Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
43 : Usaha Aisyah


__ADS_3

Sebenarnya Azzam ingin ikut serta membantu Arimbi. Azam ingin berguna untuk Arimbi. Paling tidak, Azzam ingin membantu mas Aidan mengemudikan mobil agar mas Aidan yang sibuk dengan ponsel, bisa lebih fokus.


Dari awal, mas Aidan memang sibuk berkomunikasi menggunakan ponsel untuk membahas kasus Arimbi maupun pekerjaan mas Aidan yang lainnya. Masalahnya, Azzam takut baper. Pria yang begitu mirip Kalandra itu takut hanya menjadi obat nyamuk mengingat mas Aidan sudah sangat perhatian kepada Arimbi. Ditambah lagi walau cenderung diam, sikap Arimbi yang juga sangat dewasa, santun dan jga sangat perhatian, sudah membuat Azzam paham apa yang akan terjadi andai dirinya menjadi bagian dari kebersamaan keduanya. Jadi, demi cari aman, Azzam memilih menggantikan mas Aidan mengurus kedua rumah makan yang selama ini mas Aidan urus.


“Hati-hati!” ucap Azzam belum bersemangat, tapi sebisa mungkin memberikan senyum terbaiknya.


Rasanya seperti membiarkan dirinya tertusuk-tusuk duri. Hatinya pun seperti disayat sembilu. Menyakitkan, tapi bukan luka berdarah. Azzam sungguh merasakan itu. Merasakan patah hati karena ia mencintai calon kakak iparnya sendiri.


“Bilang ke mamah papah, yah, Dek. Namun tadi, Mas sudah pamit lewat WA ke mamah!” ucap mas Aidan yang sudah bersiap mengemudi. Sementara di sebelahnya, Arimbi juga menoleh, menatap mas Aidan sembari membagikan senyum harunya.


Ulah anak-anak punk memang mengukir kesedihan tersendiri bagi Arimbi. Tak semata karena Arimbi merasa sedih pada nasib dagangannya sore ini. Melainkan karena Arimbi takut, musibah yang kembali menimpanya, sampai berdampak fatal pada sang ibu.


“Aku khawatir ke ibu, Mas. Ibu pasti langsung khawatir. Kabar seperti yang aku alami kan pasti langsung menyebar. Apalagi tadi banyak yang rekam jadi video dan sekarang pun sudah viral di grup desa maupun kota,” ucap Arimbi akhirnya ketika mas Aidan mendesaknya untuk berkeluh kesah.


Sembari terus fokus mengemudi, mas Aidan berkata, “Ada nomor ponsel yang bisa dihubungi? Biar aku yang bicara sama ibu.”


Arimbi berangsur menoleh, membuat tatapannya bertemu dengan tatapan mas Aidan karena kebetulan, pria itu juga menoleh sekaligus menatapnya. “Paling nomornya tetangga, yah, Mas. Tetangga yang istrinya katanya diintip mas Ilham.”

__ADS_1


“Iya, enggak apa-apa. Yang penting ibu tahu, kamu sama aku biar ibu tenang. Terus, kamu juga sudah hubungin mas Agung, kan?” balas mas Aidan yang berucap cepat sekaligus tegas.


Sementara itu, di rumah orang tua Ilham, Aisyah yang memakai pakaian syari lengkap dengan cadarnya, tengah ketar-ketir menyaksikan video anak-anak punk yang viral. Ketujuh anak punk yang diringkus brut*al oleh warga setelah sebelumnya mengacaukan dagangan Arimbi.


“Duh, gimana, ini? Kenapa mereka pada peduli ke Arimbi, sih? Kenapa mereka enggak takut dan membiarkan Arimbi dise*rang saja?” lirih Aisyah yang perlahan terduduk lemas di pinggir amben biasa ia tidur semenjak ia tinggal di rumah Ilham.


Kedua mata tajam Aisyah berangsur bergetar. Wanita itu benar-benar gelisah, kedua tangan yang memegang ponsel sampai gemetaran. “Kalau anak-anak sampai jujur dan mengatakan bahwa semua ini merupakan rencanaku ...,” pikir Aisyah yang detik itu juga langsung tidak bisa berpikir. Ia terlalu takut walau baru berspekulasi.


