
Pecel yang awalnya terasa nikmat mendadak membuat seorang Azzura yang awalnya hanya merasakan seret ketika menelannya, menjadi tersedak.
“Mbak Azzura ....?” Buru-buru Arimbi meraih air minum kemasan gelas dari meja. Arimbi mengambil air minum baru karena air minum Azzura yang sebelumnya, sudah habis.
“Pelan-pelan, Mbak.” Arimbi mengambil alih piring pecelnya dari Azzura, kemudian menaruhnya di meja. Ia tak kembali ke Azzura dengan tangan kosong karena ia sengaja meraih tisu basah dari sana untuk mengelap jemari tangan kanan Azzura lantaran wanita itu makan tanpa sendok maupun garpu.
Divani yang mengkhawatirkan keadaan Azzura berangsur mendekat. “Wanita ini saudaranya mamah Arum? Mirip banget. Kelihatan dekat juga sama mbak Azzura bahkan ... mas Aidan. Tadi dia habis kerokin mas Aidan dan sampai bantu pakaikan mas Aidan baju,” pikir Divani.
Divani curiga Arimbi baru saja membantu mas Aidan kerokan karena selain aroma minyak kayu putih di sana begitu kuat, sebagian pinggang mas Aidan yang baru saja tertutup sempurna oleh kaus putihnya juga dihiasi jejak kerokan. Selain itu, ada kayu putih dan juga koin yang tadi buru-buru Arimbi taruh di meja sebelum wanita itu membantu Azzura.
Walau hanya diam, mas Aidan berangsur duduk menghadap Azzura. Ia fokus mengawasi Azzura dan langsung bingung ketika tangan kanan Divani ada di hadapannya. Divani jelas akan menyalaminya seperti kebiasaan wanita itu selama ini, selama menjadi kekasinya. Namun untuk kali ini, mas Aidan menggeleng dan perlahan menoleh, membuat tatapan mereka bertemu.
“Mas Aidan masih marah?” tanya Divani lirih sembari duduk di sebelah mas Aidan.
Pertanyaan tersebut pula yang mengusik Arimbi. Setelah beres membantu Azzura, ia segera menoleh, menatap sendu kebersamaan di sebelah. Dari apa yang Arimbi lihat, Mas Aidan sengaja mengabaikan Divani. Sedangkan dari cara mas Aidan bersikap, alasan mas Aidan menjaga jarak karena pria itu memiliki rasa kesal tersendiri kepada Divani. Terlebih jika menghubungkan dengan pertanyaan Divani kepada mas Aidan yang seolah, Divani merasa heran kenapa sekelas mas Aidan sampai masih marah, untuk hal yang belum Arimbi ketahu. Alasan yang juga membuat Arimbi bertanya kepada Azzura.
“Mbak ...? Itu siapa?” Arimbi yang sengaja duduk di sebelah Azzura berbisik-bisik.
Azzura bingung, takut kejujurannya melukai Arimbi. Namun jika ia tidak membalas Arimbi, wanita itu pasti bingung. Walau di sisi lainnya lagi, Azzura juga yakin, andai Arimbi tahu siapa Divani, Armbi akan minder.
“Mas ...?” Divani menyikut manja sebelah siku mas Aidan.
“Rasanya ...,” batin Arimbi yang menyaksikan semua itu. Ia belum berani berkomentar, tapi melihat cara Divani bersikap kepada mas Aidan, wanita itu berkali-lipat lebih manja dari Azzura. Mungkin itu juga yang menjadi alasan ulu hatinya terasa sangat ngilu. Membuatnya memilih pamit undur ke dapur untuk membuat wedang jahe yang sempat ditunda, daripada menyaksikan pemandangan yang malah membuatnya berpikir tidak-tidak.
__ADS_1
“Mbak, tunggu!” tahan mas Aidan.
Arimbi yang sadar mas Aidan menahannya, refleks menoleh menatap mas Aidan. “Mau lanjut buat wedang jahe dulu.” Suara langkah buru-buru cenderung lari dari anak tangga mengusiknya. Ia refleks menoleh ke sana, walau setelah tahu itu Azzam, ia segera kembali menatap mas Aidan sambil mengulas senyum dan melangkah pergi dari sana.
“Mbak, ... sebentar!” mohon mas Aidan.
Arimbi yang sudah sempat melangkah, memergoki raut panik sekaligus khawatir dari Azzam. Azzam yang sempat berhenti melangkah perlahan mendekat. Iya, pemuda itu tak lagi lari layaknya kedatangan awal. Malahan kini, Azzam terlihat sengaja menjaga sikap walau raut panik sekaligus khawatir, masih menjadi ekspresi mencolok dari wajahnya. Sementara ketika Arimbi balik badan menghadap mas Aidan, ekspresi tak begitu berbeda juga sudah menjadi tampang mencolok dari calon suaminya itu.
