Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
36 : Tanggung Jawab Baru


__ADS_3

“Baiklah,” ucap mas Aidan dan langsung membuat Arimbi menatapnya, walau tatapan yang dihasilkan hanya tatapan sesaat karena wanita itu kembali salah tingkah, cenderung menepis tatapannya.


“Kita bahas nanti, setelah saya pulang dari kabupaten. Sekarang saya pamit, ... pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya saja,” lanjut mas Aidan dan kali ini Arimbi menatapnya sambil mengangguk.


“Iya, Mas. Hati-hati.”


Sambil memakai helemnya, mas Aidan berkata, “Iya. Sudah, Mbak Arimbi masuk saja enggak usah antar saya.”


Arimbi kembali mengangguk. Dalam hati seorang mas Aidan yang diam-diam melepas kepergian Arimbi, berkata, “Tanggung jawab baru.”


“Mimpi apa aku semalam? Bisa-bisanya aku kejatuhan durian runtuh,” batin Arimbi. Ia sampai gemetaran sekaligus deg-degan parah akibat apa yang ia alami. Namun melihat senyum cerah pak Angga, ia menemukan sedikit ketenangan.


“Istirahat, Mbak,” ucap pak Angga dan menjadi kelanjutan obrolan dalam kebersamaan mereka. Seperti hari kemarin, Arimbi pamit untuk mengupas sekaligus memotong buah.


Obrolan hangat itu sungguh tak terelakkan. Pak Angga sampai menanyakan rutinitas Arimbi yang bekerja dari sebelum subuh hingga malam hari.


“Dulu, masa muda mamahnya mas Aidan juga gitu!” yakin pak Angga.


“Memangnya, kami semirip itu, ya?” tanya Arimbi penasaran.


Sekitar pukul setengah dua belas, mas Aidan baru kembali bertepatan dengan jatah makan siang yang datang. Seperti hari kemarin, kali ini Mas Aidan juga tidak pulang dengan tangan kosong.


“Soto babat sama es krim?” lirih Arimbi.


“Es krimnya kayaknya meleleh soalnya di luar panasnya kayak neraka. Panas banget!” ucap mas Aidan yang buru-buru melepas sarung tangannya, kemudian memamerkan pergelangan tangannya kepada Arimbi. Kedua pergelangan tangsnnya sudah langsung gosong karena tak terlindungi jaket maupun sarung tangan.


“Lebih-lebih kalau di sawah, Mas. Panasnya kebangetan. Tapi kalau sudah biasa ya enggak terasa. Tapi kayaknya memang mau hujan, ya? Sumuk gini,” ucap Arimbi sambil melongok ke luar melalui jendela di seberang.


“Kan, kalian itu cocok! Hal-hal enggak terpikirkan pun jadi bahan obrolan!” ucap pak Angga yang sudah langsung sibuk tersenyum melihat interaksi mas Aidan dan Arimbi. Kedua sejoli yang masih kompak malu-malu, tapi juga kompak saling perhatian.

__ADS_1


“Mas, itu ayah Mas mau makan siang, tapi saya mau langsung pamit pulang. Mau siap-siap buat jualan sore,” pamit Arimbi.


“Oh, sebentar.” Mas Aidan buru-buru melepas kaitan kanan ranselnya, kemudian membukanya. Ia mengeluarkan sesuatu berukuran besar terbungkus kantong kain warna putih dari sana.


Mas Aidan mengeluarkan helm wanita berwarna abu-abu dan merah hati kemudian memasangkannya di kepala Arimbi. Arimbi sudah langsung otomatis menahan napas. Lain dengan pak Angga yang sudah langsung terharu.


“Pas. Helm seperti ini harusnya enggak bikin kepala pusing,” ucap mas Aidan masih buru-buru, yang juga langsung mengantar Arimbi dengan buru-buru.


Namun, Arimbi merasa ada yang kurang jika ia langsung pergi dan hanya mengandalkan salam. Karena setelah perubahan status mereka, tentu sikapnya juga harus lebih baik.


Walau awalnya sudah ada di depan pintu, Arimbi kembali menghampiri pak Angga. Ragu, Arimbi kembali pamit sambil mengulurkan tangan kanannya kepada pak Angga. Diam-diam, sambil mengulurkan tangan kanannya yang langsung disalami Arimbi, pak Angga melirik mas Aidan sambil mesem. Lirikan yang sungguh penuh arti.


“Mas, ini helm harganya berapa?” tanya Arimbi dengan polosnya sambil membuka tas selempangnya.


Sadar Arimbi akan membayar helmnya, mas Aidan segera berkata, “Apaan? Masa iya mau dibayar? Itu saya beli buat Mbak Arimbi!”


“Kan ini udah.” Arimbi kebingungan dan memamerkan dua kantong yang ia bawa. Dua kantong yang juga masih pemberian mas Aidan.


