
“Oh, ... ternyata Nak Azzam kenal ibu Siti?” tanya ibu Warisem menatap tak percaya ibu Siti maupun Azzam, silih berganti.
Ibu Warisem tak menyangka, ternyata Azzam mengenal ibu Siti. Terlebih jika melihat jarak tempat tinggal mereka yang terbilang jauh. Mereka sampai beda kecamatan. Selain itu, ia juga yakin, sekelas Arimbi tak mungkin menebar gosip kejadian ibu Siti yang meneriaki Aisyah : maling.
“Ya kenal lah, Bu. Ibu Siti ini kan artis. Dia masuk berita kabupaten dengan judul, ‘Seorang Ibu Mertua Meneriaki Menantunya yang Bercadar : Maling! Setelah Si Menantu Kepergok Sedang Titik-Titik!’ Heboh banget beritanya itu. Pak Bupati sampai tanya ke papah Kala, benar itu berita ada di kawasan daerah kepemimpinan papah?” Azzam meyakinkan, dan ibu Warisem yang menyimak, langsung mengangguk-angguk, menatapnya jauh lebih serius. Ibu Warisem tampak begitu percaya kepadanya.
“Hebat ih, Ibu Siti. Hanya karena meneriaki menantunya ‘maling’, langsung masuk berita dan pak Bupati sampai penasaran!” ucap ibu Warisem benar-benar kagum. “Terus, kasus si Aisyah yang masuk penjara, juga ikut masuk berita enggak itu Nak Azzam?”
Baru Azzam sadari, level polosnya ibu Warisem dengan Akala hanya beda tipis. Dengan kata lain, ia punya partner gibah yang cocok.
“Eh, kalian kalau bicara jangan asal, ya! Mana buktinya kalau saya masuk berita dan sampai untuk kasus semacam itu!” kesal ibu Siti tak mau dijadikan bahan gibah.
Selain itu, ibu Siti memang belum tahu bahwa beritanya dan Aisyah sampai membuat heboh seperti yang Azzam kabarkan. Juga, ibu Siti lupa bahwa saat kejadian, banyak warga yang mendadak menjelma menjadi wartawan, mengabadikan yang terjadi di rumah ibu Siti, termasuk tampang sang wanita suci, menggunakan bidik kamera ponsel sebelum akhirnya menyebarkannya hingga kabar tersebut tersebar luas, menjadi berita heboh di kabupaten mereka tinggal.
“Sabar, di video yang beredar juga ada adegan ibu Siti pingsan saking syoknya ternyata menantunya gitu!” ucap Azzam makin menggebu-gebu saking semangatnya. Ia menunjukkan video yang dimaksud dan masih ada di grup berita WA khusus kabupaten mereka, hingga dalam mencarinya tidak butuh waktu lama. Benar-benar mudah.
“Kasus Ibu memang rame banget, Bu. Heboh!” ucap seorang wanita berambut panjang dan warnanya warna-warni. Wanita berkulit putih bersih itu sampai melongok dari kaca pintu jendela penumpang belakang, hanya untuk menatap ibu Siti secara langsung.
__ADS_1
“Tuh, Bu. Miss Messi si perias terkenal sekabupaten kita saja sampai tahu! Berarti kan memang heboh banget!” sergah Azzam.
“Kisah Ibu sekeluarga yang ngibulin mbak Arimbi dan kalian fitnah dia sangat keji, eh dapatnya wanita suci rasa stroberi, itu beneran rame!” lanjut Azzam terbahak-bahak. Kemudian, tanpa bisa menyudahi tawanya, ia menyodorkan layar ponselnya dan sudah sampai dihiasi video yang dimaksud.
“Wanita suci rasa stroberi itu kayak apa, Mas Azzam?” tanya Miss Messi terbahak-bahak juga gara-gara banyolan Azzam.
“Banyak matanya, mirip stroberi. Titik-titik hitam biji! Kan wanita sucinya mantan anak punk. Tubuhnya penuh tindik dan lukisan. Zaman sekarang kan banyak yang berlindung di balik agama, mengatas namakan agama termasuk juga pendidikan, dan wanita suci termasuk ibu Siti sekeluarga salah satunya!” ucap Azzam masih terbahak-bahak.
“Berarti mereka memang secocok itu. Makanya Alloh narik mbak Arimbi, dan membiarkan anaknya ibu Siti bersatu dengan wanita suci. Sementara Mbak Arimbi yang terlalu baik, Tuhan jodohkan dengan mas Aidan yang sama-sama baik. Mbak Arimbi dan mas Aidan sama-sama pekerja keras, cocok banget. Enggak apa-apa Mbak Arimbi hanya penjual pecel, yang penting mbak Arimbi bukan parasit seperti mantan dengan keji membuang sekaligus memfitnahnya. Lagian omset penjual pecel sekelas mbak Arimbi enggak kaleng-kaleng loh!” Tentu yang Miss Messi maksud keluarga mantan Arimbi, adalah Ilham sekeluarga.
