Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
149 : Persidangan


__ADS_3

Hari ini menjadi sidang untuk kasus paman Lim. Arimbi dan keluarga besar paman Lim ikut menjadi bagian persidangan, sebagai bentuk dukungan mereka kepada paman Lim sekaligus mas Aidan.


Di sidang pertama dan itu untuk kasus TTPU atau itu pencu*cian uang yang menyeret paman Lim berikut perusahaan, lantaran terdakwa menjadi pemegang saham terbesar setelah paman Lim, paman Lim menjadi saksi. Kini paman Lim sudah duduk di depan persidangan memberikan keterangan.


Yang Arimbi tahu, harta dan semua kekayaan paman Lim juga sampai diperiksa. Gara-gara bekerja sama dengan orang yang ternyata melakukan pencucia*n uang, semuanya terkena dampaknya. Beruntung karena memang paman Lim tidak memiliki kerja sama lain selain di perusahaan, kasus mereka hanya sampai di sana. Paman Lim tidak lagi terseret dan hanya berstatus sebagai saksi.


“Biasanya papah Kala yang bantu, tapi semenjak papah Kala terjun ke dunia politik, kami jadi mengandalkan mas Aidan. Untung ya, pas papa Kala ibaratnya rehat dari dunia pengacara mas Aidan sudah jadi pengacara,” bisik ibu Widy kepada Arimbi.


“Memangnya kalau sudah terjun ke dunia politik memang enggak boleh jadi pengacara lagi, yah, Bi?” balas Arimbi berbisik-bisik juga.


“Harus pilih salah satu, enggak boleh merangkap katanya,” balas ibu Widy yang kemudian berdalih kurang paham alasannya. “Nanti tanya ke mas Aidan deh. Tapi yang Bibi tahu begitu!”


Arimbi yang memakai masker putih, mengangguk-angguk. “Alhamdullilah Paman hanya jadi saksi. Dan ini sudah ibarat sidang terakhir Paman. Paling kalau pihak kepolisian butuh keterangan dari Paman lagi, baru Paman dipanggil.”


Ibu Widy yang memang duduk bersebelahan dengan Arimbi, berbisik, “Iya, alhamdullilah. Ini tinggal kasus utama kita. Bismilah!”


Arimbi meraih kemudian menggenggam kedua tangan ibu Widy menggunakan kedua tangannya. Ia juga memberikan senyum terbaiknya sebagai wujud dari dukungannya.


Di barisan pinggir depan hakim dan merupakan tempat keberadaan pengacara, mas Aidan tampak berbisik-bisik pada Excel.


Sampai detik ini, Excel memang masih menjelma menjadi ajudan khusus untuk mereka khususnya untuk paman Lim dan mas Aidan. Mereka keluar dari ruang sidang dengan penuh kelegaan. Ibu Widy sudah langsung memeluk sang suami dan langsung dibalas juga oleh paman Lim karena keduanya memang tipikal pasangan romantis layaknya ibu Arum dan pak Kalandra.


“Astaga Mamah sama Papah, itu kalian masuk tivi sana sini meliput! Astaga kan, sampai disinggung sama wartawan sama presenternya. Oh no, aku kabur, nanti wajahku jadi di mana-mana!” ucap Liam, bungsu dari ibu Widy dan paman Lim. Ia buru-buru keluar dari ruang sidang dan sudah langsung ditertawakan oleh mas Aidan.


“Biar jadi artis, Dek!” tegur mas Aidan yang sudah didekati Arimbi. Namun, adegan pelukan sambil bertukar air mata layaknya paman Lim dan ibu Widy, tak sampai keduanya ikuti.


“Yang jadi artis itu Mas karena dari tadi, wajah Mas disorot kamera!” bawel Liam yang sebenarnya sebelas dua belas berisiknya dengan Azzam.


“Masa sih, Mas disorot kamera terus?” tanya mas Aidan tak percaya.

__ADS_1


“Ini acara kan live, sana sini meliput karena memang kasus besar. Nah, dari tadi aku nonton acara live-nya. Bentar,” ucap Liam sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana sebelah belakang.


Mereka yang sudah keluar dari ruang sidang, berangsur duduk di tempat duduk tunggu di sana. Dan apa yang Liam kabarkan kepada mas Aidan benar. Kamera yang meliput kerap menyoroti wajah mas Aidan apalagi ketika mas Aidan sedang berdebat dengan pengacara rekan bisnis paman Lim yang terlibat kasus pencuci*an uang.


“Gas pollll pokoknya, Mas. Kalau Mas jadi pengacara hebat, nanti jari-jari Mas, termasuk jari kaki Mas, penuh berlian juga!” lirih Liam sengaja menggoda. Ia cekikikan bersama Arimbi yang juga langsung menertawakan ucapannya.


“Tuh, Mbak suamimu. Lawannya kawakan, tapi dia enggak mau kalah. Bisa viral ini, astogeh, ada aja netijen yang malah salah fokus ke pengacara saksi. Itu lihat komennya itu! Hahahaha!” Liam makin heboh, tak peduli orang tua dan saudaranya sedang mengheningkan cipta di dalam sana.