Balasan penuh emosional mas Aidan refleks membuat Arimbi menahan senyum. Mereka masih melangkah pelan menuju tempat parkir.


“Ya sudah Mas, saya pamit lagi. Assalamualaikum.” Jujur, Arimbi ingin menyalami tangan kanan mas Aidan juga. Namun ia telanjur malu melakukannya.


“Hati-hati!” seru mas Aidan melepas kepergian Arimbi yang menjadi loyo mirip orang cacingan yang juga kurang darah. Keadaan yang mas Aidan yakini terjadi akibat perubahan status hubungan mereka.


“Surat keputusannya jangan lupa kasih ke Ilham biar dia enggak berisik terus!” lantang mas Aidan lagi. Tentu yang ia maksud, surat keputusan pembatalan pernikahan Arimbi dan Ilham.


Sambil menatap mas Aidan, Arimbi mengangguk-angguk. “Nanti saya antar bareng mas Agung sama salah seorang perwakilan warga, biar benar-benar deal!” yakinnya dan mas Aidan langsung mengangguk-angguk.


Lagi, mas Aidan meminta Arimbi untuk hati-hati dan wanita itu menekan klakson sebagai akhir dari kebersamaan mereka. Arimbi dan motornya yang dihiasi keranjang gerabah keperluan dagang, benar-benar pergi. Alasan yang juga membuat mas Aidan buru-buru masuk ke ruang rawat sang ayah.

__ADS_1


***


Ketika Arimbi menemukan kebahagiaan barunya, tidak dengan Aisyah yang sedang kepanasan di tengah sawah. Ibu Siti yang ikut mengawasi sembari mulai tandur atau itu menanam bibit calon padi, malah makin pusing akibat teriakan demi teriakan yang keluar dari mulut Aisyah.


“Astagfirullah ... innalilahi ... subahanallloh!”


“Kamu sengaja bikin Ibu sama Bapak jantungan, apa bagaimana?!” kesal ibu Siti tak segan melempar lumpur basah atau yang warga sekitar sebut belet, ke wajah Aisyah. Tak seperti tadi, kini Aisyah yang wajahnya sudah mendadak memakai masker belet, langsung kicep.


“Sudah, kerja yang benar!” tambah ibu Siti.


“Berasa jadi menantu yang tak diharapkan. Ini aku di sawah panas-panas, kulit jadi gosong hitam gini, jangan-jangan mas Ilham pacaran lagi!” batin Aisyah waswas. Ia sudah mandi belet, tapi yang diperjuangkan malah senang-senang dengan wanita lain! Tentu Aisyah tak terima andai apa yang ia khawatirkan malah benar.


Di sawah tak jauh dari bulak, Aisyah juga baru saja memergoki Arimbi lewat. Ia terbengong-bengong menatap mantan Ilham itu. “Lebih enak jadi Arimbi, kerjanya enggak kot*or-kot*or. Wihh, sekarang si Arimbi gaya. Pakai helm!”


Karena tak tahan panas, Aisyah yang kali ini memakai cadar sengaja pamit. “Mau salat dulu, Bu. Pak. Sekalian cek mas Ilham. Takut digondol wanita lain!”


“Mantu edan!” semprot ibu Siti yang tak memberi izin, tapi malah sibuk mencibir sambil melepas kepergian Aisyah. Wanita yang sampai memakai pakaian milik ibu Siti dan otomatis kebesaran, tertatih-tatih melangkah di hamparan lumpur.


Kepulangan Arimbi kali ini dirasa ibu Warisem sangat berbeda dari biasanya. Kali ini, Arimbi tampak sangat bersemangat.


“Bu, tadi mas Aidan kasih soto babat. Ini ada es krim juga tapi sudah meleleh.” Arimbi meletakan semua itu di meja sebelah sang ibu menunduk. “Ibu doyan es krim, enggak?”


“Dingin ya? Kalau dingin, takut giginya jadi ngilu,” balas ibu Warisem yang belum apa-apa sudah sibuk meringis lantaran giginya sudah langsung ngilu.


“Itu helm baru, Mbi?” tanya ibu Warisem.


Pertanyaan yang juga langsung membuat Arimbi teringat mas Aidan sekaligus hubungan mereka. Alasan yang juga membuat Arimbi sesemangat sekarang. Namun karena hubungan mereka belum begitu jelas, Arimbi belum berniat menceritakannya.


“Iya, Bu. Itu dibelikan sama mas Aidan, Bu. Pakai helm itu, kepalaku enggak pusing.”

__ADS_1


“Mas Aidan? Baik banget yah, sampai beliin kamu helm.” Ibu Warisem mengangguk-angguk. Lain dengan Arimbi yang langsung kikuk.


__ADS_2