Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
79 : Penasaran Banget!


__ADS_3

“Wangi apa ini? Dari aromanya saja sudah enak banget! Siapa yang lagi masak-masak?” pikir ibu Siti sembari melangkah di galengan sawah atau itu pembatas di setiap pinggir sawah dan biasanya bisa digunakan untuk jalan alternatif. Ibu Siti terus mengawasi sekitar, mencari sumber aroma lezat yang juga sudah langsung membuatnya lapar. Perutnya sudah langsung keroncongan.


Sekitar pukul setengah dua belas, ibu Siti yang lewat di belakang rumah baru Arimbi langsung kepo. Dari sana tercium aneka aroma makanan lezat, selain suasananya yang memang rame. Terdengar suara ibu-ibu sibuk ngobrol dengan suara terbilang keras penuh canda tawa, di antara bunyi berisik wajan dan spatula yang beradu khas tengah terjadinya acara masak-masak besar.


“Oh, si Arimbi lagi masak-masak. Mungkin mau syukuran rumah baru. Secara seumur hidupnya kan enggak pernah tinggal di rumah gedong. Terakhir saja alasan dia pindah, efek dinding kamarnya yang berupa bilik tua, ... roboh!” pikir ibu Siti. Namun tiba-tiba saja, sisi baik dalam dirinya berkata, “Si Arimbi baru bisa bikin rumah gedong kan efek dia sibuk urus Ilham dan juga keluarga kalian! Buktinya, setelah uangnya balik dan itu ganti rugi dari kalian, enggak butuh waktu lama tuh rumah sudah kokoh hampir jadi sempurna! Rumah kamu saja yang cuma setengah gedong dan butuh renovasi sana-sini, kalah jauh! Ya mohon maaf, mohon jaga sikap. Termasuk walau sekarang, rumah Arimbi enggak sebesar rumah kalian. Yang penting kan rapi dan kokoh. Nyaman, pastinya.”


Mendengar itu, ibu Siti langsung kicep. Merasa tert4mpar dan rasanya sampai pusing hingga ubun-ubunnya terasa panas. Akan tetapi, dirinya yang ingat bahwa hubungannya dan Arimbi kurang baik, selain warga sekitar yang paham hingga tak segan menjadikannya sebagai banyolan, segera menunduk kemudian buru-buru pergi dari sana. Ibu Siti tak mau, adanya dirinya di sana, malah kembali menjadi bahan tertawaan.


“Jangan ketahuan, jangan ada yang tahu, jangan ada yang lihat. Malas banget kalau harus rame-rame lagi!” batin ibu Siti terus berdoa. Namun sampainya ia di rumah tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah Arimbi, ia jadi kepo sendiri.


Ibu Siti tak hentinya memikirkan acara masak-masak di rumah Arimbi. Sejak ia mandi dan membersihkan diri, hingga ia berujud menunaikan shalat, acara masak-masak di rumah Arimbi makin membuatnya penasaran. Terlebih ketika waktu sudah lewat pukul tiga sore, tapi ibu Siti yang menunggu undangan kenduri atau setidaknya undangan makan-makan dari pihak Arimbi, tak kunjung mendapatkannya.


“Kok enggak diundang-undang? Arimbi sengaja apa bagaimana? Sombong banget!” pikirnya. Buru-buru ia yang duduk di risban yang ada di ruang depan rumah dan tidaklah lain ruang tamu, keluar. Ia hendak melongok dari teras rumah karena dari sana, ia bisa melihat suasana ramai di gang menuju rumah Arimbi. Andai di sana ada tanda-tandanya kenduri tapi ia tak sampai diundang, bisa ia pastikan, ia akan menuntut pertanggung jawaban karena diperlakukan berbeda oleh Arimbi.

__ADS_1


Ibu Siti memergoki Ilham baru pulang memancing. Putranya itu tampak keberatan menenteng ember, selain tubuhnya yang makin gelap akibat suasana di sana yang kalau sedang panas memang bisa sangat panas. Malahan mereka yang kerap merantau ke kota menganggap, daerah mereka sangat mudah merusakk keindahan kulit. Author sendiri juga mengalaminya. Walau sebanyak apa pun minusnya di sini, kampung halaman selalu menjadi salah satu hal yang paling dirindu.


“Ham, di rumah Arimbi yang baru lagi ada acara masak-masak, tadi Mamah lihat pas pulang dari sawah. Ada apa ya? Kalau memang ada kenduri buat selamatan rumah baru, kok kita enggak diundang?” ibu Siti sudah keluar dari rumah, menyusul Ilham yang tengah melepas sandal.