“Dek Liam enggak sedih?” tanya Arimbi. Ia bertanya dengan hati-hati, tak melukai perasaan Liam yang ia taksir masih berusia di awal dua puluhan.


“Ngapain aku harus sedih, Mbak? Aku yakin bapakku enggak salah. Andai bapakku sampai difitnah apalagi harus bayar ganti rugi parahnya dipenjara. Ini amit-amit, ya. Namun kalau itu sampai terjadi, aku bakalan undang rakyat pribumi dari Konoha biar mereka pada datang ke sini!” ucap Liam.


“Enggak sekalian bangkitin yang sudah tenang di alam baka biar makin rame, Dek?” timpal Excel yang menenteng dua kantong berisi minuman sekaligus camilan.


Liam langsung cekikikan. “Mas Aidan, suaminya mbak Azzura diam-diam gokil, loh!”


“Hahaha! Dengar nama Sepri, aku jadi kangen Ojan!” Liam masih saja cekikikan.


“Minum, Mbak ...,” ucap Excel membagikan satu botol air mineral dinginnya kepada Arimbi.


“Mbak Mbi puasa, Mas. Nemenin suaminya sidang, Mbak Mbi sengaja puasa biar sidang suaminya lancar!” ucap mas Aidan sambil tersenyum manis kepada sang istri yang langsung tersipu. Ia menerima minuman yang awalnya Excel angsurkan kepada Arimbi.


“Mbak, punya kembaran enggak? Kalau punya, sudah nikahin sama aku saja soalnya cita-citaku memang nikah muda. Nikah muda dengan wanita salihah! Tuh, sudah bisa jadi judul novel online, kan? Hahahaha!” sergah Liam benar-benar berisik.


“Nyarinya yang salihah, suruh salat lima waktu saja masih sering nawar!” ucap mas Aidan sengaja menyindir Liam.


“Justru itu, ... aku yang sadar diri masih butuh bimbingan, memang butuh istri salihah biar makin semangat ibadahnya!” Liam tetap melakukan pembelaan terhadap dirinya.


“Asli, jadi istrinya Liam berat. Bakalan dijadikan tulang punggung!” Mas Aidan tertawa geli kemudian pamit sebentar untuk duduk santai dengan Arimbi.

__ADS_1


Begitupun dengan Excel yang berinisiatif menghubungi sang istri.


“Ini kok pada bubar semua, terus aku sama siapa?” ucap Liam kebingungan, tapi ia memilih bergabung menghampiri keluarganya yang masih ada di ruang persidangan.


“Haus?” tanya mas Aidan. Ia sengaja memunggungi sang istri di setiap ia menenggak air mineral dingin dan sudah langsung menyegarkan tenggorokannya yang kering parah akibat kesibukannya berdebat.


Arimbi menggeleng-geleng. “Mas biasa saja, aku kan memang niat puasa. Lihat makanan apa minuman semenggoda apa pun, Insya Alloh aku kuat. Salad buahnya dimakan yah, biar enggak radang. Dari tadi mas teriak-teriak terus.” Arimbi berangsur mengeluarkan bekal salad buahnya dari tas pundaknya.


“Aku sampai lupa kalau kamu sudah siapin salad buah buat aku!” ucap mas Aidan bersemangat sambil melepas seragam sidangnya lengkap dengan jasnya.


“Yang penting Mas enggak lupa ke aku, aku enggak masalah!” balas Arimbi sambil tersenyum penuh peringatan kepada sang suami.


Mas Aidan menjadi sibuk menggeleng. “Enggak mungkin. Ke kamu ya selalu ingat!”


Arimbi yang sampai melepas maskernya langsung tersipu. “Mas mau urus apa, urus saja. Biar aku yang suapi Mas.”


“Aku dapat pesan sama telepon teror loh. Kamu enggak usah kepikiran karena maksud aku jujur, biar kita sama-sama enak,” ucap mas Aidan sambil mengeluarkan ponselnya dari saku sisi sebelah kanan.


“Masih bisa ditangani, kan?” balas Arimbi menjadi sendu. Tentu ia khawatir bahkan takut.


Mas Aidan mengangguk-angguk. “Masih,” balasnya segera membuka mulut untuk menerima suapan pertamanya. “Mmmm ....” Sambil terus mengunyah, mas Aidan menunjukkan pesan teror yang ia maksud kepada sang istri.


Arimbi sampai tidak bisa berkata-kata melihat nominal yang ditawarkan asal mas Aidan mundur meninggalkan paman Lim.


“Nolnya banyak banget, Mas? Memangnya mereka enggak rugi hambur-hamburin uang sebanyak itu?” lirih Arimbi kembali menyuapi sang suami.


“Justru mereka akan rugi kalau aku terus maju memenangkan kasus ini. Hal semacam ini sudah sering terjadi dan aku pun sudah sering mengalami.”


“Jangan diterima, Mas. Pahit manisnya bakalan balik ke kita. Iya kalau langsung kena kita, kalau kena ke anak-anak kita atau orang tua kita? Dikit tapi berkah jauh lebih baik daripada banyak tapi haraama

__ADS_1


__ADS_2