
Acara hari ini benar-benar selesai, tempat acara digelar juga sudah langsung dibereskan. Raut bahagia bahkan puas terpampang nyata dari setiap wajah tetangga Arimbi yang datang. Semuanya pamit, berterima kasih dan tak lupa memanjatkan doa terbaik untuk mas Aidan dan Arimbi. Namun masih seperti sebelumnya, Ilham dan orang tuanya tampak begitu gengsi.
“Saya tahu apa yang kamu rasakan. Terima kasih banyak karena sudah mau datang.” Mas Aidan sengaja angkat suara lebih dulu daripada Ilham tak kunjung menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan kepadanya. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih kepada orang tua Ilham.
“Terima kasih juga buat undangan dan semuanya, Mas ... Aidan.” Ilham sadar mengucapkan itu, disusul oleh orang tuanya yang pada akhirnya juga mengucapkan terima kasih sekaligus meminta maaf disaksikan orang tua Aisyah.
“Harusnya Mas Ilham enggak sedang kesuru*pan sih, sampai mau bilang makasih bahkan meminta maaf!” ucap Aisyah masih ceria sambil menenteng pot berisi janda bolong pemberian pak Haji Ojan.
Sampai detik ini, pak Haji Ojan masih memperhatikan bahkan memepet Aisyah secara terang-terangan. Aisyah merasa bangga karena kenyataan tersebut. Sebab hadirnya pak Haji Ojan, membuatnya merasa memiliki fans garis keras.
Arimbi dan mas Aidan sudah langsung menertawakan pemandangan pak Haji Ojan yang lagi-lagi mengejar Aisyah. Lebih lucunya lagi, Aisyah tampak jelas merespon. Aisyah menjadi kemayu dan tak segan memamerkannya kepada Ilham yang langsung menanggapi dengan sinis. Entah hubungan macam apa yang sebenarnya dimiliki Aisyah dan Ilham, tapi jika dilihat dari interaksi keduanya, baik Arimbi apalagi mas Aidan yakin, hubungan keduanya sangat tidak sehat.
“Jan, kamu suka yang bercadar?” ujar mas Aidan sengaja menggoda pak Haji Ojan.
“Iya, kayak mbak Azzura, kan? Apalagi istri orang memang lebih bikin semangat!” ucap pak Haji Ojan dengan enteng sekaligus cerianya.
Arimbi nyaris kelepasan tawanya, hingga sengaja menyembunyikan wajahnya di belakang punggung mas Aidan guna meredam tawa. Detik itu juga tawanya pecah hingga ia susah payah menahan. Rasanya benar-benar lucu melihat tingkah pak Haji Ojan yang mendadak sibuk mengejar Aisyah hanya karena Aisyah bercadar. Lebih lucunya lagi ternyata, alasan pak Haji Ojan terus memepet Aisyah karena pria itu berpikir sekaligus yakin, cantiknya Aisyah seperti Azzura hanya karena sama-sama bercadar.
“Ya kan, Cel, sama?” tanya pak Haji Ojan kepada Excel yang datang bersama Azzura. Excel masih membiarkan sebelah lengannya digandeng oleh sebelah tangan Azzura.
__ADS_1
“Bagaimana, Mas Haji Ojan? Tadi Mas tanya apa?” balas Excel lembut sambil tersenyum kepada pak Haji Ojan. Ia tidak begitu paham dengan maksud pak Haji Ojan karena ia memang baru datang dan tak sempat mendengar apa yang sebelumnya tengah dibahas di sana.
“Benar gitu si pink boy sudah haji? Sana sini panggil haji? Kaya banget apa agamanya terlalu kuat? Tapi kok kayak eror gini yah, orangnya?” batin Aisyah mendadak kagum kepada pak Haji Ojan. “Tapi si Cel-Cel ini, juga luar biasa tampannya sih. Masya Alloh pokoknya! Mirip artis!” Setelah hanya berani berbicara dalam hati, Aisyah memberanikan diri untuk bertanya kepada mas Aidan.
“Mas, adik Mas banyak banget. Termasuk yang ini, di sebelahku, ... juga adik Mas?” tanya Aisyah dengan sangat hati-hati. Terlebih baru bermaksud menanyakan Excel, ia sudah langsung deg-degan. Jauh di dalam dadanya seolah ada alunan musik disko yang mengguncang. Keadaan khas orang sangat mengagumi, jatuh cinta sejatuh-jatuhnya!
Apa yang Aisyah tanyakan dan itu terdengar sangat penasaran, membuat Arimbi juga langsung penasaran. Arimbi segera melongok untuk memastikan yang Aisyah maksud.
“Excel, maksudnya?” ucap mas Aidan memastikan.
Azzura yang Awalnya tengah mengawasi sekitar, langsung terusik. “Kenapa, Mas?” ia menatap penasaran sang kakak yang sempat menyebut nama Excel.