Dengan santainya, Ilham yang menatap sang mamah berkata, “Lah, tadi Mamah enggak sekalian mampir, tanya-tanya biar tahu?”


“Mampir tanya-tanya apaan? Dikiranya Mamah enggak punya harga diri? Yang ada mereka makin injak-injak kita!” balas ibu Siti sewot.


“Ya sudah, Mamah saja yang tahu enggak mau tanya langsung, apalagi aku yang tahunya dari Mamah?” Ilham masih cuek dan malah memandangi hasil ikan pancingannya yang banyak dan jika dikilo bisa ada tiga kilo. Di dalam ember bekas cat, hampir semua ikannya masih segar.


“Maaf, Mah. Namun aku lagi di fase terendah dan rasanya sampai linglung gini. Aisyah enggak bisa diandalkan, cari kerja ya gagal terus. Jadi petani enggak kuat panas sama capeknya. Balik ke pondok, gajinya enggak ada. Mau lepas Aisyah pasti kena denda yang uang buat ganti rugi ke Arimbi. Cepat atau lambat, pihak Aisyah pasti bakalan minta tuh uang andai aku enggak ke sana-sana.” Sambil menjelaskan dengan nada yang benar-benar pasrah, Ilham juga terduduk pasrah. Semangat hidupnya benar-benar tidak ada yang tersisa, selain Ilham yang merasa, sebagian nyawanya telah pergi semenjak Aisyah yang sempat ia anggap sebagai wanita suci malah di luar ekspetasi. Karena semenjak itu, sederet kesulitan mulai menghampiri bahkan hingga saat ini. Malahan Ilham merasa, dirinya seperti kejatuhan siall bertubi-tubi semenjak ia mengorbankan Arimbi.


“Itu bukan urusan Mamah lagi, yah, Ham. Wong sawah mamah saja sampai melayang buat ganti rugi ke Arimbi!” kesal ibu Siti.

__ADS_1


Mendengar itu, Ilham langsung menghela napas dalam. Rasanya benar-benar berat, orang tua sendiri dan itu wanita yang telah melahirkannya malah bilang seperti tadi. “Loh, bukan tanggung jawab mamah gimana? Aku kan memang anaknya Mamah, bukan anaknya Arimbi walau semenjak sama dia, aku ditanggung dia, Mah. Yang wajib tanggung aku ya sekarang Mamah sama ayah!”


“Loh kamu kok masih minta ditanggung? Kamu kan sudah dewasa. Sudah harusnya cari kerja dan uang sendiri. Merantau atau bagaimana sana! Masa iya sarjana ahli agama enggak jadi apa-apa! Justru harusnya kamu yang jadi tulang punggung keluarga, bulan malah jadi beban keluarga terus!” kesal ibu Siti.


Ilham langsung cemberut sebal. “Nantilah, aku mau tanya-tanya buat merantau ke Jakarta. Namun andai pekerjaan yang ada hanya tukang bangunan, ih buat apa. Capek setengah mati, uangnya enggak seberapa!”


“Nah iya, mikir. Masa iya enggak jadi apa-apa, malu lah sama tetangga! Yang enggak sekolah saja banyak duitnya dan kerja pun cepat, kamu sarjana paham agama kok malah ‘anyeb’!” ucap ibu Siti makin sewot dan memutuskan pergi mencari informasi mengenai apa yang terjadi di rumah baru Arimbi.


Ibu Siti bermaksud ke warung pak Sukir yang biasa menjadi tempat perkumpulan warga untuk berbagi informasi terkini termasuk juga gosip. Namun baru akan menyeberang di depan rumahnya, sebuah mobil kijang warna hitam yang ada di depan sana dan jaraknya masih sekitar sepuluh meter, sudah sibuk menekan klakson.


Ibu Siti sampai refleks loncat ke belakang dan tak jadi menyeberang. “Itu mobil kenapa sih? Masih jauh kok sudah berisik!” batinnya kesal. Lebih kesal lagi, mobil tersebut kembali menekan klakson sambil mendekat hingga sampai berhenti di hadapannya tanpa benar-benar mematikan mesin mobilnya.


Seorang pemuda tampan berkulit bersih agak mirip Aidan, melongok dari kaca jendela pintu sebelah kemudi yang baru saja diturunkan nyaris sempurna. Pria yang memakai batik lengan panjang itu menatap saksama ibu Siti. “Bu, maaf. Saya mau tanya, benar, Ibu mamahnya si Ilham, mantannya Mbak Arimbi yang kuliah dan apa-apa enggak mau modal?”

__ADS_1


Dem! Pertanyaan barusan seolah membuat dada sekaligus kepala ibu Siti meledak.


__ADS_2