga mau telaten pakai skin care yang aku kasih. Aku kan ada tugas kuliah buat bikin penemuan produk pengobatan. Nah kebetulan, aku sama kelompokku bikin produk skin care.”


Penjelasan Sundari sudah langsung membuat Azzam terpesona. “Wah, si Ndari otaknya juga cakep! Efek gen dari pakde Andri sih ini. Enggak ada alamatnya kalau dia niru ibu Septi!” batin Azzam yang sengaja membuat obrolan mereka terus berlanjut. “Berarti si Sepri kamu jadikan ekperimen?”


Sundari kembali tertawa, tapi tentu saja, cara tertawanya beda dengan sang ibu yang tidak tahu malu. Gadis berusia dua puluh tahun itu menggunakan tangan kanannya untuk menutupi mulut guna meredam tawanya.


“Heh, calon istrinya Ojan. Ngapain kamu haha hehe di sini?” tegur Sepri yang baru saja datang dan memang sengaja mendekati sang adik lantaran Azzam tampak asyiik mengobrol dengan Sundari.


Berbeda dengan Sundari yang langsung tertawa, Azzam sudah langsung nangis batin gara-gara dipanggil sebagai calon istrinya pak Haji Ojan.


“Tega banget kamu, Pri!” kesal Azzam. “Tuh ... tuh, peliharaan kamu rusuh lagi!” ujar Azzam sengaja mendorong-dorong Sepri setelah sebelumnya, ia sengaja berdiri di sebelah Sundari agar bisa dekat-dekat dengan gadis incarannya. Tak semata agar ia segera move on dari Arimbi, tapi memang agar ia tidak diincar pak Haji Ojan.


“Sudah ... sudah, biar aku saja yang urus. Sekalian mau ngobrol sama mas Akala, mau ajak mas Akala kerja sama buat pemotretan produk skin care,” ucap Sundari yang langsung pergi dan sampai melayangkan salam.

__ADS_1


“Waalaikum salam ...,” jawab Sepri dan hanya dirinya yang menjawab karena di sebelahnya, Azzam yang awalnya sibuk tertawa dengan Sundari malah bengong.


Azzam sibuk mengawasi interaksi Sundari dan Akala. “Oalah ... Ndari bukan wanita yang memandang fisik. Karena walau dari fisik dan pekerjaan aku jauh lebih dari Akala, ...,” pikir Azzam yang sudah langsung merasa tak karuan. “Masa iya aku harus jadi orang lain? Masa iya aku harus jadi lembut seperti mas Aidan dan Akala hanya untuk mendapatkan wanita yang benar-benar bisa diajak serius dan juga mencintaiku dengan tulus?” batin Azzam mendadak melow. Ia sudah langsung kehilangan semangat, tak mau bersaing dengan saudaranya lagi apalagi dari semua saudaranya, ia memang berbeda. Ia tipikal yang tidak bisa tenang terlebih jika sudah menyangkut gibah dan pecicilan.


__ADS_2