“Assalamualaikum, Mas Cel?” sapa Aisyah benar-benar manis tanpa lambaian tangan. Karena selain tangan kirinya bertopang pada tongkat bantu jalan, tangan kanan Aisyah juga mendekap pot janda bolong pemberian pak Haji Ojan.
“Mbak Aisyah sudah punya suami jangan genit begitu apalagi ke suami saya. Jangan genit-genit. Mas Excel ini sudah punya istri, saya istrinya, dan kami sedang menunggu kelahiran anak pertama kami!” ujar Azzura yang lagi-lagi tertawa lantaran ia ingat curhatan Arimbi kala menceritakan hubungan ajaib antara Ilham dan Aisyah. Sebab segala fitnah yang Ilham lempar ke Arimbi, malah ada di diri Aisyah dan bahkan lebih parah, padahal sebelumnya Ilham anggap sebagai wanita suci.
“Jangan bikin malu ah, Aish!” kesal Ilham.
“Istri kamu butuh perhatian, dan kamu wajib kasih itu, Mas Ilham!” tegas mas Aidan.
__ADS_1
Ketegangan menjadi mewarnai kebersamaan di sana, tapi mas Aidan segera menghampiri orang tuanya di depan sana. Semuanya benar-benar pulang, meninggalkan mas Aidan dan Arimbi yang memang akan bermalam di sana untuk beberapa malam.
“Makasih banyak, Mah. Makasih banyak, Pah!” Arimbi tak hentinya mengucapkan terima kasih, termasuk kepada pak Angga yang menjadi makin perhatian sekaligus menyayanginya.
Sebagai orang tua, pak Angga tidak pernah tertinggal dari pak Kalandra dan ibu Arum dalam menjalani sederet acara, di pernikahan Arimbi dan mas Aidan. Selain itu, ibu Warisem sudah langsung diboyong oleh mas Agung sekeluarga dan langsung diantar oleh Azzam sampai rumah.
Semuanya sudah aman terkendali hingga mas Aidan maupun Arimbi bisa menjalani bulan madu mereka dengan tenang.
“Kenapa Mbak Arimbi masih juga menangis?” lirih ibu Arum sembari mengusap lembut setiap butiran bening yang mengalir dari kedua sudut Arimbi.
“Ini aku beneran enggak tahu harus bilang apa, tapi aku beneran ingin berterima kasih buat semuanya. Khususnya, terima kasih sudah membuat mas Aidan sesempurna sekarang! Punya anak seperti mas Aidan ibarat anugerah, kan? Aku beneran merasa beruntung karena bisa menjadi bagian dari kalian. Dan aku merasa sangat-sangat beruntung karena sudah menjadi istri mas Aidan!” lirih Arimbi tersedu-sedu dan langsung menular kepada ibu Arum. Namun tentu saja, alasan mereka seperti sekarang karena mereka terlalu bahagia.
Dan Arimbi membiarkan dirinya dipeluk ibu Arum di hadapan mas Aidan sekaligus orang tua suaminya itu. Sebab nenek Kalsum dan kakek Sana juga masih ada di sana.
Selain merasa beruntung, selesainya acara pernikahan juga membuat Arimbi termasuk mas Aidan sekeluarga lega. Lega karena pada akhirnya, niat baik mereka dilancarkan padahal segala persiapan benar-benar mereka lakukan dengan spontan. Gaun pengantin warna pink nude yang Arimbi kenakan kini saja merupakan gaun pengantin warisan dari ibu Arum. Sebuah kebahagiaan tersendiri karena selain bisa memakainya, ibu Arum juga memberikan gaun tersebut kepada Arimbi.
Terus bergandengan tangan dengan jemari mas Aidan yang sesekali mengelus punggung jemari tangan Arimbi yang digenggam, akhirnya mereka sampai di kamar mereka akan menginap. Mereka memesan salah satu kamar pengantin dengan fasilitas lengkap. Ada kolam hangatnya juga di sana, meski kolam tersebut bukan kolam renang berukuran luas.
Sebagian besar kado pernikahan memenuhi lantai ruangan depan sebelum kamar pengantin. Semua kado dan juga seserahan tersebut belum bisa diangkut karena keterbatasan transportasi. Akala dan Azzam, termasuk Excel yang menjelma menjadi sopir dadakan, masih sibuk mengurus keluarga mereka yang harus diantar jemput. Jadi, semua itu baru akan diboyong secara khusus, nanti saat Arimbi dan mas Aidan beres menginap di sana.
__ADS_1
Setelah sama-sama mengawasi sekitar, tatapan mas Aidan dan Arimbi bertemu. Senyum hangat menyatukan mereka yang berakhir berpelukan.
“Bukan hanya kamu yang merasa sangat beruntung. Karena memilikimu, juga membuatku merasa sangat beruntung!” ucap mas Aidan seiring ia yang mengeratkan dekapannya terhadap Arimbi.