Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
98 : Lepaskan Aisyah Agar Jadi Beban Ilham Dan Ibu Siti!


__ADS_3

“Udah, si Aish dikeluarin saja, Mbak. Biar Ilham sama ibu Siti punya beban tambahan. Urusan dia ke Mbak, jangan takut. Kamu punya banyak prajurit. Lah itu kemarin saja kita punya Ksatria Sepri Hitam, kan?” Azzam sudah langsung berisik dan berakhir tersedak mi yamin di dalam mulutnya.


Pak Kalandra yang baru beres makan mi yamin jatahnya, tanpa ada adegan nambah berulang kali layaknya Azzam, langsung berdiri meninggalkan tempat duduknya. Ia yang sibuk mesem, sengaja memijat-mijat kedua pundak Azzam menggunakan kedua tangannya.


“Ini pasti gara-gara Mas Aidan enggak ikhlas mi yaminnya aku makan, makanya aku keselek gini,” ucap Azzam yang kemudian mengambil segelas air minum pemberian sang mamah.


Mas Aidan hanya istighfar sambil geleng-geleng. Ia memilih beranjak berdiri meninggalkan tempat duduk, mengikuti Arimbi. Sebab kedatangan nenek Kalsum, kakek sana, juga Azzura dan Excel, membuat Arimbi harus menyiapkan mi yamin untuk mereka juga.


Melihat Excel yang jelas dimaksud Aisyah sebagai laki-laki tampan yang ditaksir, mas Aidan mendadak oleng dan itu membuatnya sibuk menahan senyum. “Bisa patah tulang total kalau si Aish nekat deketin mas Excel. Mbak Azzura kok dilawan. Mafia saja kalah,” batinnya yang kemudian meminta Azzam untuk memanggil Akala biar mereka makan bersama.


“Ya ampun Mbak Arimbi ternyata dari tadi Mbak sibuk masak sebanyak ini? Kalau aku tahu Mbak masak sebanyak ini, pasti aku bantuin,” ucap Azzura benar-benar manis sekaligus manja.


“Memangnya, Mbak mau bantuin ngapain?” lirih Excel benar-benar manis karena ia juga menatap sang istri sambil mesem.


Penuh kelembutan, Azzura yang tak memakai cadar dan memang sudah memakai piyama panjang berkata, “Bantuin makan lah, Sayang. Memang ngapain lagi? Bakatku kan makan, mirip Azzam karena kami memang kembar!”


Azzam yang merasa tersindir, langsung tertawa sambil terus melangkah memanggil Akala. “Akala, cepat makan, aku sudah kenyang, jadi aman karena jatahku enggak akan kurang. Kalau kamu yang makan duluan kan aku kurang!”


Dalam hati pak Kalandra yang langsung geleng-geleng sambil memperhatikan sekitar, merasa, suasana rumahnya menjadi mirip panti asuhan jika sedang seperti sekarang. Ditambah lagi kenyataan Azzam yang berisik kemudian ditabuh Azzura.


“Sini aku beneran bantu, Mbak,” ucap Azzura yang kali ini serius. Ia sudah langsung merebus mi mentahnya di panci. “Ini beneran bikin sendiri hijau cantik gini minya.”

__ADS_1


“Itu tadi dibantu Mas Excel bikinnya. Pas Mbak masih urus pasien. Pasien yang tadi sudah lahiran?” sergah Arimbi sembari meracik bumbu di setiap mangkuknya.


Azzura sudah langsung mengangguk-angguk. “Sudah, Mbak. Makanya aku langsung agak santai, bisa mandi lama juga tadi.”


“Sini aku yang urus, itu panas,” sergah Excel sudah langsung mengambil sumpitnya dari Azzura.


Sadar, Arimbi tak mungkin kerepotan karena semuanya sudah membantu, mas Aidan sudah langsung pamit untuk mengambil ibu Warisem.


“Ini yakin, bukan aku yang jemput?” tanya Azzam memastikan. Ia sudah kembali diikuti Akala.


“Apa mau aku saja, Mas?” tanya Akala serius.


“Enggak usah, enggak apa-apa. Yang namanya buat mertua apalagi ini tinggal satu, kalau Mas enggak ada halangan benar-benar kepepet, pasti Mas yang turun tangan. Lagian seharian ini, Mas juga belum ketemu ibunya Mbak Arimbi,” yakin mas Aidan yang kemudian buru-buru melangkah pergi untuk segera mengambil ibu Wariyem agar ikut makan bersama mereka.


