Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
130 : Kangen Mas Aidan Dan Mbak Mbi?


__ADS_3

Tidur dengan keadaan gorden jendela dibuka sempurna membuat Arimbi merasakan kebahagiaan sekaligus kenyamanan tersendiri. Bukan hanya karena kenyataan tersebut membuat suasana luar bisa terlihat, tetapi ini mengenai terangnya bulan purnama yang membuat hamparan pantai begitu hidup. Terlebih, hotel yang mereka pilih berada tak jauh dari bibir pantai. Birunya air laut di sana dan masih ditemani ombak yang saling kejar, kadang seolah ada di pelupuk mata Arimbi, saking dekatnya.


“Mbak Mbi, pantainya jauh lebih menarik dari wajah suamimu sendiri?” tanya mas Aidan di tengah kedua matanya yang masih terpejam sempurna.


Malahan, suara mas Aidan mirip orang meracau, berat terkantuk-kantuk.


Arimbi yang memang masih duduk selonjor di sebelah mas Aidan langsung cekikikan. Ia berangsur merebahkan kepalanya di dada sang suami yang juga langsung ia dekap mesra.


“Tidur, ... ini sudah dini hari,” lanjut mas Aidan tanpa mengubah keadaannya. Kedua matanya masih terpejam sempurna, tapi baru saja, tangan kanannya balas mendekap punggung Arimbi.


“Tapi aku jadi enggak ngantuk, Mas.”


“Katanya besok mau ikut bangun buat antar papah mamah. Papah mamah kan besok pulang pagi-pagi karena papah sudah harus kembali dinas.”


“Ya iya, aku bakalan tetap bangun pagi, tapi aku mau lihat pantai dari depan jendela yah, Mas!” Selain sengaja izin, Arimbi juga sangat bersemangat.


Setelah tangan kanan mas Aidan mengelus-elus punggung Arimbi, pria itu juga memberikan izin kepada sang istri. Malahan, mas Aidan sengaja duduk, mengawasi sang istri sambil meminum air mineral yang tersedia di meja nakas sebelahnya.


Arimbi santai-santai saja walau ia sadar, sang suami jadi sibuk mengawasinya. Kini saja ia sengaja menoleh ke belakang sambil memberikan senyuman terbaik untuk sang suami.


“Sudah sini, sudah pagi. Nanti kereta kencananya keluar dari tengah lautan!” sergah mas Aidan sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Arimbi, sementara tangan kiri meletakan botol air mineral berukuran besar, ke nakas.


Bergidik, dan langsung takut, itulah yang Arimbi rasakan. “Mas, ih ... kok jadi horor? Ini aku langsung merinding gimana, ini?” keluh Arimbi yang juga mengeluh.

__ADS_1


“Ya makanya sini. Lihat pantainya besok lagi, apalagi besok pagi kita mau lihat matahari terbit, kan? Besok kan lihatnya dari pantai pasir putih, di seberang sana. Besok ke sananya kita naik perahu dari pantai pasir hitam, nah balik ke hotelnya kita lewat hutan sekalian mampir ke cagar alam ketemu yang mirip Azzam.” Mas Aidan masih mengulurkan tangan kanannya dan kali ini juga tangan kirinya kepada sang istri. Berharap istrinya itu segera mendekat kemudian tidur di sebelahnya.


“Memangnya di cagar alam ada yang mirip mas Azzam, Mas?” tanya Arimbi penasaran.


“Jangankan di cagar alam, di dekat pantai pasir hitam juga banyak,” balas mas Aidan.


“Eh, serius, Mas? Sepasaran itu mas Azzam?” balas Arimbi makin penasaran.


“Monyet-monyet di Pangandaran ini jailnya enggak ketulungan mirip Azzam. Jadi besok kamu harus hati-hati!” yakin mas Aidan, tapi sang istri malah menertawakannya.


“Tega banget ih adik sendiri disamakan dengan monyet!” Arimbi berangsur menghampiri mas Aidan.


“Jailnya, Sayang!” balas mas Aidan sudah langsung merengkuh sekaligus mendekap tubuh sang istri.


“Biar rumah makin rame. Bayangkan, satu yang kayak dia saja sudah mirip petasan ban*ting. Apalagi kalau lebih,” balas mas Aidan sambil terpejam damai mendekap punggung sang istri.


Arimbi memutuskan tidak melanjutkan pembahasan mereka karena jika dilihat, sang suami sudah terlihat sangat ngantuk.


“Tidur, Yang. Kalau kamu terus lihatin wajahku begitu, dari wajahku juga keluar kereta kencana!” lirih mas Aidan.


