
“Pri, kamu punya kenalan duku*n te*luh, enggak?” tanya Azzam ketika ia sampai di rumah Sepri yang tentu saja rumah Sundari.
Maksud Azzam menanyakan duk*un yang dimaksud karena ia terlalu terbawa situasi. Ia masih sangat kesal kepada Divani. Masalahnya, Azzam belum tahu cara untuk menegur sekaligus memberi Divani pelajaran.
“Buat siapa? Ojan? Jangan ah. Gitu-gitu aku tulus sayang dia!” yakin Sepri langsung menanggapi dengan serius.
Sepri berangsur duduk di teras depan rumahnya, meninggalkan satu karung penuh berisi padi yang baru ia angkat dari mobil pick up pengangkutnya. Sepri baru saja beres mengangkut padinya dari sawah. Panen terakhir, dan otomatis tinggal menanami sawahnya dengan bakal padi baru.
“Ojan ...?” batin Azzam yang merasa, kali ini pria pengagum janda itu akan berguna untuknya dan itu masih berkaitan dengan kekesalannya kepada Divani.
“Si Ojan, mana, Pri? Aku ada perlu ke dia!” lanjut Azzam memastikan.
Sepri yang tengah kelelahan memilih melepas bajunya. Tubuhnya yang sangat kekar walau tidak begitu besar sudah basah keringat. Ia menerima satu kantong minuman dingin yang Azzam bawa. Ia membuka satu minumannya.
“Ada itu, di dalam paling sama Ndari. Katanya lagi sakit gigi.” Sepri sudah langsung menghabiskan satu botol berisi enam ratus mili liter air dingin.
“Waduh ... bahaya kalau si Ojan sakit.” Azzam menatap khawatir ke pintu samping kediaman Sepri yang terbuka sempurna.
“Tumben peduli? Biasanya paling julid?” balas Sepri terheran-heran menatap kekasih sang adik.
Azzam sudah langsung menghela napas pelan sekaligus dalam. “Peduli sih enggak banget, cuman khawatir karena kalau Ojan kenapa-kenapa, Sundari pasti kena imbasnya. Apalagi kamu juga tahu, kan, obatnya Ojan beneran cuma satu dan itu janda? Masalahnya, janda mana yang mau sama Ojan?”
Di sore menuju petang kali ini, duduk di teras depan rumah Sepri sambil memandangi halamannya yang luas mirip halaman sekolah, menjadi ketenangan tersendiri bagi seorang Azzam. Terlebih Azzam tahu, di dalam rumah, sang kekasih tengah sibuk mengurus tugas kuliah.
Sepri menghela napas dalam. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang tubuhnya ke belakang. “Aku juga pusing kalau mikirin Ojan. Kasihan banget. Masa seumur hidupnya dia begitu. Jadi yatim piatu sejak bayi, eh dijahati sama nenek tiri sampai ... separah itu. Aku beneran berharap banget Ojan sembuh. Enggak muluk-muluk lah, cukup bisa kayak orang normal saja. Kalau dia sudah normal, sekelas rumah tangga pasti ya ada yang mau.”
“Lah ini, sudah kelar urusannya sama mbak Mbi, terus kemarin si Ojan malah sempat pengin sama kamu ....”
“Tolong, itu yang pengin sama aku, dihanguskan saja dari muka bumi ini. Beneran mencederai nama baikku!” sergah Azzam sewot dan menatap Sepri dengan sangat kesal. Namun yang ada, Sepri malah tertawa.
__ADS_1
“Lah, sekarang malah mabook istri orang. Si Ojan beneran naksir istrinya si Ilham, Zam!” Sepri benar-benar pusing jika memikirkan nasib pak Haji Ojan.
“Urusan itu enggak usah pusing, Pri! Nanti, saat Ojan tahu rupa aslinya si wanita suci, aku yakin cintanya ke istri Ilham itu langsung the end!” yakin Azzam dan lagi-lagi membuat Sepri terbahak-bahak lantaran pria itu memang sudah tahu wujud asli Aisyah.