“Harusnya Mas Azzam dulu. Kan Mas lebih tua. Mana tega aku ngelangkahin Mas!” balas Akala untuk pertama kalinya membalas yang terdengar melawan Azzam, bahkan itu di telinganya sendiri. Lihat, Azzam sudah langsung panik, menatapnya tak percaya, selain Azzam yang juga menjadi terlihat gelisah.


“K-kamu beneran sudah punya pacar, Dek?” Azzam ketar-ketir, sempat takut tersalip atau itu dilangkahi Akala. Namun jika melihat status Sundari masih harus fokus kuliah paling tidak tiga atau empat tahun lagi, ia langsung legowo.


Puk ... puk ... puk ... Azzam menepuk-nepuk punggung Akala yang masih terasa empuk, walau adiknya itu mengaku sudah kehilangan tiga kilo berat badannya.


Lebih tepatnya, semenjak berguru kepada kedua kakak iparnya, Akala jadi cepat kehilangan berat badan. Ke Arimbi, Akala belajar pola makan diet sehat. Sementara kepada Excel, keduanya kerap olahraga fisik yang begitu menguras keringat.

__ADS_1


Setelah ibu Warisem sampai bergabung, obrolan mereka mengenai Aisyah, langsung dilanjut. Azzam yang ingin membuat Ilham sekeluarga dibebani Aisyah, dengan semangat meminta Arimbi untuk menerima mediasi, membiarkan Aisyah menjadi tahanan kota, termasuk juga anak punk-nya.


“Ngebayangin Ilham sama ibunya yang julidnya tingkat provinsi direpoti wanita suci, rasanya sebahagia ini. Yah, Mbak! Tolong banget!” mohon Azzam.


Arimbi yang tengah menyuapi sang ibu mi yamin lantaran ibu Warisem kesulitan memakai garpu apalagi sumpit, langsung merenung.


“Buat pembelajaran sih, biarin dikurung sebulanan dulu,” ujar Azzura masih menyelesaikan makannya.


Arimbi berangsur menoleh, menatap mas Aidan yang duduk di sebelah ibu Warisem karena posisi mereka memang di sisi kanan kiri wanita tua itu. “Keadaan mbak Aisyahnya lebih parah dari yang kemarin, yah, Mas?”


“Sepertinya kalau patah tulang penyembuhannya memang lumayan. Tanya tuh sama mas Excel yang pernah mengalami,” balas mas Aidan.


“Kasihan juga sih ya. Bener juga kata mas Azzam, keenakan mas Ilham sekeluarga karena lepas dari Aisyah, beban hidup mereka pasti berkurang. Ditambah lagi, mas Ilham juga langsung enggak ada tanggung jawabnya sama sekali,” ujar Arimbi.


“Nah, kan, Mbak! Makanya, lepasin Aisyah, biar beban hidup Ilham dan mamahnya bertambah. Masa iya, istri dipenjara, si Ilham malah mancing mania!” ucap Azzam makin bersemangat.


Lantaran Akala menjadi orang yang tidak pernah bersuara dan Azzam yang duduk di sebelahnya memergoki adiknya itu sibuk mengetik pesan, Azzam sengaja sekalian mengintip.


“Mending langsung kepo daripada ditahan-tahan dan bikin penasaran. Mumpung enggak ada Ndari juga, jadi aku bebas!” pikir Azzam.


Cinta : Gara-gara mas Cikho, hubungan keluarga kita, bahkan hubungan kita seolah hanya tinggal kenangan, yah, Mas.

__ADS_1


Akala : Sabar, Mbak. Orang tua Mbak hanya terlalu merasa bersalah atas apa yang mas Cikho lakukan ke mbak Azzura. Padahal di sini, kami termasuk orang tuaku maupun mbak Azzura sendiri, termasuk juga mas Excel, kami ya biasa saja. Beneran enggak ada sedikit pun dendam. Orang tua mana sih, yang mau anaknya melenceng dari arahan sekaligus didikan mereka? Enggak ada, Mbak. Karena yang namanya orang tua pasti ingin melihat anak-anaknya menjadi sekaligus mendapatkan yang terbaik. Ambil hikmahnya saja.


Detik itu juga Azzam langsung diam serius. Dadanya seperti dihant*am gada tak kasat mata. “Konteks bahasannya sedih banget, gaes ... itu Cinta adiknya si cilok Cikho, apa panggilan sayang Akala buat dia? Wah ... mencurigakan sekali!” batinnya.


__ADS_2