
“Mas Sepri ... kok si Ojan dilepasin?” Ibu Septi sudah ketar-ketir melihat pak Haji Ojan minggat menggunakan motor matic andalan.
“Siapa yang lepasin sih, Mah? Tadi itu, aku cuma tinggal dia sebentar, soalnya ada yang minta isi angin.”
“Tadinya si Ojan lagi makan, Mah. Dia habis aku mandiin soalnya dia boker di keranda peseknya. Tuh keranda pun masih aku jemur, soalnya habis aku cuci. Eh, pas aku balik dari isi angin motor orang, dia kejang-kejang di lantai.” Sepri sampai ngos-ngosan menceritakan kelakuan Ojan.
“Aku pikir serius, ... mungkin dia keracunan apa gimana. Eh pas aku siapkan mobil buat angkut dia ke klinik, dia minggat sambil bawa kunci motor, Mah!”
“Terus pas aku cek jejaknya, ternyata dia kunyah adem sarii makanya mulutnya berbusa! CEPET emang si Ojan!” cerita Sepri menggebu-gebu dan sampai menyamakan pria itu dengan CEPET atau itu demit.
Ibu Septi mengangguk-angguk tanpa balasan berarti. Terlalu pusing karena ulah ajaibnya pak Haji Ojan, hingga ia tak lagi bisa komentar. “Pokoknya nanti kalau dia kejang-kejang mau sampai mulutnya berbusa kayak efek detergen di iklan sekalipun, atau bahkan mulutnya sampai pindah ke rumah sebelah, ... sudah biarin saja!”
“Kalau dia koid, baru kita panggilkan warga. Lagian warga juga kayaknya sudah malas lihat tingkahnya. Kecuali kalau si Ojan mewarisi sikap bijak almarhum Pak Gede dulu, baru bisa jadi panutan! Apalagi dulu Pak Gede walau kelakuannya sering absurd, dia itu juga dermawan makanya tetap banyak yang dukung!” cerita ibu Septi lagi. “Eh, ini yang nempel, malah pengagum janda sama wanita cantiknya saja, selebihnya si Ojan malah kayak orang kurang waras!”
Sepri yang menyimak setiap cerita sang mamah, mengangguk-angguk paham. Ia menjadi menatap sang mamah penuh keteduhan. Karena sepusing-pusingnya ia menghadapi tingkah Ojan, sang mamah pasti lebih dari yang ia rasa lantaran sang mamah jauh lebih lama merasakannya.
“Jadi, ini sekarang biarin saja, Mah?” tanya Sepri yang kedua tangannya masih tergelepot oli.
Ibu Septi mengangguk-angguk. “Iya, sudah, biarkan saja. Enggak tega Mamah lihat kamu sibuk urus semuanya, tapi masih direcoki Ojan.”
“Jika memang kebahagiaan Ojan ada di luar sana, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Kamu saja sudah urus bengkel, urus panen, bantu-bantu Mamah juga urus warung sambil jemur padi. Belum kalau Mamah urus dapur klinik.”
“Nanti kalau dia bikin ulah lagi, kita ikhlaskan saja dia diamankan. Itu lebih baik daripada perhatian kita selama ini, Ojan anggap sepele!” Ibu Septi makin ngos-ngosan.
“Tapi urus Ojan ibarat obat diet mujarab, kan?” ucap Sepri menjadi manis. Benar saja, sang mamah langsung tersipu.
“Pakaian mamah jadi longgar semua. Dua bulan ini genap turun sebelas kilo. Sekarang berat Mamah jadi lima puluhan,” ucap ibu Septi dan langsung membuat Sepri tersenyum bahagia.
Hingga malam makin larut, pak Haji Ojan tetap menjadi penghuni rumah makan mas Aidan. Pekerja di sana sampai bingung karena pak Haji Ojan baru akan pulang setelah bertemu mas Aidan.
“Mas Aidan sedang di luar kota, Pak,” yakin pria yang menghampiri.
__ADS_1
“Enggak ... saya tahu, mas Aidan langi ngekepin janda incaran saya!” yakin pak Haji Ojan yang malah sampai nekat naik ke meja kemudian tidur meringkuk di sana.
“Innalilahi ini orang,” batin si pria yang diam-diam merekam kelakuan pak Haji Ojan dari dekat, kemudian mengirimkannya kepada mas Aidan.
Ari RM 1 : Baru akan pulang kalau Mas ke sini, katanya, Mas. Tuh, nantangin banget, kan? Mau dikunci takutnya rumah makannya diacak-acak. Dia pernah ee di sini pas kita nekat kurung dia di dalam, kan. Terus, ini bagaimana?
Hujan deras masih mengguyur menemani malam ini yang memang sudah sunyi. Mas Aidan yang baru pulang makin puyeng gara-gara pesan yang ia dapat dari sang karyawan.
Sudah pukul sepuluh malam, tapi pak Haji Ojan masih berulah di rumah makan.
“Si Sepri pasti sudah capek kalau aku minta tolong buat urus si Ojan,” pikir mas Aidan yang kemudian membalas pesan sang karyawan.
Mas Aidan : Nanti saya mandi dulu. Bilang kalau saya baru pulang.
Kemudian, yang langsung mas Aidan lakukan adalah memberi Arimbi kabar. Calon istrinya itu mengabarinya lewat pesan dua jam lalu.
Arimbi : Jangan lupa makan malam walau urusannya belum beres yah, Mas.