“Kemarin malam, pulang dari hotel, dia ikut mini bus yang bawa Ilham cs, kan. Dia enggak mau pulang, nginep di teras depan rumah lham. Untung pas aku samperin, dia pakai sarung, katanya dikasih sama Romo ... Romo Kyai apa, ya?” ucap Sepri.
“Romo Kyai. Bapak sambungnya istrinya Ilham. Ya iyalah, mana mungkin ibu Siti yang kasih!” ucap Azzam sinis, tapi mendadak tertawa gara-gara teringat berkat spesial yang ia berikan kepada ibu Siti.
“Selain itu, si Ojan juga dikasih makan sih sama tetangganya mbak Mbi. Sama yang punya warung pun, dibikinin kopi, dikasih gorengan juga. Jadi walau kelayapan ke sana, si Ojan enggak sampai kelaparan!” cerita Sepri lagi.
“Di mana-mana kalau kita baik, dampaknya memang enggak hanya enak sekaligus baik ke kita. Karena orang-orang kita pun kena dampaknya. Mereka baik ke Ojan karena mereka tahu, Ojan saudaranya mas Aidan, saudaranya mbak Mbi yang memang orang baik dan tetangga mengakui!” ucap Azzam mendadak alim. Di mata Sepri, kepala Azzam mendadak ditutupi sorban putih yang berkilau lantaran ketika sedang waras seperti itu, Azzam memang jadi mempesona.
Namun tiba-tiba saja, Sepri menjadi melirik kembaran Azzura itu dengan lirikan meledek. “Emang situ sudah merasa jadi orang baik? Berkatnya ibu Siti saja dikasih bungkusan muntahan!” ucapnya yang sudah langsung tertawa, dan Azzam juga langsung ikut tertawa bahkan lebih heboh.
“Lah dia buang bungkusan sembarangan. Ya sudah, aku balikin ke dia walau enggak secara langsung!” ucap Azzam di sela tawanya dan memang tetap tidak mau disalahkan. Karena baginya, alasannya menaruh bungkusan muntahan ibu Siti, ya karena alasannya tadi. Mengembalikan milik ibu Siti ke pemiliknya lagi.
Setelah Sepri berhasil meredam tawanya, walau memang tidak sepenuhnya, pria itu sengaja berseru, sengaja memanggil sang adik. Sepri mengabarkan kedatangan Azzam kepada Sundari.
“Wouh, ... kalian sudah janjian?” Sepri terkejut menatap Azzam, hingga lawan bicaranya itu jadi ikut bingung.
“Memangnya, kenapa, Pri?” tanya Azzam.
“Celaka ini sih! Soalnya Ndari kalau mau ketemu kamu, mandinya bisa berjam-jam. Mana aku belum salat Ashar!” lanjut Sepri bergegas memungut bajunya.
Azzam sudah langsung tersipu. “Lah, pacarnya saja bersih wangi, ya dia ikutan!” Ia sengaja membanggakan dirinya sendiri. “Jodoh ibarat cerminan diri, kan? Yang cowok saja kinyis-kinyis begini, ya ... ya begitulah. Kami memang pasangan manis!” lanjutnya yang mengakhirinya dengan tertawa puas.
Sepri sudah langsung menggeleng tak habis pikir. “Ingin menghina, tapi aku sadar, aku saja enggak masuk standar tampan!”
“Lah, itu skincare dipakai ya. Sat set, sat set! Apalagi skincare buatan Riri bisa bikin murah rezeki dan cepat dapat jodoh juga!” yakin Azzam layaknya pendakwah kawakan. Ajaibnya, kali ini Sepri percaya.
__ADS_1
“Masa, sih? Ada ilmu yang bikin gitu? Duk*un saja enggak sembarangan bisa!” ucap Sepri benar-benar serius. Namun karena Azzam terus tertawa, ia yakin pemuda itu hanya sedang bercanda. “Seemprul kamu, Zaaam!” kesal Sepri sampai melempar bajunya yang basah keringat, bekas terkena padi dan semua yang ada di sawah termasuk itu lumpur, ke wajah Azzam.
