
Waktu terasa berlalu dengan sangat cepat. Padahal seolah baru kemarin pernikahan itu digelar, lalu dengan begitu cepat pula mas Aidan mendapatkan test pack berhias dua garis merah dari Arimbi. Kemudian mereka menggelar acara empat bulanan, acara tujuh bulan, dan kini mas Aidan yang baru pulang kerja malam-malam, dibisiki oleh Arimbi bahwa istrinya itu siap melahirkan anak kembar mereka.
Orang bijak bilang, semuanya akan indah pada waktunya. Mereka yang telah membuktikannya juga percaya, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Dan baik mas Aidan maupun Arimbi percaya karena mereka juga membuktikannya. Terhitung semenjak mereka menikah, mereka yang menjadi memiliki ikatan kuat, selalu mengunduh buah dari kerja keras sekaligus kebaikan mereka. Apalagi semenjak menikah juga, mereka juga merasakan rezeki yang benar-benar melimpah.
“Apa, Mas? Mbak Arimbi ngidam apa lagi?” tanya Azzam masih terkantuk-kantuk karena kini sudah dini hari, pukul satu pagi.
“Mbak Mbi mau lahiran!” sergah mas Aidan mulai panik.
Untuk beberapa saat, Azzam mendadak tidak bisa berpikir. “Memangnya kalau mau lahiran bisa dibeli, ya? Enggak ada yang jual lah Mas! Kalau suruh beli nasgor, mi tek tek, bakso, sate, oke. Ini beli mau lahiran masa iya ada yang jual?” protesnya yang berakhir menyusul mas Aidan.
“Mbakmu mau persalinan, Mas. Sekarang Mas turun ke klinik, ini bawa perlengkapan persalinannya. Mas bawa mbak Mbi. Sudah banyak darahnya. Sepertinya sudah pembukaan banyak!” sergah mas Aidan yang kemudian mengetuk pintu kamar Azzura. Kebetulan, Azzura masih di sana bersama Excel maupun bayi kembar mereka.
“Ini Mas beneran baru pulang? Ya ampun Mbak Mbi, sudah pembukaan kok enggak kabar-kabar.” Azzura yang tak memakai cadar terkagum-kagum kepada Arimbi walau keputusan Arimbi diam dirasanya juga berisiko.
“Istri Mas Aidan beneran tangguh! Enggak salah pilih pokoknya. Hamil kembar, persalinan normal, ini sudah pembukaan delapan baru bilang-bilang,” ucap Azzura lagi sambil menuruni anak tangga ke lantai bawah. Ia siap membantu Arimbi menjalani persalinan normal di kliniknya.
Suasana kediaman pak Kalandra menjadi ramai karena semuanya kompak bangun. Azzam sudah memboyong dua ransel yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Arimbi. Sementara mas Aidan berusaha membopong Arimbi, tapi sang istri menolak.
“Turun tangga loh, Yang,” yakin Mas Aidan.
“S-sayang, dibopong mas saja. Itu sudah mau pembukaan sempurna. Enggak usah jalan-jalan lagi apalagi menuruni anak tangga. Pembukaannya bakalan cepat nambah walau nanti hanya tiduran miring ke kiri. Ayo Mas Aidan, istrinya dibawa ke klinik biar siap-siap,” sergah ibu Arum mulai panik. Ia terlalu gugup karena bukan ia sendiri yang melahirkan. Karena baginya, menyaksikan proses persalinan jauh lebih menegangkan dari menjalaninya sendiri.
__ADS_1
“Berarti maju tiga hari dari HPL ya?” lanjut ibu Arum lagi yang masih menunggu di sebelah anak tangga lantai bawah. Di atas sana, mas Aidan sudah membopong Arimbi.
“Satu persatu pasukanku akhirnya keluar. Besok bakalan nongkrong bareng di bawah pepohonan depan!” oceh Azzam yang melangkah di belakang mas Aidan.
Arimbi yang sudah tidak karuan jadi tertawa gara-gara ocehan Azzam.
“Mas Azzam, Mas mending cepat ke sana dulu deh. Ini Mbaknya mau lahiran jangan dibikin ngakak terus, takutnya di sana belum siap dan mbak Arimbi keburu brojol kayak kasus lahirannya Mas dan Mbak Azzura.” Demi keamanan menantu dan cucu-cucunya, ibu Arum terpaksa mengusir Azzam agar putranya yang berisik itu pergi lebih dahulu.