Arimbi belum bisa berkomentar, tapi ia merasa suasana di sana menjadi diselimuti ketegangan. Mas Aidan tampak berat, terlihat takut salah dalam melanjutkan maksudnya.
“Kenapa harus seberat dan sekaku itu? Memangnya, Mbak itu siapa, Mas?” tanya Divani.
“Sedekat itu hubungan mereka, hingga wanita cantik itu selalu berbicara dengan sangat leluasa?” pikir Arimbi.
“Kami akan menikah dalam waktu dekat,” sergah Mas Aidan serius sesaat setelah sengaja berdiri.
Pengakuan Azzam saja sudah membuat Divani bak disambar petir di siang bolong. Ditambah pengakuan dari mas Aidan barusan, kepala hingga kaki Divani seolah terbelah kemudian terlempar tanpa bisa menyatu lagi.
“Kok bisa?” lirih Divani menatap tak percaya wajah-wajah di sana.
“Kok responsnya ‘kok bisa’? Memangnya kenapa? Di matanya, aku enggak pantas bersanding dengan mas Aidan apa bagaimana?” pikir Arimbi jadi merasa tak enak hati.
“Di, ....” Azzam menatap Divani penuh arti. Namun di sebelah mas Aidan, Divani yang masih duduk langsung menggeleng kemudian berdiri.
__ADS_1
Divani menatap mas Aidan dengan tatapan yang menuntut keadilan. “Jadi, Mas beranggapan yang kemarin itu serius?” ucapnya.
Arimbi tidak tahu, kenapa pertanyaan Divani barusan, membuat hatinya teriris pedih. Alasan yang juga membuatnya menunduk kemudian mundur dua langkah. Karena jujur saja, pertanyaan Divani sudah langsung membuat Arimbi menduga, ada hubungan serius antara Divani dan mas Aidan.
“Mungkin dia pacar yang mutusin mas Aidan kemarin, dan sampai bikin ayah Angga dirawat di klinik,” batin Arimbi yang kemudian menelan ludahnya. Tak seperti biasa, keputusannya menelan ludah malah melukai tenggorokannya lantaran ludahnya mendadak terasa kasar.
“Maksud kamu apa, Di? Kamu mau bilang kalau yang kemarin enggak serius atau malah bercanda? Kalau memang iya, asli itu lucu banget!” ucap mas Aidan kesal.
Azzam dan Azzura tak jadi berkomentar karena itu juga yang ingin keduanya katakan.
“Aku masih simpan WA kamu, dan orang tua sekaligus keluargaku juga sudah tahu! Jadi memang bukan kesalahan jika aku sampai sudah memiliki hubungan dengan wanita lain, bahkan dalam waktu dekat, aku akan menikah!” lanjut mas Aidan. “Kamu sudah dua puluh enam tahun, bukan anak kecil lagi!”
Divani tak bisa berkata-kata, tapi air mata yang terus berlinang membanjiri pipinya, sudah cukup mewakili dari isi hatinya saat ini. “Kenapa jadi begini?” lirihnya benar-benar bingung. Ia menatap tak percaya wajah-wajah di sana, tanpa terkecuali wajah Arimbi.
“Aku datang bersama orang tuaku. Mereka berpikir kita baik-baik saja, bahkan mereka ingin membahas pernikahan kita!” yakin Divani.
Detik itu juga Azzura dan Azzam langsung syok. Keduanya refleks menatap Arimbi dengan khawatir.
“Jika memang masih ada urusan, selesaikan saja. Dan apa pun keputusannya, ... aku terima,” sergah Arimbi tak mau membuat keadaan lebih runyam. Termasuk juga andai ia yang harus mundur, ia sungguh akan menerimanya. Daripada kisah hubungan Azzura dan Cikho, kembali terulang. Ditambah lagi, Arimbi juga sadar, dibandingkan dengan Divani, dirinya terlalu kecil.
“Mbak ...!” Mas Aidan langsung menyusul Arimbi.
Arimbi langsung menggeleng. “Enggak apa-apa, dibereskan dulu. Termasuk urusan dengan pihak orang tua.” Ia mengangguk-angguk. Bingung dengan apa yang harus dilakukan, ia memilih pamit ke depan, ke prasmanan yang memang sudah menjadi tempatnya karena ia harus menjaga meja pecel dan seperangkatnya.
__ADS_1