Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
109 : Kehebohan Di Acara Mbesan


__ADS_3

Ilham berjanji akan belajar lebih bertanggung jawab lagi kepada Aisyah. Janji yang membuat Aisyah merasa cukup lega. Karena selain dirinya tidak jadi janda untuk ke sekian kalinya, ia juga masih memiliki kesempatan untuk memberi ibu Siti pelajaran.


Biaya pengobatan Ilham ditanggung oleh Romo Kyai. Aisyah sendiri yang langsung mengurusnya bersama ibu Siti.


“Janda!”


Pak Haji Ojan tidak mengerti, kenapa dirinya begitu tertarik kepada Aisyah. Ia mendadak sibuk tebar pesona kepada Aisyah yang untuk berjalannya masih menggunakan sebuah tongkat bantu.


“Nih orang naksir aku?” pikir Aisyah sudah langsung gede rasa atau itu ge’ er. Ia menjadi tersipu, menunduk dan memang membatasi pandangannya dari pak Haji Ojan yang sibuk mengikutinya.


“Wong gemblung ya senenge ring wong gemblung!” sindir ibu Siti yang sama saja berkata, “Orang gilla sukanya ya ke orang gilla!”


Aisyah menghela napas sekenanya sambil menatap sebal sang ibu mertua. “Sekelas orang enggak waras saja tahu, mana yang punya uang sama mana yang cuma modal omongan enggak bermutu, Bu.”


Sindiran halus dari Aisyah benar-benar membuat ibu Siti makin membencinya.


“Janda ... ai lap yu!” ucap pak Haji Ojan masih menunggu Aisyah di meja pendaftaran.


Dua petugas yang semuanya laki-lak sudah langsung sibuk menahan tawa gara-gara ulah pak Haji Ojan.


“Ya sudah, Mas. Assalamualaikum.” Aisyah pamit dengan sangat manis dan memang sengaja tebar pesona.


“Waalaikum Jandan, sayangku!” balas pak Haji Ojan makin menyemarakkan kebersamaan petugas di sebelahnya


Aisyah yang memang krisis pujian makin berbunga-bunga. Tanpa berpikir siapa yang memujinya, Aisyah sudah telanjur merasa bahagia. Bahkan meski itu orang kurang waras sekalipun.

__ADS_1


“Kalau kamu tahu sebenarnya dalamnya bursik, kamu pasti enggak mungkin bilang ai lap yu, ai lap yu!” cibir ibu Siti sambil tetap menatap pak Haji Ojan meski kedua kakinya terus melangkah masuk mengikuti langkah Aisyah.


“Makanya Bu, anaknya suruh kerja, biar punya banyak duit. Nanti kalau anak Ibu banyak duit kan, istrinya bisa perawatan syukur-syukur operasi plastik!” balas Aisyah sengaja menyindir pedas ibu Siti.


“Mau perawatan bagaimana lagi? Operasi plastik sampai daging kamu habis saja, kamu tetap bur*uk rupa, Aish. Keadaan kamu memang sudah fatal. Kecuali kalau kamu sampai amputasi. Leher kamu dipotong terus kepalamu diganti sama kepala orang yang good looking. Termasuk tubuh sama tangan dan kaki kamu juga diganti, baru mendingan atau seenggaknya layak pandang!” sergah ibu Siti terdengar sangat sadis bahkan di telinganya sendiri.


“Ya pokoknya kalau mas Ilham mau kerja, mau modalin aku, aku pasti tetap enak dipandang, Bu!” yakin Aisyah.


“Terus, kuping kamu yang pada bolong terus lembek mirip jelly, bagaimana?” sewot ibu Siti.


Sepri yang baru datang ke sana pun jadi mengetahui, bahwa level pak Haji Ojan sudah naim. Wanita bercadar yang juga masih berstatus sebagai istri orang. Kedua petugas di ruang pendaftaran yang mengabarkannya.


“Berarti istrinya si Ilham, ya?” ucap Sepri yang memang sudah langsung menertawakan tingkah pak Haji Ojan. Baru kali ini ia tidak marah, padahal yang pak Haji Ojan ganggu, berstatus istri orang.


“Eh, Jan. Itu yang cadar hitam tadi, yang jalannya pakai tongkat,” ucap Sepri berusaha menjelaskan pada pak Haji Ojan yang masih berdiri di lorong menuju ruang rawat pasien.


“Super hero apa maklampir masa kini?” balas Sepri belum bisa menyudahi tawanya.


“Pokoknya, ai lopiyu!” yakin pak Haji Ojan.


“Tapi kan dia istri orang. Istrinya Ilham yang rumahnya dekat rumah mbak Arimbi!” yakin Sepri.


