Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
53 : Mendadak Pindah


__ADS_3

Gara-gara pak Haji Ojan, hidup Arimbi jadi tidak tenang. Bagaimana tidak? Pak Haji Ojan nekat menunggui Arimbi hingga rumah. Pria itu sengaja menggelar sarung di sebelah jendela kamar Arimbi, kemudian bermalam di sana walau beberapa warga sudah menegurnya.


“Ya Alloh, ... hidupku dikelilingi orang stre*s!” batin Arimbi terpaksa pindah kamar. Dinding rumah yang hanya berupa bilik rapuh membuatnya takut, pak Haji Ojan akan mengintipnya dengan leluasa.


“Eh, Dek Arimbi Janda Kesayangan mau ke mana?!” seru pak Haji Ojan yang awalnya hanya mengintip, malah menerobos masuk hingga bilik sebelah kamar Arimbi ambruk. Kusen ya g sudah rapuh juga jatuh menimpa kepalanya yang licin akibat rambutnya yang lepek.


Arimbi yang refleks lari ketakutan lantaran takut sampai dipegang-pegang oleh pak Haji Ojan, kembali membawa ke kamar sambil membawa wajan. Tanpa pikir panjang, Arimbi melemparnya kepada penyebabnya ketakutan. Sungguh gerakan yang refleks Arimbi lakukan, tapi karena ia melakukannya dengan sekuat tenaga, pak Haji Ojan langsung tumbang setelah lemparan wajahnya mengenai wajah pria itu.


***


“Untuk sementara, kamu tinggal di kontrakan mbak Azzura dulu, ya!” bisik mas Aidan yang memang datang. Ia menatap miris pak Haji Ojan yang masih pingsan di pinggir kamar Arimbi. Sementara tangan kanannya memegang ponsel yang tengah berusaha menghubungi kontak Sepri.


“Sini, ... jangan di situ. Takutnya dia bangun malah langsung mener*kam kamu!” bisik Mas Aidan refleks agak merangkul punggung Arimbi lantaran ia berusaha menuntun wanita itu dari sana.


Apa yang mas Aidan katakan makin membuat Arimbi takut kepada pak Haji Ojan. Apalagi berurusan dengan orang kurang waras lebih sulit dari berurusan dengan sekelas hantu. Kalau sekelas hantu, diusir menggunakan doa masih bisa. Nah, sekelas pak Haji Ojan yang sudah telanjur mabu*k janda cantik beneran susah penangkalannya.


“Malam juga, Pri. Pri, kamu ke sini. Ini si Ojan di sini ganggu banget,” ucap mas Aidan setelah sambungan telepon yang ia lakukan akhirnya terhubung. Ia menuntun Arimbi untuk duduk di risban ibu Warisem sudah terjaga.


“Dikarungin saja, lempar ke kali biar beres, Mas. Tuh orang emang berbakat bikin susah setelah amnesia!” balas suara laki-laki bernama Sepri dari seberang sana.


“Eh, enggak boleh gitu.” Mas Aidan meninggalkan Arimbi. “Kamu bawa mobil kolbak, ya. Buat angkut dia sekalian motornya.”


“Nanti aku bawain keranda sekalian buat angkut si Ojan!” balasan sewot dari Sepri membuat mas Aidan menahan tawanya.

__ADS_1


“Ya sudah, sekarang aku kirim lokasinya, kamu cepat ke sini. Sudah malam, kasihan yang punya rumah mau istirahat!” balas mas Aidan.


“Yang punya rumah janda cantik banget, makanya matanya si Ojan jadi ikut pink mirip penampilannya apa gimana, Mas? Tumben sampai segitunya, ditunggui sampai rumahnya?” balas Sepri dari seberang.


“Dia calon istriku. Besok-besok kita bahas lagi. Intinya sekarang kamu ke sini. Bawa mobil kolbak,” yakin mas Aidan.


“Iya, Mas. Aku juga mau sekalian bawa keranda buat kurung dia!” balas Sepri dan lagi-lagi membuat mas Aidan menahan tawanya.


Arimbi yang menyimak, menjadi kikuk karena dirinya sempat disebut-sebut oleh mas Aidan sebagai calon istri pria itu. Ia menata sendu punggung mas Kalandra. Kemeja merah hati bagian punggung sekaligus lengannya sampai lusuh, menegaskan betapa sibuknya aktivitas pria itu hari ini. Malahan walau sudah pukul sepuluh malam, mas Aidan memang baru pulang dan hanya mampir ke rumah untuk menukar motornya dengan mobil kolbak. Mas Aidan terpaksa mengangkut Arimbi dan ibu Warisem lantaran selain keduanya belum memiliki tempat tinggal layak, mas Aidan juga khawatir Arimbi menjadi stre*s gara-gara terus dipepet pak Haji Ojan.