“Emang dagangan mbak Arimbi laris banget, Miss. Sekali dagang minimal untung lima ratus ribu ya dapat. Itu beneran untungnya!” yakin Azzam.
Angin berembus kencang di antara pohon kelapa yang seolah nyaris tumbang. Dua dahan kering dari pohon kelapa di sekitar ibu Siti sampai terlempar mengenai genteng bagian depan. Membuat langkah ibu Siti refleks terhenti karena jatuhnya dahan yang orang sekitar sebut klari, membuat genteng melorot dan berakhir terjatuh pecah di hadapan ibu Siti. Ibu Siti nyaris jantungan gara-gara itu.
Ilham yang awalnya sudah masuk rumah buru-buru keluar untuk memastikan. Beberapa genteng melorot dan membuat atap rumah mereka harus segera menjalani perbaikan.
“Ya ampun ... lagi enggak ada uang, eh malah ada saja bencananya!” batin ibu Siti benar-benar kesal.
__ADS_1
“Banyak pohon kelapa gini kok ngeri ya, Zam. Tadi kalau kena ibu Siti sekarat dadakan tuh orang,” komentar Miss Messi.
“Tadi kalau langsung kena malah lebih baik, Mbak. Biar sekarat gitu, biar tuh ibu Siti merasakan hidayahnya dihantam dahan klari! Hahahaha!” balas Azzam.
Miss Messi yang awalnya merasa ngeri, menjadi terbahak-bahak.
“Terus perkara klari jatuh juga cukup rajin bersihin saja. Biasanya kan kalau di kampung begini ada orang yang beli kelapa tua atau kelapa muda. Nah, biasanya sekalian minta dibersihin, dibuangkan yang tua-tuanya. Kalau kejadian sampai seperti yang menimpa keluarganya ibu Siti ini, patut dicurigai mereka memang bukan orang yang guyub rukun sama orang lain termasuk juga tetangga. Soalnya kan pas harusnya besok resepsi Ilham sama wanita suci, tetangga yang harusnya masih rewang juga kompak pulang enggak mau rewang lagi!” jelas Azzam. “Itu tadi rumah mamah Arum di sekitarnya juga banyak pohon kelapa, kan? Di sana aman-aman saja. Tapi kelapa di sana sengaja dikelola buat rumah makan.”
“Pokoknya semuanya sudah terencana yah, Mas?” ucap Miss Messi.
“Ya iya. Nanti setelah menikah, mbak Arimbi juga langsung dibukakan rumah pecel khusus. Lokasinya enggak jauh-jauh amat dari tempat dagang sebelumnya. Di depan rumahnya ayah Angga, di rumah makan juga sengaja dikasih buat menu tambahan,” jelas Azzam serius tak lagi terbahak-bahak menertawakan ibu Siti sekeluarga.
“Kemarin sempat coba pas di acaranya mbak Azzura, asli enak banget. Ada gorengannya juga, kan. Nah pas mau coba rujaknya malah enggak kebagian!” cerita Miss Messi yang kemarin memang merias Azzura untuk acara empat bulan kehamilan Azzura. Alasan yang juga membuatnya memakan pecel buatan Arimbi karena Azzura yang merekomendasikan.
“Berarti Anda kurang beruntung, hahahaha!” ucap Azzam yang kali ini menertawakan Miss Messi.
“Nantilah gampang, mau buka cabang juga di rumah makan kalian kan. Eh, aku pikir-pikir, kalian ini keluarga bisnis, ya? Sama menantu-menantunya diajak usaha. Kebetulannya lagi, dapat menantu pun ya yang di bidang kuliner!” ucap Miss Messi terheran-heran.
__ADS_1
Sementara Azzam yang menyimak, menjadi kompak ngakak. Azzam sampai sengaja mengajak ibu Warisem yang sedari tadi diam, untuk ikut ngakak. Lucunya, ibu Warisem yang memang selugu Akala, mau-mau saja tertawa hingga Miss Messi yang duduk di belakang mereka sampai sakit perut.
Demi mengejar waktu, Azzam sudah langsung mengemudikan mobilnya. Beruntung, jalan gang di sana dan sampai diperbaiki menggunakan uang Arimbi, masih muat mobil mereka hingga mereka tak harus meninggalkan mobil di sekitar rumah Ilham.