Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
148 : Rutinitas Sebelum Tidur


__ADS_3

Senyum Arimbi merekah hanya karena tatapannya mendapati sang suami akhirnya masuk kamar mereka menginap. Segera ia meletakan ponsel yang sedari tadi menemani kesendiriannya sembari menunggu sang suami sibuk mengurus pekerjaan. Ia yang awalnya meringkuk di tempat tidur juga berangsur duduk, membiarkan sang suami menghampiri.


Mas Aidan langsung duduk di pinggir tempat tidur sebelah Arimbi duduk selonjor menunggu. “Bosan?” tanyanya membiarkan sang istri memeluknya penuh kemanjaan.


Arimbi yang sudah langsung membenamkan wajah di bahu kiri sang suami berangsur menggeleng. “Kangen saja, ... sudah pukul satu dan tadi Mas hanya istirahat buat makan sama salat.”


Mas Aidan menghela napas dalam kemudian melakukan peregangan kepala. Seperti yang Arimbi sampaikan barusan, kasus paman Lim sangat menguras waktunya. Ia bahkan merasa lelah luar biasa. Namun, dukungan Arimbi mampu mengurangi rasa lelahnya. Apalagi kini, Arimbi kembali memijatnya.


“Sayang, injak-injak, ya? Punggungku enggak enak banget. Pinggang, kaki,” ucap mas Aidan.


Arimbi yang terkejut, memastikan permintaan suaminya sambil tersenyum. Jujur, permintaan sang suami mengingatkannya kepada almarhum sang bapak. Karena dulu, di setiap malam sebelum tidur, sang bapak yang seharian sibuk bekerja apalagi jika musim tanam dan panen padi, selalu memintanya untuk menginjak-injak punggung hingga kaki.


“Habis beres injak-injak, aku dikasih dua buah permen sama uang lima ratus perak, Mas! Uang segitu pas aku masih kecil kan udah banyak buat jajan! Nah, itu perman sama uang, keluarnya versi sulap-sulap gitu. Pokoknya, bapak itu keren!” cerita Arimbi. Saking bahagianya walau hanya mengingat kebiasaan sederhana yang mampu membuat kebahagiaannya terasa begitu lengkap kala ia masih kecil, matanya sampai basah. Di hadapannya, mas Aidan masih menatapnya intens. Kedua tangan pria itu membingkai wajahnya dengan gemas.


“Masa kecil Mbak, bahagia banget?” lirih mas Aidan.


Arimbi segera mengangguk-angguk antusias. “Masa kecilku masih masa-masa yang enggak semua anak kecil sekarang merasakannya. Main pasar-pasaran, bikin boneka dari daun pisang disuwir-suwir pakai jarum daunnya, Mas. Lembut gitu. Terus bikin gubug-gubugan, seharian tinggal di gubug. Lebih serunya lagi aku juga sampai dibuatin wajan sama panci kecil sama bapak. Nah, terus bapak kan serba bisa tuh orangnya. Aku juga dibuatkan pawon kecil. Mas tahu pawon, kan? Ih ... pokoknya. Tinggal di gubug, masaknya goreng pisang, talas, sama goreng ikan. Nah, nanti pas siang-siang Bapak sama Ibu beres kerja du sawah, aku kasih tuh hasil masakanku. Ya ampun, gemesin banget pokoknya!”


“Anak-anak kita juga enggak kalah bahagia!” yakin mas Aidan dan langsung membuat Arimbi tersipu.


“Terus Mas percaya? Waktu kecil aku sering cari keong buat dijual! Ikut mbawon padi, Mas tahu mbawon? Hahaha ... mbawon itu ikut memanen padi orang, terus nanti imbalannya antara padi juga atau dibayar!”


“Dari kecil aku sudah terbiasa cari uang, nantinya hasilnya buat beli baju, tas, ya keperluanku lah. Jual keong, jual hasil bawonan, jual hasil ngasag. Mas tahu ngasag itu apa? Ngasag itu, manen padi yang sudah bekas panen kan kadang tumbuh lagi. Nah itu.”

__ADS_1


“Kalau di pikir-pikir, dari kecil aku sudah punya jiwa bisnis. Andai mantan bisa dijual, sudah aku kilo tuh di mas Ilham. Lumayan kalau bisa ditukar sama gulali! Hahaha!”


Arimbi berbicara panjang lebar dan tak segan tertawa lepas. Akhir-akhir ini ia memang merasa sangat bebas. Rasa canggung yang biasanya menyelimuti kebersamaannya dengan mas Aidan, kini nyaris tak pernah ada lagi. Entah apa yang terjadi, tapi terbiasa dibuat nyaman oleh mas Aidan, memang menjadi alasannya merasa sangat bebas.


