Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
129 : Juragan Lambe Lemes


__ADS_3

“Mas masih mau rahasia-rahasia lagi ke aku? Enggak mungkin, kan, Mas menemukan Akala hanya karena kebetulan?” ucap Azzura dan membiarkan sang suami mengunci pintu kamar mereka.


Azzura masih ingat, saat awal pernikahan mereka, Excel pernah berdalih obrolan pria itu dengan Akala rahasia. Excel bilang, Akala yang meminta, setelah sebelumnya, Akala mendadak meminta nomor ponsel Excel kepada Azzura.


Kala itu Azzura bisa memaklumi, tapi kini setelah Akala mendadak menunjukkan gelagat aneh bahkan sampai dini hari belum pulang, tapi hanya Excel yang bisa menemukan, Azzura jadi curiga. Azzura yakin ada sesuatu yang penting dan memang sengaja dirahasiakan darinya.


“Masih karena alasan yang sama,” ucap Excel masih sabar.


“Masih mau main rahasia?” balas Azzura kali ini terang-terangan menatap curiga sang suami.


Excel menggeleng lemah. “S-sayang, aku flu. Aku minta obat flu dong!” pinta Excel sambil memijat-mijat punggung hidungnya. Di sana sudah dihiasi sedikit ingus selain saluran pernapasannya yang juga sudah sampai tersumbat karena ia memang flu.


Walau agak jengkel, Azzura yang berdiri di depan sang suami segera mengecu*p pipi Excel.


Excel langsung bengong, tapi perlahan tersipu. “Tapi aku beneran butuh obat flu. Anak kita benar-benar sayang ke papahnya. Jadi semenjak kamu hamil dia, papahnya babak belur dengan segala penyakit sepele yang sebelumnya ibarat angin lalu. Nah sekarang, dikit-dikit flu. Dikit-dikit pusing, dikit-dikit mual.”


Namun selama itu, Excel tidak pernah mengeluh. Baru kali ini Excel mengeluh dan Azzura yang mendengarnya jadi merasa bersalah. Meski alasan Azzura hamil, memang karena mereka sama-sama menginginkannya.


“Ini aku sudah ingusan, masker mana masker?” ucap Excel lirih sambil menutup rapat hidungnya menggunakan tangan kanan karena Azzura malah samai menc*ium gemas pipi pikinya.


“Aku siapkan obat flu, tapi Mas sambil cerita, ya?” rengek Azzura yang sudah langsung pergi meninggalkan sang suami.


“Iya ...,” balas Excel yang berangsur masuk kamar mandi setelah sebelumnya sampai membawa pakaian ganti.


Sambil ganti pakaian dan membiarkan pintu kamar mandi terbuka, Excel menceritakan segala. Tentang rahasia Akala yang sejak awal dirinya menikah dengan Azzura, sudah ia simpan rapat-rapat. Ini mengenai hubungan Akala dan Cinta yang sebenarnya sudah dekat sejak Azzura dan Cikho masih menjadi pasangan. Namun, hubungan keduanya menjadi makin dekat semenjak hubungan Azzura dan Cikho justru kandas. Terakhir, tentu tentang kejadian beberapa menit lalu ketika pada akhirnya, Excel menemukan Akala tengah diam-diam mengawasi kediaman Tuan Maheza.

__ADS_1


“Ternyata Akala suka sama wanita yang lebih tua, ya?” komentar Azzura sambil menyisihkan gelas minum bekas Excel ke meja nakas di sebelahnya.


Beres minum obat, Excel sudah langsung bersiap tidur. “Perbedaan usia enggak akan mempengaruhi rasa cinta seseorang sih. Kalau memang sudah cocok apalagi nyaman, pasti tetap dijalani.”


Azzura berangsur mengangguk-angguk, membenarkan anggapan sang suami. Ia berangsur memutari tempat tidur kemudian mengambil posisi tidur di sebelah Excel.


“Terus kamu sudah tahu belum, tunangannya Cinta siapa?” tanya Excel buru-buru memakai masker sebelum ia merengkuh punggung Azzura untuk tidur dalam dekapannya.


“Memangnya Mas tahu? Ih, Mas kok jadi agen gosip, sih? Mirip Azzam!” lirih Azzura menatap heran sang suami.


Excel tertawa kecil. “Kok agen gosip, sih?”


“Ya maksudnya, Mas ... oh iya Mas, ... tunangannya Cinta, dia kaya banget, ya? Katanya dia yang kasih banyak dana hingga perusahaan Tuan Maheza enggak jadi bangkrut?” lirih Azzura penasaran.


“Helios,” ucap Excel.


“Iya, Sayang. Namun tunangan Cinta memang Helios.”


“Innalilahi! ... sempit banget dunia ini!” Azzura memelotot tak percaya menatap sang suami.