“Harusnya saat anak-anak menye*rang Arimbi, harusnya tidak ada yang menolong. Harusnya setelah itu, mereka juga menggi*lir Arimbi dan membuat kabarnya viral. Harusnya memang begitu, bukan malah seperti yang sekarang ini!” kesal Aisyah di dalam hatinya.


“Kalian suruhannya si Aisyah?” todong mas Aidan.


“Gege, Mas. Nama bekennya mbak Aisyah itu Gege!” bisik Arimbi masih berdiri di sebelah mas Aidan.


Mendengar nama Asiyah dan Gege di sebut, ketujuhnya yang masih diwajibkan berdiri, langsung celingukan. Perubahan ekspresi yang sangat mencolok dan membuat mas Aidan sengaja memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memancing ketujuhnya dengan sederet kemungkinan hukuman yang akan ketujuhnya dapatkan andai ketujuhnya mau jujur maupun sebaliknya.


Setelah hampir satu jam berlalu, akhirnya ketujuh anak punk itu mengaku. Ketujuhnya secara estafet menceritakan rencana mereka bersama sang dalang yang memang lah Aisyah. Tak hanya mas Aidan yang murka. Karena Arimbi juga makin geregetan kepada Aisyah. Sudah diberi kesempatan untuk menyelesaikan semuanya secara baik-baik, Aisyah masih saja berusaha menyera*ng Arimbi. Malahan, Arimbi merasa dirinya tidak pernah memiliki masalah dengan Aisyah. Andaipun Aisyah merasa iri kepada Arimbi, bukan berarti Aisyah malah dengan sengaja berusaha menyik*sa Arimbi melalui rencana kejinya.

__ADS_1


Di lain sisi, Aisyah yang yakin dirinya akan tertangkap sengaja mengajak Ilham pulang ke pesantren.


“Ngapain? Di sana pun, kita enggak diharapkan.” Ilham menanggapi dengan malas sembari mengambil posisi tidur di pinggir belakang Aisyah.


Sampai detik ini, Ilham masih menjaga jarak dari sang istri. Apa pun alasannya, Ilham belum memiliki rasa lebih selain jij*ik yang dipenuhi banyak penyesalan.


Aisyah sengaja menyusul sang suami dengan memutari amben mereka. “Mas, andai kamu berbakat, kamu tetap bisa menjadi jajaran pemimpin di pondok pesantren. Apalagi sekarang Mas pun sudah jadi Gus muda! Ayolah Mas, kita balik ke pesantren saja. Kita jalani semuanya dari sana. Mas mau, kan, jadi lebih dari Gus?”


Asiyah terus melakukan segala cara dalam meyakinkan suaminya. Menjadikan posisi layak maupun kebahagiaan tak berakhir sebagai iming-iming.


“Kamu ngapain, sih? Kamu kerasukan demit mana? Kenapa mendadak minta ke pesantren begini?!” balas Ilham yang selain mengomel, ia juga melakukannya sambil tetap meringkuk. Tak hanya merasa apa yang Aisyah katakan panjang lebar hingga wanita itu super berisik penting, memang tidak penting. Karena pada kenyataannya, Ilham telanjur trauma masuk jebakan batman lagi.


“Mas, ih. Dulunya pun, Romo Kyai juga bukan menantu dari anak kandung pimpinan tertinggi sekaligus pemilik pesantren. Dia bahkan hanya merupakan murid terbaik yang kebetulan menikah dengan anak sambung!” yakin Aisyah lagi yang yakin, Ilham begitu minat dengan kedudukan di pesantren. “Alasan Mas menikahiku memang karena itu, kan?”


“Bayangin, masa aku di sawah, Mas melenggang bebas necis ketemu banyak wanita? Enggak adil loh Mas!” Aisyah masih memohon, terus begitu hingga akhirnya Ilham menjadi tergiur.


Sadar diamnya Ilham karena pria itu mulai mempertimbangkan bujuk rayunya, Aisyah pun kembali meyakinkan, bahwa dirinya akan meminta bantuan sang ibu agar Ilham bisa lebih mudah mendapatkan posisi lebih tinggi di pondok pesantren mereka bernaung.

__ADS_1


__ADS_2