“Enggak apa-apalah, istrinya semangatku! Nanti aku bilang ke suaminya, istrimu semangatku!” yakin pak Haji Ojan tak masalah dengan status Aisyah.


“Okelah. Harusnya dari dulu kamu begini. Jadi beban hidupnya Ilham biar ada timbal baliknya!” ujar Sepri yang kemudian mengajak pak Haji Ojan untuk melihat persiapan mbesan untuk mas Aidan.

__ADS_1


“Ada sapinya?” tanya pak Haji Ojan langsung semangat, berdalih akan naik sapi untuk mbesannya mas Aidan.


Acara mbesan mas Aidan kepada Arimbi benar-benar meriah walau kali ini tak sampai ada tragedi jet helikopter. Setiap mobil dan juga bawaan dihiasi janur kuning segar. Termasuk sapi putih bertubuh super yang didandani gagah karena sampai memakai blangkon berkalung janur kuning. Mobil-mobil mewah yang sempat mewarnai acara lamaran kembali menjadi bagian, mengundang antusias anak kecil yang sudah siap menonton.


Aisyah dan ibu Siti yang awalnya ada di rumah, tertatih keluar untuk menonton, menjadi bagian dari kemeriahan acara mbesan. Termasuk juga Romo Kyai dan Umi Indah yang memang ada di sana, menginap demi menyaksikan perubahan Ilham sekeluarga kepada Aisyah.


“Wah, rame banget. Mbak Arimbi jadi orang keterima. Beruntung banget dapat yang sekarang!” ucap umi Indah sengaja memuji.


Ibu Siti yang masih di sebelah Aisyah langsung mendelik sebelum akhirnya melirik sinis yang berbicara.


“Umi mau nonton? Itu warga pada nonton. Biasanya kalau acara seperti ini, rame-rame, memang meriah. Biasanya ada perebutan perlengkapan tradisional juga yang dipanggul. Dari perlengkapan dapur maupun perlengkapan sawah. Nah itu, yang di mobil belakang sapi itu,” ucap Romo Kyai yang memang sangat perhatian kepada umi Indah.


“Di sini tradisinya masih kental yah, Romo. Rame banget! Itu bawaan rumah tangganya sampai dua mobil pick up! Lihat saja ikut senang, apalagi jadi pihak Mbak Arimbi! MasyaAlloh!” ucap umi Indah.


“Yang namanya tradisi kembali ke yang pakai sama niatnya, Mi. Alhamdullilah, sepertinya suaminya mbak Arimbi memang orang baik!” ucap Romo Kyai.


Mendengar itu, Aisyah benar-benar merasa puas. Karena harusnya, jika ibu Siti memang mikir, harusnya wanita itu merasa tersindir. “Yang kemarin jadi pengacaranya, si mas Aidan. Itu calonnya,” cerita Aisyah.


Walau hanya diam, sindiran yang dilakukan Aisyah dan orang tuanya sudah membuat ibu Siti babak belur. Sambil menuntun Aisyah yang jalannya memang masih pincaaang dan wajib menggunakan tongkat bantu, Romo Kyai dan juga umi Indah berangsur meninggalkan teras rumah orang tua Ilham. Ibu Siti pun tak mau kalah, ia menyusul di belakang ketiganya.


Semua mobil rombongan maupun yang membawa bawaan mbesan, sengaja diparkirkan di sekitar sana. Para bapak-bapak yang rewang segera turun mengatur tempat parkir. Sebagian halaman rumah warga yang ada di pinggir jalan, mendadak jadi tempat parkir. Mereka membantu parkir sekaligus menurunkan setiap bawaan. Paling heboh adalah ketika menurunkan sapinya.


Dari depan, rombongan Arimbi yang berdandan rapi termasuk Arimbi yang sudah langsung membuat pangling dengan riasannya, berbondong-bondong menyambut rombongan mas Aidan. Karena sepertinya, perlengkapan rumah tangga dari tempat tidur, lemari, dan sebagainya tidak akan sampai diturunkan dari mobil, terlebih Arimbi memang tidak tinggal di rumahnya.


Namun, dari semua keramaian yang ada, ada yang sudah langsung membuat Aisyah mendadak lupa bernapas. Iya, ketika mobil kijang hitam yang awalnya menjadi bagian dari rombongan mbesan, mendadak mundur menepi tepat di depan rumah orang tua Ilham, tepat di depan rombongan Aisyah. Excel yang mengemudikan mobil tersebut, menurunkan kaca pintu mobilnya, kemudian menyapa dengan ramah.

__ADS_1


“Ihhhhh, diaaaaaa!” batin Aisyah kegirangan dalam hatinya. Jantungnya seolah mendadak sibuk senam mengiringi musik penuh irama yang tiba-tiba saja hadir mewarnai hidupnya khas orang sedang jatuh cinta.


__ADS_2