“Mas pasti iri karena masa kecilku benar-benar bahagia. Manjat pohon, aku jagonya!” Kali ini Arimbi pamer kepada sang suami yang masih membingkai gemas wajahnya menggunakan kedua tangan. Mas Aidan masih sangat betah memandangi wajahnya dengan jarak yang begitu dekat bertabur senyuman. Dan Arimbi sangat suka jika suaminya tengah sangat santai layaknya sekarang.


Mas Aidan mengangguk-angguk santai. “Jujur, aku sempat iri dan langsung ingin jadi kamu. Namun setelah aku renungi lagi, aku enggak mau jadi kamu karena aku maunya jadi suami kamu. Sampai kapan pun! Karena di kehidupan selanjutnya pun, aku maunya jadi suami kamu!”


Arimbi sudah langsung meleleh. Ia tak kuasa menyudahi senyumnya selain ia yang jadi tidak berani menatap mas Aidan lagi. “Sampai kapan pun, termasuk juga di kehidupan mendatang, aku juga maunya nikah sama Mas. Aku hanya ingin jadi istri Mas!”


“Kalau gitu sayang dulu!” sergah Mas Aidan yang detik itu juga langsung memejamkan mata sambil menyerahkan wajahnya kepada Arimbi.


Arimbi yang sempat tertawa, berangsur mengabsen wajah suaminya dengan ciuman. Termasuk hidung dan terakhir, bibir.


“Dari tadi kamu enggak tidur, ya?” tanya mas Aidan, bersiap tengkurap dan membiarkan punggungnya diinjak-injak.


“Masa iya aku tidur sementara Mas masih kerja. Kalau Mas butuh apa-apa, gimana?” balas Arimbi yang tentu saja sangat berbeda dengan Didi.


“Ya enggak apa-apa, sudah jadi kewajibanku kerja buat kamu, Mbi ....”


“Kewajibanku juga mendampingi Mas. Pokoknya selagi aku bisa pasti aku jalani. Lagian tadi aku habis vidio call sama mamah. Rame banget di rumah Mas. Riri sama mas Ojan mampir.”


Jika dulu kebahagiaan Arimbi saat dirinya masih kecil, ia dapat dari kebersamaan sederhana dengan sang bapak, kini ia juga merasakan itu dari mas Aidan. Hubungan mereka tak pernah neko-neko, selalu sederhana, tapi mereka juga selalu menemukan kebahagiaan dari kesederhanaan yang mereka lakukan.

__ADS_1


“S-sayang, besok sore aku ada waktu. Kita mau jalan-jalan ke mana?”


“Aku kan enggak tahu Jakarta, Mas. Aku jadi barang saja lah, dibawa ke mana ayo saja!”


Balasan jujur dari sang istri membuat mas Aidan tertawa. “Ya sudah, besok aku ajak kamu muter-muter, ya!”


“Ke monas, Mas?” tanya Arimbi bersemangat.


“Jakarta enggak hanya monas, Sayang! Banyak ikonik lain yang bahkan baru-baru, pokoknya bikin betah!” Yakin mas Aidan. “Naik, Yang, naik. Ke pundak!”


“Terus kita pulangnya kapan, Mas? Tadi ayah Angga pamer kebun semangka di belakang warung. Sudah gede-gede. Seru kan, kalau apa-apa serba metik langsung dari kebun?”


“Pulang, ya? Tiga hari lagi sepertinya bisa, setelah sidang!” yakin mas Aidan.


“Omong-omong sidang, besok kalau Mas sidang, aku mau puasa,” ucap Arimbi.


“Puasa? Buat apa?” Mas Aidan mengernyit heran.


“Eh jangan salah ... doa istri mujarab banget buat kesuksesan suami, loh, Mas!” yakin Arimbi ceria.


“I love you full pokoknya ke Mbak Mbi!” ucap mas Aidan bersemangat, sementara Arimbi yang masih melangkah kecil di punggungnya, sudah langsung sibuk tersipu.


Selanjutnya, Arimbi juga mengurut kedua tangan mas Aidan dan juga sudah menjadi rutinitas mereka sebelum tidur. Seharian, tangan dan jemari mas Aidan kadang sibuk mengetik atau malah menulis tangan. Jadi, Arimbi berinisiatif mengurusnya. Terlebih sebelum itu, mas Aidan kerap Arimbi memijat-mijat sendiri.

__ADS_1


__ADS_2