Mas Aidan : Aku baru pulang. Pengin ke sana, hujan gini enaknya makan mi rebus. Tapi si Ojan masih di rumah makan dan baru mau pergi kalau aku menemuinya. Takutnya, dia sengaja menjebakku dan akan langsung mengikutiku diam-diam hanya untuk menemukan tempat tinggal baru kamu.
Mas Aidan yang masih di teras rumah, baru beres melepas jas hujan maupun sepatu pantofelnya, ketika balasan pesan dari Arimbi terdengar mengusik keheningan ponselnya.
Arimbi : Mas, ... Mas minta mas Akala atau mas Azzam buat ke sini, nanti aku masakin mi rebusnya buat Mas. Mau jam berapa? Sekarang?
Pesan balasan dari Arimbi barusan langsung membuat mas Aidan tersipu. “Ya Alloh, ... kalau kayak gini terus, rasanya pengin cepat-cepat nikah saja. Padahal seharian ini aku enggak ngabarin dia, tapi dia sama sekali enggak marah dan hanya minta aku buat tetap makan. Padahal sebelumnya aku sudah janji kalau isya tadi, harusnya kami ke toko perhiasan buat pilih cincin lamaran!” batin mas Aidan benar-benar terenyuh.
Baru akan membuka pintu, seseorang sudah lebih dulu melakukannya dari dalam. Azzam, adiknya itu menatapnya dengan tatapan sangat datar.
“Mas ngidam mi rebus?” tanya Azzam.
Mas Aidan langsung mengernyit. “Kok dek Azzam tahu, ya? Apa iya, mbak Arimbi sudah langsung bilang?”
__ADS_1
“Eh, Mas. Itu memedi ke sini. Kayaknya sengaja nyamperin Mas. Dari tadi dia mondar-mandir di rumah makan. Kalau gitu aku ke kontrakan mbak Arimbi dulu buat ambil mi rebusnya. Aku pakai mobil lah, dingin!” bisik Azzam buru-buru pergi lantaran pak Haji Ojan sudah ada di depan gerbang.
Mas Aidan langsung melongok dengan tidak bersemangat. Kemudian ia sengaja mengambil salah satu payung lipat di sebelah rak sepatu yang ada di sebelah garasi.
“Sepri bilang, dia akan sangat berterima kasih kalau ada orang yang mau nabrak si Ojan!” ucap Azzam cekikikan sambil masuk ke dalam mobil yang ada di sebelah mas Aidan. Sementara mas Aidan sudah merentangkan payung yang diambil kemudian menemui pak Haji Ojan, agar pria itu tak lagi sibuk mencarinya.
“Ada apa? Katanya dari tadi cari saya?” tanya mas Aidan setelah sebelumnya sampai mendorongkan gerbang rumah untuk Azzam yang memang memakai mobil.
“Ada janda di hati saya, tapi kamu dengan kejam mengambilnya!” kesal pak Haji Ojan, masih bertahan di atas motornya. Namun, ia langsung latah karena ulah jail Azzam yang menekan klakson berulang kali, tepat ketika pajero hitam yang Azzam kendarai melintas di hadapannya.
“Kurang aj**ar emang anaknya Kalandra!” kesal pak Haji Ojan berseru, tapi itu menjadi hiburan tersendiri untuk Azzam yang tertawa puas di dalam mobilnya.
“Saya baru pulang, Pak Ojan. Lihat, tas sampai basah, wajah, tubuh kuyup begini. Tuh, motor juga kuyup, tapi knalpotnya masih panas kalau Pak Ojan mau memastikan,” jelas mas Aidan masih sabar.
Pak Haji Ojan menatap curiga mas Aidan, kemudian berganti pada suasana rumah yang sudah sepi. Namun, sekali lagi ia latah walau itu bukan karena ulah jail Azzam. Sebab kenyataan mas Aidan yang mendadak bersin, nyaris membuat pak Haji Ojan jantungan.
“Kalau janda Arimbi tidak sama kamu, terus dia di mana?” tanya pak Haji Ojan kali ini lebih serius dari sebelumnya.
“Yang jelas, di manapun dia berada, dia selalu ada di hati saya, Pak. Ya sudah, yah, saya capek, mau istirahat. Sudah malam begini, lebih baik pak Ojan pulang karena biasanya kalau jam segini, para wariiia berkeliaran.” Mas Aidan tak lagi memberi pak Haji Ojan untuk berkomunikasi dengannya. Ia sengaja menutup gerbangnya walau oria itu nekat menahan gerbang yang ia tolong.
“Mas ... Mas, saya takut wariyem, Mas!”
“Pulang!” kesal mas Aidan. Rasa kesal yang baru bisa reda, ketika sepuluh menit setelah ia beres mandi, akhirnya ia bisa menikmati semangkuk mi rebus porsi besar buatan Arimbi.
Mas Aidan memakannya di kamar. Sambil berkirim pesan dengan Arimbi yang menemaninya, hingga ia beres makan.
Arimbi : Itu tiga bungkus, loh. Telurnya juga tiga. Mas Azzam dikasih enggak?
Mas Aidan : Dimakan sendiri saja habis. Masa iya suruh di bagi ke Azzam? Lagian kan dari kamu.
Arimbi : Memangnya kenapa?
__ADS_1
Mas Aidan : Aku enggak rela berbagi apalagi aku tahu Azzam suka kamu.
Arimbi : Wkwkwkwk. Kami sedang berusaha menjadi teman sekaligus kakak dan adik yang baik kok, Mas.