“Ini salahku apa sih? Jadi orang serba bisa malah gini nasibnya!” keluh Azzam di sela tawanya yang memang pasrah.
“Ya ampun,” lirih Arimbi menertawakan nasib Azzam.
Nenek Kalsum yang baru bangun langsung bergabung dengan ibu Arum. Sementara pak Kalandra sengaja mengajak sang ayah salat, memohon kemudahan untuk proses persalinan yang akan dijalani oleh Arimbi.
“Nanti namanya Ojan sama Ojin,” sergah Azzam yang sudah menunggu di ruang persalinan.
“Mas Azzam, Mbakmu ini mau lahiran jangan dibikin ketawa terus!” tegur mas Aidan yang merebahkan sang istri dengan hati-hati.
“Kalau gitu aku panggilin Ojan lah, biar makin rame. Biar persalinannya enggak sakit, Mbak!” yakin Azzam. “Tapi jangan sih, takutnya pas Ojan ke sini, wajah pasukanku jadi mirip dia! Hahaha!”
Rasa sakit akibat proses persalinan yang berpadu dengan rasa lucu gara-gara ocehan Azzam, membuat Arimbi tertawa pelan sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
“Mas Azzam, mending kamu jemput ayah Angga. Sudah jangan melawak di sini,” usir Azzura yang sudah mulai lemas gara-gara menertawakan lawakan Azzam.
“I-ya, ayah Angga. Jemput ayah Angga!” sergah mas Aidan. Di bawahnya, Arimbi mengabarkan kepada ibu Arum bahwa sudah ada yang mau keluar.
“Byur ....” Ketuban pecah dan proses persalinan sungguh dimulai.
Ibu Arum yang sudah berpengalaman dalam melahirkan sekaligus membantu proses persalinan sudah langsung siaga walau di sana ada perawat yang membantu.
“Ayo, Mbak semangat ... sudah kelihatan kepalanya ... masya Alloh, lancar banget. Tarik napas, Mbak ....” Azzura terus memberi aba-aba.
“Tarik napas pelan-pelan, tampung, mengejan!” ucap ibu Arum yang sesekali membisikan lafalan ayat suci di sebelah telinga Arimbi.
Layaknya sang mamah, di seberang ibu Arum dan sampai merangkul punggung Arimbi, mas Aidan juga memberikan dukungan nyata. Dan ia tetap terjaga di sebelah Arimbi walau selang beberapa menit setelah ketuban pecah, anak pertama mereka lahir. Ibu Arum yang langsung menerimanya dari Azzura dan bersiap membersihkannya bersama perawat di sana.
“Siap? Tarik napas ... tarik napas seperti tadi. Kasih minum dulu Mas,” ucap Azzura.
Mas Aidan hendak meraih air mineral di meja sebelahnya, tapi Arimbi menolak, berdalih bayi yang satu sudah akan keluar.
“Kaka sama Dede sayang banget ke Mamah, ya. Lancar semuanya, sehat semuanya. Apalagi semuanya sayang banget sama kalian. Mbah sama uyut saja masih kirim doa biar semuanya dilancarkan, biar semuanya sehat,” ucap Azzura yang merasa sangat beruntung bahkan terhormat karena bisa membantu persalinan kembar secara normal sekaligus lancar dan itu anak dari kakaknya.
“Alhamdullilah!” ucap Azzura setelah ia mengeluarkan bayi yang satunya bersama dengan tangis si bayi yang langsung pecah hingga suasana di sana benar-benar ramai oleh tangis si kembar.
__ADS_1
Mas Aidan langsung memeluk sang istri penuh sayang. Dalam dekapan mas Aidan, tangis bahagia Arimbi pecah. Ia membiarkan sang suami mengabsen wajah maupun kepalanya dengan ci*uman.
“Alhamdullilah, ibu Arum dan pak Kalandra panen cucu. Sepasang lagi, sepasang lagi. Enggak ada yang mirip Ojan apalagi Ojin. Alhamdullilah!” Azzura benar-benar berisik. Membuat kebersamaan di sana dipenuhi tawa baAzzur