Azzam sudah langsung teriak-teriak. Tak hanya perkara baju Sepri yang lengket keringat sekaligus bau, tapi karena Azzam memang alergi aroma padi berlebihan dan sudah langsung membuat wajahnya gatal.
“Yang, ... wajahku gatal, Yang! Gara-gara kakak kamu yang kebangetan!” keluh Azzam yang langsung menyusul kepergian Sepri. Ia meninggalkan baju Sepri sekaligus sisa air minum dingin yang ia bawa, begitu saja.
Drama Azzam berlanjut, dan langsung membuat Sundari yang baru beres mengerjakan tugas kuliah, repot. Sundari membantu Azzam mencuci wajah, kemudian mengoleskan salep gatal. Pak Haji Ojan yang pipi kanannya bengkak mirip mengu*lum bola kasti, ikut-ikutan minta diperhatikan Sundari.
“Eh, Jan! Cari janda, yuk?!” sergah Azzam yang mau-mau saja poninya dikuncir oleh Sundari.
Tampang Azzam kali ini mirip sebatang pohon kelapa di pulau keramat dan dilihat dari kejauhan. Namun, kenyataan poni Azzam yang sampai dikuncir juga membuat pria itu jadi menggemaskan. Mirip bocah lagi.
“M-mas!” Sundari sudah langsung mendelik. Ia sampai menempelkan kipas kecil yang sedari tadi ia pakai untuk mengeringkan wajah Azzam, ke pipi kekasihnya itu. Ia sengaja melakukannya, sebagai bentuk protesnya karena Azzam akan berkelana mencari janda bersama pak Haji Ojan.
“Ih, Sayang! Jangan ngambek, dong. Daripada kamu nempelin kipas ke wajahku. Mending kamu tempelin wajah kamu ke wajahku!” ucap Azzam malah merayu.
“Ngapain Mas bahas janda-janda lagi ke Mas Ojan? Tuh kan jadi oleng lagi orangnya!” bisik Sundari masih mengomel. Gemas banget dan sangat ingin mencubit bibir pacarnya yang memang tidak mau diam. Terlebih akibatnya, pak Haji Ojan sudah langsung sibuk mencari janda lagi.
“Ikut, yuk. Ke rumahnya si Divani. Aku mau jodohin Ojan sama dia!” sergah Azzam bersemangat, tapi karena Sundari langsung mendelik menatapnya tak percaya, ia sengaja membingkai gemas wajah gadis itu menggunakan kedua tangan, kemudian mengec*up gemas pipi kiri tersebut.
“Jan, tunggu!” Azzam buru-buru menyusul pak Haji Ojan dan memang sengaja kabur dari Sundari yang baru saja ia kec*up pipi kirinya.
Ditinggal Azzam, Sundari sudah langsung linglung, tapi perlahan tersipu. Ia yang awalnya akan mengusap bekas kecu*pan Azzam jadi enggan melakukannya. “Tolong ingatkan aku, di sini ada bekas bibirnya mas Azzam. Jangan sampai terhapus dan pas cuci wajah pun, wajib dibungkus plastik biar enggak kena air!Mumpung lagi haid, dan enggak wudu juga!” batin Sundari.
Namun, Sundari yang awalnya senyum-senyum sendiri, juga langsung panik. “Mas Azzam mau jodohin mas Ojan dengan mbak Didi? Gimana ceritanya?” pikirnya jadi bingung sendiri.
Divani yang modis, orang kota dan sangat gaul, dijodohkan dengan pak Haji Ojan yang terlalu waras?
“Mas Azzam salah makan apa gimana? Masa iya, ... mau jodohin orang yang sangat bertolak belakang?” Sundari sengaja keluar dari kamar dan berniat mencari sang kekasih. Ia ingin memastikan ide ajaib Azzam yang ia takutkan memang dirinya yang salah dengar.
__ADS_1
Atau, ... hanya akal-akalan Azzam agar pemuda itu bebas dari hukumannya? pikir Sundari lagi.