“Mas Aidan pria yang sangat bertanggung jawab. Saking banyaknya tanggung jawabnya, dia sampai melupakan beberapa tanggung jawabnya. Bisa jadi ini juga yang membuat pasangan terdahulunya lelah karena mereka ingin memiliki mas Aidan sepenuhnya.


“Mas, kompor sama wajan dan semacamnya, muat kan di mobil?” tanya Arimbi. Ia menuruti arahan mas Aidan karena tak mau menambah beban pria itu. Karena layaknya mas Aidan yang tak mau ia stre*s gara-gara pak Haji Ojan, ia juga mencoba menyeimbangi mas Aidan dan sebisa mungkin menjadi pasangan yang baik.


“Mereka manis banget,” lirih Azzura yang memergoki Arimbi memberi bantal untuk mas Aidan. Wanita itu mengangkat kepala mas Aidan dengan hati-hati.


Kontrakan yang Arimbi tempati memang tak sepenuhnya kosong karena sebelumnya, mas Aidan sudah meminta bantuan adik-adiknya untuk mengisi kontrakan dengan sebuah kasur busa untuk tidur lengkap dengan bantal dan selimut, selain satu tikar karakter yang digelar di ruang tamu. Selain itu, adik-adik mas Aidan termasuk itu Azzam, juga turut membantu Arimbi beres-beres, menyusun setiap barang ke kontrakan yang tentunya jauh lebih nyaman.


Azzura membawa kedua adiknya untuk pergi dari sana. “Walau mereka tidak memulai hubungan dengan cinta, kenyataan mereka yang sama-sama siap, dan mereka juga sama-sama memiliki pemikiran dewasa, membuat hubungan mereka sedamai itu. Jangankan yang menjalani, yang melihat saja jadi ikut adem lihatnya,” lirih Azzura.


“Iya, ... Mbak Azzura bener,” ucap Akala.


Mendengar itu, Azzam dan Azzura kompak saling tatap, sebelum keduanya menatap kedua mata Akala yang masih melangkah di sebelah Azzura.

__ADS_1


“Mas Akala sudah bisa bilang begitu, berarti Mas Akala sudah dewasa,” ucap Excel yang baru datang.


Akala langsung kikuk kemudian menunduk.


“Sudah punya cewek yang ditaksir atau malah, ... pacar, ya?” kali ini Excel sengaja menggodda adik iparnya yang menjadi makin salah tingkah.


Azzura sadar yang suaminya maksud itu Akala. Namun karena suaminya sampai tersenyum ringan dan itu membuat seorang Excel terlihat sangat tampan, tak ada alasan baginya untuk tidak berbunga-bunga.


“Sudah malam kita juga harus pulang, takutnya papah sama mamah sudah nungguin,” ucap Azzam menyudahi kebersamaan di sana.


Azzura bergegas meraih sebelah tangan Excel kemudian menggandengnya. Excel sendiri membiarkan tangannya didekap mesra oleh wanita bercadar warna mocca di sebelahnya.


“Mau aku, apa kamu yang nyetir?” tanya Excel kepada Azzam yang sudah langsung memimpin langkah.


“Aku saja juga enggak apa-apa. Karena istri Mas sudah kelihatan banget pengin dimanja-manja!” ucap Azzam yang kemudian balik badan untuk mengambil kunci mobilnya dari Excel karena kunci mobil itu memang kunci mobil Excel.


Tubuh Azzura sampai terguncang pelan akibat tawa yang wanita itu tahan. Kemudian, tangan kanannya refleks mendorong pelan punggung sang kembaran yang sudah kembali memimpin langkah.


Walau kontrakan yang Arimbi tempati tidak berjarak begitu jauh dari rumah utama orang tua mereka, demi kenyamanan bersama, saat mas Aidan mengabari dan meminta bantuan, mereka memang sengaja memakai mobil Excel sebagai transportasinya.


Tak beda dengan adik-adik mas Aidan, juga mas Aidan yang sudah sampai lelap setelah ketiduran, Arimbi juga bergegas tidur. Ia menyusul sang ibu yang sudah bersiap di kasur yang tentu saja jauh lebih nyaman dari kasur di rumah mereka.


“Andai mas Ilham bukan peni*pu, pasti dari dulu aku sudah bisa kasih tempat tinggal layak bahkan lebih dari nyaman buat Ibu,” ucap Arimbi yang perlahan merebahkan kepalanya di pangkuan sang ibu.

__ADS_1


“Semuanya pun tidak menyangka, tetangga sendiri yang mengaku berpendidikan sekaligus paham agama, akan tega begitu kepada kita, Mbi. Ya sudah, buat pembelajaran saja. Apalagi sekarang, Alloh sudah kasih ganti yang berkali-lipat lebih baik!” ucap ibu Warisem sangat sabar. Tangan kanannya mengelus kepala Arimbi yang masih terbungkus kerudung abu-abu.


__ADS_2