“Harusnya kamu kasihan ke aku, betapa dilemanya aku ada di antara mereka. Antara Helios dan Akala. Mereka sama-sama penting buat aku. Helios kamu tahu sendiri hubungan kami bahkan kita. Nah, Akala ... tentu Akala bukan orang lain karena Akala adikku. Dan lihat mereka begini, aduh ... beban hidupku nambah.” Setelah menunduk dalam kemudian menghela napas pelan, Excel kembali menatap Azzura. “Aku harap Cinta dan Helios segera menikah, dan Akala juga segera dapat jodoh tepat.”


“Aku juga berharap begitu, Mas.” Azzura merenung sedih. Tak biasa ia.bayangkan bagaimana perasaan Akala sekarang.


“Iya ... soalnya lihat mas Azzam dan Ndari, apalagi lihat mas Aidan sama mbak Mbi, rasanya beneran seneng banget!” balas Excel dan disambut senyum hangat oleh sang suami.

__ADS_1


“Omong-omong mereka, aku jadi ingat rencana Mas. Mas beneran mau jodohin Lena sama mas Sepri? Ini Mas sudah ngobrolin ini langsung ke Lena, belum? Takutnya malah ... Lena enggak mau, terus mas Sepri jadi kecil hati. Hubungan keluarga kita pun jadi terusik,” balas Azzura. Terlebih, Elena sedang kuliah jurusan kedokteran layaknya Sundari.


Excel menghela napas pelan. “Sudah .., tapi Elena bilang, dia masih ingin fokus kuliah soalnya tugas kuliahnya beneran banyak dan dia sampai stres. Kemarin saja dia kirim video kepalanya mulai botak gara-gara rambutnya rontok parah.”


“Lah ... coba besok anaknya suruh ke sini, biar aku lihat. Nanti kalau aku enggak bisa, baru bawa ke klinik Nissa. Gitu-gitu kan, Nissa sambil buka klinik kecantikan. Ya wajah, kulit, kepala, kuku, lengkap. Kerja sama sama bule!” cerita Azzura.


“Yang di dekat pertigaan jalan raya mau masuk ke gang rumah kita, bukan?” tanya Excel dan Azzura sudah langsung mengangguk-angguk.


“Itu kan dulunya kliniknya paman Andri sebelum paman Andri sama ibu Septi. Dan semenjak neneknya Nissa meninggal, Nissa juga sekalian tinggal di rumah sebelah klinik, bareng suaminya sambil urus kakeknya,” cerita Azzura.


“Omong-omong paman Andri, kemarin pas acara mbesan, si Azzam gosipin beliau. Bilang kalau sebelum sama ibu Septi, paman Andri sempat mau sama bibi Widy?” lirih Excel benar-benar penasaran. Namun, sang istri malah menertawakannya.


“Itu bukan gosip, Sayang! Memang gitu kata mamah papah. Ya masa lalu!” jelas Azzura masih tersenyum geli lantaran dengan kata lain, sang suami menganggap Azzam sebagai tukang gosip.


“Oh berarti benar? Azzam kan adanya begitu. Tukang gosip, juragan lambe lemes,” ucap Excel jujur.


“Ya ampun ... ada lagi sebutannya, juragan lambe lemes!” Azzura makin sibuk tertawa. Tawa yang sampai tidak disertai suara.


“Ya iya, ... makanya kadang aku susah bedain. Ini orang lagi serius apa bercanda? Jujur aku sering iya ... iyain saja pas Azzam cerita. Biar dia diem seneng juga, daripada aku komentar malah jadi ribut. Paling kalau ada mas Aidan, bibir Azzam sampai dicubit sama mas Aidan.” Excel mengakhiri ceritanya dengan tertawa sampai menangis.


Azzura yang awalnya sudah akan bisa berhenti tertawa, jadi tidak bisa dan memang sudah sampai menangis juga.


“Beda banget sama yang lain. Termasuk Akala. Sumpah si Akala orangnya baik banget, ya!” lanjut Excel.


“Kalau Akala mirip mbah kakung Sana. Nah, kata mamah sama papah, kalau mas Azzam katanya mirip kakeknya si Ojan. Omongannya mirip banget. Soalnya pas mamah Arum hamil kami, hidup papah mamah direcoki sekaligus diwarnai kakeknya Ojan!” jelas Azzura di sela tawanya.

__ADS_1


“Oh gitu? Apa yah namanya? Jadi niru mirip gitu ya, ke janin yang dikandung? Lah, terus kita gimana kan kamu lagi hamil Yang? Kita ngobrolin Azzam terus jangan-jangan, anak kita jadi juragan lambe lemes juga!” Jujur, Excel benar-benar khawatir. Namun sang istri malah makin tidak bisa mengontrol tawanya. Azzura sampai pamit ke kamar mandi karena tawanya juga membuat istrinya utu kebelet pipis.


__ADS_2