Bukannya kembali takut, kali ini apa yang mas Aidan katakan malah membuat seorang Arimbi cekikikan.


Tanpa terasa, waktu berlalu dengan sangat cepat. Adzan subuh sudah berkumandang dan mendadak menjelma menjadi alarm bagi Arimbi maupun mas Aidan. Setelah langsung mandi, mereka juga segera menunaikan salat subuh berjamaah. Ini menjadi salat subuh ketiga yang mereka jalani berdua. Kemudian setelah suasana agak terang dan itu sekitar pukul setengah enam, mas Aidan membawa sang istri mengunjungi orang tuanya yang ada di kamar sebelah.

__ADS_1


Baik Arimbi maupun mas Aidan memaksa pak Kalandra dan ibu Arum untuk ikut menikmati matahari terbit bersama mereka, sebelum keduanya pulang.


“Enggak keburu, Sayang. Papah kan pukul sembilan sudah ada di kantornya,” jelas ibu Arum.


“Sebentar,” lembut mas Aidan meski jelas, ia memaksa.


Jadilah, pagi-pagi sekali, bersama beberapa pengunjung lain yang juga ingin melihat matahari terbit dari pantai pasir putih di sana, mereka sudah terombang-ambing di atas perahu. Ombak pagi ini tidak begitu besar, tapi perahu yang mencoba menerjang ombak membuat keadaan jadi goyang-goyang. Ibu Arum berdalih, andai Azzam ikut, pasti pemuda ceriwis itu sudah mabuuk lautan.


Sampai di pasir putih, suasana yang masih sangat dingin membuat mereka membutuhkan makanan maupun minuman hangat. Pedagang keliling yang menghampiri, dimanfaatkan mereka untuk membeli po*p mi yang langsung diseduh di tempat. Selain itu, minuman jeruk peras hangat juga mereka pilih sebagai pelengkap, menanti sang arunika atau itu matahari terbit keluar dari peradabannya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya yang mereka tunggu-tunggu menyapa dengan semburat jingga yang sangat ramah sekaligus indah. Keempatnya kompak mengabadikan kebersamaan mereka menggunakan bidik kamera, walau tangan mereka masih memegang mi seduh dalam kemasan.


Tak lupa, ibu Arum juga mengabadikan kebersamaan Arimbi dan mas Aidan. Hingga mas Aidan dan Arimbi yang sangat paham balas budi, melakukannya kepada ibu Arum dan pak Kalandra. Keduanya tak harus susah payah mengarahkan gaya. Karena ketimbang mereka yang masih kaku malu-malu, pak Kalandra dan ibu Arum jauh lebih ekspresif sekaligus romantis.


“Mbi, ... sebisa mungkin, Mamah akan menjadi Mamah yang baik walau posisi Mamah hanya mertua kamu. Selain sebagai anak dan orang tua, Mamah juga ingin jadi teman maupun sahabat baik kamu seperti apa yang sudah Mamah lakukan dengan anak-anak Mamah yang lain.”


“Mamah tahu bagaimana rasanya punya mertua kejam. Mamah juga tahu rasanya punya ipar rasa silumman super jahat. Jadi, sebisa mungkin Mamah enggak akan begitu.”


“Mamah membebaskan kalian karena Mamah yakin, kalian bisa membangun kebahagiaan kalian sendiri. Di sini Mamah hanya mengawasi, membantu sekaligus memberi arahan seperlunya saja. Karena Mamah termasuk Papah yakin, walau kadang orang tua berpikir apa yang kami yakini merupakan yang terbaik, semuanya kembali kepada kalian yang menjalani.”


“Mamah dan Papah percaya, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan karena alasan kalian berumah tangga pun untuk menciptakan keluarga bahagia, kan? Andai pun sampai ada selisih paham, itu biasa karena pada kenyataannya, kita termasuk dengan pasangan kita memang berbeda. Kalau sudah begitu, yang harus kalian ingat tentu alasan kalian menikah.”


“Memang enggak selamanya kita akan bahagia, tapi bukan berarti kita enggak berhak bahagia. Sementara bahagia kembali kita yang menentukan sekaligus menjalaninya.” ibu Arum menutup ucapan sekaligus wejangannya kepada sang menantu dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Di bawah sorot hangatnya matahari terbit yang masih sangat ramah, Arimbi berkaca-kaca, mengangguk, kemudian tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada mamah mertuanya. Di belakang mereka, mas Aidan dan pak Kalandra yang masih memegang wadah mi seduh layaknya sang istri juga tak kalah terharu. Kedua mata mereka juga berembun, meski mereka terus memasang senyum. Namun perlu mereka tegaskan, mereka sangat bahagia. Benar-benar bahagia.


__ADS_2